Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membencimu
Taksi yang membawa Xarena dan Kinan berhenti tepat di depan sebuah pagar besi yang sudah sedikit berkarat. Di balik pagar itu, berdiri sebuah rumah kecil sederhana yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Sangat kontras dengan kemegahan hotel bintang lima yang baru saja mereka tinggalkan.
Xarena menarik napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya sebelum turun.
"Makasih banyak ya, Rin. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus gimana tadi," ucap Xarena tulus. Suaranya masih serak, tapi setidaknya ia sudah bisa bicara tanpa terisak.
Karin mengusap lengan sahabatnya itu dengan lembut. "Ren, jangan sungkan sama aku. Istirahat ya? Jangan dipikirin omongan si Monique ular itu, apalagi mulut si Alan yang mendadak jadi tajam kayak silet. Besok kalau kamu merasa nggak sanggup masuk kantor, bilang aku. Biar aku yang cari alasan buat si bos."
Xarena tersenyum tipis, meski senyum itu tidak sampai ke matanya. "Aku nggak apa-apa, Rin. Aku harus tetap kerja. Ada Ciara yang harus aku kasih makan."
Setelah Karin pamit dan taksi itu menghilang di tikungan jalan, Xarena melangkah masuk ke halaman rumahnya. Suasana sangat sunyi, hanya suara jangkrik yang sahut-menyahut. Ia memutar kunci pintu dengan sangat perlahan, tidak ingin menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa membangunkan penghuni rumah.
Di dalam, lampu ruang tamu sudah dipadamkan, hanya menyisakan lampu kecil di sudut ruangan yang memberikan temaram kuning. Xarena berjalan berjinjit menuju kamar utama. Di sana, di atas tempat tidur kayu yang sudah tua, ia melihat pemandangan yang selalu menjadi pengobat lukanya.
Ibunya—yang biasa ia panggil Mommy—terlelap dengan posisi memeluk Ciara, putri kecilnya yang berusia empat tahun. Ciara tampak begitu tenang dalam mimpinya. Napasnya teratur, dan tangannya yang mungil memeluk erat sebuah boneka beruang coklat yang bulunya sudah sedikit kusam karena saking seringnya dicuci.
Pandangan Xarena terpaku pada kalung kecil di leher boneka itu. Sebuah liontin perak murah berbentuk hati yang di atasnya terukir inisial A dan X.
Dulu, liontin itu adalah bagian dari gantungan kunci yang dibeli Alan di pasar malam saat mereka masih sekolah. Alan memberikan bagian 'A' pada Xarena, dan ia menyimpan bagian 'X'. Setelah semuanya hancur, Xarena menyatukan kedua inisial itu dan memakaikannya pada boneka kesayangan Ciara. Sebuah simbol dari cinta yang ia kira akan abadi, namun ternyata berubah menjadi racun yang paling mematikan.
"Maafin Mama, sayang," bisik Xarena tanpa suara. Ia mengecup kening Ciara dengan lembut, merasakan aroma bedak bayi yang menenangkan, sebelum akhirnya beranjak menuju kamar mandi.
Di bawah kucuran air shower, Xarena membiarkan sisa-sisa maskara dan rasa sakitnya luruh bersama air. Setelah selesai, ia duduk di depan meja rias kecilnya. Meja itu sangat sederhana, hanya ada beberapa botol skincare lokal yang harganya tidak sampai seratus ribu rupiah per botol.
Ia teringat masa lalunya. Dulu, meja riasnya penuh dengan deretan botol kristal dari merek-merek ternama Paris. Dulu, kulitnya dirawat dengan emas dan serum paling mahal di dunia. Namun kini, ia bahkan harus berpikir dua kali hanya untuk membeli pelembap wajah.
Xarena menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, ada lingkaran hitam di bawah matanya karena kurang tidur dan tekanan batin. Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat getir dan menyakitkan di telinga sendiri.
"Lihat dirimu, Xarena. Pantas saja Monique memanggilmu sampah," gumamnya sinis. "Kau memang sudah kalah telak."
Ia mengambil botol krim malamnya, mengoleskannya ke wajah dengan gerakan mekanis. Bayangan wajah Alan yang dingin dan penuh penghinaan tadi kembali melintas. Kata-kata "Pelacur" dan "Murahan" seolah bergema di dinding kamar mandi yang sempit itu.
"Mulai malam ini," Xarena berbisik pada bayangannya sendiri di cermin. Matanya yang semula layu kini memancarkan kilat yang berbeda. Bukan lagi kilat kesedihan, melainkan bara kebencian yang mulai menyala.
"Aku, Xarena Biantoro, resmi membenci dirimu, Alan."
