NovelToon NovelToon
NIRWANA BERDARAH

NIRWANA BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No Plagiat 🚫

NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau

“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”

Yi Ling adalah anomali.

Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.

Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.

Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.

Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.

Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.

Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.

Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian di Bawah Rembulan

Api unggun kecil berderit di tengah keheningan malam. Cahaya jingganya memantul di bilah pedang perak Zhi Yue yang sedang diasah. Di seberangnya, Xiān Yǔ tampak merana; rambutnya sudah kembali perak, tapi ia terus memegangi telinganya, memastikan tidak ada kelopak mawar yang tertinggal di sana.

"Tuan Muda," panggil Xiān Yǔ dengan suara lesu. "Jika nanti kita sampai di Gerbang Nirwana dan aku harus berubah jadi 'Pangeran Peri' lagi, bisakah kau pilihkan bunga yang lebih... jantan? Kaktus, mungkin?"

Zhui Hai yang sedang membakar ubi hutan menyahut tanpa menoleh, "Kaktus akan tumbuh di dalam telingamu, Ikan Asin. Kau akan mati tertusuk durimu sendiri sebelum musuh menyentuhmu."

Yi Ling tidak ikut dalam perdebatan konyol itu. Matanya terpejam, namun indranya menyebar ke seluruh penjuru hutan. "Zhi Yue," ucapnya tiba-tiba. "Pedangmu... itu bukan baja biasa. Getarannya saat beradu dengan api hitam tadi mengeluarkan nada yang hanya dimiliki oleh logam dari Pegunungan Langit."

Zhi Yue menghentikan gerakannya mengasah pedang. Ia menatap senjatanya dengan tatapan rumit. "Ini disebut 'Pedang Penjaga fajar'. Ayahku memberikannya sesaat sebelum ia berangkat ke perbatasan. Ia bilang, pedang ini tidak menebas daging, tapi menebas ilusi."

"Pantas saja kau bisa memukul mundur Sekte Bayangan Gagak," gumam Yi Ling. "Mereka bergerak dalam ilusi kegelapan. Kau adalah musuh alami mereka."

Tamu yang Tidak Diundang

Baru saja keheningan menyelimuti mereka, suara tepuk tangan pelan terdengar dari balik kegelapan pohon-pohon tua.

"Luar biasa... analisis yang tajam dari Tuan Muda Klan Yi, dan keberanian yang memukau dari putri Jenderal Zhi."

Sarjana Lu muncul dari balik kabut. Namun kali ini, ia tidak mengenakan jubah sutra rapi. Pakaiannya compang-camping, wajahnya pucat, dan tangannya gemetar. Di lehernya, sebuah rantai hitam melilit kencang, ditarik oleh sesosok bayangan yang jauh lebih besar di belakangnya.

"Maafkan saya... saya terpaksa..." rintih Sarjana Lu sebelum ia tersungkur ke tanah.

Dari kegelapan, melangkah keluar seorang pria tua bertubuh bungkuk yang membawa tongkat dengan hiasan tengkorak gagak di ujungnya. Hawa dingin yang dibawanya membuat api unggun mereka nyaris padam.

"Penatua Gu..." desis Yi Ling. Ia segera berdiri, seruling gioknya sudah berada di depan bibir.

"Yi Ling, kau telah menempuh perjalanan jauh hanya untuk mati," suara pria tua itu serak seperti gesekan amplas. "Serahkan gulungan itu, dan aku akan membiarkan teman-temanmu hidup sebagai budak sekte kami. Terutama pemuda berambut perak itu... tuanku sangat tertarik dengan mutasi energinya."

Xiān Yǔ langsung melompat berdiri di belakang Yi Ling. "Mutasi apa?! Aku ini murni tampan dari lahir, tahu!"

Simfoni Darah dan Perak

Tanpa peringatan, Penatua Gu menghentakkan tongkatnya ke tanah. Tanah di bawah kaki mereka meledak, mengeluarkan puluhan tangan bayangan yang berusaha mencengkeram kaki mereka.

"Zhui Hai, jaga belakang!" perintah Yi Ling.

Yi Ling mulai meniup serulingnya. Nada yang keluar kali ini bukan lagi nada penenang, melainkan nada yang tajam dan menusuk. Simfoni Pemecah Jiwa. Gelombang suara yang kasat mata menghantam tangan-tangan bayangan itu hingga hancur menjadi asap.

Zhi Yue melesat seperti kilat perak. Ia tidak menyerang tangan bayangan, melainkan langsung mengincar leher Penatua Gu. "Kembalikan ayahku!" teriaknya.

