NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Setelah jam istirahat makan siang selesai, Clara baru saja merapikan meja kerjanya ketika salah satu pegawai menghampirinya. Pria itu berdiri canggung sambil membawa map cokelat di tangannya.

“Nona Clara, Pak Agung meminta Anda datang ke ruangannya sekarang.”

Clara yang sedang menutup botol minumnya langsung terdiam beberapa detik. Jantungnya mendadak berdebar. Sejak pagi dia memang bekerja di perusahaan milik ayahnya, tetapi itu pertama kalinya sang ayah memanggilnya secara langsung ke ruang kerja direktur utama.

“Baik, saya segera ke sana,” jawab Clara pelan.

Pegawai itu mengangguk lalu pergi meninggalkannya.

Clara menunduk menatap seragam kerjanya sesaat. Tangannya merapikan kerah baju yang sedikit kusut. Nafasnya terasa berat. Entah kenapa langkah menuju ruang kerja ayahnya terasa jauh lebih menegangkan dibanding saat dia pertama kali naik bus umum yang penuh sesak pagi tadi. Manusia memang aneh. Dulu Clara bisa masuk ke ruangan itu sambil marah-marah meminta kartu kredit baru. Sekarang untuk mengetuk pintunya saja dia takut.

Dengan langkah pelan Clara berjalan melewati lorong kantor. Beberapa pegawai sempat menatapnya, namun Clara memilih menunduk. Tidak ada lagi tatapan angkuh seperti dulu. Gadis itu kini terlihat jauh lebih pendiam.

Sesampainya di depan ruang direktur utama, Clara menarik nafas panjang lebih dulu sebelum mengetuk pintu.

Tok tok tok.

“Masuk.”

Suara berat ayahnya terdengar dari dalam.

Clara membuka pintu perlahan lalu masuk. Ruangan itu masih sama seperti dulu. Besar, rapi, dingin, dan dipenuhi aroma kopi hitam yang biasa diminum ayahnya. Pak Agung duduk di belakang meja kerja sambil membaca beberapa dokumen. Wajahnya tetap tegas seperti biasa.

Clara berdiri canggung di depan meja.

“Ayah memanggil Clara?”

Pak Agung meletakkan pulpen lalu menatap putrinya cukup lama. Tatapan itu membuat Clara semakin gugup. Sudah lama sekali dia tidak berbicara serius dengan ayahnya tanpa pertengkaran.

“Duduk.”

Clara perlahan duduk di kursi depan meja kerja ayahnya. Kedua tangannya saling menggenggam kuat di atas paha. Dia mencoba menenangkan dirinya, tetapi tenggorokannya terasa sesak.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Clara akhirnya memberanikan diri membuka suara lebih dulu.

“Ayah... Clara mau minta maaf.”

Pak Agung tetap diam.

Clara menunduk. Suaranya mulai bergetar.

“Selama ini Clara terlalu manja. Clara juga sering melawan Ayah. Clara sering bicara kasar dan tidak pernah mendengarkan nasihat Ayah maupun Ibu.”

Ruangan kembali hening.

Clara menggigit bibirnya sendiri sebelum melanjutkan.

“Clara juga sadar selama ini Clara sombong. Clara merasa semua orang harus mengikuti kemauan Clara. Padahal Clara sendiri tidak pernah menghargai kerja keras Ayah.”

Pak Agung masih belum menjawab. Wajahnya tetap datar, namun tatapannya tidak pernah lepas dari putrinya.

Clara menarik nafas panjang.

“Clara benar-benar minta maaf, Yah.”

Suasana ruangan terasa semakin berat.

Clara perlahan mengangkat wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Clara juga... rindu Ayah dan Ibu.”

Kalimat itu membuat tangan Pak Agung yang semula memegang dokumen berhenti bergerak sesaat. Namun pria itu segera kembali memasang ekspresi tenang.

“Kalau hanya karena kamu meminta maaf, bukan berarti semuanya selesai.”

Clara langsung terdiam.

Pak Agung menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kamu tetap harus menjalani hidup mandiri selama tiga bulan sesuai hukuman yang sudah Ayah tentukan.”

Clara menatap ayahnya pelan.

“Tapi Yah... Clara benar-benar sudah berubah.”

“Belum.”

Jawaban itu terdengar cepat dan tegas.

Clara menunduk lagi.

Pak Agung melanjutkan dengan suara dingin.

“Dan kalau setelah tiga bulan Ayah merasa kamu belum berubah, maka hukuman itu akan ditambah tiga bulan lagi.”

Wajah Clara langsung pucat.

“Ayah...”

“Ayah tidak peduli kamu menangis, meminta maaf, atau bilang rindu pada Ayah dan Ibu. Semua itu tidak akan mengubah keputusan Ayah.”

Kalimat itu terasa seperti menekan dada Clara kuat-kuat.

Dia menahan air matanya sebisa mungkin.

“Ayah tahu kamu sedang berusaha berubah,” lanjut Pak Agung. “Tapi hidup bukan tentang kata-kata. Hidup tentang kebiasaan dan tanggung jawab.”

Clara hanya bisa diam.

Tangannya mulai gemetar kecil.

Beberapa detik kemudian Pak Agung membuka laci meja kerjanya lalu mengambil sebuah amplop putih cukup tebal.

“Ayah juga sudah mendengar cerita dari Doni.”

Clara langsung menegang mendengar nama itu.

Pak Agung menatap putrinya tajam.

“Ayah kecewa.”

