Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23- MCI 23
Diandra mendorong Raez, dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari Raez yang tampak begitu emosi.
Tangan pria itu terkepal sampai buku-buku tangannya memutih. Rahangnya mengeras. Dan sorot matanya begitu tajam.
Diandra memperhatikan Raez. Dan sekarang dia yakin. Pria itu bukan marah karena dia tidak pantas untuk Max. Tapi, karena Raez memang tidak ingin Diandra disentuh pria lain.
"Jadi, sekarang aku harus memanggilmu bagaimana? adik ipar? atau paman?"
Diandra sedang menyiramkan bensin di bara api yang tengah menyala di dada Raez.
Tatapan mata pria itu semakin tajam. Senyuman menyeringai terlihat di sudut bibirnya.
"Kamu... tidak akan bisa memanggilku, paman. Aku pastikan itu! lihat saja!"
Raez meraih ponselnya, mengetik sesuatu disana. Dan menyimpan kembali ponselnya.
Diandra sebenarnya penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Raez. Tapi tidak mungkin juga dia akan tahu.
"Terlihat sangat yakin, tapi Max juga bilang padaku. Jika orang tuanya tidak memberi ijin, maka dia akan..."
Diandra belum selesai dengan apa yang ingin dia katakan pada Raez. Ketika ponselnya berdering.
Panggilan itu dari Max.
"Halo..."
[Di, maafkan aku. Aku dan ayah harus pergi ke luar negeri. Ada masalah serius di perusahaan kami yang ada di Swiss. Diandra, ini adalah syarat dari ayah supaya merestui kita. Hanya satu bulan, tunggu aku kembali. Dan ayah akan setuju untuk pertunangan kita. Aku berangkat sekarang, ada masalah apapun hubungi aku. Ayah bilang, paman tidak akan mengganggumu ketika aku dan ayah pergi. Aku akan menghubungimu saat aku sampai di Swiss. Diandra, jaga dirimu]
Diandra menatap pria yang tersenyum menyeringai di depannya.
"Sudah ku bilang! kamu tidak akan pernah bisa memanggil aku paman!"
'Brengsekk! brengsekk!' Diandra memekik dalam hatinya.
Bahunya naik turun, semua ini pasti ulah Raez. Tapi, Diandra tidak boleh emosi. Emosi hanya ditunjukkan oleh orang-orang yang yakin akan kalah. Dan Diandra tidak boleh kalah.
"Menyerah saja Diandra! terima uangnya. Dan pergilah!"
Raez mendekati Diandra, menatap wanita yang pernah menjadi satu-satunya penghangat ranjangnya selama 3 tahun. Bahkan sampai sekarang.
Diandra tersenyum. Melihat Diandra tersenyum, Raez sedikit menaikkan kedua alisnya.
"Pria... bukan hanya Maxwell Kendrick Mahendra di dunia ini, tuan Raezwell Dave Mahendra! aku akan datang ke catatan sipil sekarang! menikah dengan siapapun yang butuh istri disana!"
Mata Raez terbelalak.
"Tidak warass!"
Diandra terkekeh.
"Bukankah tuan Raez yang paling mengenal aku luar dan dalam? sejak kapan aku waras?" tanya Diandra yang segera beranjak ke kamarnya.
Ketika Diandra akan menarik gagang pintu, Raez menghadang Diandra.
"Kamu pikir aku perduli kalau kamu hancurkan hidupmu sendiri seperti itu?" tanya Raez.
Diandra lagi-lagi menatap Raez dengan senyum yang sulit di artikan.
"Siapa bilang aku akan menghancurkan diriku sendiri. Kamu juga tahu betapa Max menyukaiku, dia pergi untuk mendapatkan restu orang tuanya. Satu bulan lagi dia kembali, tapi bagaimana kalau aku katakan, tuan Raez yang pada akhirnya membuatmu memilih hal ini. Menikahi pria random di catatan sipil, lalu bunuhh diri. Kira-kira siapa yang paling akan Max benci di dunia ini setelah itu.... agkk!"
Brakk
Raez mencengkeram kedua bahu Diandra. Dan mendorongnya kuat sampai membentur pintu kamar.
"Diandra, Max adalah batasku! kalau kamu ingin matii, aku akan membantumu!"
Brakk
Pintu kamar Diandra di tendang oleh Raez. Pria itu menarik Diandra masuk ke dalam kamar, membantingnya di atas tempat tidur.
