NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Gula, Pahit, dan Kesepakatan

​Seminggu lewat sejak insiden amplop cokelat yang berakhir tragis di dasar tong sampah. Ya, aku benar-benar merobek surat pengosongan lahan itu tepat di depan hidung mancung Arka Danadyaksa dua hari lalu.

​Yang bikin aku nyaris gila, pria itu sama sekali tidak menyerah. Tapi cara dia menekanku benar-benar di luar nalar. Dia tidak mengirim preman berwajah seram. Dia tidak membawa pengacara berjas licin. Dia bahkan tidak main ancam lewat telepon.

​Arka malah nongkrong di kedaiku setiap hari.

​Persis jam dua siang, mobil SUV hitamnya yang mengilap akan parkir di seberang jalan. Pria itu masuk, memesan Iced Americano, membayar pakai uang pas—karena aku selalu menolak memberikan kembaliannya—lalu duduk di meja pojok dekat jendela. Dia akan membuka laptopnya, melakukan meeting online pakai earphone, atau sekadar mengetik sambil mengerutkan kening.

​Udah. Begitu saja. Dia tidak menyinggung soal tanah, penggusuran, atau kompensasi sama sekali.

​Apa yang sebenarnya dia rencanakan? batinku penuh curiga setiap kali meliriknya dari balik mesin espresso. Ini pasti perang urat saraf. Dia sengaja duduk di sana seperti patung gargoyle untuk mengintimidasi mentalku sampai aku menyerah sendiri.

​Awalnya aku iseng mencari gara-gara. Kalau Arka memesan, aku sengaja melama-lamakan prosesnya. Pernah juga aku sengaja menggunakan teknik over-extract saat menarik espresso-nya. Cairan hitam yang keluar pasti terasa sangat pekat, gosong, dan pahitnya menyerupai ekstrak ban karet.

​Tapi Arka? Dia meminumnya sampai habis tanpa komplain sedikit pun. Bahkan ekspresi wajahnya tidak berubah.

​Sialan. Apa lidah pria ini sudah mati rasa karena terlalu banyak menelan kepalsuan di kantornya? Aku malah jadi sewot sendiri.

​Sampai akhirnya, tibalah hari Jumat jahanam.

​Siang itu, mendadak ada rombongan anak agensi dari gedung sebelah yang meeting dadakan di kedaiku. Mereka memesan hampir dua puluh gelas berbagai macam menu yang memusingkan. Di saat yang sama, Nisa, part-timer-ku satu-satunya, tiba-tiba menerima telepon. Wajahnya pucat pasi. Ia pamit pulang sambil menangis histeris karena adiknya baru saja kecelakaan motor.

​Aku menyuruhnya pergi tanpa pikir panjang. Tapi apesnya, saat aku baru mau mengeksekusi pesanan kelima, grinder kopi utama yang biasa kupakai mendadak macet. Suaranya mendengung aneh dan bubuk kopinya mampet total.

​Kepanikan langsung menyergap leherku bak tangan tak kasat mata.

​Antrean di kasir semakin panjang. Suara orang mengobrol mulai berdengung bising di telingaku. Di depanku, seorang customer perempuan terus mengetuk-ngetukkan kartu ATM-nya ke meja kasir dengan ritme yang membuat kepalaku mau pecah.

​Napas, Senja. Napas. Jangan hancur di sini, aku merapal mantra di dalam hati.

​Keringat dingin mulai menetes di pelipisku, membuat anak rambutku menempel lepek. Aku pontang-panting meracik pesanan sambil sebelah tangan berusaha memutar paksa baut grinder. Tanganku gemetar parah. Printer struk terus berbunyi srrrkkk, srrrkkk, mencetak deretan pesanan yang seolah menertawakan ketidakberdayaanku.

​Tuhan, tolong telan aku sekarang juga.

​Tiba-tiba, ada wangi parfum woody—campuran sandalwood dan vetiver yang belakangan ini sangat familier—menusuk hidungku dari sebelah kanan. Seseorang masuk begitu saja melewati pintu pantry dan berdiri di area bar. Area kekuasaanku.

