Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampakan Pertama
Buru-buru Asep menutup kembali gorden. Pemuda itu bergegas kembali ke kasurnya, berbaring seraya menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dia menutup telinganya karena suara keretakan di jendela masih terdengar.
“Anjirr!! Eta pocong beungetna meni goreng patut (Anjirr!! Itu pocong mukanya jelek amat).”
Pocong yang berada di luar jendela kamar Asep, masih terus mengetukkan jarinya ke kaca jendela. Entah bagaimana, tangan pocong itu bisa keluar dari kain kafan yang membungkusnya. Semakin lama bunyi keretakan itu semakin kencang saja dan tentu semakin membuat Asep ketakutan.
Belum selesai suara keretekan di kaca jendela, kini lampu kamarnya yang menyala mulai berkedip-kedip. Setelah beberapa menit, lampu mati dan suasana di dalam kamar menjadi gelap. Asep yang masih berada di bawah selimut, hanya bisa terdiam dengan tubuh gemetar.
“Naha aing jadi bisa ningali jurig? Apanan urang geus maca doa ti si Nino (Kenapa gue jadi bisa lihat setan? Kan gue udah baca doa dari si Nino?)”
Di tengah ketakutannya, Asep sempat-sempatnya memikirkan soal itu.
Tiba-tiba saja suara keretekan di kaca jendela sudah tidak terdengar lagi. Biar begitu, lampu di kamarnya masih padam. Pelan-pelan Asep menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya mencoba melihat dalam gelap.
Jantung Asep seperti berhenti berdetak ketika melihat sosok putih berdiri sekitar satu meter darinya. Dengan cepat pemuda itu kembali masuk ke dalam selimutnya.
“Dasar pocong teu boga sopan santun! Maen asup wae ka kamar aing! (Dasar pocong ngga punya sopan santun. Main masuk aja ke kamar gue!),” maki Asep dari balik selimut.
Karena penasaran, Asep kembali mengintip dari balik selimutnya. Nampak pocong itu mulai meloncat mendekati ranjangnya. Asep yang sudah di ujung rasa takutnya, tiba-tiba saja langsung keluar dari balik selimutnya. Dia mengambil guling lalu memukulkannya ke pocong itu.
Mendapat serangan membabi buta dari Asep membuat pocong itu terkejut juga. Walau tidak sampai mengenainya, namun ayunan guling yang diberikan pemuda itu cukup mengganggunya. Akhirnya pocong itu menyerah. Dia segera menghilang dari kamar dan lampu langsung menyala seketika.
Asep menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencoba mencari keberadaan pocong tersebut. Dia berlari menuju jendela kamarnya kemudian menyibak gorden. Tidak ada pocong menyeramkan itu di depan jendela kamar. Asep pun sontak bersorak.
“Wuhu! Aing meunang. Sieun sia ka aing? Karek ditenggeulan ku guling geus jiper. Awas sia mun wani asup ka kamar aing deui! (Gue menang! Takut lo ke gue? Baru dipukul pake guling udah takut. Awas aja lo kalau berani masuk ke kamar gue lagi!”
BRAK!!
Tiba-tiba saja terdengar seperti suara jendela yang digebrak dari luar. Sontak Asep langsung loncat dan buru-buru naik ke atas ranjangnya. Diambilnya guling sambil terus melihat ke arah jendela. Mencoba waspada, jangan-jangan pocong itu kembali masuk ke kamarnya.
“Duh Gusti tulungan abi. Geura adzan shubuh meh eta pocong balik ka alamna. Tulungan Gusti. (Tolong aku Tuhan. Cepat adzan shubuh biar tuh pocong balik ke alamnya. Tolong Tuhan). Allahumma bariklana fiimaa rozaqtanaa wa qina ‘adzaa bannaar. Eh naha aing jadi maca doa rek dahar? (Eh kenapa gue jadi baca doa mau makan?).”
Buru-buru Asep mengganti doa yang tadi dibacanya. Kini dia membaca ayat kursi yang disambung dengan tiga surat berawalan Qul. Dia terus mengulangi ayat-ayat tersebut sampai adzan shubuh menjelang.
