NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 26

Dua hari setelah malam yang mengguncang fondasi kekuasaan ibu kota, suasana di penthouse Menara Alexander terasa jauh lebih ringan, seolah awan badai yang selama ini menggantung rendah di atas langit-langit marmernya telah tersapu bersih.

Yvone berdiri di area dapur yang terbuka, mengaduk panci berisi bubur ayam. Aroma kaldu yang hangat dan menenangkan memenuhi ruangan. Di atas kompor lainnya, air panas sedang diseduh untuk teh hijau. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini, Yvone merasa sedang memasak di rumahnya sendiri, bukan di dapur sebuah penjara mewah.

Suara denting halus dari lift pribadi menghentikan kegiatannya.

Pintu lift terbuka. Tara Hartono melangkah keluar lebih dulu, mengenakan pakaian kasual yang modis. Namun, bukan adik iparnya itu yang membuat napas Yvone tertahan, melainkan gadis muda yang berjalan ragu-ragu di belakang Tara.

"Kak Vone?"

Gadis itu berdiri mematung. Matanya yang sembab menatap sekeliling penthouse raksasa itu dengan takjub, sebelum akhirnya tatapannya terkunci pada Yvone.

"Lia!" seru Yvone. Ia meletakkan sendok sayurnya secara asal dan setengah berlari melintasi ruang tamu.

Kedua kakak beradik itu bertubrukan dalam pelukan yang sangat erat. Tangis Lia pecah seketika, menggema di ruangan luas itu. Yvone memeluk adiknya kuat-kuat, membenamkan wajahnya di bahu gadis yang sudah berminggu-minggu tidak ia temui karena ancaman pembunuhan dari kubu Nadia.

"Kakak... Kak Vone baik-baik saja?" isak Lia, menarik diri sedikit untuk menatap wajah kakaknya, memeriksa dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku sangat takut, Kak. Berita di TV... penangkapan para menteri itu... penjagaan di apartemenku tiba-tiba ditarik pagi ini. Kupikir sesuatu yang buruk terjadi pada Kakak!"

Yvone menghapus air mata di pipi adiknya dengan ibu jarinya, tersenyum dengan kelegaan yang luar biasa. "Kakak baik-baik saja, Lia. Semuanya sudah berakhir. Orang-orang jahat itu sudah ditangkap. Kau aman sekarang."

Tara, yang berdiri tak jauh dari mereka, menyeka sudut matanya sendiri yang ikut berkaca-kaca. "Maaf aku baru bisa membawanya ke sini pagi ini, Yvone. Dylan melarang keras siapa pun masuk ke radius Menara Alexander sampai dia mendapat konfirmasi resmi dari kejaksaan bahwa status ayahmu sudah sepenuhnya bersih."

Mendengar kata 'ayah', mata Yvone membelalak. "Lalu... di mana Ayah sekarang?"

"Aku di sini, Vone."

Suara bariton yang hangat dan serak itu membuat Yvone berputar.

Dari dalam lift yang sama, melangkah keluar seorang pria paruh baya yang kini tidak lagi mengenakan rompi tahanan atau pakaian rumah sakit. Budi Larasati mengenakan kemeja batik yang rapi. Tubuhnya memang terlihat sedikit lebih kurus dari sebelum ia ditangkap, namun wajahnya memancarkan kelegaan yang tak terlukiskan. Di belakangnya, Marco dan Pak Joko berdiri mengawal dengan senyum hormat.

"Ayah!"

Yvone dan Lia berlari bersamaan, menghambur ke pelukan sang ayah. Ketiganya jatuh berlutut di atas karpet tebal penthouse itu, saling berpelukan dan menangis. Itu adalah tangis pembebasan. Tali gantungan yang selama ini melilit leher keluarga mereka akhirnya putus tak bersisa.

Budi menciumi puncak kepala kedua putrinya bergantian. "Ayah sudah bebas, Nak. Surat pemulihan nama baik Ayah sudah ditandatangani oleh Jaksa Agung. Ayah bisa pulang."

"Syukurlah... Ya Tuhan, syukurlah," isak Yvone, memeluk leher ayahnya erat-erat. Beban terberat yang selama ini menghancurkan jiwanya menguap sepenuhnya. Ayahnya selamat. Keluarganya utuh.

