NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran Perempuan Misterius

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Pasir Angin. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan sepi, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di teras rumah kolonial, Bagas duduk sendirian di kursi rotan, memeluk segelas teh hangat yang kepulannya perlahan menghilang ditiup angin pagi. Matanya sembap dan merah, dia sama sekali tidak bisa tidur setelah mendampingi Dinda semalaman.

Saat Bagas sedang melamun menatap halaman rumah yang dikelilingi pagar tanaman, pandangannya mendadak tertuju pada jalan setapak di depan rumah.

Dari balik kabut pagi, seorang gadis berjalan dengan anggun mendekat ke arah pagar rumah dinas. Gadis itu mengenakan kain kebaya tradisional bermotif parang yang tampak bersahaja namun sangat rapi. Wajahnya sangat cantik, dengan kulit kuning langsat dan rambut hitam legam yang dikepang dua. Kehadirannya seolah memberikan warna kontras di tengah suasana desa yang masih muram pasca-teror semalam.

Gadis itu berhenti tepat di depan pagar, menatap Bagas yang sedang melamun dengan sebuah senyuman tipis yang menenangkan.

"Eh selamat pagi? Ada yang bisa dibantu, Teh?". Bagas Tertegun, perlahan meletakkan gelas tehnya dan berdiri.

"Selamat pagi, Kang. Saya cuma mau melihat kondisi teman Akang yang kemarin diganggu. Bagaimana keadaan teman Akang?". Shinta dengan Suaranya terdengar sangat lembut, mengalir seperti gemercik air sungai.

"Oh itu, teman saya sudah agak mendingan, Teh. Tapi kok Teteh bisa tahu kejadian semalam? Teteh ini warga sini? Perasaan selama beberapa hari ini saya belum pernah lihat Teteh di sekitar balai desa.". Bagas sedikit terkejut karena gadis ini tahu kejadian semalam, langkahnya maju mendekati pagar.

"Saya jarang keluar kalau siang, Kang. Rumah saya tidak jauh dari batas desa. Nama saya Sinta.". Sinta tertawa pelan, suaranya terdengar begitu merdu namun entah kenapa membuat bulu kuduk Bagas agak merinding.

"Ah, kenalin, saya Bagas, mahasiswa KKN dari Jakarta. Kami di sini lagi belajar mengenal desa ini, Sin. Jujur, semalam itu pengalaman paling mengerikan seumur hidup saya.". Bagas tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana hatinya yang tegang.

"Tanah Jarian itu tidak jahat, Kang Bagas. Tempat itu hanya menampung apa yang dibuang oleh manusia. Yang kotor, yang busuk, yang dilupakan. Kalau hati manusia yang datang ke sana bersih dan membawa hormat, Jarian tidak akan pernah meminta tebusan." Sinta matanya yang bening menatap lurus ke dalam mata Bagas, senyumnya memudar menjadi tatapan yang dalam.

Bagas terpaku mendengar perkataan Sinta yang begitu dewasa dan penuh kiasan, persis seperti ucapan Aki Sukra atau Pak RT. Baru saja Bagas hendak menanyakan maksud ucapan tersebut lebih dalam, pintu kayu rumah dinas di belakangnya terbuka.

Krieeek...

Adrian melangkah keluar dengan wajah lelah, memegang sebuah flashdisk dan draf program kerja yang siap mereka musnahkan sesuai perintah Pak RT.

"Gas? kamu ngomong sama siapa pagi-pagi gini di depan pagar?" Tanya Adrian.

"Yan! Sini deh, Yan! Kebetulan banget ada warga sini yang mampir. Sini, kenalan dulu, namanya Sinta. Dia tahu soal kejadian semalam, Yan!". Bagas langsung menoleh ke arah Adrian dengan antusias.

"Sinta siapa, Gas? Gak ada siapa-siapa di sini." Adrian mengernyitkan dahi, berjalan mendekati Bagas di tepi pagar sambil melihat sekeliling halaman.

"Ini, Yan, di depan pagar banget. Lho? Kok Hilang!" Bagas seketika berbalik menunjuk ke arah luar pagar.

Bagas langsung membeku. Kalimatnya terputus di tenggorokan.

Di depan pagar rumah dinas, jalan setapak itu benar-benar kosong melompong. Sejauh mata memandang ke arah kiri dan kanan jalan yang tertutup kabut tipis, tidak ada tanda-tanda ada orang yang sedang berjalan atau berlari. Suasana benar-benar sepi senyap, hanya ada suara kepakan sayap burung pipit yang hinggap di pohon mangga samping rumah.

"Yan... demi Allah, Yan! Tadi dia berdiri di sini! Tepat di depanku! Dia pakai kebaya, namanya Sinta! Aku beneran ngobrol sama dia baru dua detik yang lalu!". Bagas wajahnya mendadak pucat kembali, napasnya memburu.

"Gas, lihat tanah di luar pagar ini. Tanah ini basah karena embun pagi. Kalau ada orang berdiri atau berjalan di sini beberapa detik yang lalu, pasti ada bekas jejak sandal atau kaki yang tercetak di tanah merah ini.". Adrian melihat ke arah tanah lembap di luar pagar, memeriksa dengan teliti.

Bagas ikut melongokkan kepalanya ke arah tanah luar pagar. Permukaan tanah merah yang lembap itu benar-benar mulus dan rata. Tidak ada satu pun bekas telapak kaki manusia di sana.

"Kamu kecapekan, Gas. Kamu kurang tidur semalam makanya sampai halusinasi kayak gini. Ayo masuk ke dalam, Dinda udah bangun. Pak RT sama Kang Kosim bentar lagi datang buat jemput kita ke Jarian.". Adrian menepuk pundak Bagas yang mulai gemetar hebat.

Bagas tidak bergerak, matanya masih menatap kosong ke arah tempat Sinta berdiri tadi. Di hidungnya, aroma teh manis hangat yang dipegangnya perlahan terkalahkan oleh sisa aroma melati kering yang samar, yang ditinggalkan oleh hembusan angin pagi dari arah batas desa.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!