Ia mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jarinya memutih. "Lima tahun. Lima tahun aku menjaga kesetiaan ini di tengah cemoohan orang. Aku menanggung malu menjadi ibu tunggal tanpa suami, membesarkan Ciara dalam kesederhanaan, hanya karena aku percaya suatu hari kamu akan kembali dan menjelaskan semuanya. Aku bodoh karena mengira cintamu sekuat cintaku."
Xarena mengambil napas dalam, membiarkan kebencian itu mengisi setiap rongga di dadanya, menggantikan rasa sesak yang tadi menghimpitnya.
"Tapi malam ini, semuanya selesai. Kata-katamu tadi sudah membunuh Xarena yang dulu mencintaimu setengah mati. Jika bagimu aku hanyalah pelacur, maka jangan harap kamu akan menemukan sisa-sisa kelembutan dari wanita ini lagi."
Ia berdiri tegak, merapikan rambutnya yang masih basah. Tatapannya kini setajam silet, sedingin es yang paling beku.
"Mari kita lihat siapa yang akan hancur lebih dulu. Kamu ingin bermain peran sebagai tuan besar yang berkuasa, Alan? Silakan. Tapi ingat, orang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan adalah orang yang paling berbahaya untuk dilawan."
Xarena mematikan lampu meja rias. Ruangan itu jatuh ke dalam kegelapan, sama seperti hatinya yang kini telah menutup rapat pintu untuk pria bernama Alan. Di tengah kegelapan itu, hanya ada satu tekad yang tersisa di kepalanya: bertahan hidup demi Ciara, dan memastikan bahwa setiap tetes air mata yang ia jatuhkan malam ini akan dibayar mahal oleh orang-orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Besok adalah babak baru. Dan Xarena tidak akan lagi datang sebagai domba yang siap disembelih, melainkan sebagai prajurit yang siap berperang di tengah duri.
Sementara itu, di sebuah mansion megah yang berdiri angkuh di kawasan elit, suasana terasa mencekam meski interiornya berbalas kemewahan. Monique melangkah di koridor panjang dengan gaun tidurnya yang berbahan sutra merah, namun wajahnya tidak memancarkan kelembutan seorang istri. Ada kecurigaan yang membakar di dadanya.
Ia berhenti di depan pintu kamar utama, menarik napas sejenak, lalu mengetuknya pelan. Tanpa menunggu jawaban, ia memutar kenop pintu. Di dalam, aroma maskulin yang kuat menyambutnya. Alan sedang berdiri di depan cermin besar, menyisir rambutnya yang masih lembap setelah mandi. Pria itu hanya mengenakan jubah mandi satin hitam, memperlihatkan aura dingin yang selalu membuat Monique terobsesi sekaligus merasa jauh.
Monique berjalan mendekat, langkahnya hampir tak terdengar di atas karpet bulu yang tebal. Ia berdiri tepat di belakang Alan, menatap pantulan suaminya di cermin.
"Izinkan aku untuk tidur bersama kamu malam ini, Alan," bisiknya lembut, mencoba mencari celah di balik dinding es yang dibangun pria itu.
Alan tidak berhenti menyisir. Gerakannya tetap tenang, namun suaranya terdengar seperti perintah yang tak bisa diganggu gugat. "Keluarlah Monique, aku lelah."
Wajah cantik Monique seketika menegang. Senyum paksa di bibirnya memudar, digantikan oleh gurat kemarahan yang tertahan. "Lelah? Atau kau masih menyimpan rasa untuk wanita jalang itu?" tanyanya sarkas, suaranya naik satu nada. "Apa pertemuan tadi membangkitkan kenangan sampahmu darinya?"
Alan sama sekali tidak menjawab. Ia meletakkan sisirnya dengan suara denting halus, lalu berbalik tanpa menatap mata Monique. Dengan langkah santai namun penuh wibawa, ia berjalan menuju ranjang besarnya, naik ke atas sana, dan langsung memejamkan mata seolah Monique hanyalah pajangan dinding yang tak berarti.
"Jika kau keluar, tutup kembali pintunya," ucap Alan datar, kata-katanya dingin menusuk tulang.
Wajah Monique memerah padam, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. Ia merasa dipermalukan di kamarnya sendiri, oleh suaminya sendiri.
"Mau sampai kapan kau acuhkan aku, Alan?" teriak Monique tertahan, tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih. "Aku istrimu! Dan aku tidak akan membiarkan bayangan wanita murahan itu tetap tinggal di antara kita!"
Namun, hanya kesunyian yang menjawabnya. Alan tetap bergeming dalam pejamnya, menyembunyikan badai yang sebenarnya sedang berkecamuk hebat di balik dadanya yang sesak.