NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Isekai
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 12: Teman Pertama

Didalam kamar Alice, Alice yang sedang sibuk menulis sesuatu di buku dikejutkan dengan pintu yang terbuka yang membuatnya segera menutup buku tersebut, meletakkan pena bulu burung ditempat tinta berada di meja.

"Sayang, bisakah kita bicara sebentar?"

"Ya."

Mengarahkan kursinya menatap ke Luna, ibu Alice, Luna yang menutup pintu mendekati putrinya dengan wajah ragu untuk mengetahui apakah putrinya setuju dengan apa yang akan dikatakannya saat ini.

"Dengarkan aku, Sayang. Aku ingin kamu memiliki teman agar kamu tidak kesepian seperti ini. Apakah kamu mau memiliki teman?"

Terdiam sejenak, Alice merenung selagi memikirkannya.

"Teman ya."

Sejak Alice bereinkarnasi ke dunia ini sebagai identitas barunya, ia tidak pernah terpikirkan untuk memiliki teman sejak ia fokus pada apa yang dilakukannya untuk menjadi lebih kuat agar bisa diandalkan di masa depan.

Padahal Alice tahu betul kalau manusia tidak bisa hidup secara mandiri, mereka akan butuh bantuan dari orang lain entah itu teman, kerabat, dan keluarga yang membuat Alice menyadari kalau apa yang dikatakan oleh ibunya ada benarnya.

Apalagi dengan dirinya masih berusia 6 tahun, orang-orang akan berpikir kalau Alice aneh bila ia tetap menyendiri tanpa memiliki teman disisinya yang dapat menjadi bahan omongan para bangsawan di istana ini.

"Ya, aku mau memilikinya, Bu."

Bernafas lega mendengar jawaban dari Alice, ibunya yang memegang pundaknya menurunkan tubuhnya untuk sejajar dengan Alice yang duduk di kursi selagi menatap ibunya.

"Kalau begitu, bisakah kamu bertemu dengan teman barumu nanti malam?"

"Secepat itu?!"

Meskipun ekspresinya terlihat biasa saja, tetap saja menurut Alice ini terlalu mendadak untuk bertemu dengan teman baru yang seharusnya ia pikir butuh waktu seharu atau dua hari, ibunya malah menyuruhnya menemui mereka malam ini.

"Ya, aku akan menemui mereka malam ini. Tapi, kenapa malam ini, Bu? Kupikir itu akan butuh waktu lama."

Melihat ekspresi putrinya yang kebingungan dengan sorot mata yang penuh penasaran, Luna yang berdiri kembali menatap ke Alice dengan wajah lembut dan penyayang layaknya seorang ibu untuknya.

"Itu karena mereka merupakan teman Ibu, Sayang. Itu sebabnya Ibu bertemu mereka dengan menyarankan mereka untuk memperkenalkan anak mereka denganmu."

"Begitu ya."

Mulai memahami alasan kenapa buru-buru ternyata Alice paham kalau teman dari ibunya yang memiliki anak berniat untuk mempertemukan Alice dengan anak mereka, membuat Alice tidak heran bila dilakukan nanti malam.

"Pokoknya pukul 08:00 sehabis makan malam, kamu harus mengenakan gaun formal ya, Sayangku."

"Ya."

"Gaun formal ya."

Dibalik senyuman yang ceria dilakukan oleh Alice pada ibunya, dalam batinnya ia keberatan untuk diatur untuk mengenakan gaun formal karena itu membuatnya terbiasa.

Meskipun Alice akui ia terlahir kembali sebagai gadis keturunan dari darah kerajaan, tetap saja masa lalunya sebagai Nia tidak bisa dilupakan. Masa lalu dimana ia menjadi budak korporat, hidup sederhana, menjalani kehidupan sebagai otaku membuatnya memahami apa yang dirasakan oleh orang-orang sederhana, tapi tidak dengan gaun formal yang akan dikenakannya nanti.

Selain karena mempersulit bergerak bebas, gaun formal menurut Alice juga ribet karena jikalau salah jalan sedikit saja, orang tersebut akan tersandung dan terjatuh yang akan malu-maluin orang tersebut.

