Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Maki Wulan bicara lantang dengan emosi yang kadung menjadi dan terasa panas di dadanya. Entah mengapa dirinya itu seperti tak mampu menguasai diri sendiri. Hati dan pikiranya seperti memiliki dua sisi yang berlawanan.
Namun apalah arti semua ucapannya itu. Karena sekalipun Wulan berbicara sampai mulutnya mengeluarkan buih sekalipun, kata kata itu terdengar oleh pak Ustad dan warga lainya berbeda.
dengan kata lain, ucapan Wulan itu terdengar oleh semua warga menjadi suara melengking yang begitu menyeramkan. Sehingga tak heran warga yang semakin ketakutan pun segera membesarkan suara lantunan ayat ayat itu.
Tak terkecuali pak Ustad sendiri yang mati matian menahan rasa takutnya di hadapan semua jamaahnya. Karena pada kenyataannya, pak ustad itu hanyalah warga biasa yang tak memiliki ilmu lebih dari sisi kebatinan. Tentu saja dirinya tak mampu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi apalagi sadar jika sosok di hadapannya itu adalah Wulan.
Berakali kali pak Ustad membaca lantang beberapa ayat ayat pendek yang di hapalnya. Tubuhnya itu perlahan semakin bergetar. Bahkan demi menyamarkan rasa takutnya itu, pak Ustad melakukan beberapa gerakan seperti seseorang yang ahli dalam hal spiritual di hadapan warga.
Berulang kali tangannya terbuka lebar lalu tampak naik turun seiring deru nafas yang terdengar berat seperti baru saja menarik sebuah energi gaib yang kuat. Lantas tak lama setelahnya dan dalam posisi membungkuk dan memasang kuda kuda bak seorang jawara, pak Ustad berteriak keras sembari menghentakan hujung sorbannya pada sosok pocong itu.
"Allah....huakbar ...!!!"
Hiuk !!! Ceter !!!
Sembari setengah meloncat pak Ustad menghempaskan sorbannya pada sosok pocong itu. Yang alhasil Wulan pun yang terkena tamparan hujung sorban itu seketika menjerit sembari menungkup wajahnya. Belum habis rasa sakit itu, tiba tiba pak Ustad meraih sebuah tasbih dari balik saku bajunya. Lalu tanpa ragu memukulkan tasbih itu sampai tasbih itu putus dan butirannya berhamburan di sekitar tubuh Wulan.
"hiattt...!!!"
Hiuk... Beletak !!! wurrrr...!!!
Untuk kedua kalinya Wulan menjerit kesakitan. Kali ini rasa sakit itu ia rasakan pada bagian kepala. di mana butiran tasbih berbahan kayu itu baru saja menghantam tepat ubun ubunnya.
"aw...!!! Sakittt...!!! Ampun !!! Ampun...!!!"
Pekik Wulan menahan sakit dan tersungkur melindungi dirinya menggunakan kedua tangannya. Namun sayangnya, gelagatnya itu malah membuat warga semakin merinding dan perlahan memunculkan keberanian pada masing masing warga itu.
Keberanian dan kehebatan pak Ustad itu baru saja memotivasi para warga. Seakan akan gerakan yang di sertai tenaga batin itu adalah bukti jika pak Ustad bisa di andalkan dan memiliki ilmu kebatinan yang mempuni.
Tak heran jika tak lama setelahnya beberapa warga berusaha mengudar sarungnya dan mengangkat meja kecil yang biasa di pakai penyangga buku ketika anak anak belajar menulis dan mengaji. lalu mulai mendekat hendak menghantamkan benda itu pada pocong itu. Tentu saja Wulan pun yang menyadari ancaman itu, dirinya seperti tak memiliki kesempatan untuk bicara lagi. Selain harus segera kabur dari kepungan warga warga itu.
Tanpa aba aba Wulan membalikan tubuhnya. Lantas berlari dan melompat sekuat tenaga tanpa menghiraukan warga yang terkejut dan sebagian mulai mengejarnya. Beruntung berkat dorongan rasa takut di hakimi itu, Lompatan Wulan itu menghasilkan lompatan yang begitu tinggi. Bahkan warga warga yang melihatnya, sosok pocong itu bisa terbang melayang menembus pekatnya malam.
Dan memang begitulah kenyataan sebenarnya yang di rasakan Wulan ketika itu. Antara menahan rasa takut karena teriakan warga dan pengejaran pada dirinya, Wulan seakan baru menyadari jika dirinya itu mampu melayang seutuhnya. Seperti terasa ringan dan tak memiliki gaya gravitasi bumi.
