Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Tempat di Mana Hatimu Pulang
Setelah pertemuan yang berakhir dengan tamparan di depan kantor kemarin, Rey tidak membiarkan Tania tenang.
Pria itu terus meneror dengan mengirimkan bunga ke kantor, mencoba menghubungi melalui nomor kantor, bahkan menunggu di parkiran apartemen Maya. Tania merasa ruang geraknya dipersempit oleh obsesi Rey yang terlambat.
Puncaknya siang ini, Rey mengirimkan sebuah surat panjang yang isinya lagi-lagi menyalahkan keadaan dan meminta Tania "pulang" karena rumah itu berantakan tanpanya. Bukan kata maaf yang tulus, melainkan keluhan egois.
Tania tidak tahan. Ia butuh oksigen. Ia butuh menghilang dari semua kebisingan ini.
Tanpa pamit pada Maya, Tania mengemudikan mobilnya jauh ke arah utara, menuju sebuah pantai tersembunyi yang dulu sering ia kunjungi bersama ayahnya saat ia masih kecil. Tempat yang tidak pernah Rey ketahui, karena bagi Rey, pantai hanyalah pasir yang kotor dan udara yang panas.
Tania duduk di atas pasir yang mulai dingin. Ia memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana. Suara ombak yang berkejar-kejaran seolah mencoba mengajak bicara, tapi hati Tania terlalu bising dengan rasa sakit yang tak kunjung padam.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel di sampingnya bergetar. Nama Adrian muncul di layar. Tania menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menekan tombol terima. Ia tidak ingin membuat pria baik ini khawatir lagi.
"I-iya, Yan?" Tania berusaha bicara senormal mungkin, tapi suaranya terdengar sedikit pecah di ujung kalimat.
"Tan? Kamu di mana? Aku ke kantor kamu tadi tapi Maya bilang kamu sudah pergi sejak jam dua siang." Suara Adrian terdengar sangat cemas.
"Aku... aku cuma lagi cari udara segar, Yan. Nggak apa-apa." Tania menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia merasakan tenggorokannya mulai perih, menahan isakan yang ingin meledak.
"Tan, jangan bohong sama aku. Suaramu gemetar. Kamu kenapa? Rey ganggu kamu lagi?"
"Nggak, Yan. Aku cuma..." Tania tidak sanggup melanjutkan. Ia menutup mulutnya dengan tangan agar suara isakannya tidak terdengar sampai ke seberang telepon. "Aku tutup dulu ya, Yan. Aku baik-baik saja."
Tania mematikan sambungan secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke samping, lalu kembali memeluk lututnya. Tania.merasa sangat lelah. Lelah menjadi kuat, lelah menjadi sabar, dan lelah menjadi sosok yang selalu bisa diandalkan.
Di sisi lain, Adrian menatap ponselnya dengan perasaan kalut. Ia sudah mencari Tania ke rumah lamanya, ke apartemen Maya, bahkan ia sempat nekat mendatangi kantor Rey dan hampir menghajar pria itu jika saja tidak dicegah oleh satpam.
Adrian memukul kemudi mobilnya. "Kamu di mana, Tania?"
Tiba-tiba, ia teringat sebuah percakapan lama saat mereka masih kuliah. Tania pernah bercerita tentang sebuah pantai kecil di pinggiran kota yang punya pohon bakau unik, tempat dia merasa paling aman.
Adrian tidak membuang waktu. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah kemacetan sore demi satu nama yang memenuhi seluruh ruang di hatinya.
Matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan semburat warna jingga dan ungu di ufuk barat. Tania masih di sana, di posisi yang sama. Dunia terasa sangat sunyi sampai sebuah langkah kaki di atas pasir yang kering terdengar mendekat.
Tania tidak menoleh. Ia pikir itu mungkin hanya penduduk lokal atau nelayan yang lewat. Sampai sebuah suara yang sangat familiar memecah keheningan.
"Kenapa nggak ngajak aku ke sini? Aku juga suka suasana tenang di sini."
Tania tersentak. Ia langsung mendongakkan wajahnya. Melalui sisa-sisa air mata yang mengaburkan pandangannya, Tania melihat sosok tinggi Adrian berdiri di sampingnya. Pria itu masih memakai kemeja kerjanya, napasnya sedikit terengah, dan rambutnya berantakan tertiup angin laut.
Saat melihat wajah Adrian—wajah yang selalu menawarkan keamanan tanpa syarat—pertahanan Tania benar-benar runtuh.
"Yan..." bisik Tania parau.
Detik itu juga, tangis Tania pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bahunya bergetar hebat, dan suara isakannya terdengar begitu menyayat hati—sesenggukan seperti anak kecil yang baru saja kehilangan dunianya. Semua rasa sakit dari penghinaan Rey, drama Bianca, dan kesepian selama tiga tahun terakhir tumpah seketika di depan pria itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Adrian langsung bersimpuh di atas pasir di samping Tania. Ia tidak bertanya mengapa, ia tidak meminta Tania berhenti menangis. Adrian justru menarik Tania ke dalam pelukannya yang kokoh dan hangat.
Tania menenggelamkan wajahnya di dada Adrian, membasahi kemeja pria itu dengan air matanya. Adrian memeluknya erat, satu tangannya mengusap lembut rambut Tania, sementara tangan lainnya mendekap bahu Tania seolah ingin melindungi wanita itu dari segala hal buruk di dunia ini.
"Tumpahkan semuanya, Tan. Aku di sini. Kamu nggak sendirian lagi," bisik Adrian pelan, suaranya terdengar sangat tulus hingga membuat Tania semakin terisak.
Di bawah langit yang mulai menggelap dan disaksikan oleh deburan ombak, Tania akhirnya menemukan tempat di mana ia boleh menjadi lemah. Ia menemukan pelabuhan yang selama ini tidak pernah diberikan oleh suaminya sendiri.