NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Garis Yang Tidak Boleh Dilewati

Hari-hari pertama di rumah besar itu berlalu dengan ritme yang sama persis. Pagi yang dingin, siang yang sepi, dan malam yang panjang. Kirana mulai terbiasa dengan pola hidup Arga. Pria itu adalah makhluk yang sangat teratur namun juga sangat tertutup.

Setiap pagi, Arga bangun lebih awal. Ia selalu terlihat rapi, wangi, dan siap menghadapi dunia. Sarapan mereka lakukan dalam kebisuan yang kaku. Kadang Arga membaca koran atau membalas pesan di ponselnya, sementara Kirana hanya makan dengan tertib, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun agar tidak mengganggu.

Kirana berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlihat mencolok. Ia menjadi seperti bayang-bayang di rumah itu sendiri. Saat Arga ada di ruang tamu, Kirana memilih mengurung diri di kamar atau di dapur membantu Bi Sumi. Ia sadar betul, kehadirannya di sini hanyalah sebuah formalitas, dan ia tidak ingin menjadi gangguan bagi sang pemilik rumah.

Namun, menghindar bukanlah hal yang mudah di sebuah rumah yang dihuni hanya oleh dua orang ini.

Suatu sore, hujan turun sangat deras disertai guntur yang menggelegar. Kirana sedang duduk di ruang keluarga, mencoba membaca buku untuk mengusir kebosanan, ketika tiba-tiba listrik di seluruh rumah padam. Gelap gulita.

"Ya ampun..." Kirana tersentak kaget. Ia berdiri perlahan, meraba-raba dinding mencari senter yang biasanya disimpan Bi Sumi di laci meja.

Belum sempat ia menemukannya, pintu utama terbuka lebar. Arga masuk. Pria itu baru pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, mungkin karena menghindari macet atau cuaca yang buruk.

"Kenapa gelap?" tanya Arga dengan nada kesal. Suaranya terdengar lebih dekat dari biasanya.

"Listrik mati, Arga," jawab Kirana pelan dari sudut ruangan.

Arga menghela napas panjang terdengar frustrasi. "Sial. Aku butuh berkas penting di laptop."

Beberapa saat kemudian, lampu emergency menyala redup, memberikan cahaya yang cukup agar mereka bisa melihat sekeliling. Suasana menjadi remang-remang, agak romantis bagi pasangan suami istri pada umumnya, tapi bagi mereka berdua? Hanya menambah kesan canggung.

Arga melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa, lalu duduk dengan wajah murung. Hujan di luar semakin deras, suara air menghantam atap dan jendela memenuhi ruangan.

Karena tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan, dan Arga tampak tidak berniat pergi ke kamarnya, Kirana terpaksa tetap berdiri di dekat rak buku, tidak tahu harus berbuat apa.

"Duduklah," suara Arga memecah keheningan. "Jangan berdiri seperti patung di sana. Itu membuatku tidak nyaman."

Kirana mengerjap, lalu berjalan mendekat dengan hati-hati. Ia duduk di ujung sofa yang paling jauh dari Arga.

"Hujan deras sekali," kata Kirana mencoba memecah kebekuan, suaranya hampir tertutup suara hujan.

Arga tidak menjawab. Ia justru menatap Kirana lekat-lekat di bawah cahaya lampu darurat yang remang itu. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengamati wajah istrinya itu tanpa rasa kesal atau dingin.

Kirana terlihat sangat berbeda saat tidak mengenakan riasan tebal atau gaun pesta. Hari ini ia hanya memakai baju rumah yang sederhana, kerudungnya rapi, wajahnya polos tanpa make-up. Namun justru penampilan alami itulah yang membuatnya terlihat sangat cantik, lembut, dan memancarkan aura ketenangan yang luar biasa.

"Kau..." Arga mulai bicara, suaranya terdengar lebih rendah dan lembut dari biasanya. "Apa yang biasa kau lakukan seharian di sini saat aku pergi?"

Kirana terkejut mendapat pertanyaan itu. Jarang sekali Arga bertanya tentang kegiatannya.

"Eh... biasa saja, Arga. Membereskan kamar, membaca buku, kadang membantu Bi Sumi di dapur, atau sekadar duduk di taman belakang," jawabnya jujur.

"Tidak bosan?"

"Bosaan pasti ada, tapi... aku sudah terbiasa," jawab Kirana rendah hati.

Arga terdiam lagi. Ia menatap wajah wanita itu. Tatapannya membuat jantung Kirana berdegup kencang, campur aduk antara rasa takut dan rasa malu.

"Kau tahu, Kirana," Arga mulai bicara lagi, kali ini nadanya terdengar lebih serius, seolah ingin membuka pembicaraan penting. "Aku tahu pernikahan ini berat buatmu. Dan jujur, buatku juga tidak mudah."

Kirana menunduk, memilin ujung bajunya. "Aku mengerti, Arga. Aku tidak menuntut apa-apa kok. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik sesuai perjanjian kita."

"Bagus kalau kau mengerti," potong Arga cepat. "Tapi ada satu hal yang ingin ku tegaskan lagi. Soal batasan."

Kirana mendongak, menatapnya bingung. "Batasan?"

"Ya," Arga menyandar ke belakang, menyilangkan tangan di dada. "Kau wanita baik-baik, Kirana. Dan aku tidak ingin ada salah paham atau harapan yang tumbuh di hatimu. Jangan pernah berharap lebih dari apa yang sudah kita sepakati."

