Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sudah seminggu aku dan Bintang tinggal di salah satu kos kecil di belakang pasar, sengaja aku pilih dekat dengan pasar supaya aku bisa belanja tanpa harus memakai mobil juga supaya lebih murah saja harganya__dan ternyata benar, cukup murah ketimbang kosan yang ada di tempat lain.
Sekitar enam ratus ribu satu bulan, terdiri dari satu ruang tamu kecil, satu kamar tidur, ruangan kecil di sudut yang ku jadikan tempatku memasak di sana dan juga wc. Lumayan kan dengan harga segitu, minusnya, namanya juga dekat pasar agak bau sampah sih kalau menurutku. Tapi tidak apa, aku masih bisa membeli pengharum ruangan yang harganya di bawah sepupuh ribu.
Aku juga sudah memilih sekolah yang kebetulan tak jauh dari sini, namun Bintang minta libur dulu dua hari, katanya ia pingin malas-malasan denganku di rumah baru dulu..hehehe
“Ma, mau jajan itu..“Ucap Bintang sambil menunjuk pada pedagang cilok yang kebetulan lewat kosanku, sah satu minus nge kos di dekat pasar teh, ya gini. Suka banyak yang dagang dan tentu saja anakku Bintang yang doyan jajan pun selalu minta di belikan__dasar anak kecil ya, udah di bilangin ibunya punya uang sedikit, eh malah terus minta jajan. Mau ke tegur tapi tak tega, apalagi melihat wajah polosnya itu. Makanya aku pun mengiyakan walau tentu saja aku harus bisa berhemat. Karena kondisi keuangan keluargaku yang masih di katakan tidak baik-baik saja ini.
“Mama tiga ribu, ya? BIntang dua ribu.“
“Siap mama.“
Beberapa mebit kemudian Bintang sudah kembali dengan dua kantung plastik kecil di tangannya, Bintang menyerahkan satu kantung plastik cilok pesananku yang hanya di bumbui dengan atom, sedikit aida dan juga kecap saja. Sementara Bintang hanya pakai atom, Bintang paling tidak bisa makan pedas, nurun dengan ayahnya, sementara aku sebaliknya.
“Enak banget ma. Bintang suka deh “Ujarnya sambil tepuk tangan dan wajah berbinarnya, mendengarnya aku pun ikut tersenyum lebar, tampaknya kepindahanku ke sini adalah keputusan tepat. Lihat saja Bintang yang terlihat bahagia begitu, padahal cuman jajan dua ribu doang astaga.
Tapi ya, namanya kebahagiaankan relatif ya. Terkadang bahagia itu tak melulu soal kemewahan, tapi kesederhanaan pun bisa jadi bahagia kok, ya. Tergantung yang menjalaninya bersyukur atau tidak, menurutku definis bahagia, ya. Bersyukur.
“Iya, besok jajan lagi deh.“
“Makasih mama.“
“Sama-sama sayang.“
“Udah jajan, sekarang bantuin mama nyapu, ya?.“Ucapku, Bintang mengangguk semangat lalu mulai mengangkat sapu dan menyapu lantai rumah kamu__tidak ada Melati dan Mia tentu menjadikanku mendiri. Termasuk beres-beres rumah, cuci baju, cuci piring dan masak. Tentu bukan sebiah masalah, karena sejak kecil pun aku sudah terbiasa kok.
Kenapa aku menyuruh Bintang? Tentu saja meskipun Bintang adalah laki-laki, tapi dia juga harus bisa mengerjakan pekerjaan ini. Lagian menurutku laki-laki dan perempuan sama saja kok. Aku berharap setelah nanti Bintang menikah, dia tidak patriarki dan mau membantu pekerjaan rumah.
“Bersih enggak, ma?.“Tanyanya, laku aku pun memperhatikan setidak detail lantai yang di sapu Bintang, kepala menggeleng kecil lalu menunjuk ke sudut sebelah kanan.
