NovelToon NovelToon
Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.

Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.

Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan dimulai

"Ketika kejahatan merasa paling aman, saat itulah ia paling rentan untuk dihancurkan. Menyerang bukan berarti harus selalu berteriak dan mengangkat pedang. Terkadang, bisikan angin pun cukup untuk membuat istana pasir runtuh. Dan ketika musuh mulai panik, saat itulah kita tahu, panah yang kita lepaskan mulai tepat mengenai sasaran."

...****************...

Hari-hari berlalu dengan cepat di rumah tua itu. Namun, jauh di pusat kota, kekacauan mulai tercipta. Rencana yang disusun Hariz dan Rosella mulai berjalan perlahan namun pasti.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuat "info bocor" yang sangat terbatas. Melalui akun-akun anonim dan perantara yang bisa dipercaya, informasi mengenai ketidakwajaran keuangan di beberapa proyek milik Grup Abraham mulai menyebar ke telinga para investor besar dan media ekonomi.

Bukan data lengkap, hanya potongan-potongan kecil yang cukup untuk memancing rasa penasaran dan kecurigaan.

Efeknya langsung terasa.

Di lantai teratas gedung pencakar langit milik mereka, suasana di ruangan kerja milik Hengki Abraham saat ini terasa lebih panas daripada api neraka.

BRUKK!

Sebuah ponsel mahal terlempar keras ke dinding, hancur berkeping-keping.

"SIAPA YANG MELAKUKAN INI?! SIAPA YANG BERANI BERMAIN DENGANKU?!" teriak Hengki dengan wajah memerah padam, urat-urat lehernya menonjol keluar.

Di hadapannya, beberapa manajer dan staf keuangan berdiri tertunduk takut, tak berani mengeluarkan suara. Di sudut ruangan, Luna Valencia duduk dengan wajah pucat dan gelisah. Tangannya saling bertaut erat, matanya menatap Hengki dengan cemas.

"Pasar saham kita turun drastis hari ini, Pak," lapor salah satu staf dengan suara gemetar. "Banyak investor besar yang mulai menarik dananya karena isu negatif ini. Mereka bilang ada indikasi aliran dana yang tidak jelas."

"Isu sialan! Itu semua fitnah! Itu bohong!" Hengki mondar-mandir dengan langkah lebar, napasnya memburu menahan amarah. "Siapa yang punya nyali sebesar itu? Siapa yang tahu akan soal ini?!"

Luna akhirnya memberanikan diri bicara. Suaranya lembut namun bergetar.

"Mas... jangan-jangan... itu ulah mereka?"

Hengki berhenti berjalan. Ia menoleh tajam ke arah Luna. "Maksudmu? Hariz dan wanita sialan itu?"

"Siapa lagi kalau bukan mereka?" kata Luna, matanya berkilat curiga. "Mereka yang kabur membawa flashdisk itu. Mereka yang paling benci sama kita. Pasti mereka yang menyebar isu ini untuk menjatuhkan kita!"

Mendengar itu, wajah Hengki berubah menjadi sangat menyeramkan. Senyum miring penuh dendam terukir di bibirnya.

"Jadi mereka masih hidup ya... Dan mereka pikir bisa seenaknya bermain api di belakangku?" Hengki tertawa pelan, namun tawanya terdengar sangat dingin dan menakutkan. "Bagus. Kalau mereka mau main, aku akan ajari mereka cara bermain yang sesungguhnya."

"Hanya saja, Mas..." Luna tampak ragu. "Kalau mereka benar-benar punya datanya... dan mereka memberanikan diri menyebar isu, berarti mereka punya cadangan kuat. Kita harus hati-hati. Kalau data itu bocor penuh ke polisi atau media, kita habis, Mas."

Hengki mendekati Luna, lalu memegang dagu wanita itu dengan kasar. "Tenang saja. Selama mereka belum menemukan bukti mutlak atau saksi yang berani bicara, kita masih aman. Dan tugas kamu sekarang adalah cari tahu di mana mereka bersembunyi! Cari dan habisi mereka sebelum mereka menjadi masalah besar!"

 

Sementara itu, di rumah tua tempat persembunyian, suasana justru terasa tenang meski di luar sana badai sedang mengamuk.

Rosella dan Hariz sedang duduk di depan laptop, memantau perkembangan berita dan pergerakan saham perusahaan Abraham yang sedang anjlok. Wajah mereka berdua tampak puas melihat hasil kerja pertama mereka.

"Lihat itu, Riz," tunjuk Rosella dengan jari telunjuknya. "Sahamnya turun terus. Mereka pasti panik setengah mati sekarang."

Hariz tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada layar. "Itu baru permulaan, Ell. Kita baru saja menggelitik mereka. Lihat bagaimana reaksi mereka. Kalau tebakanku benar, mereka sekarang pasti sibuk menutup lubang di sana-sini dan panik mencari keberadaan kita."

