Hidup Syakila hancur ketika orangtua angkatnya memaksa dia untuk mengakui anak haram yang dilahirkan oleh kakak angkatnya sebagai anaknya. Syakila juga dipaksa mengakui bahwa dia hamil di luar nikah dengan seorang pria liar karena mabuk. Detik itu juga, Syakila menjadi sasaran bully-an semua penduduk kota. Pendidikan dan pekerjaan bahkan harus hilang karena dianggap mencoreng nama baik instansi pendidikan maupun restoran tempatnya bekerja. Saat semua orang memandang jijik pada Syakila, tiba-tiba, Dewa datang sebagai penyelamat. Dia bersikeras menikahi Syakila hanya demi membalas dendam pada Nania, kakak angkat Syakila yang merupakan mantan pacarnya. Sejak menikah, Syakila tak pernah diperlakukan dengan baik. Hingga suatu hari, Syakila akhirnya menyadari jika pernikahan mereka hanya pernikahan palsu. Syakila hanya alat bagi Dewa untuk membuat Nania kembali. Ketika cinta Dewa dan Nania bersatu lagi, Syakila memutuskan untuk pergi dengan cara yang tak pernah Dewa sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu demam juga?
"Tuan Arthur, bangun! Buburnya sudah siap."
Mata Arthur perlahan terbuka. Tadi, dia sempat tertidur sebentar.
"Ayo duduk!"
Arthur menurut. Dia bersusah payah untuk bangun dari posisi berbaringnya.
"Mau makan sendiri?" tanya Zara. Dia menyodorkan mangkuk berisi bubur itu ke hadapan Arthur.
"Kau, tidak mau menyuapiku?" Arthur balik bertanya.
Gadis itu menggeleng. "Tidak," jawabnya jujur. "Anda pasti akan menolak jika saya suapi. Dan, saya juga tidak mau menyuapi orang yang mudah curiga seperti Anda. Bagaimana kalau saya dituduh ingin menggoda Anda lagi?"
Lelaki itu menatapnya sambil tersenyum misterius. Jujur, Zara sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada didalam kepala pria itu saat ini.
"Buburnya masih agak panas. Makanlah!" lanjut Zara.
Tatapan lelaki itu masih terus terfokus padanya. Arthur sama sekali tidak bergerak untuk mengambil mangkuk itu dari tangan Zara.
"Tuan Arthur?" tegur Zara.
Ditatap seperti itu membuatnya tiba-tiba jadi merasa curiga. Jangan-jangan, Arthur sedang merencanakan untuk membunuhnya?
"Suapi aku!" pinta lelaki itu tiba-tiba.
"Hah?" Zara melongo. Dia tidak salah dengar, kan? Arthur minta disuapi?
"Tunggu apa lagi? Cepat suapi aku!"
"I-iya," sahut Zara yang terheran-heran. Tempramen lelaki ini gampang sekali berubah-ubah. "Bagaimana rasanya?" tanya Zara setelah memberi satu suapan ke mulut Arthur.
"Enak. Manis," jawab lelaki tanpa melepaskan tatapan dari wajah Zara.
Semakin dilihat, semakin manis dan cantik wajah gadis itu. Senyumnya juga sangat menawan.
"Kau cantik. Tapi, kenapa malah melamar jadi pelayan?" tanya lelaki itu tiba-tiba.
"Saya hanya tamatan SMA. Jadi, hanya pekerjaan seperti ini yang bisa saya cari," jawab Zara.
"Berapa usiamu?"
"Hampir 22 tahun."
"Masih kecil."
Zara hanya menatap Arthur sekilas, kemudian fokus untuk meniup bubur sebelum menyuapkannya ke mulut Arthur kembali.
"Memangnya, Anda umur berapa sampai-sampai mengatakan kalau saya masih kecil?"
"27 tahun," jawab Arthur.
"Sudah tua ternyata," timpal Zara.
Dan, Arthur sedikit tertawa dibuatnya.
"Kau sudah punya pacar?" tanya Arthur lagi.