“Di sana masih ada debunya deh, Bin.“
“Siap mama.“Ujarnya sambil melepaskan sapu di tangannya lalu memberi hormat padaku. Bintang lucu sekali sih, jadi pingin di uyel-uyel deh pipinya..ehehe.
*********
Aku senyum-senyum sendiri sambil mengetik sesuatu di ponsel, tatapan mataku masihlah tertuju pada layar ponselku yang kini menunjukan aku yang tengah memasak menu sederhana. Nasi liwet dengan ayam goreng, lalapan, gorengan dan sambal. Tentu saja aku hanya iseng-iseng saja meng-uploadnya pada akun tiktokku yang sudah berjamur__dulu sempat upload beberapa video yang di bantu edit oleh Mia sebelum aku ketahuan hamil. Namun setelah hamil fan sku muntah-muntah, proyek itu pun terhenti karena kondisiku yang muntah-muntah waktu itu.
Setelah beberapa waktu di abaikan dan karena aku masih bingung mau apa, selain mencari pekerjaan sampingan lewat ponsel yang ku miliki. Maka tercetuslah ide untuk meng-upload hasil masakanku di akun tiktok milikku, hanya berselang dua mingguan, ehh tayangan video perdana setelah akunku istirahat sudah mencapai sampai seribu tayangan lho, dan tentu aku begitu bahagia sekali, apalagi ada banyak komentar yang mendukungku di sana. Kedua mataku sampai berkaca-jaca karena bahagia serta tak percaya dengan apa yang ku lihat ini.
“Makasih ya Allih.“Ucapku haru sambil menengadah ke atas. Aku benar-benar di buat bahagia karena videoku tembus sampai 1000 kali pemutaran, tentu hal yang sangat sederhana, tapi berarti bagiku. Dengan seperti ini, maka semangatku menjadi semakin berpacu dan aku tentu sangat berhasrat untuk membuat video memasakmu yang lain__kedua mataku membeliak tatkala ku lihat beberapa orang bahkan mengikuti. Semakin bertambahlah kebahagiaan ini.
“Kalau begitu, nanti sore deh. Bikin video masak-masak lagi”Ujarku sambil senyam-senyum dan masih melihat layar ponselku.
Karena stok di lemari es sudah hampir ludes, maka aku lutuskan untuk belanja ke pasar, sambil mengingat-ngingat menu apa yang akan ku buat untuk stok video nanti.
********
Aku yang sedang sibuk di dapur pun kontan segera mematikan kompor tatkala Bintang berteriak memanggil namaku sampai dua kali, saat aku sampai di ruang tamu, betapa kagetnya tatkala mataku ini menangkap hadirnya sosok Arka dan juga bibi.
Dari mana mereka tahu aku di sini?
Tatapan Arka tajam, sedang tatapan bibi terlihat sendu, mata itu kini terlihat berkaca-kaca dan bahkan sudah menangis, aku pun terburu-buru menghampirinya dan memeluk bibiku erat.
“Kenapa bi?.“Tanyaku pelan sambil ku usap-usap punggungnya dengan gerakan perlahan.
Keningku di jitak bibi dan membuatku memekik karena cukup sakit juga, bukannya minta maaf sudah menjitak keningku, bibi malah terlihat menatapku galak.
Lho lho.
“Kenapa gak bilang sama bibi? Dan kenapa pake kos segala sih, Nad?.“Tanyanya dengan suara yang begitu pelan, namun masih bisa ku dengar. Kini aku paham arti dari tatapan Arka yang tajam dan tatapan bibi yang sendu.
Aku berniat membawakan air mineral dan juga stok camilan, namun bibi mencegahku dan bibi menahanku di kursi.
