Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja sama dimulai
Langkah Eleanor hari ini terasa lebih ringan. Ia tidak lagi mengenakan gaun yang terkesan berlebihan untuk menarik perhatian Dominic. Sebaliknya, ia memilih setelan blazer berwarna charcoal yang memberikan kesan wanita elegan.
Eleanor melangkah masuk ke ruangan Dominic. Ia mengetuk pintu dua kali dengan tegas lalu melangkah masuk.
"Nic, ini laporan progres kerja sama dengan perusahaan di Singapura. Tolong ditandatangani," ucap Eleanor dengan nada suara yang benar-benar datar, nyaris tanpa emosi.
Dominic yang sedang membaca berkas langsung mendongak. Matanya menatap Eleanor dengan intens, mencari sisa-sisa kemarahan atau tangis dari kejadian semalam. Namun, yang ia temukan hanyalah wajah cantik yang dingin.
"Elea... soal semalam," Dominic memulai, suaranya terdengar serak. Ia melirik Aleta yang berdiri kaku di pojok ruangan sambil memegang map. "Aku ingin memastikan keadaanmu. Apa kepalamu masih pusing?"
Eleanor hanya tersenyum tipis, senyum formal yang biasa ia berikan pada klien. "Aku baik. Tidak perlu dibahas lagi."
Ia meletakkan dokumen itu di meja Dominic, tepat di atas tumpukan berkas lainnya. Saat tangannya bergerak, ia sama sekali tidak menoleh ke arah Aleta yang jaraknya hanya dua meter darinya. Aleta benar-benar dianggap seperti perabotan mati.
"Tapi Elea, aku benar-benar minta maaf atas perilaku Aleta. Aku sudah memberinya peringatan," lanjut Dominic, seolah ingin menunjukkan bahwa ia berada di pihak Eleanor.
Mendengar itu, Aleta menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Dominic, aku sudah bilang kalau aku-"
"Aleta, tolong diam," potong Dominic tajam, membuat Aleta tersentak dan menunduk dalam.
Eleanor menarik napas pelan, lalu menatap Dominic lurus-lurus. "Nic, aku ke sini bukan untuk drama. Silakan tanda tangan. Tapi jika kamu masih ingin membahas kejadian semalam, kurasa itu sia-sia. Aku sudah memaafkan... tapi jujur saja, melihat kalian berdua di satu ruangan membuatku tidak nyaman. Jadi, lebih baik kita batasi komunikasi hanya untuk urusan kantor mulai sekarang."
Dominic tertegun. Kursi kebesarannya mendadak terasa panas. "Apa maksudmu membatasi komunikasi? Kita sudah berteman lama, Elea."
"Kamu lupa? Kamu sendiri yang dulu memintaku untuk menjaga jarak," balas Eleanor tenang. Ia mengambil kembali map yang sudah ditandatangani tanpa menunggu reaksi Dominic. "Aku permisi. Masih banyak pekerjaan yang lebih penting daripada membahas hal sepele ini."
Eleanor berbalik dan berjalan keluar dengan langkah mantap. Di luar pintu, Vallerie sudah menunggu sambil bersandar di dinding, menyesap kopi. Begitu Eleanor muncul, Vallerie memberikan jempol.
"Bagus sekali. Tidak sia-sia aku mengajarimu," bisik Vallerie sambil terkekeh pelan.
Eleanor menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Jujur, ini sulit. Tapi melihat Dominic mengabaikan wanita itu demi aku... rasanya sangat memuaskan."
"Itu baru permulaan," sahut Vallerie, matanya melirik sinis ke arah pintu ruangan Dominic. "Kita harus membuka topeng wanita itu. Selama ini dia merasa menang karena Dominic melindunginya. Kita saja yang terlalu bodoh karena tidak bermain licik."
Lebih tepatnya kamu Eleanor, yang terlalu gegabah, batin Vallerie berbisik.
"Kamu benar, aku tidak menyangka cara ini benar-benar manjur," ucap Eleanor.
Vallerie menepuk bahu Eleanor, memberikan kode untuk segera pergi. "Kita terlalu sibuk menyerang Aleta, padahal itu yang dia inginkan agar dia terlihat seperti korban di depan Dominic. Mulai sekarang, kita balikkan keadaannya."
★★★
[Ding! Tuan Putri, tunangan sahabatmu menghubungi lagi. Dia ingin bertemu.]
Vallerie menghela napas panjang mendengar suara dari sistemnya. Ia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya sambil memutar kursi itu perlahan.