"Tapi apakah usaha kita sudah cukup, Riz?" tanya Rosella sedikit ragu. "Apa mereka tidak akan mencari jalan keluar lain dengan menyuap orang?"

"Mereka pasti akan mencobanya, Ell. Itu cara mereka selama ini," jawab Hariz santai. "Tapi kali ini beda. Kita tidak menyerang lewat satu pintu saja. Kita menyebar keraguan ke banyak pihak. Sekarang, bahkan orang kepercayaan mereka sendiri pun mungkin mulai curiga satu sama lain."

Benar saja, strategi "membuat mereka saling curiga" yang dirancang Hariz mulai membuahkan hasil.

Beberapa hari terakhir, melalui jejaring digital yang mereka buat, informasi palsu namun terlihat meyakinkan mulai dikirimkan secara anonim ke beberapa orang terkait di perusahaan.

Ada yang dikirim ke asisten Hengki, isinya seolah-olah Luna sedang menyembunyikan dana sendiri. Ada juga yang dikirim ke orang kepercayaan Luna, yang menyinggung bahwa Hengki berniat menjadikan Luna sebagai kambing hitam jika masalah membesar.

Efeknya luar biasa. Hubungan antara Hengki dan Luna yang dulunya sangat mesra dan kompak, kini mulai terlihat renggang. Mereka sering bertengkar, saling tuduh, dan tidak lagi saling percaya sepenuhnya.

Di ruang tamu rumah tua itu, Rosella tertawa kecil melihat laporan intelijen kecil yang mereka kumpulkan.

"Lucu ya, Riz. Dulu mereka begitu harmonis jahatnya, sekarang malah saling gigit menggigit."

"Begitulah orang yang berjalan di jalan yang salah, Ell. Ketika masalah datang, kesetiaan mereka hanya setipis kertas," jawab Hariz bijak. Ia lalu menoleh ke Rosella dengan tatapan lembut. "Dan berkat kecerdikanmu dalam memanipulasi data agar terlihat asli, mereka benar-benar termakan umpan kita."

Rosella tersenyum malu. "Aku cuma melakukan apa yang kamu suruh kok."

"Tapi Ell, kamu melakukannya dengan sangat sempurna," puji Hariz tulus. Ia mengulurkan tangan, mengusap lembut rambut panjang kekasihnya itu. "Kamu jauh lebih kuat dan lebih tangguh dari yang kamu bayangkan, Rosella. Aku bangga sekali sama kamu."

Pujian itu membuat hati Rosella berbunga-bunga. Rasa lelah dan takut yang selama ini ia pendam seakan hilang terbawa angin. Di sisi pria ini, ia merasa bisa melakukan segalanya.

Namun, kebahagiaan mereka tidak boleh berlangsung lama. Fokus mereka harus kembali terpasang tajam.

Hariz mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius kembali.

"Oke, permainan kucing dan tikus ini sudah cukup membuat mereka lelah dan bodoh. Sekarang saatnya kita naik ke tahap berikutnya," kata Hariz.

"Tahap apa kali ini, Riz?" tanya Rosella siap siaga.

"Tahap pengungkapan," mata Hariz berkilat tegas. "Kita sudah punya semua bukti. Kita sudah membuat pondasi mereka retak. Sekarang waktunya kita mencari pihak yang tepat untuk menyerahkan bukti ini. Kita butuh orang yang benar-benar bersih dan punya kekuatan hukum yang kuat, orang yang tidak bisa dibeli oleh uang Hengki."

Rosella mengangguk paham. "Dan siapa orang itu?"

"Ayah kita," jawab Hariz pelan namun tegas. "Pak Abraham. Selama ini beliau mungkin buta karena terlalu percaya pada anak sulungnya. Tapi kalau beliau melihat bukti nyata dengan matanya sendiri... saya yakin, sebagai pemimpin keluarga dan pemilik perusahaan, beliau akan bertindak adil."

Rosella tertegun. "Mertuaku? Apa dia mau menerima kita? Apa dia mau mendengarkan? Lagipula, bagaimana kita bisa bertemu dia? Dia pasti selalu dijaga ketat dan diawasi oleh orang-orang Hengki."

"Itulah tantangannya, Ell," Hariz tersenyum penuh percaya diri. "Kita harus menemui beliau secara diam-diam. Kita harus membuka matanya sebelum terlambat. Karena kalau bukan beliau yang membereskan masalah ini dari dalam, maka perusahaan ini akan hancur total dan nama baik keluarga akan ternoda selamanya."

Rosella menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantung yang kembali berdegup kencang. Pertemuan dengan Pak Abraham berarti mereka harus masuk kembali ke sarang harimau. Sangat berbahaya. Namun demi kebenaran, demi Arkan, ia harus berani.

"Baiklah, Riz. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rosella mantap.

Hariz menatap kekasihnya dengan bangga. "Kita bersiap untuk serangan besar. Besok... besok kita akan kembali ke tempat di mana segalanya bermula. Ke kediaman utama keluarga Abraham."

 

1
Daisy
keren.
Rocean: terima kasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!