NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:816
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Suasana Ini!

​"Di balik es yang membekukan, ada air mata yang tak pernah kau izinkan jatuh. Di balik kebisuanmu yang angkuh, ada teriakan minta tolong yang tertelan oleh kejamnya dunia. Hari ini, aku mengintip ke dalam nerakamu, Rendi. Dan seketika, nerakaku sendiri terasa seperti taman bermain yang memalukan." (Buku Harian Keyla, Halaman 28)

​Hari Kamis di pertengahan September terasa lebih suram dari biasanya. Langit di luar jendela kelas XII-IPA 1 berwarna abu-abu pekat, menahan beban air hujan yang seolah enggan turun, menciptakan suasana gerah dan sumpek yang membuat napas terasa berat. Namun, kesumpekan cuaca itu tidak sebanding dengan beban tugas kelompok Sosiologi yang menumpuk di atas mejaku.

​"Sumpah ya, Pak Budi tuh kalau ngasih tugas nggak kira-kira. Makalah dua puluh halaman, tulis tangan pula! Udah gila kali ya kita disuruh balik ke zaman batu!" gerutu Bella sambil mengibaskan tangannya yang kemerahan dan kram akibat menulis non-stop sejak jam pertama.

​Lidya, yang duduk di depannya, sibuk menjejalkan keripik singkong pedas ke dalam mulutnya, seolah rasa pedas itu bisa mengalihkan rasa pusing di kepalanya. "Udah, Bel, jangan ngeluh mulu. Makin lo ngeluh, makin kerasa capeknya. Lagian yang nulis paling banyak juga si Keyla sama Siska."

​Aku tersenyum tipis, merapikan lembar demi lembar kertas folio bergaris yang penuh dengan tulisan tanganku dan Siska. Ya, tugas kelompok kami memang sudah selesai, berkat kerja keras kami berdua sementara Lidya bertugas mencari referensi di buku dan Bella... yah, Bella bertugas sebagai pemandu sorak yang menyumbangkan keramaian.

​Siska duduk dengan postur tegak yang sempurna, memeriksa kembali halaman terakhir makalah kami. Kacamatanya sedikit merosot di hidung, namun ia membetulkannya dengan gerakan jari yang anggun. "Sudah rapi semua, Key. Tinggal diserahkan ke meja Pak Budi di ruang guru."

​"Biar aku aja yang antar, Sis," tawarku cepat. Aku meraup tumpukan kertas itu dan memeluknya di dada. Aku butuh alasan untuk keluar dari kelas, butuh udara segar, dan sejujurnya, aku butuh alasan untuk bergerak agar mataku tidak terus-menerus mencuri pandang ke arah meja di belakangku.

​Meja Rendi.

​Hari ini, ia tertidur lagi sepanjang pelajaran. Kepalanya terbenam di antara kedua lipatan lengannya, napasnya terdengar berat. Kemejanya terlihat lebih lusuh dari biasanya, dan ada noda kotor di kerahnya yang luput dari basuhan sabun. Melihat punggungnya yang bergetar samar saat ia bernapas membuat dadaku terasa seperti ditusuk ribuan jarum kecil. Mengapa ia selalu terlihat begitu kelelahan?

​Siska menatapku dengan senyum lembutnya. "Kamu yakin, Key? Kertasnya lumayan berat lho, ditambah tugas kelompok dua tadi yang nitip ke kita."

​"Nggak apa-apa, sekalian mau regangin kaki. Pegel banget duduk dari tadi," dalihku.

​"Yaudah, hati-hati ya, Neng. Jangan sampai tuh kertas terbang ketiup angin, bisa nangis darah gue kalau harus nulis ulang," pesan Bella yang langsung ditimpali dengan lemparan bungkus keripik kosong oleh Lidya.

​Aku melangkah keluar dari kelas, menyusuri koridor panjang menuju ruang guru yang terletak di gedung sayap kiri sekolah. Suasana sekolah saat itu cukup sepi karena ini adalah jam pergantian pelajaran dan sebagian besar siswa memilih menetap di kelas. Hanya terdengar suara langkah sepatuku yang beradu dengan lantai keramik, bergema memantul di dinding-dinding koridor.

