Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam itu hujan turun deras di London. Suasana mansion keluarga Rutherford berubah mencekam setelah Cameron meninggalkan ruang keluarga dengan amarah yang nyaris tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Michael Rutherford berdiri diam di dekat perapian dengan wajah dingin dan penuh wibawa. Sementara Bianca tampak gelisah melihat pertengkaran antara ayah dan anak itu semakin memburuk. Regina sendiri hanya terdiam dengan jantung berdegup tidak tenang.
Ia tidak menyangka Cameron akan menolak sejauh itu. Bahkan berani menentang Michael secara langsung.
“Lihat bagaimana dia berubah sekarang,” ucap Michael dingin sambil menatap ke arah pintu yang telah tertutup sejak tadi. “Dia mulai kehilangan kendali hanya karena seorang wanita.”
Bianca tampak ingin membela putranya, tetapi urung melakukannya. Karena jauh di dalam hatinya, ia juga menyadari perubahan itu. Namun satu hal yang Bianca tahu pasti, Michael paling membenci pembangkangan.
Dan Cameron baru saja melakukannya secara terang-terangan..Tidak lama kemudian, Cameron dipanggil ke ruang kerja pribadi ayahnya.
Ruangan besar bernuansa gelap itu terasa dingin dan menekan seperti biasanya. Michael berdiri membelakanginya sambil memegang segelas whiskey di tangan.
“Aku sudah terlalu memanjakanmu,” ucap pria itu pelan tanpa menoleh.
Cameron berdiri tegak dengan rahang mengeras. “Aku juga berhak menentukan hidupku sendiri,” kata Cameron berani.
Michael tertawa kecil mendengar jawaban itu. Namun tidak ada kehangatan sedikit pun dalam tawanya.
“Kau lahir sebagai Rutherford,” katanya dingin. “Sejak awal, hidupmu memang bukan sepenuhnya milikmu sendiri. Apakah kau ingin mengikuti jejak wanita itu? Huh?”
Tatapan Cameron berubah tajam. Mendengar sang ayah menyinggung kakaknya sebagai wanita itu membuatnya merasa benar-benar muak dengan sikap ayahnya itu.
“Kakak memutuskan hal yang benar dengan—”
Plak!
Michael menoleh cepat dan langsung melayangkan satu tamparan keras di pipi kiri Cameron hingga wajah pria itu tertoleh ke samping. Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahan terlihat jelas di wajah Michael yang merah padam.
“Lancang! Berani sekali kau bicara seperti itu pada ayahmu sendiri!” bentak Michael, suaranya terdengar menggelegar.
Namun Cameron tetap tidak menunduk. Sikap keras kepala putranya justru semakin memancing amarah Michael.
“Aku memperingatkanmu untuk yang terakhir kalinya,” ucap Michael dingin. “Lupakan wanita itu dan selesaikan pertunanganmu dengan Regina.”
“Tidak.”
Jawaban singkat itu menjadi akhir dari kesabaran Michael.
“Baik.” Michael menganggukkan kepala dengan angkuh, tangannya mengepal keras, lalu tatapannya beralih ke sudut ruangan. “Kau harus tahu konsekuensi dari menentang keputusanku.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Cameron menerima hukuman langsung dari ayahnya. Cambukan demi cambukan mendarat di punggungnya dengan keras.
Suara sabetan kulit memenuhi ruangan sementara Cameron mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan rasa sakit. Namun pria itu sama sekali tidak berteriak. Ia tetap berdiri tegak meski darah mulai merembes di balik kemeja putihnya.
Michael menatap putranya dengan dingin. “Mungkin rasa sakit inilah yang bisa membuatmu kembali sadar.”
Namun Cameron justru mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tetap tajam meski napasnya mulai berat.
“Kalau ini harga untuk membayar egomu,” ucapnya serak, “Aku tidak akan mundur, bahkan jika kau harus mencambukku seratus kali lagi.”
Jawaban itu membuat Michael semakin murka. Tetapi sebelum keadaan semakin buruk, Bianca akhirnya masuk dengan wajah panik.
“Sudah cukup!” serunya sambil menahan tangan suaminya yang hendak mencambuk putranya lagi. “Michael, hentikan!”
Ruangan itu akhirnya terdiam. Bianca menatap Cameron yang sudah terbaring dengan punggung penuh luka dan wajah yang tak berdaya.
Napas Cameron terdengar berat, sementara darah mulai membasahi bagian belakang kemejanya.
