Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelelahan
Resepsi pernikahan digelar tanpa menimbulkan rasa bahagia di hati Rayga maupun Aurellia.
Di depan banyak tamu undangan, Aurellia terpaksa memasang senyum palsu yang bertentangan dengan perasaannya saat ini.
Sedangkan Tuan Dekha sibuk menerima tamu undangan, tetapi Rayga dan Aurellia tetap tidak luput dari pantauannya.
"Tuan, aku capek berdiri terus. Apa boleh aku duduk?" tanya Aurellia yang merasakan kakinya sudah begitu pegal berdiri terus sedari tadi.
Rayga menoleh sekilas padanya dengan tatapan tajam, membuat Aurellia kembali membungkam mulutnya sendiri.
Walau tetap berdiri di samping Rayga.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Tuan Dekha memperhatikan Aurellia yang terus gelisah dan terlihat mulai tak nyaman.
"Percepat acaranya. Setelah ini langsung saja pada perkenalan siapa istri cucuku dan latar belakang keluarganya. Biar orang-orang tahu cucuku menikah dengan orang yang tepat." Tuan Dekha menemui MC acara untuk mempercepat acara dan men-skip beberapa poin yang sebetulnya sudah disusun dengan epik.
MC menuruti perintah Tuan Dekha, karena memang pria tua itu yang memegang kendali semua acara hari ini.
Bahkan Rayga bagaikan patung yang hanya bisa mengikuti kakeknya.
Beberapa acara telah di-skip, termasuk acara dansa bersama tidak jadi dilaksanakan.
Saat MC ingin masuk ke sesi perkenalan siapa pengantin wanita, tiba-tiba terjadi kericuhan di dalam ruangan.
Beberapa orang maju ke depan menghampiri pengantin wanita, sedangkan Rayga yang berada di sisinya terlihat santai tanpa ada kecemasan seperti yang diperlihatkan kakek dan beberapa orang yang ada di sana.
"Kau menyusahkan saja!" geram Rayga, dia menarik tubuh Aurellia yang tergeletak di lantai tanpa ada kelembutan sama sekali.
"Kau menyakiti cucu mantuku!" bentak Tuan Dekha ketika melihat Rayga menarik tubuh Aurellia dengan kasar.
Aurellia yang sudah tidak tahan dan telah kecapean berdiri dalam waktu yang cukup lama, akhirnya tidak bisa tahan lagi untuk berdiri di depan tamu undangan.
Dia jatuh pingsan membuat suasana jadi tidak kondusif untuk sebuah acara yang meriah.
"Gendong dia, bawa ke kamar!" titah Tuan Dekha melihat Rayga hanya memegang Aurellia tanpa melakukan tindakan apa-apa.
Rayga tidak banyak bicara, walau hanya untuk menjawab perintah kakeknya.
Dia langsung mengangkat tubuh Aurellia menuju kamar yang telah disediakan kakeknya di hotel itu.
Wajah Aurellia memucat, jemarinya terasa dingin, tetapi itu tidak membuat Rayga cemas sama sekali.
Bahkan dia terlihat santai dengan kondisi Aurellia saat ini.
Berbeda dengan Tuan Dekha yang begitu cemas dan sangat takut terjadi apa-apa pada cucu mantunya itu.
"Mana dokternya, kenapa lama?" desak Tuan Dekha pada Xander yang ikut masuk ke dalam kamar yang ditempati Aurellia.
"Sudah aku hubungi, dia sudah dalam perjalanan," jawab Xander.
"Jangan kau biarkan dia begitu saja, Anak Nakal! Pijat dia, mungkin cucu mantuku kecapean," titah Tuan Dekha begitu geram melihat Rayga yang tidak melakukan tindakan apa-apa pada Aurellia yang terbaring lemah di tempat tidurnya.
"Kau pijit dia, Der!" Rayga melempar perintah kakeknya pada Xander yang berdiri di belakangnya itu.
"Aku?" tanya Xander memastikan perintah Rayga, ia melangkah, mendekat pada Rayga dan mendekatkan mulutnya ke telinga sang bos yang telah berdiri di sampingnya.
"Apa kau mau istrimu kuraba-raba? Kalau kau mau aku melakukannya, aku untung banyak, Bro," bisik Xander diselingi tawa kecil di dekat telinga Rayga.
Rayga geram, dia maju mendekati Aurellia.
Dengan raut wajah terpaksa, Rayga memijat kaki Aurellia yang terasa dingin.
"Jangan kau buka selimutnya! Pijat dari balik selimut, biar dia tidak kedinginan," ujar Tuan Dekha yang begitu cemas dengan kondisi Aurellia.
"Permisi." Seorang Dokter keluarga masuk ke dalamn kamar.
"Periksa cucuku, dia pingsan. Mungkin kecapekan," ujar Tuan Dekha menggeser posisinya, memberi jalan pada Dokter yang baru saja datang.
"Maaf, Tuan Rayga, Saya izin periksa istrinya," izin Dokter itu sopan.
Rayga beranjak dari posisinya tanpa menjawab ucapan Dokter yang hendak memeriksa Aurellia.