Melihat ibunya keluar dari kamarnya, ekspresi ceria Alice sirna dengan wajah merenung selagi ia tetap duduk di kursinya.

•••••

Alice POV

Ini benar-benar penyiksaan.

Lahir sebagai keluarga kerajaan memang bagus karena tidak perlu memikirkan hidup yang penuh perjuangan diluar sana dengan menguras tenaga, keringat, dan waktu, tapi hal yang tidak mengenakan adalah kebebasan dikorbankan untuk hal tidak perlu.

Contohnya sepertiku, aku harus mengenakan gaun formal nanti malam untuk bertemu dengan teman baruku dari teman dekat ibuku.

Memang, itu bagus dari sudut pandang ibuku. Tapi dari sudut pandangku, itu malah merepotkan.

Tak hanya itu, aku juga harus terbiasa dengan kehidupan yang penuh kesibukan saat besar nanti.

Mulai dari; terbiasa dengan gaun formal/pesta/pengantin, menghadiri setiap acara yang diadakan di kerajaan ini, bersikap layaknya bangsawan dengan etiket bangsawan dihadapan yang lain, selalu sopan dan berwibawa dalam berbicara, hal itu akan kulakukan saat besar nanti.

Jika saja aku bisa memilih kehidupanku, mungkin aku lebih memilih hidup dari keluarga sederhana daripada hidup bergelimang harta dan kekayaan namun kebebasan tidak bisa kudapatkan sama saja bohong.

•••••

Menyudahi mengeluh tentang apa yang dirasakannya nanti malam maupun saat besar nanti, Alice kembali membuka buku untuk melanjutkan menulis sesuatu dengan pena bulu burung yang diambilnya dari tempat tinta, berharap kegiatan sehari-harinya tidak terganggu saat ini.

Apa yang tertulis didalam buku merupakan jadwal latihan yang dilakukan oleh Alice selama ia melatih fisiknya, dan terdapat tulisan tambahan yang ditulisnya dibawahnya.

"Selesai memperkuat fisik, perkuat sihir agar keduanya balance satu sama lain."

Kata-kata itu merupakan motivasi untuknya untuk bisa berjuang dengan tubuh lemahnya.

Tidak peduli apa tanggapan orang lain terhadapnya, satu-satunya yang Alice ingin lakukan adalah fokus apa yang ia sedang kerjakan, hasilnya akan terlihat nanti.

Di kamar yang tidak jauh dari kamar Alice dan Luna yang bersebelahan, Kamar Lisa yang didalamnya terdapat Lisa dan Eri yang saling bertukar pandang dalam diam, mereka menunggu salah satu dari mereka mulai berbicara.

"Dengarkan Ibu, Sayangku. Malam nanti kamu harus bersikap biasa, tidak mencolok karena kamu mengenalnya dengan memata-matainya, anggap saja kamu tidak pernah bertemu dengannya."

"Baik, Bu."

Tersenyum puas mendengar perkataan putrinya, menurut Lisa ini bisa menjadi kesempatan untuknya untuk melihat seperti apa putri dari Luna agar ia bisa memahami lebih baik dari siapapun untuk memastikan apakah yang dikatakan oleh Eri, putrinya benar atau tidak.

Jikalau terbukti benar maka Lisa harus mempertahankan kerahasiaan ini dari siapapun karena tidak boleh siapapun tahu kalau Alice adalah reinkarnasi dari orang lain di masa lalu, menjaganya dengan baik agar ia bisa memperhatikannya lebih dekat melebihi siapapun, termasuk dari Edi, Keluarga Yamada.

"Kenapa Ibu cengengesan sendiri?!"

Ada keheranan di ekspresi Eri saat melihat Lisa cengengesan dengan ekspresi suram, membuatnya tidak memahami kenapa ibunya terlihat seperti itu.

Di kamar berbeda, terlihat seorang anak lelaki yang sedang didalam kamar seorang diri yang menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah canggung dan gugup.

"Pe-perkenalkan na-namaku adalah Ya-Yamada Ke-Ken."

Saat memperkenalkan dirinya, anak lelaki itu grogi karena ini pertama kalinya ia akan berkenalan dengan gadis yang diidolakannya malam nanti.

"Ini tidak boleh! Aku tidak bisa seperti ini!"

