"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Malam di Manhattan selalu terasa lebih cepat bagi mereka yang menyimpan rahasia. Di distrik Tribeca, deretan apartemen mewah berdiri kokoh, menyembunyikan ribuan cerita di balik dinding-dinding kedap suaranya.
Veronica Brooklyn melangkah keluar dari taksi, merapatkan jaketnya saat angin malam yang dingin menusuk tulang. Ia menatap gedung tinggi di depannya dengan perasaan yang campur aduk—sebuah perpaduan antara kegelisahan yang tajam dan gairah yang tidak bisa ia jinakkan.
Tanpa ragu, ia melangkah masuk ke lobi, melewati resepsionis dengan kepala tertunduk, dan naik menuju lantai dua belas.
Di depan unit B, ia berhenti sejenak. Jantungnya berdegup seperti genderang perang. Tangannya terjulur ke gagang pintu, dan seperti janji yang terucap di pesan singkat, pintu itu tidak terkunci.
Begitu ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya, kegelapan langsung menyambutnya. Namun, ia tidak sendirian.
Detik berikutnya, sepasang lengan kokoh langsung melingkari pinggangnya, menarik tubuhnya hingga menempel pada dada yang hangat dan bidang.
Sebelum Veronica sempat menarik napas, bibir Azeant sudah menemukannya dalam kegelapan. Pagutan itu tidak lembut; itu adalah sebuah ledakan kerinduan yang tertahan, sebuah pernyataan kepemilikan yang liar.
Apolo menghirup napas dalam-dalam di ceruk leher wanita itu, namun gerakannya tiba-tiba terhenti sejenak. Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menghirup udara di sekitar mereka dengan kening berkerut.
"Kau ganti parfum, Sayang?" bisik Apolo, suaranya serak dan berat.
Kali ini, aroma maskulin-manis yang kemarin ia cium telah berganti. Kini, wangi lavender yang lembut, menenangkan, sekaligus sensual menyeruak dari kulit wanita itu. Wangi itu murni, seolah menyatu dengan aroma alami tubuhnya. Apolo merasa saraf-sarafnya yang tegang mendadak rileks, namun di saat yang sama, gairahnya justru terpicu lebih kuat. Wangi lavender ini membuatnya candu dalam sekejap.
"Tidak," jawab Vea lirih, napasnya masih memburu akibat ciuman tadi. "Ini parfum yang biasa kupakai sehari-hari."
"Kemarin wangimu berbeda, Vea," gumam Apolo, kembali menyurukkan wajahnya ke rambut wanita itu.
"Kemarin aku mencoba memakai parfum milik temanku, tapi sayang sekali aku tidak terlalu menyukainya. Aku hanya menyukai wangi lavender. Ini lebih... seperti diriku."
Apolo tersenyum dalam kegelapan, sebuah senyuman yang tidak akan pernah dilihat oleh siapa pun di kampus. "Aku menyukainya. Sangat menyukainya."
Vea melepaskan diri dari pelukan itu sejenak untuk menyimpan tasnya di atas meja marmer. Dengan gerakan yang penuh percaya diri, ia membuka topi beanie yang menutupi rambutnya, membiarkan helaian cokelat gelapnya jatuh terurai. Kemudian, ia melepaskan sweater kebesarannya, menyisakan tubuhnya yang hanya terbalut kaus tipis di baliknya.
Apolo sendiri hanya mengenakan bathrobe hitam berbahan sutra yang longgar, menandakan ia baru saja selesai mandi sebelum kedatangan tamu istimewanya.
Rambutnya yang sedikit lembap jatuh berantakan di dahi, membuatnya terlihat sepuluh kali lebih menggoda daripada saat ia menjadi "pangeran kaku" di laboratorium.
"Panggil aku sayang," ucap Apolo tiba-tiba, suaranya mengandung perintah yang lembut.
Veronica tertegun sejenak. Di asrama, ia adalah gadis yang mandiri dan keras kepala. Tapi di sini, di bawah kekuasaan suara pria ini, ia merasa seluruh pertahanannya meluruh.
"Sayang..." bisiknya.
"Lagi..." tuntut Apolo, melangkah mendekat hingga ujung kaki mereka bersentuhan.