"Kenapa lagi dia? Mau membahas kerja sama lagi?"
[Sepertinya begitu.]
Vallerie meraih ponselnya. Benar saja, ada pesan dari Vernandes yang mengajaknya bertemu di sebuah restoran tak jauh dari kantor.
"Baiklah, aku ingin tau apa maunya." Vallerie menyambar tasnya. Kebetulan sudah jam makan siang. Sebelum pergi, ia mengirim pesan singkat pada Eleanor agar sahabatnya itu tidak salah paham.
Tak butuh waktu lama, Vallerie tiba di restoran. Dari kejauhan, ia melihat Vernandes duduk di pojok ruangan dengan beberapa hidangan yang sudah tersaji.
"Ada perlu apa lagi?" tanya Vallerie tanpa basa-basi saat tiba di sisi meja.
Vernandes mendongak, tersenyum tipis, dan mengisyaratkan Vallerie untuk duduk. Vallerie berdecak malas namun tetap duduk di hadapannya.
"Kamu terburu-buru sekali. Mau makan dulu, atau langsung ke intinya?" tanya Vernandes dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tidak suka basa-basi. Katakan."
Vernandes mengangguk, lalu menggeser sebuah map cokelat ke arah Vallerie. Vallerie menatap map itu dengan sebelah alis terangkat.
"Di dalam sana ada sesuatu yang mungkin berguna untuk mu."
Vallerie membuka map itu perlahan. Matanya melebar. Di dalamnya terdapat data diri istri dan anak dari ayah kandungnya. Ada juga foto-foto seorang wanita seumurannya dengan pasangannya.
Vallerie menatap serius ke arah Vernandes. "Apa maumu?"
"Tidak banyak. Aku hanya ingin membatalkan pertunanganku dengan Eleanor," jawabnya santai.
Vallerie terdiam. Ia tak menyangka Vernandes bergerak secepat ini, bahkan lebih tahu detail masa lalunya dibanding dirinya sendiri.
"Baik, aku akan mengikuti rencanamu. Tapi, bagaimana kamu bisa mendapatkan semua ini?"
Vernandes mengedipkan bahu. "Aku punya uang. Di dunia ini, uang bisa membeli apa pun."
Vallerie memutar bola matanya. Narsis sekali. "Kamu sudah menebak apa yang akan kulakukan pada mereka?"
"Tentu. Dimulai dari wanita yang menghancurkan rumah tangga orang tuamu, lalu anaknya yang dulu menindasmu dan merebut milikmu. Benar, kan?"
Vallerie terkekeh sinis. Pria di depannya ini cukup berbahaya. "Vernandes, apa tujuanmu sebenarnya?"
Vernandes tersenyum misterius sambil memainkan jemarinya di meja. "Kenapa? Kamu sudah bisa menebaknya?"
Vallerie menatap pria itu lama. Sepertinya ucapan sistem benar, pria ini tertarik padanya. Namun, ia merasa bimbang karena Vernandes adalah tunangan Eleanor, meski keduanya memang tidak saling cinta. Hati Vallerie sendiri sudah lama terkunci untuk seseorang di masa lalunya.
"Kalau kamu menginginkanku, kamu harus berusaha sangat keras. Hatiku sudah mati," ucap Vallerie jujur.
"Tidak masalah. Untuk sekarang, aku hanya ingin kamu menjadi pacar pura-puraku di depan orang tuaku agar pertunangan itu batal."
"Asal itu tidak menghancurkan perusahaan keluarga Eleanor," sahut Vallerie memberi syarat.
"Tidak akan," janji Vernandes.
Vallerie diam sejenak. "Satu syarat lagi. Aku butuh uang." Ia menengadahkan telapak tangannya.
Vernandes tertawa kecil. "Aku tidak menyangka seorang Vallerie bisa kekurangan uang."
"Hidup itu butuh modal," potong Vallerie malas.
"Kirim nomor rekeningmu. Aku transfer sekarang."
Tak lama kemudian, ponsel Vallerie bergetar. Melihat angka yang masuk ke saldonya, mata Vallerie berbinar terang. Vernandes ternyata sangat royal.
Vernandes memperhatikan binar bahagia itu. Ternyata, wanita sedingin Vallerie bisa berubah drastis hanya karena uang.
"Aku baru tahu, ternyata kamu mata duitan juga," goda Vernandes.
Vallerie memasukkan ponselnya ke tas dengan senyum puas. "Realistis saja. Hidup butuh uang, dan balas dendam butuh biaya yang mahal."