Memukul kedua pipinya dengan keras, ada warna merah dikedua pipinya y membuat anak lelaki berambut bald fade abu-abu, sepasang mata berwarna amber memperlihatkan sorot mata penuh tekad agar ia tidak mundur karena kegugupan agar tidak diremehkan oleh siapapun.

"Sip. Aku harus berjuang!"

Ken yang berulang kali latihan didepan cermin membuatnya yakin jikalau ia terbiasa dengan membayangkan kala didepannya terdapat Alice, gadis tersebut maka akan membuatnya terbiasa saat perkenalan nanti agar memperlihatkan nilai sempurna di perkenalan pertamanya.

Di dalam ruangan pribadi raja, Gerald yang berdiri disisi Arga melamun dalam diam yang membuat Arga penasaran atas apa yang dipikirkannya.

"Ada apa, Gerald?"

"Ah, maafkan saya, Yang Mulia. Saya hanya berpikir kalau cucu anda terlihat serius untuk mengambil peran sebagai penerus tahta anda nanti."

"Oh..."

Tampak tertarik pada pembicaraan Gerald, Arga yang meletakkan tangannya disisi tahta menyandarkan pipinya di tangannya selagi menatap ke Gerald yang berdiri disisinya.

"Apa maksudmu? Katakan padaku."

"Baik."

Mengangguk lalu menatap ke Arga dengan wajah serius, mata sipit berwarna azure terbuka membuat Arga yakin kalau Gerald akan mengatakan sesuatu serius karena memperlihatkan mata azure dibalik mata sipitnya tersebut padanya.

"Bisa dikatakan cucu anda sedang melakukan latihan fisik saat ini, Yang Mulia."

"Latihan fisik?!"

Terkejut mendengar perkataan dari Gerald, Arga yang tidak menyangka kalau cucunya, Alice menjalani latihan fisik di usia 6 tahun membuatnya bertanya-tanya mengapa ia melakukannya di usia muda.

Padahal menurut Arga, Alice bisa melakukannya saat berusia 10 tahun nanti karena fisiknya lebih baik dari usianya 6 tahun yang cukup rapuh dan lemah jikalau melakukan latihan fisik saat ini.

"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Cucu anda dapat mengatasi kekurangan tersebut."

"Eh? Beneran?"

"Ya," angguk Gerald yang tersenyum dengan mata azure yang tertutup kembali di mata sipitnya menatap ke Arga.

Ada rasa lega mendengar perkataan Gerald membuat Arga tidak perlu memikirkan kesehatan dan keselamatan cucunya, Alice. Tapi disisi lain, ia penasaran atas bagaimana Alice bisa mengatasi kekurangan dari fisiknya yang lemah.

"Mungkinkah energi sihir? Tidak, itu tidak mungkin."

Ragu kalau itu adalah energi sihir, seingat Arga, Alice hanya memiliki energi sihir yang lebih sedikit layaknya api kecil di lilin yang bisa padam kapanpun.

"Bisakah kau jelaskan padaku, Gerald?"

"Baik."

•••••

Saat malam hari, terutama saat makan malam tiba, semua para bangsawan berkumpul di aula makan. Mereka duduk di kursi yang sudah berbaris di meja makan yang panjang dengan kain putih diatasnya, duduk bersebelahan sesuai dengan keluarga mereka masing-masing.

"Kira-kira mana orang yang menjadi teman Ibu?"

Selagi Alice duduk diantara Luna disisi kanan, Ren disisi kirinya, ia tetap mengamati siapa yang menjadi teman dari ibunya.

Bisa dikatakan rasa penasaran ini membuat Alice ingin tahu apakah teman ibu merupakan orang baik atau jahat, ia tidak ingin masalah yang terjadi di kehidupan sebelumnya terjadi untuk kedua kalinya di kesempatan keduanya.

Saat Alice melihat Lisa yang tersenyum pada Luna, ibunya, ia menyadari kalau sikapnya berbeda dari bangsawan lain yang menduga kalau Lisa merupakan teman ibunya.

"Satu sudah ketahuan, tinggal sisanya..."