Penatua Gu tertawa sinis. Ia mengangkat tangannya, dan asap hitam membentuk perisai kokoh. "Jenderal Zhi sudah berada di tempat yang sangat tinggi, Gadis Kecil. Di tempat di mana manusia tidak lagi bernapas."

Kalimat itu membuat kemarahan Zhi Yue memuncak. Pedangnya bercahaya terang, membelah perisai asap tersebut. Namun, Penatua Gu jauh lebih licin. Ia menghilang dan muncul kembali di belakang Xiān Yǔ.

"Ayo ikut aku, Bocah Bunga!"

Cakar hitam Penatua Gu nyaris menyentuh kerah baju Xiān Yǔ, namun sebuah ubi hutan yang membara menghantam wajah tua itu tepat di hidungnya.

"Jangan ganggu makan malamku," ucap Zhui Hai datar. Ia berdiri dengan posisi tenang namun tangannya kini memegang Kipas yang siap membuat Gelombang angin.

Pelarian yang Terencana

Yi Ling menyadari bahwa melawan Penatua Gu di tengah hutan kabut adalah bunuh diri. Kabut ini adalah sumber kekuatan sekte mereka.

"Xiān Yǔ, sekarang! Gunakan energi cadanganmu untuk menciptakan kabut pengalih!"

Xiān Yǔ yang biasanya narsis kali ini benar-benar serius. Ia menggigit jarinya, meneteskan darah ke tanah, dan berteriak, "Formasi Seribu Kelopak Layu!"

Bukan mawar merah yang muncul, melainkan ribuan kelopak bunga putih yang sangat tipis dan tajam seperti silet. Kelopak-kelopak itu berputar membentuk badai kecil, membutakan pandangan Penatua Gu dan sisa-sisa anak buahnya.

"Lari!" teriak Yi Ling.

Mereka berempat melesat menembus hutan, mengikuti arah kompas giok milik Yi Ling. Di belakang mereka, suara teriakan murka Penatua Gu mengguncang pepohonan.

Saat mereka sampai di tepi tebing yang di bawahnya mengalir sungai deras, Yi Ling berhenti.

"Kita harus melompat," ucap Yi Ling tanpa ragu.

"Apa?! Rambutku bisa rusak kalau kena air sungai!" protes Xiān Yǔ.

Zhi Yue tidak banyak bicara; ia langsung melompat duluan. Zhui Hai mengikuti setelah mengambil sisa ubinya. Akhirnya, Yi Ling menarik kerah baju Xiān Yǔ dan menyeretnya terjun ke kegelapan air di bawah sana.

Beberapa saat kemudian, di pinggir sungai yang lebih tenang, mereka merangkak naik dengan napas terengah-engah.

Zhi Yue duduk bersandar di batu besar, menatap langit malam yang mulai memudar. "Dia bilang... ayahku berada di tempat di mana manusia tidak lagi bernapas. Apakah itu artinya..."

Yi Ling memeras ujung jubah birunya yang basah kuyup. "Atau artinya, ia berada di Nirwana. Tempat di mana waktu berhenti. Kita akan tahu jawabannya saat mencapai gerbang itu esok hari."

Xiān Yǔ yang sedang berusaha memeras rambut peraknya tiba-tiba terdiam. Ia melihat ke arah tangannya. Ada noda hijau kecil yang tidak hilang meskipun terkena air.

"Tuan Muda..." bisik Xiān Yǔ ketakutan. "Kenapa tanganku berubah warna jadi permanen?!"

Yi Ling menoleh, matanya sedikit membelalak. "Energimu... mulai menyatu dengan teknikku secara permanen. Sepertinya, perjalanan ini akan mengubahmu menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar manusia, Xiān Yǔ."

"TIDAAAAK! AKU TIDAK MAU JADI MANUSIA POHON!"

Tangisan Xiān Yǔ memecah kesunyian subuh, menandakan bahwa meskipun bahaya mengancam, kekonyolan kelompok ini akan tetap menjadi bumbu utama menuju Gerbang Nirwana yang berdarah.

1
Dao Illusion of Fate
Sudah bagus kak, hanya saja istilah modern "Mekanis" kurang dapat feel-nya. Awalnya aku cocok aja bacanya, tapi pas ada penulisan kata Mekanis jadi gak dapet aura kuno nya...
Devilgirl: makasih,udah diingatkan nanti author revisi ulang😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!