Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura Menolak
“Lho, kamu udah bangun, Sayang? Kok kamu nggak bangunin aku sih?” tanya Sean yang baru saja bangun tidur.
“Kamu tidurnya nyenyak banget. Jadi aku nggak tega bangunin kamu karena aku tahu kamu pasti kecapekan,” jawab Vera sambil duduk di tepian tempat tidur tepat di samping Sean. “Sayang, aku mau ngomong sesuatu. Ini penting sekali.”
“Ngomong apa sih, Sayang?” sahut Sean sambil mengucek matanya dan menguap.
“Tapi kamu harus janji dulu ke aku kalau kamu nggak akan marah.”
Sean meregangkan lehernya. “Memangnya apa sih yang mau kamu omongin sampai aku harus janji nggak marah segala.”
Vera menatap Sean dengan sungguh-sungguh. “Pokoknya, kalau kamu belum janji ke aku kamu nggak akan marah, aku nggak mau kasih tahu.”
“Iya, iya. Oke. Aku janji aku nggak bakalan marah ke kamu deh,” jawab Sean dengan enggan. “Emangnya kamu mau tanya apa sih? Sampai serius begitu.”
“Uh. Ini soal gadis bernama Christaly yang menjadi asisten barumu itu,” jawab Vera cepat. “Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu soal dia?”
Kata-kata Vera itu sukses membuat Sean sadar sepenuhnya. Dia menoleh ke arah Vera dan menatapnya dalam-dalam seolah dia mencari apa yang sudah diketahui oleh kekasihnya itu dan sudah sejauh mana.
“Tunggu dulu, Vera. Kamu tahu darimana soal gadis yang beranama Christaly yang akan menjadi asisten pribadiku itu?”
Vera mengibaskan tangannya ke udara secara menapik. “Huh! Jangan kamu pikir aku ini bodoh, Sean. Aku sudah tahu semuanya. Termasuk apa yang terjadi di ruang kerja pribadimu itu.”
Mendadak Sean merasa kecut. Dia sama sekali tidak menyangka jika akan tertangkap basah begitu cepat oleh Vera. Padahal dia baru saja berencana akan mengenalkan Christaly denganya begitu mereka bangun tidur untuk menghindari kesalahpahaman. Tapi, sekarang tampaknya semua itu sudah terlambat.
Entah kejadian mana yang Vera ketahui saat dia sedang bersama Christaly dan entah apa yang akan terjadi sekarang. Sean menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokannya terasa kering kerontang.
“Vera, Sayang. Aku bisa menjelaskan semuanya,” kata Sean. “Kamu jangan salah paham dulu, oke?”
“Nggak ada yang perlu kamu jelasakan lagi, kok. Semuanya sudah sangat jelas , seterang siang hari,” sahut Vera. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Aku tahu kalau kamu tidak begitu dalam mencintaiku, Sean. Aku tahu dan sangat paham kalau satu-satunya alasanmu masih tetap bertahan sampai sekarang karena kamu membutuhkan perananku untuk kelangsungan dan kelancaran kariermu. Tapi, aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Aku bisa mengerti dan memahami situasimu.”
Karena Vera menyebut-nyebut soal pengaruh yang dimiliki keluarganya Sean langsung bisa menduga jika Vera mendengar serta melihat kejadian saat Christaly datang tadi pagi buta. Dengan begitu Sean pun tahu apa yang harus dia jelaskan agar Vera mau mengerti.
“Vera, dengar dulu penjelasanku, Sayang. Kamu jangan salah mengerti aku mengatakan semua itu supaya Christaly nggak berani berbuat yang macam-macam. Aku sama sekali nggak punya maksud apa pun atau niat yang lainnya.” Sean menjelaskan dengan menekan kata-katanya agar terdengar sangat meyakinkan.
“Sayang, kamu kan tahu kalau aku sayang banget sama kamu. Cinta mati sama kamu. Aku tulus, Sayang. Kamu jangan berpikiran yang macam-macam, ya. Jangan ambil hati kata-kataku yang itu.”
Vera meraih tangan Sean dan menggenggamnya kuat-kuat. “Tenang aja, Sayang. Aku nggak marah, kok. Kan aku sudah bilang kalau aku bisa mengerti. Oke?”