​Pikiranku melayang ke kejadian-kejadian sebelumnya. Penolakan kasarnya saat aku memberikan pulpen, pengabaiannya terhadap kehadiran Deandra, dan anggukan diamnya yang menyiksa setiap kali aku menyapanya di pagi hari. Rendi adalah teka-teki yang kepingannya berserakan dan bertepi tajam. Setiap kali aku mencoba menyatukannya, tanganku selalu berakhir berdarah.

​Aku tiba di depan pintu ruang guru yang terbuat dari kayu jati dengan kaca buram di bagian tengahnya. Pintu itu tidak tertutup rapat; ada celah sekitar lima sentimeter yang dibiarkan terbuka, mungkin agar udara dari dalam ruangan yang ber-AC bisa sedikit bertukar dengan udara luar.

​Aku mengangkat tanganku, bersiap untuk mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

​Namun, sebelum buku-buku jariku menyentuh permukaan kayu, sebuah percakapan dari dalam ruangan menghentikan gerakanku. Suara itu cukup jelas terdengar dari celah pintu. Suara yang sangat kukenal. Itu suara Bu Endang, wali kelasku, dan Pak Budi, guru Sosiologi sekaligus guru Bimbingan Konseling (BK) sekolah kami.

​"Saya benar-benar khawatir melihat kondisinya, Pak Budi," suara Bu Endang terdengar mendesah berat, penuh dengan keprihatinan yang jarang sekali ia tunjukkan di dalam kelas. "Hari ini di pelajaran saya, dia ketiduran lagi. Saya tegur pun matanya merah sekali, seperti orang yang tidak tidur berhari-hari. Wajahnya pucat pasi. Saya sampai tidak tega mau menghukumnya."

​Langkahku membeku. Entah mengapa, instingku mengatakan bahwa nama yang akan mereka sebut selanjutnya adalah nama yang selalu merajai setiap doaku.

​"Rendi maksud Ibu?" tebak Pak Budi. Nada suaranya tak kalah sendu.

​Tebakan itu tepat sasaran. Jantungku seketika berdegup sangat kencang, memukul-mukul tulang rusukku seolah ingin melompat keluar. Tanganku yang memeluk tumpukan tugas tanpa sadar mencengkeram kertas-kertas itu dengan kuat hingga pinggirannya lecek. Aku menahan napasku, menempelkan tubuhku sedekat mungkin ke dinding di samping pintu, mencuri dengar kelanjutan percakapan mereka.

​"Iya, Pak. Rendi anak kelas XII-IPA 1 itu," jawab Bu Endang. "Bapak selaku guru BK, apakah tidak ada tindakan atau bantuan dari sekolah untuk anak ini? Potensi akademisnya sangat tinggi. Sayang sekali kalau harus hancur karena kelelahan fisik."

​Terdengar suara helaan napas panjang dari Pak Budi, diikuti oleh suara gesekan kursi yang ditarik.

​"Bu Endang... beban yang dipikul Rendi itu bukan sekadar beban anak SMA biasa," suara Pak Budi merendah, sarat akan rahasia yang pedih. "Beberapa minggu lalu, saya memanggilnya ke ruangan saya karena tunggakan SPP-nya sudah menumpuk berbulan-bulan. Awalnya dia diam saja, keras kepala seperti batu. Tapi setelah saya desak perlahan, akhirnya dia mau bercerita sedikit tentang kehidupannya di luar sekolah."

​Dadaku mulai terasa sesak. Aku menutup mataku rapat-rapat, mempersiapkan diriku mendengar kenyataan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di balik dinding esnya.

​"Ibundanya meninggal dunia setahun yang lalu, Bu. Kanker payudara stadium akhir," lanjut Pak Budi pelan, namun setiap kata-katanya menghantam ulu hatiku seperti martir besi. "Biaya pengobatan ibunya sangat besar, membuat keluarga mereka terjerat hutang rentenir yang menumpuk tak karuan."

​"Innalillahi..." gumam Bu Endang terkejut. "Lalu ayahnya? Bukankah di data siswa ayahnya masih hidup?"

​"Itulah yang paling biadab, Bu," nada suara Pak Budi sedikit meninggi, menyiratkan kemarahan. "Ayahnya pengecut. Begitu istrinya meninggal dan rentenir mulai datang menagih dengan ancaman kekerasan, ayahnya kabur. Pergi meninggalkan rumah kontrakan mereka di tengah malam, lari dari tanggung jawab, dan membiarkan Rendi yang saat itu baru naik kelas dua SMA menanggung semua hutang iblis itu sendirian."