Selesai shalat shubuh, Asep melanjutkan tidurnya. Pemuda itu tidak cukup tidur semalam gara-gara ulah pocong sialan itu. Dia tidur nyenyak sampai waktu menjelang siang.
***
“Sep, lo tidur lagi habis shubuh?” tanya Nino setelah perkuliahan kedua mereka berakhir.
Hari ini ada tiga mata kuliah yang harus diikuti oleh Nino dan Asep. Perkuliahan pertama dimulai pukul 12.10, dilanjut perkuliahan kedua yang berakhir pada pukul 15.20. Keduanya sekarang sedang bersantai di pinggir lapangan basket yang ada di depan gedung fakultasnya.
“Hooh.. eh hampir poho. Eta doa nu dibere ku maneh, bener eta meh urang wani? (Hampir lupa. Itu doa yang kamu kasih, benar biar gue berani?).
“Kenapa gitu?”
“Soalna pas urang beres shalat tahajud terus maca doa eta, urang ujug-ujug bisa ningali jurig. Anjrit eta pocong meni goreng patut pisan. Terus asup ka kamar urang geura. (Soalnya pas gue beres shalat tahajud terus baca doa itu, tiba-tiba aja gue bisa lihat setan. Anjrit itu pocong jelek banget mukanya. Terus masuk ke kamar gue).”
“Serius?”
Selain terkejut, Nino juga merasa senang karena akhirnya sang sahabat terbuka juga matan batinnya. Dengan begitu sekarang dia tidak sendirian lagi ketika harus melihat makhluk halus.
“Gimana ceritanya?”
Asep pun menceritakan pengalaman menakutkan yang dialaminya semalam. Dia juga menceritakan mencoba mengusir pocong itu dengan memukulkan guling padanya. Nino sampai melongo mendengar apa yang dikatakan Asep.
“Lo berani juga, Sep.”
“The power of kepepet.”
“Sep, sebelumnya gue mau pengakuan dosa nih. Tapi lo ngga akan marah kan? Lo bakalan maafin gue kan?”
“Naon sih? (Apaan sih?).”
Nino berdehem beberapa kali sebelum melakukan pengakuan dosa. Asep yang penasaran, tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan Nino.
“Sebenarnya gue masih bisa lihat hantu, Sep.”
“Hah? Naha bisa? (Kenapa bisa?).”
“Encang gue salah kasih doa. Yang dia kasih itu doa buat buka mata batin.”
“Hah? Kela-kela.. doa eta teh doa sarua nu maneh bere ka urang (Sebentar-sebentar.. doa itu, doa yang sama yang elo kasih ke gue?).”
“Iya, Sep. Peace.. hehe..” Nino mengangkat dua jarinya seraya melemparkan cengiran.
“Anjrit!! Tega maneh ka urang! (Tega lo sama gue!).”
Asep sampai bangun dari duduknya kemudian menendangkan kakinya ke ruang kosong di depan dan sampingnya. Tentu saja dia kesal mendengar pengakuan dosa sahabatnya.
“Ya sorry Sep. Kita ini kan bersahabat. Harus berbagi suka dan duka.”
“Urang satuju sebagai sahabat harus berbagi suka dan duka. Tapi aya dua nu teu bisa dibagi! (Tapi ada dua yang ngga bisa dibagi!). Berbagi cewek sama berbagi ningali jurig!”
“Kan elo pernah bilang. Kalau lo bisa, lo mau juga nemenin gue lihat setan. Pas udah gini, malah ingakr janji. Udah kaya anggota DPR aja lo, giliran kepilih suka ingkar janji.”
“Naha mawa-mawa DPR? Da urang mah lain anggota DPR!”
“Perumpaan Asep Surasep!”
“Ah teuing. Tanggung jawab maneh. Pokokna kumaha carana mata batin urang kudu katutup deui!”