Mengangguk pelan saat memperhatikan sekitar diam-diam tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya, Alice melihat Edi, seorang pria yang memiliki rambut high and tight berwarna coklat, sepasang mata berwarna coklat muda, memiliki paras tampan yang tersenyum pada ibunya, Luna, membuatnya yakin kalau itu adalah teman kedua ibunya.

"Kira-kira ada lagi tidak ya?"

Sekali lagi, ia memperhatikan sekeliling dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh ayah dan ibunya untuk mengetahui apakah ibunya memiliki teman lagi atau tidak.

Jikalau ibunya memiliki banyak teman, Alice akan kesulitan untuk berteman dengan banyak orang karena ia harus fokus pada apa yang dilakukannya, bukan untuk menikmati kehidupannya sekarang seperti ini.

Setelah cukup lama mengamati dalam diam selagi menikmati makan malam dengan steak daging dibaluri oleh bumbu dan saus tertentu, Alice menyadari kalau tidak ada siapapun yang merupakan teman ibunya lagi membuatnya bernafas lega dalam suara pelan.

Disaat semua para bangsawan meninggalkan aula makan, Alice juga pergi bersama ayahnya, Ren yang memegang tangannya keluar dari aula makan.

"Aku tidak sabar untuk memperkenalkan putriku pada putrimu nanti, Luna."

"Ya, aku juga sama, Lisa."

Sekilas, pandangan Alice mengarah ke ibunya, Luna yang berbicara dengan Lisa didalam aula makan yang ditemani di sisi Lisa seorang gadis kecil berambut classic bob berwarna putih, sepasang mata berwarna emerald yang menatap kearah Alice yang keluar dari aula makan.

Di sepanjang lorong dari aula makan menuju ke kamar Alice dan Ren, Ren yang menatap putrinya yang diam sedari tadi tersenyum padanya selagi menggandeng tangannya disisinya.

"Apakah kau memikirkan sesuatu, Sayangku?"

"Ya," angguk Alice yang pandangannya ke depan lalu menoleh ke ayahnya, Ren.

"Haruskah aku menyapa temanku tadi atau nanti?"

Terkekeh mendengar putrinya yang kebingungan, Ren yang tetap tersenyum menatap Alice yang ingin tahu apa maksud perkataannya.

"Kenapa kau ingin menyapa mereka, Sayangku?"

"Karena terlihat tidak sopan jikalau aku tidak menyapa mereka..."

Tiba-tiba kata-kata Alice terhenti yang membuat Ren semakin penasaran, hanya diam selagi menatap putrinya yang ada disisinya dengan tangannya yang bergandengan dengan Ren.

"Tapi, jikalau aku menyapa mereka disaat aku tidak mengenal mereka maka itu sama seperti aku sok akrab tanpa tahu siapa mereka bukan, Ayah?"

"Ya," Ren yang terkekeh merasa kalau perkataan Alice ada benarnya. "Kau benar, Sayang."

Hening kembali terjadi diantara keduanya.

Menurut Ren, apa yang dikatakan oleh putrinya ada benarnya. Jikalau Alice langsung menyapa mereka disaat tidak mengenal mereka mulai dari; nama, sikap, dan perkataan yang mereka sampaikan padanya maka akan dianggap tidak sopan karena Alice belum mengenal mereka. Sebaliknya, jikalau Alice tidak menyapa mereka maka menurut Ren langkah itu merupakan langkah tepat, langkah yang bisa dikatakan cocok untuk situasi putrinya.

"Dia benar-benar memikirkan itu diusianya sekarang."

Tidak habis pikir kalau putrinya berbeda dari anak orang lain, Ren ada rasa senang karena dirinya dan Luna dikaruniakan anak oleh Dewa berupa Alice, tanpa tahu kalau Alice sebenarnya adalah reinkarnasi dari kehidupan lamanya sebagai Nia.

•••••

Disepanjang lorong dari kamar Alice dan Luna, keduanya berjalan disisi masing-masing yang bergandengan tangan layaknya ibu dan putri dihadapan bangsawan lain yang lalu-lalang melewati mereka.

"Apakah kamu memikirkan sesuatu, Sayang?"

"Ya," angguk Alice dengan wajah serius menatap ke ibunya, Luna.

"Apa yang harus kulakukan saat perkenalan nanti, Bu? Haruskah aku memperkenalkan diri secara formal atau tidak?"