Diandra melihat amarah di mata Raez, tapi pria itu membuka tapi pinggang dan kemejanya. Diandra sudah bisa menebak apa yang ingin Raez lakukan padanya. Dan Diandra tidak akan membiarkan itu terjadi.
Diandra melempar Raez dengan bantal yang ada di dekatnya. Pria itu menepisnya dengan sangat mudah. Diandra mundur, dan berlari ke meja riasnya. Dia membanting botol parfum ke arah kaca.
Prangg
"Diandra!" pekik Raez yang terkejut melihat kenekatan Diandra.
Diandra bahkan segera meraih pecahan kaca yang agak besar, dan mengarahkan ujung runcingnya ke lehernya.
"Pergi! Pergi!" pekik Diandra dengan mata yang sudah merah dan berkaca-kaca.
"Diandra" lirih Raez.
Diandra terkekeh getir.
"Aku tahu, yang selalu hanya ingin kamu inginkan dariku hanya tubuhku. Aku membencimu Raez. Sangat membencimu! Pergi!"
"Letakkan benda itu..."
"Pergi!" teriak Diandra sampai suaranya serak.
Raez sehat mengambil jasnya, dan keluar dengan cepat dari kamar itu.
Diandra masih tetap dalam posisinya, bahkan pecahan kaca itu masih mengarah ke lehernya. Setelah pintu luar tertutup kencang, baru Diandra meletakkan pecahan kaca itu dan terduduk lemas di lantai.
Bahunya naik turun dengan cepat. Diandra mengeram kesal, tapi tidak menangis. Dia benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan. Apapun yang terjadi, dia tidak boleh membiarkan Raez bertunangan dengan Genelia. Tidak boleh!
Diandra masuk ke kamar mandi. Begitu dia keluar, dia sudah sangat rapi. Mini dress hitam dengan tas dan riasan yang cukup membuat siapapun menoleh ke arahnya saat berpapasan dengan Diandra.
Sebelum Diandra keluar dari rumah. Dia menghubungi Celina.
"Celine, aku akan pergi ke kantor catatan sipil sekarang! kamu bisa carikan satu orang yang bisa menikah pura-pura denganku. Orang yang sama sekali belum pernah dilihat oleh Raez...!"
[Di, lalu Max?]
"Raez membuatnya pergi ke luar negeri..."
[Astaga! pria itu lebih menyebalkan dari yang aku kira. Baiklah, aku akan hubungi orang yang bisa di percaya. Satu jam lagi aku pastikan orang itu pergi ke kantor catatan sipil]
"Baiklah...!"
[Di, kamu yakin?]
"Seperti katamu! apapun yang terjadi, aku harus balas dua teh hijau itu. Bagaikan dengan pengacara Lukman, apakah sudah ketemu?" tanya Diandra.
[Aku dan teman-teman Haikal masih mencarinya. Dia tidak pulang ke kampung halamannya. Aku rasa dia malah pergi keluar negeri]
"Baiklah, terus mencari. Aku harus dapatkan kembali semua harta kakek dan nenekku!"
[Baiklah, hati-hati ya Di. Oh ya, begitu aku dapatkan orangnya. Aku akan kirimkan fotonya padamu]
"Oke!"
Diandra menyimpan kembali ponselnya.
'Raez, kita lihat saja. Aku atau kamu yang lebih licik!' batin Diandra yang kemudian membuka pintu dan berjalan ke arah mobilnya.
Diandra mengemudikan mobilnya menuju kantor catatan sipil. Seseorang yang di minta mengawasi Diandra oleh Raez, segera menghubungi Raez yang baru saja kembali ke rumahnya.
"Raez, kamu baru pulang? sekarang ikut ibu ke butik. Kita harus mengambil pakaian pertunanganmu besok malam!"
Raez menerima panggilan itu di dekat ibunya.
"Katakan!"
[Tuan, nona Diandra pergi ke kantor catatan sipil]
Rahang Raez mengeras. Wanita itu sungguh membuatnya tak bisa tenang barang sebentar saja.
"Aku kesana!"
"Mau kemana?" tanya Siska.
"Perusahaan Bu, ada masalah! ibu ambil saja pakaiannya!" bohong Raez pada ibunya dan segera meninggalkan kediaman Mahendra dengan sangat terburu-buru.
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