​Aku menoleh, mataku melotot terbelalak sempurna.

​Arka. Pria itu sudah membuka jas mahalnya, kemeja navy-nya digulung asal hingga siku, menampakkan lengan bawahnya yang kokoh. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung memposisikan diri di depan mesin kasir.

​"Sori, Kak, agak lama. Yang Iced Caramel Latte dua sama Matcha satu tadi atas nama siapa?" tanya Arka ke customer cewek yang cerewet tadi. Suaranya luar biasa santai, senyumnya ramah, lengkap dengan tatapan mata yang entah bagaimana langsung membuat si customer yang tadinya cemberut mendadak salah tingkah dan tersipu.

​"Arka! Lo ngapain di sini?!" desisku histeris, setengah berbisik agar tidak terdengar pelanggan. Aku menarik kasar lengan kemeja cowok itu. "Keluar dari bar!"

​Arka menepis tanganku dengan sangat pelan namun tegas. Matanya tetap fokus mengetik menu di layar monitor POS. "Bantuin lo yang mukanya udah pucat kayak mau pingsan. Udah, lo fokus ke espresso machine aja. Mesin grinder yang satu lagi pakai aja dulu buat manual brew. Gue yang urus pesanan, panggil nama, sama billing."

​Aku mau mendebatnya lagi, mengusirnya keluar. Tapi suara mesin printer struk kembali menjerit meminta ampun. Tidak ada waktu untuk ego. Terpaksa, aku menelan harga diriku bulat-bulat dan menurut.

​Satu jam berikutnya adalah kekacauan yang entah bagaimana caranya bisa dikoordinasi dengan lumayan rapi. Arka ternyata sangat cepat tanggap. Ia menulis nama di cup plastik dengan spidol, memanggil pelanggan dengan suara baritonnya yang lantang, bahkan tanpa canggung ia mengambil lap basah dan ikut membersihkan meja-meja yang kosong sementara aku fokus menjadi mesin pembuat kopi.

​Ini gila, batinku di sela-sela tarikan milk jug. Seorang Direktur Utama sedang mengelap meja di kedai reot yang mau dia gusur.

​Sekitar jam setengah empat sore, rombongan terakhir akhirnya pergi. Lonceng pintu berdenting pelan. Kedai kembali sepi, menyisakan bau susu manis, kopi, dan hawa panas.

​Kakiku rasanya seperti jeli. Aku langsung ambruk di kursi kasir. Napasku putus-putus, rambutku acak-acakan parah, dan celemek cokelatku sudah belepotan noda susu dan bubuk kopi.

​Di sebelahku, Arka berjalan santai ke arah kulkas showcase. Ia mengambil dua botol air mineral dingin, memutar tutupnya, dan menyodorkan satu tepat di depan wajahku.

​"Minum!," titahnya.

​Arka sendiri langsung menenggak air di botolnya sampai habis setengah. Aku melihat jakunnya bergerak naik turun, dan sebulir keringat meluncur turun dari rahangnya menuju leher kemejanya yang sedikit terbuka. Aku buru-buru membuang muka.

​"Makasih," gumamku sambil menerima botol itu. Air dingin membasahi tenggorokanku yang kering kerontang. "Makasih juga udah bantuin gue tadi. Walaupun lo tetep musuh gue."

​Arka tertawa pelan. Suara tawanya agak serak karena kelelahan, dan itu terdengar... sangat membumi. Ia menarik kursi stool dan duduk berhadapan denganku, mengabaikan fakta bahwa meja di antara kami masih sedikit basah. "Sama-sama."

​Hening sebentar. Cuma ada suara napas kami berdua yang beradu dengan dengung kompresor kulkas.

​"Gue penasaran," aku akhirnya buka suara. Nadaku tidak sejudes biasanya, terlalu lelah untuk memelihara ego. "Lo ini CEO, kan? Atau Direktur apalah itu. Lo punya kuasa dan uang buat bikin hidup gue susah. Lo bisa aja bawa bekingan buat gusur tempat ini paksa. Tapi... kenapa lo malah nongkrong di sini tiap hari minum kopi gagal bikinan gue, dan repot-repot jadi kasir dadakan?!"