Kata-kata itu bagaikan duri yang menusuk hati Kirana. Dadanya terasa sesak.

"Maksud Arga?"

"Maksudku, jangan coba-coba mencampuri urusan pribadiku, dan yang paling penting... jangan pernah berusaha mencari tahu tentang masa laluku, atau tentang wanita-wanita yang pernah ada dalam hidupku," ucap Arga tegas, matanya menatap tajam menembus mata Kirana. "Itu adalah garis merah yang tidak boleh kau lewati. Mengerti?"

Kirana merasa dadanya sesak oleh rasa sakit yang tiba-tiba. Jadi, pria ini khawatir dirinya akan cemburu atau mengganggu hubungannya dengan wanita lain?

"Apakah... saat ini Arga sedang menjalin hubungan dengan seseorang?" tanya Kirana dengan suara bergetar. Ia tidak tahu dari mana keberanian itu muncul, mungkin karena suasana hujan yang membuatnya sedikit lebih berani dari biasanya.

Wajah Arga berubah datar, lalu sedikit menyeringai sinis. "Itu bukan urusanmu, Kirana. Itulah yang aku maksud. Selama aku bisa menafkaimu, memberikan tempat tinggal yang layak, dan memposisikanmu sebagai Nyonya Wijaya di depan publik, urusan hati dan perasaanku adalah hak pribadiku."

Air mata Kirana mulai menggenang. Rasanya perih sekali. Ia tahu posisinya, tapi mendengarnya diucapkan sejelas dan sekejam ini sungguh menyakitkan.

"Jadi... bagiku ini pernikahan, tapi bagimu ini hanya kontrak kerja sama?" tanyanya pelan.

"Bisa dibilang begitu," jawab Arga tanpa belas kasih. "Dan aku harap kau bisa profesional dalam menjalani 'kontrak' ini. Jangan jadi wanita rewel, cemburuan, atau posesif. Aku benci wanita seperti itu."

Kirana menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Ia merasa sangat kecil dan tidak berharga saat ini.

"Aku mengerti," bisiknya, suaranya parau. "Aku tidak akan pernah bertanya soal itu lagi. Dan aku tidak akan pernah mencampuri urusan pribadimu. Tenang saja, Arga. Aku tahu diri."

Arga sepertinya puas dengan jawaban itu. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendor.

"Bagus. Kalau begitu, kita bisa hidup damai."

Percakapan itu terhenti di situ. Listrik kembali menyala, menerangi ruangan dengan terang benderang. Namun cahaya itu tidak mampu menghangatkan suasana yang kembali membeku. Arga berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan, meninggalkan Kirana yang duduk sendirian dengan hati yang hancur lebur.

Malam harinya, suasana makan malam semakin kaku. Kirana sama sekali tidak berselera makan. Ia hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya.

Arga menyadari perubahan sikap wanita itu.

"Makanlah. Jangan mainan saja makanannya," tegur Arga.

"Aku tidak lapar," jawab Kirana singkat.

"Jangan bertingkah kekanak-kanakan. Kau tidak sakit kan?"

"Tidak. Aku hanya tidak lapar," jawab Kirana lagi, kali ini suaranya sedikit lebih tegas, meski hatinya sedang menangis.

Arga menatapnya lama. Ia melihat ada genangan air mata di sudut mata Kirana yang berusaha ditahan agar tidak jatuh. Untuk sesaat, ada rasa bersalah yang samar menyelinap di hati Arga. Mungkin kata-katanya tadi sore terlalu keras?

Tapi rasa itu segera ia tepis. Lebih baik sakit sekarang daripada dia berharap lebih nanti, pikir Arga membela diri.

"Baiklah, terserah kau," ucap Arga akhirnya, lalu melanjutkan makannya dengan tenang.

Setelah makan malam, Kirana langsung pamit naik ke kamar. Ia tidak tahan lagi berada di ruangan yang sama dengan pria yang sudah jelas-jelas mengatakan bahwa hatinya milik orang lain, atau bahkan tidak milik siapa pun.

Di kamar, Kirana akhirnya membiarkan air matanya mengalir bebas. Ia memeluk lututnya, duduk bersandar di kepala ranjang.

"Kenapa harus sesakit ini, Tuhan?" ratapnya dalam hati. "Aku sudah berusaha bersikap baik, berusaha menerima keadaan, tapi kenapa dia terus memberiku jarak yang begitu jauh?"

Ia sadar sekarang. Bahwa meski cincin sudah melingkar di jarinya, meski nama belakangnya sudah berubah, namun hati pria itu adalah sebuah istana yang terkunci rapat, dan ia tidak pernah diberi kuncinya. Bahkan, ia bahkan tidak diizinkan untuk mendekat ke gerbangnya saja.

Malam itu, Kirana berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan membangun tembok pertahanan di hatinya juga. Mulai sekarang, ia tidak akan lagi berharap pada keajaiban. Ia akan menjalani pernikahan ini dengan kepala tegak, sebagai seorang istri yang taat dan sopan, tapi ia akan menjaga perasaannya agar tidak pernah terluka lagi oleh sikap dingin Arga Wijaya.

Namun, sayangnya Kirana belum menyadari satu hal... Jauh lebih mudah berkata untuk tidak mencinta, daripada benar-benar berhenti mencinta ketika perasaan itu mulai tumbuh tanpa disadari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!