Tubuhnya itu begitu terasa ringan ketika berniat melompat dari satu tempat ke tempat lain. Sehingga pantas saja jika malam itu Wulan merasa bersukur sekaligus rasa sedih, pedih, sakit hati, dan tak mengerti dengan apa yang sebenarnya tengah menimpa dirinya.
Melalui cabang kayu yang lumayan tinggi, Wulan ketika itu bisa melihat jelas sekumpulan warga yang berteriak lantang meneriaki dirinya. Cahaya beberapa obor yang di bawa sekumpulan warga itu membuat tubuhnya sedikit sulit ketika berniat bersembunyi dari kejaran warga warga itu. Sehingga dalam ke adaan masih panik dan terpaksa, Wulan pun melompat ke perkebunan cengkeh milik warga.
Dan Alhamdulilah. Rimbunnya perkebunan itu menyulitkan warga dalam memburu dan menemukan tempat persembunyiannya. sebelum pada akhirnya warga warga itu kembali pulang di sertai beragam ucapan dan pendapat masing masing.
"sudah sudah jangan di kejar lagi. Terlalu berbahaya kalau kita sampai masuk hutan. Ayo lebih baik sekarang kita pulang"
Ucap pak Ustad yang menjadi pemimpin langsung dalam pengejaran itu.
sejak malam itu kabar itu menjadi topik hangat yang di bicarakan warga.
Nama pak Ustad yang sederhana itu kini melambung tinggi karena di anggap sosok sepuh linuhung yang memiliki kemampuan dalam menaklukan bangsa lelembut. Dan tentunya beragam pandangan seketika meledak dari para warga. Terlebih mereka yang menyaksikan langsung dan ikut pada pengejaran setan pocong di malam itu.
Beberapa di antaranya ada yang menduga jika pocong itu adalah pelaku pesugihan yang sengaja menakut nakuti dan hendak mencuri uang warga. Ada pula yang berpendapat itu bagian dari penganut ilmu hitam yang gagal dan arwahnya marakayangan/merayangan.
Yang jelas sejak hari itu kabar itu menyebar luas begitu cepat sampai ke kampung lain.
Sampai setelah tiga hari setelahnya, kabar itu di gegerkan kembali oleh pengakuan dan klarifikasi dari sosok juragan terpandang di kampung itu. Yang tak lain adalah bah Lemud dan ambu Surti yang meyakinkan warga dengan cara merubah kebenaran mengenai kemunculan sosok pocong itu.
Bah Lemud mengatakan, jika tiga hari yang lalu dirinya menghantarkan putrinya menemui pamannya yang ada di kota. Karena belakangan ini putrinya itu kerap kali di ganggu oleh penampakan sosok pocong ketika memasuki tengah malam. Sehingga bah Lemud pun yang tau jika salah satu kerabatnya yaitu adik dari istrinya yang memilik kemampuan dalam mengobati urusan seperti itu, berniat berkunjung ke rumahnya untuk mengobati putrinya (Wulan).
Dan dari adiknya itulah bah Lemud baru mengetahui jika anaknya itu semacam di kirim atau di guna guna oleh salah satu pemuda yang sebelumnya cintanya di tolak mentah mentah olah putrinya itu. Rasa sakit hati pemuda itu sepertinya sampai tega membuat putri kesayangan itu menjadi gila jika saja telat di tolong oleh adik iparnya itu.
Beruntung adiknya itu mampu membalikan ke adaan. dan sampai di hari itu putrinya itu terpaksa tinggal sementara bersama pamannya yang berada di kota. sampai di rasa ke adaan sudah aman barulah Wulan akan kembali ke desa. Karena bukan tidak mungkin sosok setan pocong kiriman itu akan murka dan berani terang terangan menggangu keluarga bah Lemud dan orang orang di sekitarnya.
Maka tak heran jika pocong itu tiba tiba muncul menakut nakuti warga sekaligus itu bukti jika ucapan adik iparnya itu terbukti benar.
begitu kira kira cerita yang direkayasa bah Lemud dan istrinya dan di ceritakan pada pada warga. Sebelum pada akhirnya bah Lemud mengadakan saembara untuk menangkap sosok pocong itu. dan beralasan jika itulah satu satunya cara yang di katakan adiknya itu jika ingin membuat pemuda yang mengirim mahluk itu kapok dan bertekup lutut pada bah Lemud serta meminta maaf pada Wulan dan dirinya.