Setelah beberapa menit yang emosional, mereka perlahan berdiri. Budi menatap sekeliling penthouse mewah tersebut. Matanya kemudian tertuju pada anak tangga spiral yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua.

Di ujung tangga itu, Dylan berdiri.

Pria itu mengenakan celana lounge abu-abu dan kaus hitam lengan pendek yang agak longgar. Lengan kirinya masih tersangga oleh sling hitam akibat luka tembak dari malam Lembang. Rambutnya belum disisir rapi, dan wajahnya masih sedikit pucat. Tidak ada jas mahal, tidak ada aura intimidasi CEO. Ia hanya terlihat seperti pria biasa yang sedang memandangi keluarga kecil istrinya dengan sorot mata yang teduh.

Melihat Dylan menuruni tangga, Yvone segera menghampirinya, secara refleks memegang lengan kanan pria itu untuk membantunya berjalan sebuah gestur kecil yang tidak luput dari perhatian Budi Larasati.

Lia, yang baru pertama kali melihat sosok miliarder legendaris itu secara langsung, menahan napas. Ia sempat mengira suami kontrak kakaknya adalah monster tua yang kejam, namun pria di hadapannya ini terlihat seperti dewa Yunani yang sedang terluka, dan tatapan pria itu pada kakaknya... begitu penuh puja.

Dylan berhenti tepat di hadapan Budi Larasati. Marco dan Pak Joko menunduk sedikit, lalu melangkah mundur untuk memberikan ruang privasi. Tara pun menggiring Lia sedikit menjauh ke arah dapur.

"Selamat pagi, Pak Budi," sapa Dylan dengan nada rendah yang penuh hormat. "Saya senang melihat Anda akhirnya kembali mengenakan pakaian Anda sendiri."

Budi menatap pria muda yang menjulang tinggi di hadapannya. Pria yang telah membalikkan keadaan ibu kota dalam satu malam, pria yang menumpahkan darahnya sendiri demi mengambil kembali bukti kebenaran.

Tanpa ragu, Budi melangkah maju dan merengkuh Dylan dalam pelukan persaudaraan yang canggung namun sangat tulus, berhati-hati agar tidak menekan bahu kiri pria itu yang terluka.

"Aku yang seharusnya mengucapkan selamat pagi, Nak," suara Budi bergetar. Ia menepuk punggung Dylan perlahan sebelum melepaskannya. "Ayahmu, Abraham, pasti sangat bangga melihat pria seperti apa kau sekarang, Dylan. Kau menyelesaikan apa yang ia mulai. Kau menumbangkan Hadi, dan kau mengembalikan nyawaku. Keluarga Larasati berutang nyawa yang tidak akan pernah bisa kami bayar padamu."

Dylan menggeleng pelan. Ia menatap Yvone yang berdiri di sisinya, lalu kembali menatap Budi.

"Anda tidak berutang apa pun pada saya, Pak. Keadilan untuk ayah saya adalah hal yang memang harus saya selesaikan," ucap Dylan, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius dan rendah hati. "Tapi pagi ini, ada hal lain yang ingin saya bicarakan dengan Anda."

Budi mengerutkan kening, melihat perubahan nada suara sang miliarder. "Tentu, Dylan. Apa itu?"

Dylan menarik napas panjang. Ia meraih tangan kanan Yvone, menggenggamnya erat, dan menautkan jari-jari mereka di hadapan Budi.

"Beberapa minggu yang lalu," Dylan memulai, suaranya mantap tanpa keraguan, "saya datang kepada putri Anda sebagai pria yang arogan dan dingin. Saya menyodorkan sebuah kontrak bisnis yang kejam. Saya memaksanya menikah untuk menutupi jejak politik, memperlakukan institusi pernikahan layaknya sebuah transaksi."

Yvone menatap profil samping suaminya, jantungnya berdebar kencang menyadari apa yang sedang dilakukan pria itu. Dylan sedang menelanjangi kesalahannya di masa lalu di depan ayah mertuanya.