Mendengar pertanyaan dari putrinya yang bingung, Luna hanya bisa terkekeh lalu tersenyum padanya.

"Kamu bebas melakukannya, Sayang. Lagipula ini bukanlah pertemuan formal, ini pertemuan dengan temanku jadi kamu bisa memperkenalkan dirimu secara formal atau tidak, itu tidak masalah."

"Begitu ya."

Memahami apa yang dikatakan oleh Luna, ibunya membuat Alice yakin kalau ia mungkin akan memberikan kesan pertama pada mereka yang terlihat baik tanpa memperlihatkan sedikitpun keburukan saat memperkenalkan diri pada mereka nanti.

Melihat putrinya disisinya yang mengangguk, Luna tersenyum karena tidak menyangka kalau gaun putih yang dikenakan oleh putrinya, Alice yang terlihat cantik meskipun tubuhnya masih gadis kecil berusia 6 tahun, rambut pirang dan mata crimsonnya cocok untuk gaun tersebut.

Awalnya Alice berpikir itu tidak cocok dengan putrinya, ia mungkin memikirkan opsi lain jikalau ia menyuruh maid lain mengenakan gaun crimson dengan renda hitam pada putrinya agar terlihat cocok, tapi ia merenungkannya karena ia ingin melihat terlebih dahulu putrinya dengan gaun putihnya.

Hasilnya sesuai dengan keinginan Luna, tidak ada kekurangan dari penampilan Alice yang terlihat lebih cantik meskipun usianya muda membuat Luna yakin kalau putrinya bisa memberikan kesan pertama yang baik terhadap mereka, teman-teman barunya.

Melewati lorong kanan dari lorong dimana kamar penginapan berada, keduanya berjalan menuju ke Meeting Room agar mereka bisa bertemu dengan teman mereka di sana.

Didalam Meeting Room terlihat Lisa yang duduk di sofa yang berada ditengah-tengah ruangan dengan meja panjang yang disusun persegi panjang yang duduk disebelah kiri dengan putrinya, sedangkan Edi duduk disebelah kanan dengan putranya yang keduanya saling bertukar pandang dengan tatapan tidak suka satu sama lain.

"Tsk... bisa-bisanya wanita ini duluan yang kemari..."

"Kenapa harus dia?! Padahal harapanku adalah Luna yang datang kemari lebih awal, bukan dia!"

Keduanya saling mengumpat dalam hati mereka menyuarakan ketidaksukaan satu sama lain tanpa diketahui putri dan putra mereka.

""Hmph!""

Keduanya saling mendengus dingin dengan membuang muka mereka satu sama lain membuat putri dari Lisa, Eri, dan putra dari Edi, Ken kebingungan dengan sikap kedua orang tua mereka.

Selagi mendekati Meeting Room, Luna yang penasaran menatap ke Alice disisinya yang tetap bergandengan tangan dengannya sebagai putrinya.

"Sayang, bisakah Ibu tahu kenapa kamu selalu tidur di waktu sebelum makan siang maupun sore hari sebelum makan malam?"

"Ah, itu..."

Ada keraguan diwajah Alice, ia tidak yakin apakah berkata jujur dapat membuat ibunya senang atau malah melarangnya nanti.

Dengan terpaksa, Alice tidak memiliki pilihan lain selain berbohong agar ibunya tidak memarahinya dan melarangnya, seperti saat ia belajar sihir di buku tentang pengetahuan umum yang dibacanya sebelumnya.

"Bisa dikatakan aku bosan, Bu. Itu sebabnya aku selalu tidur saat melamunkan sesuatu."

"Oh..."

Senyum kecil terlihat dibibir Luna, ia menatap ke putrinya lagi setelah menatap jauh ke depan lorong.

"Melamunkan apa?"

"Rahasia."

Ada rasa kesal saat mendengar perkataan putrinya yang merahasiakan sesuatu, Luna hanya bisa cemberut membuat Alice yang tersenyum ceria pada ibunya tiba-tiba cekikikan, lucu melihat ibunya yang ngambek karena tidak diberitahu apa yang Alice lamunkan.

Saat mereka tiba didepan pintu ganda berwarna putih yang ukurannya tidak terlalu besar, mereka terhenti sejenak.