"Sayang..."
Mendengar kata itu meluncur dari bibir lembut Vea, gairah Azeant meledak seketika. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Ia langsung menyambar bibir itu lagi, melahapnya dengan rakus.
Apolo mengakui dalam hati bahwa ia mulai menjadi brengsek. Ia yang dulu selalu memikirkan etiket, kini hanya memikirkan bagaimana cara memuaskan dahaga fisiknya pada gadis misterius ini.
Ini benar-benar nikmat. Lebih nikmat dari pencapaian akademik mana pun yang pernah ia raih.
Mereka bergerak menuju ranjang dengan terburu-buru, seolah-olah waktu adalah musuh yang harus dikalahkan. Tangan Apolo mulai menjelajahi lekuk tubuh Vea, membuka setiap penghalang yang tersisa. Namun, saat jemari Apolo menarik celana cargo milik Vea ke bawah, ia tersentak kaget.
Tangannya meraba kulit pinggul yang polos tanpa penghalang kain apa pun di baliknya.
"Kau... tidak memakai dalaman, Sayang?" tanya Apolo, suaranya pecah antara kaget dan terangsang hebat.
Vea hanya memberikan senyum nakal yang hanya bisa dirasakan Apolo melalui sentuhan bibir mereka. "Aku datang untuk bercinta, Azeant. Kenapa aku harus mempersulit diriku sendiri?"
Tawa rendah pecah di antara mereka. Sebuah tawa yang jujur dan tanpa beban.
"Kau nakal..." ucap Apolo, menggigit bibir bawahnya.
"Hanya padamu, Azeant," jawab Vea berani.
Saat mereka sudah berada di atas ranjang king size itu, Apolo berhenti sejenak.
Ingatannya melayang pada obrolan-obrolan mesum Gavin dan Dorian—tentang bagaimana seorang pria bisa merasa "melayang" jika pasangannya mengambil kendali.
Apolo, yang selama ini selalu menjadi pemimpin dalam segala hal, tiba-tiba ingin merasakan sensasi yang berbeda.
"Kau ingin di atas, Vea?" tanya Apolo.
"Tidak-tidak, aku tidak mau," jawab Vea cepat, sedikit gugup. Selama ini ia lebih suka bersembunyi di bawah perlindungan tubuh Azeant.
"Kenapa? Kau harus mencobanya," bujuk Apolo, tangannya mengelus punggung Vea dengan lembut. "Kumohon, cobalah di atas. Aku ingin kau yang memimpin, Vea. Aku ingin melihatmu... meskipun hanya siluetmu."
Vea ragu sejenak, namun tantangan di mata (yang tak terlihat) Apolo membuatnya tertantang. "Baiklah."
Vea perlahan bergerak, memposisikan dirinya di atas tubuh Apolo. Dari arah bawah, Apolo bisa melihat siluet tubuh Vea yang indah, dipayungi oleh cahaya lampu jalanan New York yang menembus celah hordeng tipis. Cahaya biru kelabu itu membasuh kulit mereka, menciptakan pemandangan yang estetik sekaligus erotis.
"Sampai pagi?" tanya Vea dengan nada nakal, rambutnya menjuntai mengenai dada Apolo.
Apolo tersenyum senang, tangannya mencengkeram pinggul Vea, menuntunnya untuk memulai ritme mereka. Ia sedikit mengangkat tubuhnya, menggigit leher Vea dengan gemas hingga wanita itu tersentak.
"Tentu sampai pagi. Kuharap kau tidak pingsan, Vea..."
"Ahhh... itu sakit, Azeant!" rintih Vea saat gigitan itu meninggalkan jejak baru di lehernya. Namun, rasa sakit itu segera tertelan oleh gelombang kenikmatan yang lebih besar.
Di bawah naungan langit New York yang tak pernah tidur, kedua manusia itu kembali bersatu.
Vea memimpin dengan keberanian yang baru ia temukan, sementara Apolo membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi wanita lavender-nya. Malam itu bukan lagi sekadar pelarian; itu adalah sebuah eksplorasi tanpa batas, di mana nama 'Sayang' dan 'Vea' beradu dengan suara napas yang memburu hingga fajar menyingsing di ufuk timur.