​"Duniaku runtuh mendengarnya. Kau baru berusia tujuh belas tahun saat itu, Rendi. Saat teman-teman kita menangis karena patah hati atau nilai ujian yang jelek, kau dipaksa menangis di depan nisan ibumu, sembari menghadapi monster-monster penagih hutang yang mencari ayahmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 29)

​Kakiku mulai terasa lemas. Aku menyandarkan punggungku sepenuhnya ke dinding koridor agar tidak ambruk. Udara di sekitarku mendadak terasa tipis. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku tanpa bisa kutahan.

​"Ya Allah... Gusti Pangeran..." Bu Endang terdengar nyaris menangis. "Lalu bagaimana dia hidup sekarang? Dia makan dari mana?"

​"Anak itu mengorbankan segalanya, Bu. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, dia tidak pulang ke rumah. Dia langsung pergi bekerja," jelas Pak Budi. "Terkadang dia jadi kuli panggul di pasar induk sampai magrib. Malam harinya, dia nyambi jadi pelayan di warung tenda atau tukang cuci piring di cafe sampai jam dua pagi. Tidurnya paling lama hanya dua atau tiga jam sehari. Pantas saja kalau dia sering ketiduran di kelas. Dia bekerja layaknya kuda poni yang dicambuk, demi melunasi sisa hutang rentenir ayahnya dan sekadar menyambung hidup."

​Tanganku bergetar hebat. Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan, menggigit jariku sendiri kuat-kuat untuk meredam isak tangis yang mulai memaksa keluar dari tenggorokanku.

​Tiba-tiba, potongan-potongan kejadian di masa lalu terangkai dengan sempurna di kepalaku layaknya sebuah puzzle yang utuh.

​Ia bekerja di pasar malam, memakai kostum badut tebal yang pengap, menukar peluhnya dengan uang recehan. Ia memakan roti kemasan seribuan di sudut kantin yang sepi, bukan karena ia pelit pada dirinya sendiri, melainkan karena hanya itu yang mampu ia beli. Ia menolak hadiah cokelat mahal dari Deandra dan membentaknya dengan kasar, karena tawaran beasiswa berkedok belas kasihan itu adalah penghinaan bagi harga dirinya yang sedang mati-matian ia pertahankan.

​Dan aku... ya Tuhan, betapa bodoh dan dangkalnya aku. Aku memberikannya sebatang pulpen baru, mengira itu akan membuatnya tersenyum. Aku menangisi anggukan diamnya di pagi hari, menuntut perhatian dan validasi romantis dari seseorang yang kepalanya dipenuhi oleh teror tagihan hutang dan perut yang kelaparan.

​Aku adalah gadis manja yang tak tahu malu.

​"Tapi yang paling menghancurkan hatinya bukan soal hutang itu, Bu," kalimat Pak Budi berikutnya membekukan aliran darahku. Ada rasa pedih yang lebih dalam dari semua ini?

​"Apa lagi, Pak Budi?" tanya Bu Endang cemas.

​"Rendi punya seorang adik perempuan, sekarang masuk kelas 3 SMP. Namanya Nanda," ucap Pak Budi, suaranya terdengar bergetar menahan haru. "Karena Rendi harus bekerja gila-gilaan dari sore sampai dini hari, tidak ada yang mengurus adiknya di rumah. Rumah kontrakan mereka pun nyaris digusur. Daripada adiknya mati kelaparan atau menjadi sasaran kemarahan rentenir, Rendi dengan berat hati... menitipkan adik satu-satunya itu ke panti asuhan dimana ada saudara almarhum ibunya yang mengurus panti asuhan."

​Hening sejenak di dalam ruangan itu. Yang terdengar hanya suara isakan pelan dari Bu Endang.

​Sedangkan di luar, di balik dinding ini, duniaku telah hancur lebur.

​"Dia menitipkan adiknya ke Panti Asuhan Kasih Bunda di ujung kota," lanjut Pak Budi dengan suara serak. "Rendi bilang ke saya, satu-satunya alasan kenapa dia belum gila atau bunuh diri adalah demi adiknya. Dia menabung setiap sen uang tip yang dia dapatkan, menahan lapar dengan hanya minum air putih gratis dari kantin, semua itu hanya untuk satu tujuan: menebus Nanda dari panti asuhan dan memberikan kehidupan yang layak untuk adiknya. Anak sedingin Rendi... dia menangis tersedu-sedu di ruangan saya saat menceritakan bagaimana adiknya menangis memohon untuk tidak ditinggalkan di panti hari itu."