"Apakah kamu siap, Sayang?"

"Ya, aku siap."

Melihat ekspresi antusiasme dari putrinya membuat Luna merasa lega, ia tersenyum lalu membuka pintu untuk membiarkan putrinya masuk terlebih dahulu lalu dirinya.

Begitu mereka memasuki Meeting Room, Lisa dan putrinya, Eri, Edi dan putranya, Ken, mereka menatap ke Luna dan Alice dengan senyum kecil diwajah mereka seolah-olah menantikan mereka memasuki ruangan.

"Baiklah, mari kita mulai memperkenalkan anak kita satu sama lain."

"Ya, itu benar."

"Ya, aku setuju."

Luna, Lisa, dan Edi, ketiganya saling bertukar pandang dengan wajah yakin berpikir kalau ini adalah momen dimana anak-anak mereka mendapatkan teman untuk bisa merasakan kehidupan yang mereka inginkan sebagai kanak-kanak.

"Bu, aku punya saran."

"Ya, Sayang?"

Menatap ke Alice yang mengangkat tangannya untuk membuat Luna memperhatikannya, Alice tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memberikan saran pada ibunya sebagai putrinya.

"Bagaimana kalau kita saling mengenal satu sama lain secara mandiri? Dengan begitu, kita bisa saling memahami satu sama lain."

Terkejut mendengar saran dari putrinya, menurut Luna itu adalah ide yang bagus untuk dilakukan untuk anak-anak mereka agar tidak mengandalkan orang tua mereka yang akan memperkenalkan anak-anak mereka.

Dengan begitu, Alice bisa berbaur pada yang lain membuat Luna yakin kalau masalah itu dapat diatasi dengan sendirinya oleh mereka.

Tak hanya Luna, Lisa juga merasa kalau saran dari Alice bagus. Ia tidak keberatan untuk membiarkan putrinya melakukannya secara mandiri agar bisa mengenal satu sama lain, tanpa kesulitan sedikitpun seperti; gugup maupun malu.

Sementara Edi, ia merasa kalau saran dari Alice benar-benar bagus. Tak hanya membuat mereka saling mengenal satu sama lain, ada kemungkinan mereka saling memperkuat ikatan antara hubungan pertemanan mereka merupakan cara paling efektif ketimbang melakukannya dengan orang tua mereka.

"Tidak masalah."

"Aku juga."

"Aku sama seperti kalian."

Ketiganya saling mengangguk, saling setuju atas pendapat Alice lalu menatap ke Alice.

"Kami serahkan urusan itu padamu, Sayang."

"Baik."

Dengan senyum ceria pada ibunya, Luna, Alice yakin dengan ia menyarankan ini pada ibunya maka ia akan dapat lebih memahami mereka, kedua teman barunya saat ini, baik dari; perkataan, sifat, dan karakter mereka seperti apa, Alice hanya berharap kalau mereka tidak seperti orang-orang di dunia lamanya yang membuatnya mati karena kelelahan bekerja lembur di perusahaan sebagai Nia, kehidupan lamanya.

•••••

Disisi ruangan, Luna yang duduk di kursi yang memiliki bantalan empuk dan nyaman berwarna merah dengan hiasan emas diluar sisi merah, termasuk pegangan di kursi dengan satu meja panjang di bagian Utara menatap ke putrinya, Alice.

"Baiklah. Mari kita perkenalan nama kita masing-masing."

Kedua anak lainnya setuju, sepakat dengan perkataan Alice untuk saling memperkenalkan diri mereka masing-masing.

"Kalau begitu, mulai dariku terlebih dahulu."

Meletakkan tangannya di hatinya, Alice menatap mereka dengan senyum ceria layaknya gadis kecil berusia 6 tahun dihadapan anak seusianya agar tetap bersikap layaknya anak biasa tanpa memperlihatkan kelebihan apapun.

"Namaku adalah Nishimura Alice, kalian bisa memanggilku Alice."

Selesai memperkenalkan dirinya pada kedua temannya, Alice menatap ke Eri, gadis kecil berambut classic bob berwarna putih, sepasang mata berwarna emerald yang memiliki paras cantik.

"Selanjutnya giliran-mu!"