Clara perlahan menunduk lebih dalam.

“Uang sepuluh juta yang Ayah berikan habis bahkan belum sampai dua minggu.”

Clara langsung buru-buru menjelaskan.

“Clara memang salah, Yah. Tapi Clara belum terbiasa hidup seperti itu. Clara harus bayar ojek online, makan, beli kebutuhan sehari-hari...”

“Kamu pikir pegawai di kantor ini hidup mewah?”

Suara Pak Agung terdengar lebih berat dari sebelumnya.

Clara langsung diam.

Pak Agung menunjuk keluar ruangan.

“Karyawan biasa di perusahaan ini rata-rata menerima gaji pokok delapan juta rupiah per bulan. Mereka bekerja dari pagi sampai malam. Naik motor saat hujan. Makan sederhana. Menabung sedikit demi sedikit.”

Beliau menatap Clara dalam.

“Sementara kamu menghabiskan lebih dari sepuluh juta dalam waktu kurang dari seminggu.”

Clara menggigit bibirnya kuat-kuat.

“Ayah tahu kamu tidak terbiasa makan di warteg. Tidak terbiasa naik bus umum. Tidak terbiasa hidup sederhana.”

Suara Pak Agung tetap terdengar dingin.

“Tapi justru itu masalahnya.”

Clara merasa dadanya semakin sesak.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia benar-benar memahami betapa jauhnya kehidupannya selama ini dari kehidupan orang-orang biasa.

Dulu dia sering membeli minuman mahal tanpa melihat harga. Sekarang dia bahkan menghitung ongkos bus sebelum berangkat kerja. Hidup memang punya cara brutal untuk menampar manusia yang terlalu nyaman. Kadang semesta tidak perlu marah. Cukup membuat seseorang naik bus umum jam berangkat kerja dan seluruh kesombongannya rontok satu per satu.

Pak Agung kemudian meletakkan amplop putih itu di atas meja.

“Ini lima juta.”

Clara perlahan menatap amplop tersebut.

“Ayah memberi ini bukan karena kasihan.”

Clara kembali menunduk.

“Kalau uang ini habis sebelum kamu menerima gaji pertama, Ayah tidak akan memberi tambahan lagi.”

Suasana kembali sunyi.

Clara perlahan mengambil amplop itu dengan kedua tangan. Matanya mulai memerah.

“Terima kasih, Yah.”

Pak Agung tidak menjawab.

Clara menunduk dalam-dalam.

“Clara janji akan berubah lebih baik.”

Pak Agung memandang putrinya cukup lama. Gadis yang dulu selalu tampil mewah itu kini terlihat jauh berbeda. Wajahnya tampak pucat. Matanya memiliki lingkar hitam samar. Rambutnya tidak serapi biasanya. Bahkan kulit tangannya terlihat sedikit kasar.

Namun pria itu tetap menahan dirinya.

“Kalau begitu buktikan.”

Clara mengangguk pelan.

“Iya, Yah.”

Pak Agung kemudian mengambil kembali dokumen kerjanya.

“Sekarang kembali bekerja.”

Clara berdiri perlahan.

Sebelum pergi dia sempat menatap ayahnya beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya.

“Clara permisi.”

Pak Agung hanya mengangguk kecil tanpa melihatnya.

Clara akhirnya berjalan keluar dari ruangan itu sambil memegang amplop putih erat-erat.

Pintu ruangan tertutup perlahan.

Dan saat itulah suasana berubah sunyi.

Pak Agung yang sejak tadi terlihat tegar akhirnya meletakkan dokumen di tangannya. Nafasnya terdengar berat. Pria itu menundukkan kepala sambil memejamkan mata beberapa detik.

Tangannya mengepal pelan.

Dia baru sadar putrinya terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali tinggal di rumah. Wajah Clara tampak lelah. Bahkan cara duduknya tadi terlihat tidak berenergi.

Pak Agung juga memperhatikan seragam kerja Clara yang sedikit kusut. Sangat berbeda dengan Clara yang dulu selalu tampil sempurna. Putrinya pasti benar-benar berdesakan di bus umum setiap pagi.

Membayangkan itu membuat dada Pak Agung terasa nyeri.

Selama ini Clara tidak pernah menyentuh kehidupan keras di luar rumah. Namun sekarang putrinya harus menghadapi semuanya sendirian.

Perlahan air mata jatuh dari mata pria itu.

Pak Agung segera melepas kacamatanya lalu mengusap wajah dengan kasar.

Sebagai ayah, hatinya hancur melihat keadaan Clara.

Dia ingin memeluk putrinya. Ingin menyuruh Clara pulang. Ingin memberikan semua kenyamanan seperti dulu lagi.

Namun dia tidak bisa.

Kalau dia menyerah sekarang, Clara tidak akan pernah belajar berdiri dengan kakinya sendiri.

Pak Agung menatap pintu ruangan yang tadi dilewati putrinya.

“Maafkan Ayah, Clara...” gumamnya lirih.

Suaranya terdengar penuh kelelahan.

“Ayah hanya ingin kamu menjadi lebih kuat.”

Di luar ruangan, Clara berjalan kembali menuju tempat kerjanya sambil memegang amplop putih itu erat-erat di dada.

Matanya masih merah.

Namun untuk pertama kalinya, dia tidak marah pada ayahnya.

Karena sekarang Clara mulai mengerti.

Ayahnya tidak sedang membencinya.

Ayahnya sedang berusaha menyelamatkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!