NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Rencana Baru

Benjamin terbangun dengan suara dengungan panjang di telinganya. Ia memegang wajahnya dan berkata, "Aku belum mati."

Pria paruh baya itu duduk dan membuka kancing bajunya, memperlihatkan cahaya hitam yang memancar dari sebuah kalung bermata merah yang tersembunyi di balik pakaiannya.

"Aku masih belum sembuh," gumamnya. Benjamin memukul sisi ranjang lalu berdiri. Ia berjalan lemah menuju pintu dan memanggil asistennya yang duduk menunggunya.

"Ugh!"

"Tuan, kau sebaiknya kembali ke tempat tidur. Kau bisa memanggilku tanpa harus memaksakan diri," kata Lukas sambil membantu bosnya kembali ke ranjang.

"Aku masih belum sembuh, Lukas. Kenapa Atlas butuh waktu selama ini untuk melakukan penyembuhan? Aku mulai curiga kalau dia sudah mengetahui kebenarannya, bahwa dia adalah putraku?! Menurutmu bagaimana? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Efek kekuatan ini menyiksa dan menggerogoti tubuhku!"

Benjamin gemetar dengan napas berat. Ia tampak benar-benar frustrasi dengan kenyataan yang sedang dihadapinya.

"Tenang, Tuan. Aku rasa Tuan Atlas masih belum mengetahui apapun. Jika dia tahu kebenarannya, dia tidak akan mampu menekannya sendiri. Aku sudah mengamati perilaku Tuan Atlas, dan dia bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan sesuatu saat ingin mengetahui kebenaran."

"Kalau begitu kenapa dia masih belum bisa menyembuhkanku? Buku itu seharusnya sudah cukup menjadi petunjuk agar dia memahami cara menghilangkan efek sialan di tubuhku! Apa dia selemah itu?! Kalau dia tidak berguna, lebih baik aku membunuhnya saja!"

Lukas berdiri dan meletakkan kedua tangannya di bahu bosnya, memijatnya perlahan sambil berbicara. "Tenang, Tuan. Kemarahan inilah yang membuat kekuatan di tubuhmu berubah menjadi racun. Kau tahu sendiri, larangan terbesar adalah mengendalikan emosi. Apa gunanya mengasingkan diri dari dunia luar selama setahun terakhir kalau akhirnya kau gagal dan mati? Waktumu sudah dekat, kau akan segera pulih, kau hanya perlu menunggu, Tuan."

Benjamin kembali melihat cahaya hitam di tubuhnya, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan teriakan keras. Setelah itu, ia kembali berbaring dan berkata, "Berikan aku sesuatu untuk diminum."

Ia segera menghabiskan segelas air, wajahnya yang sebelumnya tegang kini terlihat sedikit lebih rileks. Lukas kembali duduk di kursi di samping ranjang dan tersenyum lebar.

"Aku senang kau jauh lebih baik dalam mengendalikan emosi sekarang. Aku masih ingat betapa kacau tubuhmu dulu, hampir berubah hitam ketika kemarahanmu tidak bisa ditahan. Sejak Tuan Atlas datang, kau bisa bertahan lebih lama tanpa kambuh, Tuan. Bukankah itu juga hal yang baik? Semakin mendekati akhir, kita semakin tidak mengerti apa yang akan terjadi pada tubuhmu. Kalau saja Tuan Atlas tidak ada di sini, mungkin... kematian akan datang lebih cepat."

Lukas bangkit dari kursinya lalu membungkuk setengah berlutut menghadap Benjamin. Itu adalah gestur permintaan maaf karena ia merasa bersalah telah membicarakan hal sensitif seperti itu.

"Bangunlah, Lukas. Kau benar. Lagi pula, ucapanku tadi tidak serius. Aku tidak mungkin membunuh Atlas dalam kondisiku sekarang. Aku masih membutuhkannya, dan aku bisa mengerti jika dia belum sepenuhnya mendapatkan kekuatan besar dari kalung itu. Aku terlalu tidak sabar dan mengira dia bisa menguasainya dalam waktu kurang dari seminggu." Benjamin tertawa kecil. "Berikan cerutuku."

Lukas mengambil cerutu Benjamin dari laci dan menyalakannya sebelum menyerahkannya kepada pria paruh baya itu.

"Aku ingin kau memastikan dia tidak mengetahui rahasia jika dia memang putraku. Meskipun kemungkinannya kecil, aku tetap khawatir. Terutama setelah aku menyerangnya tadi. Aku kehilangan kendali, dan aku takut dia akan memiliki pikiran lain lalu menggunakan kekuatannya untuk menemukan sesuatu..." Benjamin berhenti sejenak. "Kekuatan yang dia miliki sangat besar dan sempurna. Aku tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya jika dia menguasainya sepenuhnya."

