NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Rahasia di Balik Dompet Sederhana

Pasar tradisional yang riuh itu menjadi saksi bagaimana seorang Damian Nicholas—pria yang biasanya menggeser kartu kredit tanpa batas untuk jam tangan miliaran rupiah—kini justru sibuk membawakan dua kantong plastik besar berisi telur, sayur-mayur, dan berliter-liter minyak goreng.

Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikiran Damian sejak mereka mulai berpindah dari satu kios ke kios lain. Setiap kali tiba waktunya membayar, Selene dengan tenang mengeluarkan dompetnya dan membayar semua belanjaan itu tanpa ragu sedikit pun.

"Selene, tunggu," ucap Damian, menghentikan langkah gadis itu di depan kios bumbu dapur. "Sejak tadi kau menggunakan uangmu sendiri. Apakah panti tidak memberikan anggaran? Mengapa kau harus memakai uang pribadimu untuk belanja sebanyak ini?"

Selene menoleh, memberikan senyum tenang sambil menerima kembalian dari pedagang. "Panti punya anggaran, Damian. Tapi bulan ini banyak pengeluaran mendadak untuk obat-obatan anak-anak. Jadi, aku menggunakan uangku untuk menutupi sisanya. Tidak apa-apa, ini sudah biasa."

Damian mengerutkan kening, sisi protektifnya terusik. "Ini tidak sedikit. Jika kau kesulitan, aku bisa—"

"Bisa apa? Membayarnya dengan gajimu sebagai asisten?" potong Selene sambil terkekeh pelan, menggoda pria yang ia kira sedang kesulitan finansial itu. "Simpan saja uangmu, Damian. Aku masih punya cukup tabungan. Aku tidak ingin membebanimu."

Damian terdiam, lidahnya kelu. Ia merasa sangat ironis; ia sanggup membeli seluruh pasar ini dengan sekali jentikan jari, namun di mata Selene, ia hanyalah seorang pekerja kantoran yang harus berhemat.

Namun, ada sesuatu yang tidak disadari oleh Damian. Di balik kesederhanaan pakaian Selene dan dedikasinya pada panti, gadis itu bukanlah orang sembarangan. Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga yang sangat berkecukupan. Ia memiliki akses ke harta yang lebih dari cukup, namun ia memilih untuk hidup mandiri dan memberikan hampir seluruh tunjangan serta tabungannya untuk anak-anak panti tanpa pernah menyombongkannya.

"Kau benar-benar tidak keberatan?" tanya Damian lagi, matanya menyelidiki ekspresi Selene yang tampak terlalu santai untuk seseorang yang baru saja menghabiskan jutaan rupiah untuk belanjaan pokok.

"Sama sekali tidak," jawab Selene mantap sambil memasukkan dompetnya kembali ke tas. "Uang hanyalah kertas, Damian. Senyum anak-anak saat makan malam nanti jauh lebih berharga daripada saldo di bank."

Damian menatap punggung Selene yang berjalan mendahuluinya. Kekagumannya berubah menjadi rasa penasaran yang gelap. Gadis ini terlalu sempurna, terlalu tulus, dan entah mengapa, tampak begitu berwibawa di balik kesederhanaannya.

"Siapa kau sebenarnya, Selene? Semakin aku mengenalmu, semakin aku merasa kau adalah teka-teki paling indah yang pernah kutemui," batin Damian.

Ia mempererat genggamannya pada kantong belanjaan, seolah sedang memegang harta paling berharga. Ia tidak tahu bahwa dalam waktu dekat, latar belakang mereka berdua yang sama-sama berasal dari "dunia atas" akan menjadi bumerang yang menghancurkan kepercayaan yang mulai terbangun ini.

Langkah Selene terhenti mendadak. Matanya yang tadi berbinar saat memilih sayuran, kini menajam ke arah sebuah lorong sempit bin sepi di samping deretan kios kain. Di sana, di bawah bayang-bayang tembok kusam yang lembap, sebuah pemandangan kontras terjadi.

Seorang anak perempuan kecil dengan pakaian lusuh—mungkin salah satu anak jalanan yang sering mampir ke panti—tengah dipojokkan oleh dua orang remaja laki-laki. Dari pakaian bermerek yang mereka kenakan dan tawa meremehkan yang keluar dari mulut mereka, jelas terlihat mereka adalah anak-anak dari keluarga kelas atas yang merasa dunia ada di bawah kaki mereka.

Salah satu dari remaja itu merebut bungkusan roti kecil dari tangan si anak perempuan, lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke tanah dan menginjaknya.

"Ops, kotor ya? Ambil saja, kau kan terbiasa makan sampah," ucap remaja itu sambil tertawa keras, sementara si anak perempuan mulai terisak ketakutan.

Darah Selene mendidih. Ia meletakkan kantong belanjaannya di kaki Damian tanpa berkata-kata.

"Selene, kau mau ke mana?" tanya Damian, namun gadis itu sudah melesat maju sebelum ia sempat menjawab.

Selene masuk ke lorong itu dengan langkah yang berwibawa. "Hei! Apa yang kalian lakukan?!" suaranya menggelegar, memantul di dinding lorong yang sempit.

Kedua remaja itu menoleh, tampak terkejut namun kemudian memasang wajah angkuh. "Bukan urusanmu, Bibi. Pergi sana kalau tidak mau kami laporkan ke polisi karena mengganggu kami."

Selene berdiri tepat di depan anak perempuan itu, melindunginya. "Melaporkan? Atas dasar apa? Karena aku menghentikan dua pengecut yang menindas anak kecil? Aku tahu siapa kalian, setidaknya dari logo sekolah di seragam kalian. Apakah orang tua kalian tidak mengajarkan etika, atau uang mereka hanya cukup untuk membeli otak yang kosong?"

Damian, yang mengikuti dari belakang dengan tangan penuh kantong plastik, hanya berdiri diam di mulut lorong. Ia memperhatikan Selene dengan tatapan yang semakin terpesona. Keberanian gadis itu bukan sekadar emosi sesaat; ada aura kepemimpinan dan harga diri yang sangat tinggi yang terpancar dari caranya berbicara—aura yang biasanya hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa berada di posisi atas.

"Kau berani menghina kami?!" salah satu remaja itu maju, hendak mendorong bahu Selene.

Namun, sebelum tangan itu menyentuh Selene, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan si remaja dengan cengkeraman yang mematikan. Damian sudah ada di sana, wajahnya gelap gulita dengan tatapan yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk kedua remaja itu berdiri.

"Jangan. Berani. Menyentuhnya," desis Damian, suaranya pelan namun mengandung ancaman yang nyata.

Remaja itu gemetar hebat. Ia menatap Damian dan seketika nyalinya menciut. Ia tidak tahu siapa pria ini, tapi aura predator yang keluar dari tubuh Damian jauh lebih mengerikan daripada kemarahan orang tua mereka.

"Ma-maaf... kami hanya bercanda!" mereka langsung berbalik dan lari tunggang langgang tanpa menoleh lagi.

Selene berlutut di depan si anak perempuan, menghapus air matanya dengan lembut. "Jangan takut, mereka sudah pergi. Ini, ambillah," Selene mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya—jumlah yang cukup besar untuk sekadar membeli roti—dan memberikannya pada anak itu.

Damian memperhatikan gerakan tangan Selene. Uang itu... batin Damian. Ia baru menyadari bahwa cara Selene memegang uang dan memberikan bantuan tidak terlihat seperti orang miskin yang sedang berbagi, melainkan seperti seorang bangsawan yang sedang memberikan santunan.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!