Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Ketenangan yang Terganggu [Revisi]
Halo pembaca setia, aku Blueria.
Terimakasih kepada kalian karena masih setia untuk membaca novel KSP sampai Bab 20.
Aku berharap kalian tidak bosan membaca cerita KSP yang aku buat. Aku berkeinginan membuat ceritanya semenarik mungkin untuk kedepannya—tidak hambar dan tidak mudah ditebak agar para pembaca sekalian bisa terhibur dikala kerja ataupun nganggur dan menebak sendiri bagaimanakah kelanjutan cerita selanjutnya.
Seperti: Siapa kah sebenarnya Wang Yan? Siapakah Feng Bo? Apa kegunaan inti keemasan peninggalan Feng Bo? Apakah Feng Bo raja iblis? Apakah Wang Yan reinkarnasi raja?
Teori-teori liar seperti itu di komentar akan membangun cerita di dalam novel ini kedepannya.
Jangan lupa cemilan dan kopinya.
Selamat membaca.
---
Fajar mulai menyingsing, menyinari halaman rumah yang masih basah oleh embun. Wang Yan keluar dari kamarnya setelah dibangunkan adiknya. Ia melangkah dengan stabil dan ringan.
Di ruang tengah, aroma nasi hangat dan sayur sederhana sudah tercium.
Lin Yue dan Paman Huo Ting sudah duduk mengelilingi meja kayu persegi empat itu. Wajah Lin Yue tampak lebih segar, sisa-sisa dari bermeditasi semalaman.
“Yan’ge! Ayo makan...” sapa Lin Yue dengan senyum lebar.
“Bagaimana perasaanmu pagi ini, Yue’er?”
“Luar biasa, Yan’ge! Aku merasa tubuhku jauh lebih ringan dari biasanya. Paman bilang aku sudah resmi menjadi kultivator Lautan Spiritual lapisan kesatu!” lapor Lin Yue dengan nada bangga.
Wang Yan mengusap kepala adiknya pelan. “Bagus. Bakatmu memang istimewa, tapi jangan sampai itu membuatmu malas berlatih.”
“Dia benar, Yue’er. Kakakmu ini jarang memuji orang, jadi kalau dia bilang bagus, itu artinya kau memang hebat.”
Lin Yue tampak sangat senang mendengar pujian dari kedua orang terdekatnya itu. Di sela-sela sarapan, suasana terasa hangat, namun mata tajam Huo Ting tidak bisa tidak memperhatikan perubahan pada Wang Yan.
Sejak Wang Yan duduk, Huo Ting merasakan aura yang berbeda—sesuatu yang jauh lebih padat dan dalam dibandingkan kemarin sore.
Huo Ting meletakkan sumpitnya, ia memicingkan mata menatap Wang Yan. “Yan’er, paman tidak ingin mencampuri rahasiamu, tapi... fluktuasi energi di tubuhmu pagi ini terasa sangat kuat. Jauh lebih kuat dari kemarin saat kau bilang berada di Lautan Spiritual lapisan keempat. Apakah kau membuat kemajuan lagi semalam?”
Wang Yan menelan suapannya, lalu menatap pamannya dengan tenang. Ia tahu tidak ada gunanya menyembunyikan hal ini kepada keluarganya.
“Benar, Paman. Semalam aku berhasil melakukan terobosan lagi,” jawab Wang Yan santai.
“Benarkah? Jadi sekarang kau sudah di lapisan kelima?” tanya Huo Ting dengan nada menebak, meski di dalam hati ia merasa menerobos ke lapisan kelima dalam satu malam sudah terlalu cepat.
Wang Yan menggeleng pelan. “Tidak, Paman. Saat ini aku berada di Lautan Spiritual lapisan keenam.”