Memahami apa yang dikatakan oleh Alice, tanpa ada rasa gugup dan malu, Eri meletakkan tangannya di hatinya, ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dengan senyum bangga diwajahnya.

"Namaku adalah Christina Eri, kalian bisa memanggilku Eri kalau kalian mau."

Disisi ruangan di bagian selatan, Lisa yang duduk di kursi yang memiliki bantalan empuk dan nyaman berwarna merah dengan hiasan emas diluar sisi merah, termasuk pegangan di kursi dengan satu meja panjang di menatap ke putrinya, Eri, dengan wajah puas karena putrinya memperkenalkan diri dengan baik layaknya seorang bangsawan pada umumnya.

"Benar-benar payah! Dia mengajarkan hal buruk pada putrinya, benar-benar Ibu yang bodoh!"

Disisi ruangan di bagian barat, Edi yang duduk di kursi yang memiliki bantalan empuk dan nyaman berwarna merah dengan hiasan emas diluar sisi merah, termasuk pegangan di kursi dengan satu meja panjang menatap ke putri dari Lisa, Eri, dengan wajah jijik seolah-olah sifat Lisa diturunkan langsung ke putrinya yang memang terlihat bermartabat namun lebih kearah angkuh.

"Selanjutnya giliran-mu!"

Mempersilahkan anak lelaki untuk memperkenalkan diri, Alice yang mengarahkan tangannya pada Ken, Eri juga menatap ke arahnya dengan wajah penasaran.

"Kau pasti bisa melakukannya, Ken!"

Mengangguk yakin kalau putranya dapat memperkenalkan diri dengan baik dihadapan mereka, Edi berharap kalau putranya tidak seperti Eri, putri dari Lisa yang memperlihatkan keangkuhan daripada martabatnya sebagai bangsawan.

"Na-namaku adalah... Ya-Yamada Ke-Ken... kalian bi-bisa memanggilku dengan nama Ke-Ken..."

"Pfft...."

"Oi!"

Mendengar suara tawa yang ditahan oleh Lisa, ada rasa jengkel yang diperlihatkan oleh Edi padanya membuat Lisa yang tetap menahan tawa menutupi mulutnya dengan tangannya selagi mengejek Edi.

"Dia benar-benar menyedihkan. Lebih menyedihkan daripada putriku, Eri."

"Wanita ini... ia pasti memikirkan sesuatu yang jelek saat ini tentang putraku."

Berusaha sebisa mungkin untuk menahan emosinya, Edi tidak ingin bertengkar dengan Lisa agar memperlihatkan sisi baik sebagai ayah pada Ken agar Ken tidak dipermalukan oleh Eri dan Alice nanti.

Sedangkan Lisa, ia yang selesai tertawa pelan dalam tutupan mulutnya dengan tangannya menyeka air matanya seolah-olah merasa kalau perkenalan Ken lebih lucu ketimbang Edi, pria yang selalu serius dan tegas.

"Yah, kamu tidak perlu gugup seperti itu, Ken."

"Eh?"

Melihat Alice yang mendekati Ken, Ken bingung kenapa Alice memegang tangannya selagi tersenyum ceria padanya.

"Gugup saat pertama kali berkenalan itu wajar jadi kamu tidak perlu malu, kami juga pernah melakukan itu kok. Kan, Eri?"

Eri yang terkejut kalau dirinya dilibatkan dalam percakapan antara Alice dan Ken, ia melihat kedipan mata dari Alice membuatnya memahami maksudnya, mengangguk selagi menatap ke Ken dengan senyum kecil.

"Itu benar, Ken. Kami juga pernah melakukan kesalahan jadi kamu tidak perlu memikirkan kesan pertamamu."

"Baik."

Meskipun masih ada rasa gugup dalam hatinya, entah mengapa Ken merasa sedikit lega karena tidak dipermalukan oleh mereka berdua membuatnya tersenyum kecil atas kebaikan mereka.

""Dia mirip seperti ibunya!""

Baik Lisa dan Edi, keduanya sepakat kalau Alice mirip seperti Luna, ibunya yang terlalu baik, rendah hati dan selalu mengutamakan orang lain melebihi dirinya membuat mereka merasa dejavu melihat sikap Alice.

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!