​Air mataku tumpah ruah. Pertahananku hancur tak bersisa. Lututku kehilangan kekuatannya, membuat tubuhku perlahan merosot ke bawah hingga aku terduduk bersimpuh di lantai koridor yang dingin. Aku memeluk lututku, menenggelamkan wajahku di sana, sementara air mata mengalir deras membasahi rok seragamku.

​Aku menangis tanpa suara. Isakanku tertahan di pangkal tenggorokan, membuat dadaku sesak luar biasa, nyaris seperti tercekik.

​Nanda. Adik kecilnya yang baru masuk 3 SMP.

​Bayangan seorang anak laki-laki berusia belasan tahun, yang baru saja kehilangan ibunya, ditinggalkan ayahnya, harus berjalan tertatih-tatih menggandeng adik perempuannya menuju gerbang panti asuhan. Bayangan ia melepaskan pelukan tangan mungil adiknya, berbalik pergi dengan dada yang terbelah dua, lalu bekerja hingga tulangnya nyaris patah di tengah malam, ditemani oleh rasa sepi yang membunuhnya dari dalam.

​Rendi bukan pangeran es yang angkuh. Ia adalah pahlawan yang sedang terluka parah. Ia adalah ksatria yang menahan segala panah beracun dunia dengan dadanya sendiri agar adik kecilnya tidak terluka. Gunung es yang ia bangun bukanlah untuk menolak cinta, melainkan sebuah benteng pertahanan terakhir agar kewarasannya tidak runtuh.

​Ia tidak punya ruang untuk cinta, karena hatinya telah dipenuhi oleh tangisan sang adik dan tanggung jawab yang teramat kejam.

​"Semua kebisuanmu, tatapan kosongmu, dan sikap kasarmu akhirnya terjawab. Kau tidak sedang membenciku, kau hanya sedang berusaha bertahan hidup. Dan aku, dengan segala kepolosanku yang menyebalkan, malah menangis karena cinta monyetku tak terbalas, saat kau sedang berdarah-darah di medan perang kehidupan." (Buku Harian Keyla, Halaman 31)

​Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menangis dalam diam di depan pintu itu. Percakapan di dalam ruangan guru sudah berganti topik, membahas tentang jadwal ujian semester. Namun telingaku sudah tuli. Pikiranku masih tertinggal pada cerita Pak Budi.

​Aku harus berdiri. Aku tidak boleh terlihat hancur di depan mereka. Aku tidak boleh membiarkan Rendi tahu bahwa aku telah mengintip ke dalam kehidupannya yang paling pribadi. Laki-laki dengan harga diri setinggi Rendi akan sangat membenci kenyataan bahwa ada seseorang yang mengasihaninya karena mendengar cerita ini.

​Dengan sisa-sisa tenaga, aku bertumpu pada dinding, perlahan mengangkat tubuhku yang gemetar. Aku memungut tumpukan buku Sosiologi yang tadi sempat kuletakkan di lantai. Tanganku mengusap wajahku dengan kasar, menghapus jejak air mata. Kutarik napas dalam-dalam, berkali-kali, mengisi paru-paruku dengan udara untuk menenangkan ritme jantungku. Aku merapikan seragamku, memaksakan otot-otot wajahku untuk rileks, dan melukiskan sebuah senyum palsu yang sempurna.

​Setelah memastikan penampilanku tidak terlalu berantakan, aku mengangkat sebelah tangan dan mengetuk pintu kayu itu tiga kali.

​Tok. Tok. Tok.

​"Permisi... Assalamualaikum," ucapku. Suaraku sedikit parau, namun untungnya terdengar cukup wajar.

​Aku mendorong pintu perlahan. Bu Endang dan Pak Budi yang sedang duduk berhadapan di meja tengah langsung menoleh ke arahku.

​"Waalaikumsalam. Eh, Keyla," sapa Bu Endang, segera mengusap sudut matanya dengan tisu. Beliau tersenyum ramah, berusaha menutupi sisa-sisa kesedihan dari percakapan mereka sebelumnya. "Ada apa, Nak?"

​Aku berjalan mendekati meja Pak Budi, meletakkan tumpukan tugas kelompok itu dengan hati-hati. "Ini tugas makalah Sosiologi kelompok saya dan kelompok dua, Pak Budi. Sudah selesai semua sesuai instruksi."

