Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Sumpah di Bawah Langit Merah
Faris Arjuna melangkah masuk ke tengah pendopo. Suasana mendadak mencekam. Ki Banaspati, utusan Ki Ageng Blorong, tiba-tiba menghentakkan kakinya ke lantai kayu.
BRAAAKKK!
(Suara lantai kayu yang retak karena tekanan energi hitam Ki Banaspati).
"Jangan sombong kau, Bocah Ingusan!" teriak Ki Banaspati sambil merapal mantra. Tiba-tiba dari telapak tangannya keluar bola api hitam yang melesat ke arah Faris.
WUUUSSSHHHH... JLEEERRRR!
(Suara angin yang terbelah dan ledakan bola api saat mendekati Faris).
Faris hanya berdiri mematung. Begitu bola api itu tinggal satu jengkal dari wajahnya, Faris hanya meniupnya pelan dengan satu kata sakti.
"Sirno!"
(Sirna!)
PUUUFFF... CEEESSSS...
(Suara bola api hitam yang padam seketika seperti bara api disiram air es).
Ki Banaspati terkejut bukan main. Ia mencabut sebuah keris luk sebelas yang mengeluarkan aura ungu pekat. Ia melompat sambil menebaskan kerisnya ke arah leher Faris.
SINGGGG... TRANGGG!
(Suara keris yang beradu dengan aura emas pelindung tubuh Faris yang sekeras baja).
"Dikmas Faris, waspada! Keris itu mengandung racun batin!" teriak Arjuna Hidayat dari pinggir panggung.
Faris hanya tersenyum tipis. Ia tidak membalas dengan pukulan, melainkan dengan hentakan suara yang keluar dari kerongkongannya, dibantu oleh kekuatan Guru Sejati.
HAAAMMM... REEEE...!!!
(Suara gertakan batin Faris yang frekuensinya membuat kaca-kaca di pendopo pecah berantakan).
PRANNGGGG! PYARRRR!
(Suara kaca jendela pendopo yang hancur berkeping-keping karena getaran suara Faris).
Ki Banaspati terpental ke belakang hingga menabrak tiang pendopo yang besar.
DUAAKKK! KREEEKKK!
(Suara punggung Ki Banaspati menghantam kayu jati dan suara tiang yang mulai retak).
"Kakang Faris! Hajar saja si tua bangkai itu!" teriak kerabat muda yang memanggil Faris dengan sebutan Kakang sambil mengepalkan tangan penuh semangat.
Faris berjalan mendekati Ki Banaspati yang terengah-engah. Faris membuka mulutnya, setiap kata yang keluar kini diikuti dengan gema yang menyakitkan telinga lawan.
"Sampeyan dudu tandinganku. Balio, kandani bosmu... yen aku wis teko!"
(Kamu bukan tandinganku. Pulanglah, beri tahu bosmu... kalau aku sudah datang!)
DHEEEEEMMMMM!
(Suara gema dari lisan Faris yang membuat tanah di sekitar pendopo bergetar hebat seperti gempa bumi).
Ki Banaspati muntah darah hitam, ia merasakan batinnya seperti diremas oleh tangan raksasa. Ia segera lari terbirit-birit bersama anak buahnya sambil merangkak.
SRUKKK... SRUKKK...
(Suara langkah kaki yang terseret-seret karena ketakutan setengah mati).
"Luar biasa, Dikmas. Lidahmu benar-benar sudah menjadi senjata pemusnah masal bagi mereka yang berniat jahat," ucap Raden Jayanegara sambil bertepuk tangan.
Faris mengatur napasnya kembali, aura emas di tubuhnya perlahan meredup masuk kembali ke pori-pori kulitnya. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan bau gosong dari sisa api hitam tadi.
"Iki lagi pemanasan, Kangmas. Isih akeh swara sing luwih banter tinimbang iki ing babak sabanjure."
(Ini baru pemanasan, Kangmas. Masih banyak suara yang lebih keras dari pada ini di
babak selanjutnya)
Setelah Ki Banaspati menghilang di balik semak-semak, suasana pendopo tidak lantas menjadi tenang. Langit yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi kelabu kemerahan. Tiba-tiba, dari empat penjuru angin, terdengar suara lengkingan tinggi yang menyakitkan telinga.
NGIIIIIIIIINNNNNGGGGGG....!!!
(Suara frekuensi tinggi gaib yang dikirim Ki Ageng Blorong dari jarak jauh untuk merusak saraf).
"Agh! Telingaku! Kakang Faris, kepalaku rasanya mau pecah!" teriak kerabat muda itu sambil menutup telinganya rapat-rapat.
BRUGGG!
(Suara pemuda itu jatuh berlutut karena tidak kuat menahan serangan suara tersebut).
Arjuna Hidayat dan Raden Jayanegara langsung memasang kuda-kuda batin, namun wajah mereka tampak pucat. Serangan ini bukan fisik, tapi suara yang langsung menghantam sukma.
DEG... DEG... DEG...
(Suara detak jantung yang mendadak tidak beraturan mengikuti irama lengkingan setan tersebut).
Faris Arjuna berdiri tegak di tengah pendopo. Ia melihat saudara-saudaranya tersiksa. Matanya mendadak berubah menjadi keemasan. Ia menarik napas panjang dari perut, lalu mengeluarkan suara rendah yang sangat berat, mengimbangi lengkingan tajam itu.
"HUUUUUUUUMMMMMMMMMMMMMMMMM...
(Suara dengungan dari dalam dada Faris yang bergetar seperti mesin pesawat jet).
BLAAAMMMMM!
(Suara benturan dua energi suara di udara yang menciptakan gelombang kejut hingga merontokkan daun-daun pohon beringin di sekitar pendopo).