"Silahkan, Dok. Segera lakukan yang terbaik untuk cucu mantu saya, jangan sampai dia kenapa-napa," kata Tuan Dekha menanggapi Rayga yang hanya diam saja saat Dokter meminta izin padanya.
"Kakek terlalu lebay. Dia hanya pingsan, bukan lagi menghadapi sakaratul maut," kata Rayga memutar bola matanya jengah dengan sikap kakeknya yang dia anggap sangat berlebihan.
"Jaga bicaramu!" bentak Tuan Dekha tidak suka cucunya berkata seperti itu.
Rayga diam dengan kekesalannya, sedangkan Xander menahan tawanya saat Rayga langsung diskak oleh Tuan Dekha.
Xander kembali mendekati Rayga, berdiri sejajar dengan bosnya itu.
"Bersiap-siaplah, Bos. Posisimu akan tergeser. Sekarang kamu bukan cucu kesayangan Tuan Dekha lagi, melainkan posisi itu kini sudah menjadi milik istrimu," ledek Xander.
"Diam, Kau!" bentak Rayga dengan suara tertahan.
"Apa kau sudah bosan hidup?" geramnya melanjutkan ucapan yang tadi masih menggantung.
Dia mengepalkan tangan begitu erat menahan marah yang menggebu.
"Aaw ... aku takut," jawab Xander dengan cemoohannya.
Walau dia seorang asisten pribadi Rayga yang sepatutnya takut dan patuh pada Rayga, tetapi Xander yang juga berstatus sahabat dari lama bagi Rayga, membuat Xander juga tak sungkan mencemooh bos sekaligus sahabatnya itu.
"Aku masih mencurigaimu sebagai dalang dibalik ini semua. Jika ternyata memang kamu yang telah membocorkan informasi itu, aku akan m3m3nggal kepalamu dengan tanganku sendiri," ancam Rayga tanpa menoleh pada Xander yang berdiri di sampingnya.
"Uhh... takut," jawab Xander membuat kemarahan Rayga makin jadi padanya.
Rayga sanksi pada Xander bukan tanpa sebab, siapa lagi yang punya informasi itu selain Xander.
Karena hanya dia yang memegang informasi rahasia itu, tetapi Rayga juga tidak bisa menuduh dan menetapkan Xander sebagai pelakunya, karena Rayga belum memegang bukti apa-apa di tangannya.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Nak." Tuan Dekha mendekati Aurellia yang menoleh sekeliling dengan tatapan sayu.
"Apa... apa yang kamu rasakan? Ada yang sakit?" tanya Tuan Dekha begitu cemas.
Dekha menggeleng lemah. "Tidak ada, Kek. Siapa yang membawa aku ke sini?" tanya Dekha dengan intonasi suara begitu pelan seolah dia sedang menahannya.
"Suamimu," jawab Tuan Dekha, lalu menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Rayga ang masih stay berdiri di tempatnya.
"Istrimu sudah sadar, kenapa kau mematung di sana!" bentak Tuan Dekha geram pada cucunya yang tidak menunjukkan rasa syukurnya saat Aurellia sadar dari pingsan.
Rayga yang tidak mau berurusan panjang dengan kakeknya, dia melangkah malas mendekati Aurellia.
"Hidupmu hanya bisa menyusahkan,"gerutunya pelan, tetapi ternyata di dengar oleh Tuan Dekha.
"Kau mengutuk istrimu?" Mata Tuan Dekha mengkilap marah.
Rayga diam, bahkan dia di dekat Aurellia hanya duduk tanpa melakukan apa-apa, membuat Tuan Dekha makin geram padanya.
"Darah siapa yang mengalir di tubuhmu? Bahkan ayahmu saja tidak pernah memperlakukan wanita seperti itu!" hardik Tuan Dekha.
Mendengar ayahnya yang dibawa-bawa, Rayga tersenyum miring.
Ada denyutan di hatinya, ribuan sayatan juga terasa mencabik-cabik hatinya.
"Karena kebodohannya itu menjadikan aku seorang yatim di usia dini. Aku yang seharusnya mendapat didikan dari seorang ayah dan mendapat kasih sayang serta pelukan hangat, malah aku harus rela bergulat dengan waktu yang hampa. Kakek tahu itu karena apa?" Rayga menoleh pada Kakeknya,
kilatan dendam terlihat jelas dari sorot mata Rayga.
"Karena manipulatif perempuan yang memanfaatkan kebodohannya! Perempuan itu tidak ada yang benar, mereka itu ular yang siap melilit dan mematuk kapan pun mereka mau!" lanjut Rayga membuat bulir bening jatuh dari pelupuk mata Aurellia.
Dia tidak tahu apa masalah Rayga di masa lalu, tetapi dia sudah sangat sering mendengar Rayga menyimpan dendam pada kaum wanita.
Bahkan mendengar Rayga yang telah yatim dari kecil, membuat hatinya teriris.
Rayga juga merindukan kehangatan kasih sayang orang tua kandungnya.
"Apa nenekmu juga begitu?" tanya Tuan Dekha membungkam Rayga, tetapi tetap kalimat pertanyaan itu tidak mampu menghapus dendamnya.