"Saya telah membuat Yvone menangis, ketakutan, dan merasa terkurung," lanjut Dylan, matanya tak lepas dari mata Budi Larasati. "Namun di saat yang sama, putri Anda adalah satu-satunya cahaya yang berani masuk ke dalam kegelapan saya. Dia tidak lari. Dia melawan saya, dia mengajari saya kembali menjadi manusia, dan pada akhirnya... dia menjadi perisai saya di saat seluruh dunia mencoba menghancurkan kami."

Budi terdiam, mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari pria yang memegang takhta tertinggi di dunia bisnis itu. Ia bisa melihat ketulusan yang membakar di mata Dylan.

"Kontrak itu sudah saya bakar," Dylan menegaskan. Ia kemudian menundukkan kepalanya sedikit sebuah gestur penghormatan tertinggi yang belum pernah ia berikan pada pejabat atau menteri mana pun.

"Saya berdiri di sini hari ini bukan sebagai CEO Alexander Group," suara Dylan sedikit parau, namun sarat akan kesungguhan. "Saya berdiri di sini sebagai seorang pria yang sangat mencintai putri Anda. Dan dengan segala kerendahan hati, saya meminta restu Anda... untuk menikahi Yvone Larasati sekali lagi. Bukan di atas kertas kontrak. Melainkan di altar yang sesungguhnya, sebagai pasangan yang mengikat janji di hadapan Tuhan."

Hening yang menyelimuti ruangan itu terasa sangat sakral. Yvone menggigit bibir bawahnya, air mata kembali merebak di pelupuk matanya. Dadanya sesak oleh gelombang kebahagiaan yang meluap-luap. Pria es yang kaku ini sedang melamarnya secara resmi di depan ayahnya.

Budi Larasati menatap tautan tangan putrinya dan Dylan. Ia melihat cincin berlian di jari manis Yvone. Lalu, ia menatap mata putrinya.

"Vone," panggil Budi lembut. "Apakah ini yang hatimu inginkan? Bukan karena utang budi, bukan karena paksaan?"

Yvone mengangguk mantap. Air mata jatuh membasahi pipinya saat ia tersenyum lebar. "Aku mencintainya, Ayah. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa dia."

Mendengar itu, Budi Larasati menghela napas lega. Ia tersenyum, matanya menyiratkan kebijaksanaan seorang ayah yang telah merelakan putrinya pada tangan yang tepat.

Budi melangkah maju, meletakkan tangannya di atas kedua tangan Dylan dan Yvone yang saling bertaut.

"Pernikahan yang sesungguhnya tidak dibangun di atas kertas, Dylan. Melainkan di atas pengorbanan dan rasa saling percaya," ucap Budi dengan suara bergetar. "Kalian telah membuktikan keduanya. Sebagai seorang ayah, tidak ada hal lain yang kuinginkan selain melihat putriku bahagia dan dilindungi. Kalian memiliki restuku. Sepenuhnya."

Dylan menutup matanya sejenak, membuang napas panjang. Rahangnya yang tegang mengendur. Saat ia membuka mata, senyum tulus yang mempesona terukir di wajahnya. "Terima kasih, Ayah."

Panggilan 'Ayah' yang keluar dari mulut Dylan membuat Budi tersenyum lebar dan menepuk bahu pria itu.

Dari arah dapur, Tara dan Lia bersorak gembira. Lia bahkan menghapus ingus di wajahnya sambil tertawa, sementara Tara sudah mengambil ponselnya dan memotret momen bersejarah itu.

"Baiklah, cukup dengan acara menangisnya!" Tara bertepuk tangan, melangkah maju memecah keharuan. "Sebagai adik dari mempelai pria, aku menuntut peran sebagai wedding organizer utama! Kita punya banyak hal yang harus disiapkan. Pesta ini harus menjadi wedding of the century!"

Yvone tertawa, menyeka air matanya. "Tara, kita tidak butuh pesta besar yang mengundang pejabat politik lagi. Aku sudah muak dengan mereka."

"Aku setuju dengan Yvone," Dylan menimpali, menarik pinggang istrinya dengan tangan kanannya. "Kita tidak akan mengadakannya di Jakarta. Pesta ini hanya untuk keluarga dan orang-orang terdekat. Tanpa wartawan. Tanpa kamera."