​Arka menunduk, memperhatikan ujung sepatu kulit mahalnya sebentar, seolah sedang mencari kata yang tepat. Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan menatap mataku lekat-lekat. Tidak ada dinding es di sana hari ini.

​"Karena gue mau nyari tahu," jawabnya pelan. "Awalnya gue mikir, cewek ini keras kepala banget nolak duit miliaran cuma demi warung kopi tua yang atapnya bocor. Gue pikir lo cuma mau main game. Nego harga biar kompensasinya dinaikin lebih tinggi,"jawabnya santai.

​Aku mendelik, siap melempar botol minum ini ke kepalanya, tapi Arka buru-buru mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan agar aku mendengarkan dulu.

​"Tapi setelah seminggu duduk di pojokan sana..." Arka mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedai yang berantakan. "Ngelihat lo nyeduh tiap gelas dengan teliti meskipun itu buat pelanggan yang rewel... dengerin gimana customer lo pada cerita soal hari-hari mereka ke lo dan lo mendengarkan mereka layaknya teman... gue sadar."

​Arka menghentikan kalimatnya. Tatapannya kembali mengunci mataku.

​"Tempat ini ada jiwanya, Senja. Dan lo bener. Mall yang bakal gue bangun dari beton dan baja... nggak bakal pernah punya itu."

​Hatiku rasanya seperti diremas pelan oleh tangan yang hangat. Ucapan Arka terdengar terlalu jujur, terlalu tulus untuk ukuran bos properti yang selama ini kuhujat dalam hati.

​Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa dia tiba-tiba berpihak padaku?! "Terus?" aku memaksakan sebuah senyuman kecut, berusaha membangun kembali tembok pertahananku yang mulai retak. "Lo udah sadar, terus proyek lo batal? Nggak mungkin, kan? Bokap lo bakal gantung lo di lobi kantor."

​Arka mencondongkan badannya ke depan. "Gue nggak bakal batalin proyeknya. Itu bunuh diri namanya."

​Arka memberi jeda sebentar, membiarkan kalimat itu meresap. "Tapi, kayaknya gue harus siap-siap berantem sama dewan direksi besok pagi."

​Aku mengerutkan kening. "Berantem buat apa?"

​"Buat merombak ulang desain cetak biru mall," jawab Arka. Nadanya kelewat santai untuk sebuah omongan yang jelas-jelas tidak masuk akal. "Kedai lo nggak bakal digusur. Kita bakal bangun mall itu mengelilingi tempat ini. Kedai Kala Senja bakal jadi bangunan heritage yang dipertahankan tepat di tengah-tengah kawasan mal."

​Aku speechless. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. "Lo gila? merombak cetak biru di fase ini biayanya bengkak parah, Arka! Bokap lo atau siapa pun bos lo beneran bisa mecat lo!"

​"Gue tahu,"jawab Arka terdengar santai.

​Arka tersenyum kecil, dan kali ini senyum itu sampai ke matanya, menciptakan kerutan halus di sudut netranya. Ia mengulurkan tangan. Sebelum aku sempat menghindar, jari-jarinya yang besar dan hangat merapikan pelan ujung rambutku yang menempel di pipi karena keringat.

​Sentuhan itu cepat banget. Hanya sekian detik. Tapi sukses membuat napasku tersangkut di tenggorokan.

​"Tapi kadang," suara Arka melembut, mengalun mengalahkan derau angin di luar, "ada hal-hal yang emang pantes buat diperjuangin mati-matian, Senja. Termasuk kedai ini... dan mungkin, lo."

​Lagu indie di speaker yang sejak tadi berisik kebetulan berganti menjadi lagu akustik yang pelan. Di luar, hujan mulai turun lagi, merintik perlahan menghantam kaca jendela.

​Aku menatap pria di hadapanku. Pria yang seharusnya menjadi musuh terbesarku. Tapi anehnya, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir sejak surat peringatan itu datang... aku merasa semuanya bakal baik-baik saja.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!