NovelToon NovelToon
Kegilaan Sang Immortal

Kegilaan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Ruang Ajaib
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.

Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.

Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pertarungan untuk memperebutkan Wen Xiang

Hari-hari berikutnya, Wang Chan semakin sering datang ke rumah Nuan Shuang.

Kadang ketika ia sedang bosan, kakinya terasa membawanya ke pinggiran kota itu.

Kadang ketika pikirannya melayang memikirkan wanita berambut putih itu tanpa alasan yang jelas.

Kadang juga ketika ia merasa ingin berlatih, atau ketika ia merasa tidak ingin berlatih sama sekali.

Dan Nuan Shuang selalu menyambutnya.

Tidak pernah terlihat kesal, tidak pernah mengusirnya meskipun kadang Wang Chan datang hanya untuk duduk diam di kursi panjang tanpa bicara.

Ia hanya tersenyum, menuangkan teh, lalu menemani Wang Chan dalam diam yang nyaman.

Hubungan mereka berdua semakin lama semakin dekat. Rasa canggung yang dulu terasa di setiap pertemuan kini sudah tidak ada lagi.

Wang Chan bisa bercanda, bisa mengeluh, bahkan bisa diam tanpa merasa perlu mengisi kekosongan dengan kata-kata.

Nuan Shuang juga semakin terbuka, sesekali bercerita tentang alam atas, tentang tempat-tempat yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di alam bawah ini.

Sementara itu, Wang Chan dan Liu Chiyang juga mulai semakin dekat. Mungkin karena kejadian malam itu, mungkin juga karena sesuatu yang lain.

Keduanya kini jauh lebih akrab dari sebelumnya. Tidak ada lagi jarak yang dibuat-buat.

Liu Chiyang masih mengenakan pakaian terbukanya, dan Wang Chan sudah tidak terlalu berusaha menghindar.

Ia hanya menghela napas, memutar mata, lalu melanjutkan aktivitasnya.

Bahkan Qing Yi merasa kalau mereka berdua cukup aneh. Kadang terlalu dekat. Kadang saling pandang tanpa bicara.

Kadang Liu Chiyang tertawa mendengar sesuatu yang tidak lucu, dan Wang Chan tersenyum kecil mendengar sesuatu yang tidak penting.

Qing Yi tidak bodoh, tapi ia juga tidak mau bertanya. Mungkin karena takut dengan jawabannya.

Pada hari itu, ketiganya berjalan ke tengah Kota Jiang. Udara terasa lebih ramai dari biasanya.

Suara orang-orang bersorak-sorai terdengar dari kejauhan, seperti ada sesuatu yang meriah sedang berlangsung.

Wang Chan, Qing Yi, dan Liu Chiyang ikut melihat.

Mereka menyusup di antara kerumunan yang semakin padat, mendorong pelan, berbisik permisi, mencoba mencari posisi yang cukup untuk melihat apa yang terjadi.

"Bagus, serang lagi!"

"Jangan kalah!"

"Hantam saja!"

Wang Chan menjulurkan lehernya. Di depan mereka, sebuah arena kayu besar didirikan di tengah alun-alun.

Pagarnya dihiasi bendera-bendera merah dan emas, berkibar ditiup angin.

Di sekeliling arena, ratusan orang berdesakan, ada yang berteriak memberi semangat, ada yang tertawa, ada pula yang sibuk bertaruh dengan tetangga di sampingnya.

Ternyata Keluarga Wen, yang cukup terkenal di Kota Jiang, sedang mengadakan kompetisi.

Tujuannya sederhana, menentukan siapa yang layak mendapatkan Nona Wen Xiang dari keluarga mereka.

Wang Chan mengernyit. Wen Xiang. Nama itu pernah ia dengar dari para pedagang di pasar.

Katanya wanita itu cantik, lembut, dan sangat dicari oleh para pemuda di seluruh Kota Jiang.

Dan benar saja. Di balkon lantai atas yang menghadap langsung ke arena, Wang Chan bisa melihat beberapa sosok penting.

Wen Pang. Kepala Keluarga Wen, seorang pria tua berjenggot panjang dengan tubuh tegap dan mata tajam.

Dikenal dengan kekuatannya yang telah mencapai Ranah Nirvana tahap akhir. Katanya ia tak terkalahkan di Kota Jiang. Entah benar atau tidak, tapi tidak ada yang berani mengujinya.

Lalu Wen Tianren. Tuan Muda Keluarga Wen, putra dari Wen Pang. Wajahnya tampan tapi arogan, dengan senyuman tipis yang terasa meremehkan semua orang di bawahnya.

Ia dikenal kejam dan suka memaksakan kehendak. Meski begitu, ia memang memiliki kekuatan yang cukup untuk memaksa, bahkan sampai disebut sebagai 'yang terkuat di bawah Nirvana'.

Banyak yang takut, banyak pula yang membenci, tapi tidak ada yang berani melawan.

Dan terakhir Wen Xiang. Nona Muda Keluarga Wen, wanita yang menjadi pusat perhatian hari itu.

Dari kejauhan, Wang Chan bisa melihat bahwa gosip-gosip di pasar tidak berlebihan.

Wen Xiang cantik. Wajahnya lembut, matanya teduh, dan senyumnya yang kecil seolah menenangkan setiap orang yang menatapnya.

Tubuhnya juga tidak kalah menggoda. Puncak kembarnya cukup besar, terbungkus kain sutra biru muda yang mengikuti lekuk tubuhnya dengan sempurna. Pinggangnya ramping, dan rambut hitamnya yang panjang terurai lembut di bahu.