“Jelasin sama bibi kenapa?.“Tanyanya sambil memicing ke arahku, mau tak mau pada akhirnya aku pun bercerita pada bibi yang sebenarnya soal hubunganku dan Afif yang menurutku tak bisa di pertahankan lagi, dari ekspresi bibi, bisa ku simpulkan kalau dia sempat kecewa karena keputusanku, namun malah berakhir dengan menyetujuinya, apalagi setelah ku jelaskan bagaimana sikap Afif setelah punya Laras dan juga Salsa di sampingnya.
“Gila pria itu. Menjandakan istri demi nikah sama janda!.“Decak bibi sambil geleng-geleng kepala dan ku anggukan kepalaku sebagai tanda aku menyetujuinya.
“Heran ya, Ar. Kok bisa gitu? Padahal kelihatan bucin sama kamu lho, Nad. Eh tahunya malah nikah lagi, pake gak izin segala, terus yang paling buat bibi tak habis pikir, kenapa suamimu itu sayang banget sama si Salsa itu, padahal kata kamu cuman anak tiri, kan? Apa si Salsa itu anak suamimu lho Nad, bisa jadi lho. Di zaman sekarang ini gak ada yang mustahil lho Nad, banyak contoh kasusnya: kayak yang terjadi di tv-tv itu lho, bapak kandung punya anak sama anak kandungnya, atau kasus pejabat yang kelihatan bucin sama istrinya, eh tahunya malah punya simpanan.“Ujar bibi terdengar berapi-api sekali, tampaknya bibi sangat kesal dan marah, pun dengan diriku yang kesal dan marah, walau pada akhirnya kekesalan dan kemarahan itu berujung pada keputusan untuk berpisah dengan Afif.
“Arka udah peringatin, tapi keponakan mama ini tetap kekeuh waktu.“Ujar Arka sambil mendengus dan ku balas dengan delikan kesal.
Ya aku tahu, aku salah milih suami. Tapi ya, mana ku tahu bakal berakhir kayak gini, dulu Afif itu kelihatan sangat baik, cinta dan setia juga. Dan yang terpenting enggak aneh-aneh, yang membuatku mau menerimanya, tapi ujungnya malah aku yang di khianati.
“Udahlah, sudah terjadi juga. Lagian bibi udah puas juga kok.“Ucap bibi terlihat tersenyum penuh misteri dab membuatku menatapnya dengan satu alis terangkat.
“Maksudh bibi?.“
“Si Arka buat suami kamu babak belur, bahkan sampai masuk rumah sakit..“Tutur bibi drngan senyumnya yang terlihat mengembang di sana, sementara aku begitu terkrjut dengan kedua pupil mataku yang membesar dan mulut setengah menganga, untungnya Arka sudah menutupi kedua daun telinga anakku, hingga dia tak bisa mendengarnya. Tak bisa ku bayangkan, bagaimana reaksi Bintang yang akan histeris begitu mendengar kabar papanya masuk rumah sakit karena omnya.
“Keadaannya?.“Tanyaku sambil meringis.
“Kenapa? Mau memastikan kondisinya?.“Ujar Arka yang seakan menyindirku.
“Yaiyalah, aku perlu tahu kondisinya bagaimana. Syukur-syukur kalau dia bisa masuk IGD sih, Kak.“
Bibi dan Arka saling berpandangan lalu keduanya sama-sama tersenyum, pun denganku. Jangan bilang aku jahat ya? Karena sebagai istri begitu bahagia mendengar suaminya di beri pelajaran oleh adik sepupunya sendiri. Memang Afif pantas kok, dia yang lebih dulu menyakiti perasaanku.
“Eh eh, tapi Arka gak akan di hukum kan, bi? Aku takut lho.“
Seketika wajah bibi ikutan cemas juga”Eh iya ya? Gimana atuh Ka, kalau kamu di hukum karena udah buat dia babak belur?.“
“Siapa takut.“
“Arka..“Pekikku sambil ku pukul tangannya.
“Udahlah Nad, lagian ini keputusan aku sendiri dan kalaupun sampai dia ngelapor. Liat aja, ku buat hidupnya lebih menderita.“