​Pak Budi menepuk tumpukan kertas itu sambil tersenyum hangat. "Wah, bagus sekali, Keyla. Tepat waktu. Terima kasih ya, sampaikan pada kelompokmu dan kelompok dua. Kalian boleh istirahat kalau sudah selesai."

​"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi kembali ke kelas," pamitku dengan sopan.

​Aku membungkukkan badan sedikit, lalu memutar tubuhku dan berjalan keluar dari ruang guru. Sesaat setelah pintu kembali tertutup di belakangku, senyum palsu di wajahku luntur seketika, berganti dengan raut kepedihan yang teramat sangat.

​Sepanjang perjalanan kembali ke kelasku, aku merasa duniaku telah berubah seratus delapan puluh derajat. Cara pandangku terhadap kehidupan, terhadap sahabat-sahabatku, dan terutama terhadap Rendi, tak lagi sama.

​Kata-kata Siska kembali terngiang di telingaku. “Dia cuma cowok miskin dan kasar... Kamu merendahkan standar kamu sejauh itu?”

​Dulu aku ragu saat mendengarnya, namun kini, aku merasa muak. Rendi bukan sekadar laki-laki miskin. Ia adalah definisi dari kehormatan sejati. Ia bekerja dengan keringat dan darahnya sendiri secara halal, tak pernah mengeluh, dan tak pernah meminta belas kasihan siapa pun. Sementara orang-orang seperti Indra, yang dilimpahi kekayaan dari orang tua mereka, tak akan pernah bisa menandingi kekuatan mental dan kedewasaan seorang Rendi.

​Aku tiba di depan pintu kelas XII-IPA 1. Aku berhenti sejenak, memegang kenop pintu. Dari kaca jendela kelas, aku melihatnya.

​Rendi masih dalam posisi yang sama. Tertidur dengan kepala bertumpu pada meja. Bahunya yang lebar terlihat begitu rapuh. Rambut hitamnya sedikit bergerak tertiup angin dari kipas angin di langit-langit kelas.

​Aku membuka pintu dengan pelan, melangkah masuk, dan berjalan menuju mejaku. Lidya dan Bella sedang mengobrol seru, Siska masih membaca bukunya. Aku mengabaikan sapaan mereka, hanya bergumam singkat bahwa tugasku sudah diserahkan.

​Aku duduk di kursiku, memutar tubuhku perlahan ke belakang. Aku menatap punggung Rendi dalam diam. Jika sebelumnya aku menatapnya dengan debaran jantung seorang gadis remaja yang sedang kasmaran, kini aku menatapnya dengan rasa hormat, empati, dan cinta yang jauh lebih besar dan lebih menyakitkan dari sekadar cinta pertama.

​Aku ingin memeluknya. Sangat ingin memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalaku di bahunya, dan membisikkan bahwa ia tidak perlu lagi bertarung sendirian. Bahwa ada aku di sini, seorang gadis bodoh yang bersedia memberikan seluruh dunia dan isinya jika itu bisa membuat satu saja senyuman terukir di wajahnya. Bahwa aku akan menemaninya menjemput Nanda, membantunya menghapus air mata adiknya.

​Namun aku sadar, Rendi adalah gunung es yang masih terlalu trauma akan kehangatan. Jika aku memeluknya sekarang, ia akan mendorongku jatuh, mengira aku datang membawa rasa iba.

​Maka, untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa menelan tangisku sendiri. Aku memutar tubuhku kembali ke depan. Kuambil buku harianku dari dalam laci meja, kubuka halamannya yang masih kosong, dan dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku menuliskan sebuah janji yang akan mengikat jalan hidupku hingga bertahun-tahun ke depan.

​"Rendi, hari ini aku tahu rasa sakitmu. Aku tidak akan memintamu untuk mencintaiku lagi. Aku tidak akan memintamu untuk membalas sapaanku. Aku hanya memintamu untuk tetap bernapas. Berjuanglah demi adikmu, demi duniamu. Biarkan aku mencintaimu dalam diam, tanpa kau ketahui, tanpa membebani hidupmu. Aku akan menjadi bayangan penjagamu, hingga tiba saatnya di mana kau lelah menangis sendirian, dan menyadari bahwa aku selalu ada di sini, sedia menyediakan bahuku untukmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 33)

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!