Ekspresi Zara sempat sedikit berubah sedih saat Arthur menanyakan hal itu. Dulu, dia pernah memiliki kehidupan asmara yang cukup membahagiakan bersama Reno. Hanya saja, kebahagiaan itu bertahan sebentar sekali. Semuanya hancur dalam sekejap ketika dirinya dipaksa untuk mengakui dosa Nania sebagai dosanya.
"Dulu pernah punya. Tapi, sekarang sudah tidak lagi."
"Kalian putus karena apa?"
Zara menatap Arthur sambil menggeleng pelan. "Tuan Arthur, Anda terlalu ingin tahu. Bukankah, ini sedikit pantas?"
"Wajar aku menanyaimu. Kau sekarang sudah jadi asisten pribadiku. Aku harus tahu semua masa lalumu. Siapa tahu, kalau ternyata kamu memiliki niat yang jahat terhadapku."
"Kita masih belum tahu, siapa yang sebenarnya memiliki niat jahat diantara kita," timpal Zara.
"Kau... sedang menyindirku?" tanya Arthur. Wajahnya sedikit mendekat ke wajah Zara.
Mata gadis itu membulat sebentar kemudian reflek memundurkan wajahnya dengan perasaan gugup.
"Tuan Arthur tidak lihat? Leherku masih ada bekas kemerahan. Pergelangan kaki ku juga masih sedikit sakit. Semua gara-gara siapa?"
Mendengar itu, Arthur jadi tertawa kecil. Tangannya yang masih terasa panas, kini menyentuh leher Zara secara tiba-tiba.
"Kau mau aku bagaimana agar kau tidak dendam lagi padaku?" tanya Arthur.
"Tidak usah bagaimana-bagaimana," jawab Zara. Dia melepaskan tangan pria itu dari leher jenjangnya kemudian meletakkan mangkuk bubur yang sudah kosong diatas nakas.
"Sekarang, waktunya minum obat," lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
Arthur menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran tempat tidur. Ia tersenyum tipis. Melihat wajah Zara yang memerah tiba-tiba, membuatnya jadi sedikit gemas.
Kucing kecil pemberian sang Ibu ini, sepertinya cukup menyenangkan untuk dimainkan.
"Aaa..." Arthur membuka mulutnya.
"Anda ingin saya menyuapkan obat ini ke mulut Anda?" tanya Zara tak percaya.
"Ehm," angguk Arthur.
Zara menghela napas panjang. Baiklah! Semua ini memang bagian dari pekerjaannya. Jadi, dia tak akan protes sedikit pun.
Saat ia memberikan obat ke mulut Arthur, ujung jarinya sedikit masuk ke dalam mulut lelaki itu. Perasaan aneh seketika menjalar. Jantungnya mendadak berdegup kencang, tapi bukan karena takut.
Mungkin, karena merasa sedikit malu? Atau, justru karena terkejut?
Masih terpaku dalam keterkejutan, Arthur tiba-tiba maju ke arahnya. Posisi keduanya sangat rapat, seperti sedang berpelukan.
Harum aroma musk seketika menyeruak memenuhi indra penciuman Zara. Kedua tangannya reflek saling bertaut satu sama lain.
Ternyata, lelaki itu mengambil air minum diatas nakas, disamping mangkuk bubur yang sudah kosong. Setelah meletakkan kembali gelas itu diatas nakas, dia baru kembali memundurkan tubuhnya ke posisi semula.
"Wajahmu merah sekali, Zara. Apa kau demam juga?" tanya Arthur yang sengaja sekali ingin menggoda Zara.
Zara reflek memegang kedua pipinya. "Ti-tidak, kok," jawabnya terbata.
"Kalau tidak demam, kenapa pipimu merah sekali?"
"Mu-mungkin karena suhu AC-nya tidak dingin."
"Oh."
"Sa-saya akan membawa mangkuk kosong ini ke bawah dulu. Permisi!"
Zara mengambil mangkuk bubur yang sudah kosong untuk dibawa turun. Di tempat tidur, Arthur terus memperhatikan gerak-geriknya dengan tatapan setajam elang dan seringai tipis yang justru menambah ketampanan yang dimilikinya.
"Jangan lama-lama!" teriak Arthur.
Namun, Zara tidak menjawab apapun.
"Kalau pipinya ku cubit, kira-kira... rasanya seperti apa, ya?" gumam Arthur bermonolog.