Bianca langsung memucat melihat keadaan putranya. Tetapi Cameron tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia bangkit perlahan sambil menahan nyeri lalu berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh sedikit pun.
Regina yang tidak sengaja melihat Cameron keluar langsung terkejut. “Cameo. Sayangku.”
Namun pria itu bahkan tidak berhenti. Tatapannya dingin dan kosong. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya Regina merasa benar-benar tidak mampu menjangkaunya lagi.
Keesokan harinya, Cameron langsung meninggalkan London tanpa memberitahu siapapun selain Abraham.
Ia kembali ke Indonesia dengan tubuh yang masih menahan nyeri akibat luka cambukan di punggungnya. Sepanjang perjalanan, Cameron hanya duduk diam sambil memejamkan mata. Rasa sakit di tubuhnya masih terasa jelas, tetapi yang jauh lebih melelahkan sebenarnya adalah pikirannya sendiri.
Beberapa jam kemudian, mobil hitam yang membawanya akhirnya berhenti di depan rumah persembunyian tempat Giana tinggal.
Abraham yang sejak tadi memperhatikan keadaan Cameron tampak semakin cemas. Wajah pria itu terlihat pucat sejak mereka meninggalkan London, sementara luka di punggungnya jelas belum ditangani dengan benar.
“Tuan, setidaknya biarkan dokter datang dulu,” ujar Abraham hati-hati.
“Aku baik-baik saja,” jawab Cameron singkat.
“Tapi luka Anda—”
“Aku bilang aku baik-baik saja.”
Nada suara Cameron yang dingin langsung membuat Abraham terdiam. Ia tahu betul bahwa atasannya sedang berada dalam suasana hati yang buruk.
Pada akhirnya Abraham hanya bisa menghela napas pelan sebelum turun untuk membukakan pintu mobil.
Begitu masuk ke dalam rumah, Cameron langsung merasakan suasana hangat dan tenang yang begitu berbeda dari mansion keluarganya di London.
Tidak ada tekanan dari keluarganya sendiri. Tidak ada pertengkaran. Hanya suara kecil Cayden yang terdengar dari ruang tengah. Dan entah kenapa, hanya dengan mendengar suara bayi itu saja, rasa sesak di dada Cameron perlahan berkurang.
Namun langkahnya mendadak terhenti saat melihat Giana muncul dari arah dapur sambil mendorong Cayden yang berada stroller-nya.
Wanita itu awalnya tampak terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba. “Tuan Cameron?”
Tatapan Giana perlahan berubah bingung saat melihat wajah pria itu yang tampak jauh lebih pucat dibanding biasanya.
“Kapan Anda pulang? Kenapa Tuan tidak memberi kabar lebih dulu? Apakah Tuan sakit?” tanyanya pelan.
Cameron tidak menjawab, ia hanya menoleh singkat lalu tersenyum tipis sementara Giana menatapnya khawatir saat melihat wajah Cameron yang tampak pucat.
Tepat saat Cameron hendak melangkah mendekat, tubuhnya sedikit goyah karena rasa nyeri di punggungnya.
Giana langsung refleks bergerak menghampirinya dengan panik. “Tuan! Apakah Anda sakit?”
“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, aku baik-baik saja,” jawab Cameron sambil meringis pelan.
Namun Giana langsung sadar ada sesuatu yang tidak beres.
Apalagi ketika samar-samar ia melihat bercak merah di bagian belakang kemeja Cameron.
Wajah Giana langsung berubah panik. “I-ini … darah?! Tuan Cameron? Anda terluka!”
Cameron terdiam sesaat, seolah berusaha menghindari pertanyaan itu. Namun sebelum ia sempat menjauh, Giana sudah lebih dulu menarik lengannya dengan cemas.
“Apa yang terjadi pada Anda?” tanyanya pelan dengan suara bergetar.
Untuk pertama kalinya, Cameron tidak langsung bisa menjawab. Karena entah kenapa, tatapan khawatir dari wanita itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding cambukan yang ia terima semalam.
kami aman bersama cay (cucu rutherford family). jangan cari kami. kami akan pulang jika ayah sudah memahami.
abis tu...lost contact ke siapapun. kec org2 yg dipercaya. buat regina makin terpuruk krn obsesinya. menghilang smp cay blajar berdiri dan regina udh bangkrut bin rada waras😄😄😄krn...saham dibeli kelg giana yg baru ditemukan stl sekian lama. alias.. konglo ketemu konglo dan...remahan...hrus minggir lah😄😄😄