"Lalu di mana kita akan mengadakannya?" tanya Lia antusias.

Dylan menoleh pada Yvone, menatap istrinya dengan tatapan intim yang penuh kenangan. "Di mana lagi kalau bukan di tempat kita menemukan satu sama lain? Villa Karang Putih. Di tepi tebing Uluwatu."

Yvone tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya ke lengan suaminya. "Itu sempurna."

Dua Minggu Kemudian. Bali.

Udara pagi di Villa Karang Putih terasa hangat dan dipenuhi oleh aroma bunga melati dan kamboja.

Selama dua minggu terakhir, dinamika kehidupan mereka telah berubah total. Budi dan Lia kembali ke kehidupan normal mereka dengan pengamanan tertutup yang tetap disiagakan Dylan dari kejauhan. Saham Alexander Group meroket naik tak terkendali setelah skandal mega-korupsi Hadi dan Pramudya terbongkar, menjadikan Dylan sebagai figur pahlawan antikorupsi di dunia bisnis.

Namun bagi Yvone, pencapaian terbesarnya bukanlah gelar 'Nyonya Alexander Group'. Melainkan ruang kerjanya yang kini menghadap langsung ke Samudra Hindia.

Ia sedang duduk di depan meja sketsanya di area balkon vila. Luka di bahu Dylan sudah hampir pulih, pria itu tak lagi memakai sling, meski masih dilarang mengangkat beban berat.

"Aku masih tidak percaya kau menolak desain gaun dari Vera Wang yang Tara rekomendasikan," suara bariton Dylan menyela konsentrasi Yvone.

Pria itu berjalan keluar menuju balkon, mengenakan kemeja putih kasual yang ujungnya tidak dimasukkan, memegang dua gelas jus jeruk dingin. Ia meletakkan satu gelas di dekat meja sketsa Yvone.

Yvone meletakkan pensilnya dan merenggangkan punggungnya. Ia menatap suaminya dengan senyum geli. "Gaun dari Vera Wang memang cantik, Dylan. Tapi ini adalah pernikahanku. Altar abadiku. Aku ingin mengenakan sesuatu yang aku buat dengan tanganku sendiri."

Dylan mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan tangan di atas meja, menatap sketsa di hadapan Yvone.

Sketsa itu menampilkan sebuah gaun pengantin sutra putih berpotongan A-line yang sangat elegan namun sederhana. Tidak ada taburan berlian yang berlebihan, hanya aksen lace (renda) halus di bagian punggung dan lengan panjang yang transparan. Gaun itu memancarkan keanggunan organik, persis seperti gaya desain interior Yvone.

"Ini indah," puji Dylan tulus, matanya tak bisa berbohong. "Bahkan sketsanya saja sudah terlihat sempurna. Aku tidak sabar melihatmu memakainya minggu depan."

Yvone memutar kursinya hingga berhadapan dengan Dylan. Ia melingkarkan lengannya di leher suaminya, menarik pria itu mendekat hingga ia bisa mengecup bibirnya singkat.

"Semuanya terasa seperti mimpi, Dylan," bisik Yvone, bersandar di dada pria itu. "Kadang aku masih terbangun di malam hari dan takut ini semua hanya ilusi yang akan lenyap jika aku berkedip."

Dylan membalas pelukan istrinya, mengelus rambut panjang Yvone dengan lembut. "Ini bukan mimpi, Sayang. Ini adalah bayaran atas semua air mata dan ketakutan yang kita lalui."

Pria itu menunduk, mencium kening Yvone dengan dalam.

"Minggu depan, saat kita mengikat janji di tebing itu," bisik Dylan, suaranya serak dan dipenuhi oleh janji masa depan. "Aku akan membuktikan padamu setiap hari, bahwa kontrak yang kita buat di awal... adalah kesalahan terindah yang pernah kutandatangani seumur hidupku."

Di bawah langit Bali yang cerah, sisa-sisa trauma dan intrik politik itu akhirnya memudar. Babak baru dari kehidupan mereka akan segera dimulai bukan lagi tentang bertahan hidup dari serangan musuh, melainkan tentang membangun kerajaan cinta mereka sendiri, langkah demi langkah, menuju selamanya.

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!