Wang Chan memutar kepalanya sedikit. Suara krek ringan terdengar dari lehernya. Tidak ada yang mendengar kecuali dirinya sendiri.

"Menarik?" Qing Yi menyenggol sikunya. Matanya menyipit curiga.

Wang Chan tidak menjawab.

"Wanita mana yang kau lihat sebenarnya?" tanya Qing Yi lagi, sedikit lebih tajam.

Liu Chiyang tertawa kecil di belakang mereka.

"Kelihatannya ini cukup bagus untuk mencoba kemampuan Xiao Chanchan," ucapnya santai.

Tanpa memberi kesempatan pada Wang Chan untuk menolak, ia mendorong punggung Wang Chan ke depan.

Wang Chan terhuyung setengah langkah.

"Tapi—"

"Tenanglah," Qing Yi memotong. "Lagipula tidak mungkin kau menang."

Wang Chan menoleh, menatap Qing Yi dengan tatapan datar.

"Kau tahu cara memberi semangat yang buruk sekali."

"Aku hanya jujur."

Wang Chan menghela napas. Ia melihat ke arena.

Di sana, seorang pria dengan pedang di punggung baru saja mengalahkan lawannya dengan tebasan yang cukup rapi.

Kerumunan bersorak, tapi tidak terlalu keras. Mungkin pria itu bukan favorit mereka.

"Baiklah," ucap Wang Chan akhirnya.

Ia melangkah menuju arena. Qing Yi dan Liu Chiyang hanya bisa saling pandang di belakangnya.

Banyak orang memperhatikan ketika Wang Chan naik ke arena.

Ada yang bersorak kecil, mungkin karena mereka suka melihat wajah baru.

Ada juga yang tidak, mungkin karena mereka sudah punya calon pemenang favorit.

Ada yang memuji, meskipun tidak jelas apa yang dipuji karena Wang Chan belum melakukan apa pun.

Ada yang meremehkan, menyebutnya terlalu kurus, terlalu muda, atau terlalu tidak dikenal.

Wang Chan tidak peduli.

Ia berdiri di tengah arena. Lantai di bawah kakinya terasa kokoh, sedikit berdebu, dan di beberapa tempat ada bekas goresan pedang dan cap sepatu.

Dari balkon lantai atas, Wen Pang mengangguk kecil.

Wen Tianren tidak menunjukkan reaksi apa pun, matanya hanya melirik sekilas lalu kembali ke arah lain.

Wen Xiang tersenyum sopan, seperti yang ia lakukan pada semua peserta, lalu matanya beralih ke penantang lain yang sedang bersiap di belakang.

Wang Chan menghela napas.

Ia tidak datang untuk menikahi Wen Xiang.

Ia hanya penasaran.

Seberapa kuat para kultivator di Kota Jiang ini?

Dan seberapa jauh ia bisa melangkah?

Penantang pertamanya naik ke arena.

...---...

...[ Ilustrasi: Wen Xiang ]...

1
yayat
wah2 baru belajar sebntr tp sudah nunjukin perubhn besar berarti harus swring kultivasi ganda ni sama ketiga wanitanya biar cept ningkt lg ahaaay
Cecilia: kalau kultivasi ganda nanti di alam atas lebih sering wkwk
total 2 replies
syarif ibrahim
kayaknya bakalan kalah wang Chan nih.... /Frown//Grimace//Cry/
syarif ibrahim
terlalu cepat ya... /Determined/🤭🙏
yayat
akan kn wang chen menang n menjadi musuh keluarga wen
Cecilia: ehehe, ikuti terus kisahnya kak
total 1 replies
yayat
wah adenya mlh belain wang chen ni suka sepeetinya
yayat
ada yg cemburu ni kayanya
Windhana Binar
Awal yg bagus Thor 👍👍👍👍
Cecilia: iyeyy
total 1 replies
yayat
yg 3 blm diberesin dah nambh lg ja ni penjhat kelamin ahaaay
yayat
wang chen jdi golongn hitam donk nantinya karna belajar ilmu iblis langit
yayat: boleh kita liat apa makin seru or mlh jauh dari expetasi
total 4 replies
yayat
jadi golongn hitam donk wang chen
Swushe
suka bangett mcnya, lagi males? ya kabur. ditantangin ya serius. asik banget lagi cara ngomongnya yang kadang ngawur wkwk
Swushe
Liu Chiyang >>>>>>> semua cewek. Mana ada guru sekelas dia? Cantik, anggun, strong, trus ketahuan coly sama muridnya sendiri 🤣🤣🤣 aku ngakak campur malu bacanya. Tapi justru itu bikin karakternya hidup.
yayat
wah wah 3 wanita ni sepeetinyw
yayat
pilnya campur obat perangsang ni
yayat
wah rada beda ya penyebutan ranahnya dengn yg lain2 lanjut
Cecilia: ehehe, nyoba ngambil dari TOHG sama my senior brother
total 1 replies
yayat
tingkatkn terus kekuatannya biar bisa melindungi yg disayang
yayat
lanjutlah sampai tamat ya
yayat
lari bersama susah bersama latihan bersama n hidup bersama asal jngn salh 1nya peegi jd ga seru nanti kurang greget
yayat
baru diawal alurnya dah alus mengalir ga ribet ga bikin mikir bacanya moga konsisten n terus jd lbh baik n bikin pembaca betah
Cecilia: siappp kak
total 1 replies
Mommy Chen Xi
Suka banget sama tipe MC gini. Bukan sok suci, bukan pahlawan yang rela mati buat orang lain. Pas desanya diserang, dia milih ninggalin yang lain. Brutal sih, tapi logis. Dia sadar diri lemah, makanya lari dulu, hidup dulu. Utama kan diri sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!