"Aku yakin dia masih belum bisa menguasainya, Tuan.

Kalau dia sudah bisa, hal pertama yang akan dia lakukan adalah dengan mudah menyingkirkan kelompok Brian tanpa bantuan Buzz. Dan kedua, dia pasti sudah bisa menyembuhkanmu. Atau lebih buruk lagi, jika kau percaya dia mengetahui sesuatu, aku rasa akan sangat mudah baginya untuk membunuhmu, Tuan."

Benjamin menelan ludah sambil mengisap cerutunya panjang. Pikirannya melayang pada rencana baru yang mulai terbentuk di kepalanya.

"Aku perlu mengubah rencanaku. Bisakah kau memanggilnya? Sekarang jam berapa? Katakan padanya aku ingin mengundangnya makan malam."

Lukas tertawa kecil. "Maaf, Tuan, tapi sekarang sudah jam sebelas malam. Kau pingsan selama sepuluh jam. Waktu makan malam sudah lewat, Atlas makan malam bersama Nona Alicia."

"Ah, begitu. Baiklah, tetap panggil dia. Aku ingin menyampaikan ideku kepadanya, dan dia harus setuju. Pergilah." Benjamin melambaikan tangannya, menyuruh Lukas keluar.

Senyum licik muncul di wajahnya. "Aku tidak akan berhenti sampai kau bisa menyembuhkanku. Sambil menunggu waktu itu tiba, aku harus memanfaatkanmu, Atlas."

"Tuan Benjamin, kau sudah bangun?"

Atlas datang mengenakan piyama hitam dengan senyum ramah saat memandang Benjamin.

"Atlas, kemarilah, nak." Benjamin lalu mengalihkan pandangannya ke Lukas. "Kau boleh pergi."

"Ada apa, Tuan Benjamin? Kenapa kau memanggilku?"

"Aku ingin berbicara denganmu tentang kesehatanku.

Pertama, aku meminta maaf atas perilaku burukku terhadapmu tadi. Aku seharusnya tidak melakukan itu. Aku diliputi rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. Aku harap kau mengerti. Kedua, aku ingin mengubah perjanjian kita. Mungkin masih akan lama sampai kau bisa menyembuhkanku, mungkin sebulan atau enam bulan. Jelas suatu saat nanti kau akan bisa melakukannya. Aku–."

"Maaf, Tuan Benjamin, aku minta maaf karena memotong ucapanmu. Kenapa kau begitu yakin bahwa aku bisa menyembuhkanmu selama itu? Besok aku mungkin sudah memahami semuanya dan memberikan kesembuhan untukmu. Apakah kau mengetahui sesuatu?"

Atlas menatap Benjamin dengan curiga.

Benjamin tertawa kecil dan menggelengkan kepala. "Apa yang aku ketahui? Aku mengatakan itu agar tidak terlalu berharap terlalu cepat, Atlas. Aku tidak memahami sejauh mana kekuatanmu, tapi aku sadar kalau kau masih belajar. Jadi, tidak salah jika aku menggambarkan jangka waktu yang panjang, bukan?"

Atlas mengangguk. "Baik, lanjutkan kalimatmu yang tadi belum selesai, Tuan Benjamin."

"Jadi, karena jangka waktunya mungkin masih panjang, aku ingin kau tetap bersamaku dan menjadi bagian dari timku. Tugasmu bukan hanya mempelajari cara menyembuhkanku, tetapi juga memberikan kekuatanmu kepadaku setiap minggu atau paling lambat dua minggu sekali agar aku bisa berfungsi dengan normal. Dan kau akan melakukan itu sampai berhasil menghilangkan penyakit sialan ini dari tubuhku, Atlas."

Atlas terkejut, alisnya berkerut saat bertanya, "Bagaimana kalau aku tidak mau melakukannya, Tuan Benjamin? Membagikan kekuatanku kepadamu membutuhkan energi yang sangat besar dan melelahkan. Keuntungan apa yang akan kudapatkan selain menjadi bagian dari timmu?"

Benjamin tertawa kecil. "Aku sudah tahu, kau pasti akan mempertimbangkan untung dan ruginya. Ayo, Atlas, kau sedang bersama Benjamin. Mari kita bicara soal keuntungan.”

1
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
king polo
ini baru seru
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Budiman
ditunggu up berikutnya ya kak
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!