"Cukup, Blorong! Ojo dadi pengecut sing mung wani dolanan swara soko kadohan!" teriak Faris dengan suara yang membelah langit.
(Cukup, Blorong! Jangan jadi pengecut yang hanya berani bermain suara dari kejauhan!)
DHUARRRRRR!
(Suara petir yang mendadak menyambar tepat di atas pendopo, menghancurkan frekuensi jahat milik Ki Ageng Blorong seketika).
Seketika, lengkingan itu berhenti. Suasana menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara napas yang terengah-engah dari para kerabat Wijaya.
HAAAHHH... HAAAHHH... HAAAHHH...
(Suara napas lega dari para saudara Faris yang baru saja selamat dari maut suara).
"Luar biasa, Dikmas. Kau baru saja melakukan Pangruwatan suara secara instan," puji Dewi Tribhuwana Tunggadewi yang baru saja bangkit dari meditasinya.
Faris menatap ke arah utara, tempat padepokan musuh berada. "Kakang Hidayat, siapkan mobil. Kita tidak bisa terus-terusan menunggu diserang. Besok, kita yang akan mendatangi mereka dengan suara kebenaran."
KLIK!
(Suara pintu mobil yang dibuka dengan mantap oleh Arjuna Hidayat).
"Siap, Dikmas! Kita buat mereka tahu bahwa suara kebenaran tidak akan pernah bisa diredam oleh mantra apa pun!" jawab Arjuna Hidayat dengan tegas.
VROOOOOMMMMM....!
(Suara mesin mobil keluarga Wijaya yang menderu kencang, meninggalkan pendopo tua yang kini hancur berantakan akibat perang batin tadi).
Di dalam mobil, Faris hanya diam menatap jendela. Ia tahu, babak terakhir di angka 30 ini akan menjadi penentu siapa yang benar-benar berhak memegang tongkat kepemimpinan di tanah ini
Mobil hitam mewah itu berhenti tepat di depan gerbang utama kediaman Eyang Wijaya. Faris Arjuna turun dengan langkah yang sangat tenang, meskipun aura di sekelilingnya masih terasa panas sisa pertempuran tadi. Di halaman luas, ternyata seluruh keluarga besar dan para pengikut setia sudah berbaris rapi menyambutnya.
TAK... TAK... TAK...
(Suara langkah sepatu pantofel Faris yang beradu dengan lantai marmer, menggema di seluruh koridor).
Faris berdiri di depan podium kayu jati yang sudah disiapkan. Di sampingnya, Arjuna Hidayat dan Raden Jayanegara berdiri tegak seperti pagar baja. Faris menatap ribuan mata yang menaruh harapan padanya.
"Kakang Faris, perintah Kakang adalah napas bagi kami! Katakan, apa yang harus kami lakukan?" teriak salah satu kerabat muda dengan suara lantang.
Faris memegang pinggiran podium. Ia tidak butuh pengeras suara. Kekuatan lisan batinnya sudah cukup untuk membuat suaranya terdengar sampai ke gerbang belakang.
"Dungonem... Siapno batinmu. Perang iki dudu perang tanding otot, nanging perang tanding benering lakon!"
(Berdoalah... Siapkan batinmu. Perang ini bukan perang tanding otot, melainkan perang tanding kebenaran jalan hidup!)
DEEEESSSSSS!
(Suara hembusan angin yang tiba-tiba berputar di tengah lapangan, membawa harum bunga melati yang sangat kuat).
Faris mengangkat tangan kanannya ke langit. Seketika, awan merah yang tadi menggantung mulai terbelah oleh sinar rembulan yang putih bersih.
"Sing sapa wani nerak garis, mulo bakal nemu tumpes!"
(Siapa saja yang berani melanggar garis, maka akan menemukan kehancuran total!)
CRAAAAKKKK!
(Suara petir tunggal yang menyambar tepat di atas tiang bendera kediaman, bukan menghancurkan, tapi justru membuat bendera itu berkibar lebih gagah).
"Dikmas Faris, perintah sudah bulat. Kami semua siap menjadi perisaimu," ucap Arjuna Hidayat sambil memberikan hormat takzim.
Faris menoleh ke arah kakaknya, lalu tersenyum tipis. Ia mengambil sebilah keris pusaka pemberian Eyang Wijaya dan menghentakkannya ke meja kayu.
TOK!
(Suara hentakan kayu yang mantap, menandakan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat).
"Sesuk fajar... Kita buktikan sopo sing dipilih dening alam. Mulyo utawa mati demi benering nusa!"
(Besok fajar... Kita buktikan siapa yang dipilih oleh alam. Mulia atau mati demi kebenaran nusa!)
HUWAAAAAA....!!!
(Suara teriakan serempak dari ribuan pengikut yang menggetarkan batin, membakar semangat perjuangan).
Faris kemudian berbalik masuk ke dalam kediaman, meninggalkan halaman yang masih bergetar oleh semangat massa. Di ambang pintu, ia berpapasan dengan Dewi Tribhuwana. "Dikmas, batinmu sudah benar-benar menyatu dengan jagad. Tidurlah, simpan suaramu untuk fajar esok."
"Matur nuwun, Ayunda. Faris badhe sare, nanging batin Faris tetep melek njogo barisan."
(Terima kasih, Kakak. Faris mau tidur, tapi batin Faris tetap bangun menjaga barisan.)
KREEEEKKKK...
(Suara pintu kayu besar yang tertutup perlahan, menandakan persiapan batin terakhir telah dimulai).
Malam itu, di bawah perlindungan Trah Wijaya, Sang Satrio Piningit bersiap menyongsong takdirnya yang paling besar di Bab selanjutnya.
.