Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33.Kedatangan yang Tidak Diundang
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Tiba-tiba...
Suasana yang tadinya sangat harmonis, sakral, dan penuh kebahagiaan itu seketika terhenti. Suasana hangat itu sedikit demi sedikit berubah menjadi canggung dan mencekam.
KREET...
Suara pintu depan rumah yang besar dan berat itu terbuka lebar secara paksa.
Semua kepala di ruangan itu serentak menoleh ke arah pintu. Mata mereka terbelalak melihat siapa yang datang.
Seorang wanita muda berjalan masuk dengan langkah yang tegap, angkuh, dan penuh percaya diri. Penampilannya sangat modis, memakai gaun yang sangat terbuka dan mencolok, riasan wajahnya tebal namun terlihat cantik secara fisik. Tapi siapa pun yang melihat matanya, akan langsung merasakan aura dingin, sombong, dan tajam yang memancar keluar. Ia diikuti oleh beberapa orang yang sepertinya adalah teman-temannya atau pengawal pribadi.
Wanita itu tidak lain adalah Balqis.
Siapa pun di ruangan itu mengenalnya. Semua orang tahu siapa Balqis. Dia adalah wanita kaya raya yang dulu mati-matian mengejar Gus Aqlan. Dia yang dulu berani menyatakan cinta dengan terang-terangan, tapi sayangnya... cintanya ditolak mentah-mentah dan dengan sangat tegas oleh Gus Aqlan.
Kehadirannya di sini sama sekali tidak diundang.
"Assalamu’alaikum..." sapanya dengan suara yang sengaja dikeraskan, terdengar manja namun penuh penekanan, sementara matanya langsung mencari-cari dan akhirnya menatap tajam tepat ke arah Aisyah yang duduk di pelaminan kecil itu.
"Wa’alaikumsalam..." jawab beberapa orang di ruangan itu dengan ragu-ragu dan terbata-bata. Suasana menjadi hening total.
Papa Arya dan Mama Laras saling pandang dengan wajah bingung campur waspada. Mereka sama sekali tidak mengundang wanita ini. Tapi karena tamu dan menjaga sopan santun di acara sendiri, mereka tetap mencoba bersikap ramah meski hati mereka mulai tidak enak.
"Eh... Silakan duduk Nak. Maaf ya, kami tidak tahu kalau kamu akan datang. Ada keperluan khusus apa ya?" tanya Mama Laras dengan senyum yang dipaksakan, tangannya secara refleks memegang erat lengan suaminya.
Balqis tidak langsung duduk. Ia justru berjalan santai namun penuh intimidasi menembus kerumunan orang, hingga ia berdiri tepat di tengah ruangan, tepat di hadapan Gus Aqlan dan Aisyah yang baru saja selesai bertukar cincin.
Matanya yang tajam langsung tertuju pada tangan Aisyah. Di jari manis gadis itu, kini melingkar sebuah cincin berlian yang berkilau indah, tanda bahwa lamaran sudah sah.
Melihat itu, Balqis mendengus kasar, lalu tersenyum miring dengan nada mengejek yang sangat menyakitkan.
"Wah... wah... wah... Ternyata benar ya semua kabar yang aku dengar. Ternyata hari ini memang ada acara lamaran besar-besaran ya? Heboh banget sampai ke telinga aku," ucap Balqis dengan nada yang terdengar manis di awal, tapi setiap kata yang keluar sangat menusuk hati dan tajam.
"Padahal kan... kalau dipikir-pikir lagi, seharusnya posisi yang berdiri atau duduk di samping Gus Aqlan sekarang itu adalah AKU, bukan orang lain yang tiba-tiba muncul!"
GLEK!
Aisyah menelan ludah dengan sangat susah payah. Rasanya seperti ada batu yang menyumbat tenggorokannya. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang, rasa takut yang selama ini hilang seketika menyelinap kembali ke dalam dadanya. Tangannya gemetar hebat, ia merasa sangat tidak nyaman dan terancam.
Gus Aqlan yang mendengar ucapan lancang itu langsung mengerutkan keningnya lebar-lebar. Wajahnya yang tadi berseri-seri penuh bahagia seketika berubah menjadi sangat serius, dingin, dan memancarkan aura murka yang menakutkan.
Tanpa pikir panjang, Gus Aqlan segera melangkah maju satu langkah, berdiri di depan tubuh Aisyah, melindungi kekasih hatinya dari pandangan tajam dan jahat milik Balqis. Ia tidak mau Aisyah melihat tatapan benci itu terlalu lama.
"Balqis..." panggil Gus Aqlan dengan suara rendah namun sangat berat dan tegas. "Apa yang kamu lakukan di sini? Tidak ada satu pun orang di sini yang mengundangmu. Ini adalah acara resmi dan sakral keluarga kami. Tolong hargai kami, hargai orang tua, dan hargai acara ini. Sebaiknya kamu pergi."
Tapi Balqis sepertinya tidak peduli sama sekali. Ia justru tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat sinis, dingin, dan penuh rasa dendam.
"Kenapa harus diundang, Lan? Kenapa harus formalitas segala?" jawabnya dengan santai namun menantang. "Aku datang sebagai tamu biasa, atau lebih tepatnya... aku datang karena aku tidak bisa membiarkan kebodohan ini terus berlanjut! Aku datang untuk menghentikan semua ini!"
Seruan Balqis yang tiba-tiba itu membuat semua orang di ruangan itu terkejut.
Balqis lalu berbalik, menatap lurus ke arah Aisyah yang bersembunyi di balik punggung Gus Aqlan. Tatapannya penuh kebencian, api cemburu yang membara, dan aura persaingan yang sangat kuat.
"Dengar baik-baik ya kamu... Aisyah kan? Jangan terlalu bangga dan jumawa dulu ya nona manis! Jangan berpikir kalau dengan cincin murahan itu kamu sudah menang dan bisa dapatkan dia sepenuhnya!"
"Kamu salah besar! Gus Aqlan itu milikku! Selamanya milikku!" seru Balqis dengan suara bergetar menahan emosi. "Dulu, sebelum kamu muncul dan merebutnya dengan cara manis-manis, dengan wajah polos palsumu itu, Gus Aqlan itu dekat sama aku! Aku yang dulu selalu ada buat dia, aku yang dulu ngejar-ngejar dia mati-matian, aku yang dulu siap kasih apa aja buat dia!"
BERSAMBUNG....