Lin Yue menghentikan kunyahannya, sendok kayunya tertahan di udara. Berkat teknik kultivasi dan herbal pemberian pamannya, Ia baru saja menghabiskan seluruh malamnya hanya untuk menstabilkan aliran energi spiritual di satu meridian kecil agar bisa mencapai Lautan Spiritual lapisan kesatu, dan rasanya seperti mendaki gunung yang sangat tinggi.
Mendengar kakaknya melompati dua lapisan dalam semalam—setelah dua hari memulai—membuat dunianya seolah berputar.
“Dua... dua lapisan? Yan’ge berada di lapisan keenam?” bisik Lin Yue, matanya membesar penuh kekaguman yang nyaris berubah menjadi pemujaan.
“Yan’ge..., apakah Yan’ge sebenarnya adalah reinkarnasi dewa agung yang menjadi manusia?” batin Lin Yue.
Uhukk!
Huo Ting nyaris tersedak air yang baru saja diminumnya. Ia menatap Wang Yan dengan mata melotot, sementara Lin Yue berhenti mengunyah dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Lapisan keenam?!” suara Huo Ting naik satu nada karena tidak percaya.
“Dua lapisan... hanya dalam satu malam? Yan’er, kau bercanda kan?”
“Tidak, Paman. Aku tidak sedang bercanda.”
“Apakah ini yang kau maksudkan dalam rencana mu kemarin?”
“Benar, Ini adalah salah satu dari rencana yang aku siapkan Paman,” tegas Wang Yan tanpa nada pamer sedikit pun.
Huo Ting bersandar pada sandaran kursi, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
“Lautan Spiritual lapisan keenam... di umurmu yang sekarang, dengan waktu latihan yang bahkan belum genap seminggu. Jika kabar ini sampai ke telinga sekte-sekte besar, mereka akan berebut menjadikan mu murid langsung atau justru ketakutan dan berusaha membunuhmu.”
Lin Yue menatap kakaknya dengan mata berbinar-binar. “Yan’ge hebat sekali! Jadi sekarang Yan’ge sudah sekuat Paman?”
“Belum, Yue’er. Paman berada di lautan spiritual lapisan kedelapan. Jarak antar lapisan di tingkat menengah menuju atas jauh lebih lebar daripada transisi di tingkat awal, Yue'er. Setiap langkah ke depan akan semakin terjal dan semakin tinggi ranah dan lapisannya, maka semakin kuat.” jawab Wang Yan dengan bijak.
Huo Ting hanya bisa menghela napas panjang, namun ada senyum tipis di wajahnya.
“Yah, setidaknya dengan perkembangan dan kekuatanmu sekarang, aku tidak terlalu khawatir jika keturunan langsung Keluarga Hong datang. Tapi Yan’er, kau tetap harus waspada. Lautan Spiritual lapisan keenam memang sangat kuat untuk pemuda seumurmu, tapi Keluarga Hong punya banyak kultivator di tingkatan yang sama.”
“Aku tahu, Paman. Itulah kenapa aku butuh bantuan Paman untuk kedepannya,” balas Wang Yan tenang.
Tepat saat Wang Yan menyelesaikan kalimatnya, suara dentuman keras terdengar dari arah gerbang depan rumah mereka.
BRAAKK!
Suasana hangat sarapan pagi itu hancur seketika. Guncangan dari gerbang depan terasa hingga ke lantai ruang tengah, membuat cangkir teh di atas meja bergetar hebat.
Lin Yue tersentak hingga hampir menjatuhkan sumpitnya, sementara otot-otot di lengan Huo Ting langsung menegang, naluri bertarungnya bangkit dalam sekejap.
Pintu gerbang kayu halaman depan itu dihantam hingga hancur berkeping-keping.
Suara tawa kasar yang sangat dikenali Wang Yan menggema masuk ke dalam ruang tengah.
“Wang Yan! Sarjana pengecut! Keluar kau dan bersujudlah di kakiku sebelum aku meratakan rumah kumuh ini!” teriak Hong Jigong dari luar.
...