Sean mengangguk sekilas. Sebenarnya dia masih sangat bingung dengan apa yang sedang terjadi. Karena, jika Vera sama sekali tidak marah dengan apa yang dia lihat dan dia dengar, itu artinya ada sesuatu hal yang lain lagi.
“Oh, iya, Sayang. Tadi aku kan tanya kamu soal bagaimana pendapatmu tentang Christaly. Kamu belum jawab pertanyaanku yang itu,” kata Vera kembali menegaskan pertanyaannya.
Sean mengerutkan dahi, dia menatap Vera dengan agak sedikit was-was. “Kenapa kamu tanya itu, Sayang?”
“Aku cuma pengen tahu aja bagaimana pendapatmu. Karena aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku nanti pas kamu sudah di Malang,” jawab Vera .
“Hem, ya. Chirstaly itu gadis yang cukup menyebalkan. Keras kepala, sembrono, dan cerewet seperti burung beo,” sahut Sean. Dia sengaja mengatakan hal yang buruk, bukan hal yang baik agar Vera tidak menaruh curiga kepadanya.
Sean takut kalau sampai Vera tahu alasan dia yang sebenarnya menerima Christaly karena dia tertarik dengan tubuh gadis itu yang begitu menggoda. Tapi, apa yang dia katakan juga tidak sepenuhnya bohong. Karena bagi Sean, Christaly cukup menyebalkan.
“Emangnya kamu mau nyuruh aku lakuin apa kalau aku sudah di Malang nanti?”
Vera berdehem. Dia melipat kakinya ke atas tempat tidur. Kemudian dia menjelaskan semuanya kepada Sean terkait idenya yang ingin agar Sean mau bercinta dengan chrsitaly saat gairahnya sedang menggebu-gebu. Sean yang mendengarkan ide gila Vera sontak terbelalak sambil ternganga karena tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Akan tetapi, Vera terus berusaha meyakinkan dirinya kalau semua itu dia lakukan karena dia sayang dan peduli dengan Sean. Tidak lupa Vera juga menambahkan kalau dia bisa mengerti situasi sulitnya dan percaya sepenuhnya dengan Sean.
Dia tidak akan marah apalagi cemburu buta. Akan tetapi, meskipun Vera terus menerus memaksa Sean, pria itu masih tetap kukuh menolak ide gila Vera. Dia berdalih jika dirinya melakukan hal itu dia khawatir akan memengaruhi hubungannya dengan Vera.
“Aku bener-bener nggak bisa nurutin kemauanmu kali ini, Vera. Itu gila dan sangat nggak masuk akal,” kata Sean. “Aku nggak mau kalau gara-gara ide gila yang kamu gagas ini hubungan kita jadi bermasalah ke depannya.”
“Aku jamin semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Lagian juga kamu kan nggak akan lama di Malang,” sahut Vera yang masih tetap keras kepala.
“Sean, aku ngelakuin ini semua demi kebaikanmu. Aku tahu kalau kamu memiliki libido yang nggak kayak laki-laki pada umumnya. Dan, kalau kamu belum melepaskan gairahmu, kamu pasti tersiksa luar biasa. Aku bisa maklum, Sean, kalau kamu harus memuaskannya dengan wanita lain selain diriku saat aku nggak ada di sampingmu. Aku nggak apa-apa, Sayang. Aku memaklumiya.”
“Tapi, Vera ....”
“Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya kamu harus setuju, kalau kamu terus-terusan nolak, aku nggak akan mau lagi bantuin kamu buat ke depannya.”
Ancaman yang tanpa basa basi dari Vera membuat Sean akhirnya mau tidak mau setuju dengan ide gila dari Vera itu. Seharusnya dia senang karena memiliki kekasih yang sangat penuh pengertian.
Di tambah lagi, dengan izin dari Vera langsung, dia tidak perlu lagi takut atau merasa bersalah saat dia bermain cinta dengan Christaly. Yang menjadi masalah adalah Sean takut akan kebablasan, di mana taruhannya adalah masa depan juga kariernya sebagai seorang detektif yang sudah pasti akan tamat jika dia sampai putus hubungan dengan Vera.