“Ngga bisa, Sep. Lagian kata Eris, ngga semua orang yang baca doa itu bisa kebuka mata batinnya. Elo itu termasuk orang terpilih. Jadi gue ngga salah seratus persen juga,” Nino masih mencoba membela diri.
“Saha Eris?”
“Itu hantu perempuan yang gue lihat pas kecelakaan. Dia ngintilin gue lagi sekarang. Tapi kadang dia suka ngusir hantu yang ganggu gue.”
“Sabodo teuing soal si Eris. Terus intina urang kumaha? (Bodo amat soal Eris. Terus intina, gue gimana?)”
“Ya kaga gimana-gimana, welcome to the club aja. Dua orang penakut bisa jadi pemberani kalau bersama, iya kan?”
“Teu lucu! Teu asik maneh mah, No.”
Dengan kesal Asep mengambil tasnya lalu meninggalkan sahabatnya itu. nino hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Asep benar-benar marah padanya.
Sepertinya dia harus menghubungi Encangnya untuk meminta doa menutup mata batin. Atau membawanya ke ustadz untuk diruqiyah, ditutup mata batinnya.
Nino segera bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju kelas. Mata kuliah terakhir akan dimulai sebentar lagi.
Sepanjang perkuliahan, Asep tidak bisa berkonsentrasi. Pemuda itu terus memikirkan pembicaraan dengan Nino tadi. Sesekali dia melihat pada Nino yang sepertinya juga tengah melamun. Sekarang dia baru mengerti bagaimana perasaan Nino yang selalu ditampakkan makhluk halus.
Geningan kieu rasana bisa ningali jurig teh. Karunya oge si Nino. Bareto urang sok ngaledek manehna. (Ternyata begini rasanya bisa lihat setan. Kasihan juga si Nino. Dulu gue suka ngeledek dia), batin Asep sambil melihat Nino.
“Sekian perkuliahan kali ini. Jangan lupa tugas dikumpulkan minggu depan.”
Suara sang dosen yang mengakhiri perkuliahan membangunkan Asep dari lamunannya. Pemuda itu segera membereskan buku dan alat tulisnya.
“Nino, antarkan in focus ini ke gedung belakang ya,” titah sang dosen.
Mau tidak mau, Nino terpaksa melakukan perintah sang dosen. Dia segera membawa in focus lalu keluar dari kelas. Dengan cepat pemuda itu menuruni anak tangga. Setibanya di bawah, Nino langsung menuju gedung belakang.
“No!” terdengar suara Asep dari belakang.
“Hayu urang anter.”
“Lo udah ngga marah?”
“Mau marah juga percuma. Geus kajadian.”
Sebuah senyuman terbit di wajah Nino. Keduanya segera menuju gedung belakang. Suasana gedung di bagian belakang kampus ini cukup sepi. Di gedung dua lantai ini hanya terdiri dari laboratorium saja. Seperti lab fotografi, lab film, lab bahasa, lap komputer dan beberapa ruangan yang dipakai untuk menyimpan peralatan perkuliahan.
Nino dan Asep segera naik ke lantai dua. mereka kemudian memasuki ruangan yang khusus untuk menyimpan in focus dan sebagainya. Setelah menutup pintu, keduanya bersiap untuk pergi. Tiba-tiba saja terdengar suara seperti pintu dibanting dan sukses membuat keduanya terkejut.
“Naon eta?”
“Ngga tau.”
BRAK!!
“Kabuuur!!”
Dengan cepat Asep dan Nino berlari menjauh dari ruangan tersebut. dengan terburu mereka menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah, ketika mereka hendak keluar, tiba-tiba saja langkah Asep tertahan, seperti ada yang memegangi kakinya.
“No!! Tulungan urang, No!”
Nino langsung berhenti ketika mendengar suara Asep. Dia baru sadar kalau Asep tidak mengikutinya lari. Begitu berbalik, dia terkejut melihat dua buah tangan yang muncul dari bawah ubin tengah memegangi kedua kaki Asep.
***
Asep🤣
Upin ipin lgi sibuk liburan 🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/