Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sore itu, mansion Evans terasa lebih hidup dari biasanya.
Pelayan keluar masuk membawa kain, katalog bunga, daftar undangan rahasia, hingga catatan persiapan.
Evans berdiri di balkon lantai dua, tangan di saku, memperhatikan semuanya dengan ekspresi datar… tapi matanya sesekali melirik ke arah satu gadis mungil yang sedang duduk bersama Paman Andreas di taman kecil mansion.
Xerra tertawa kecil saat paman Andreas bercerita sesuatu.
Tawa itu lembut, polos, jujur membuat dada Evans menghangat tanpa alasan.
Gerry yang berdiri di dekatnya menelan ludah.
“Bos… itu senyum?”
Evans menatap Gerry tajam.
Gerry langsung diam.
Ben menyenggol Gerry dari belakang, berbisik,
“Kau ingin hidup atau tidak?”
Evans kembali menatap ke bawah.
Xerra terlihat jauh lebih rileks sejak paman Andreas datang.
Tidak ada lagi rasa ketakutan, tidak gelisah seperti hari-hari sebelumnya.
Ada ketenangan baru pada gadis itu.
Dan Evans… menyukainya.
Beberapa jam kemudian…
Xerra baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah, wajahnya bersih tanpa riasan. Ia mengenakan sweater putih lembut pemberian pelayan.
Saat membuka pintu kamar… ia hampir melompat karena terkejut.
Evans berdiri di depan pintu.
Tegap.
Diam.
Memandangnya tanpa berpaling.
“Om… oh. Ma....maaf, aku terkejut...ada apa?”
Evans mengangguk kecil.
“Aku ingin bicara.”
Nada suaranya rendah tapi tidak menekan seperti biasanya.
Xerra sedikit gugup, tapi ia membuka pintu lebih lebar.
“Silakan masuk.”
Evans melangkah… namun tidak masuk terlalu jauh.
Ia berdiri di dekat rak buku, lengan bersilang, memandang Xerrra dengan intensitas yang membuat gadis itu sulit bernapas.
“Aku mendengar percakapanmu dengan paman Andreas tadi.”
Wajah Xerra memanas.
“Om dengar… semua?”
Evans mengangguk sekali.
Xerra menunduk, malu. “Maaf kalau aku...”
“Tidak.” Evans memotong lembut.
“Kau tidak salah.”
Ia menatap gadis itu lama, seolah mencoba membaca pikiran paling dalamnya.
“Aku hanya ingin mengatakannya dengan jelas, Xerra…”
Xerra mendongak perlahan.
Evans melanjutkan, suaranya tenang namun penuh kepemilikan.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Xerra menelan ludah.
“Aku juga tidak akan menyakitimu tanpa alasan.
Kau tinggal bersamaku sekarang.
Dan aku… akan menjagamu.”
Xerra merasakan dadanya berdenyut aneh,Evans mengucapkan sesuatu yang benar-benar terasa seperti… perhatian.
Evans mendekat satu langkah.
“Kau bilang kau akan mencoba membuka hatimu.”
Xerra mengangguk, pelan, malu.
“S…sudah kupikirkan, om.”
Evans mengamati wajahnya, seolah memastikan kebenaran jawaban itu, lalu ia meraih rambut lembap Xerra dan mengusapnya perlahan dengan ujung jarinya.
“Kau tidak perlu terburu-buru,” katanya lembut.
“Cukup ada di sini. Itu sudah cukup bagiku.”
Xerra hampir lupa bagaimana cara bernapas.
Evans menurunkan tangannya, lalu memberi sebuah kotak kecil berwarna hitam.
“Ini.”
Xerra membuka kotaknya.
Di dalamnya sebuah gelang berlapis emas putih, sangat sederhana namun elegan.
“Untuk apa…?”
Evans membalas, “Untuk upacara pertunangan besok.”
Xerra memandangnya, terkejut.
“Besok…?”
Evans mengangguk.
“Pernikahan masih beberapa hari lagi.
Tapi aku ingin kau memakai itu saat kita resmi bertunangan.”
Xerra memegangi gelang itu, jantungnya berdebar keras.
Anehnya, tidak seburuk dulu.
Perasaannya… berubah.
Lebih hangat.
Lebih mudah menerima.
Evans menatapnya, mata gelapnya melembut.
“Xerra.”
“Ya… om?”
“Terima kasih.”
Xerra membulatkan mata.
“Untuk… apa?”
Evans memiringkan kepala sedikit.
“Karena berusaha untuk tetap di sisiku.”
Wajah Xerra memanas sampai telinga.
Evans menahan senyum sangat tipis, hampir tidak terlihat.
“Tidurlah. Besok hari besar.”
Ia berbalik.
Namun sebelum meninggalkan kamar, ia menambahkan pelan.
“Xerra…”
Xerra mengangkat kepala.
“…aku senang kau memilih untuk mencoba.”
Pintu tertutup.
Xerra terduduk di ujung ranjang, wajahnya merah, jantungnya rusuh, tangan menggenggam gelang pemberian Evans.
Bisikannya lirih…
“Om tampan… kenapa sekarang malah terasa sulit membencimu?”
Di luar kamar, Evans berjalan pergi dengan langkah tenang…
Namun jemarinya mengepal halus.
Ia sudah lama menunggu kata-kata itu dari Xerra.
Dan mulai malam ini…
Ia tidak akan membiarkan siapa pun bahkan Xerra sendiri mengambil keputusan yang membuatnya pergi
*****
Malam itu, ballroom mansion keluarga Evans berubah menjadi lautan cahaya.
Lampu gantung kristal memantulkan kilau keemasan, musik lembut mengalun, dan para tamu penting seperti pejabat, pengusaha besar, hingga petinggi kepolisian berkumpul dengan pakaian terbaik mereka.
Xerra berdiri di samping Evans, mengenakan gaun pastel lembut dan gelang pemberian pria itu.
Ia tampak memesona dalam cara yang sangat natural… hingga beberapa tamu tidak bisa berhenti melirik.
Evans melihatnya dari sudut mata, wajah datarnya tidak bisa menyembunyikan kebanggaan halus.
“Jangan jauh dariku,” bisik Evans dekat telinganya.
Xerra mengangguk, malu namun hangat.
Pintu ruang utama terbuka lebar tidak lama Masuklah Commissioner Frederick Dalton, salah satu tokoh kepolisian paling berpengaruh di Inggris.
Pria berusia 50an itu tetap tegap, dan terkenal sangat ambisius,dan kenaikan pangkatnya beberapa tahun lalu memang hasil bantuan Evans.
Di sisi kirinya berjalan seorang gadis muda bergaun merah.
Dona Dalton.
Cantik, percaya diri, dan jelas merasa semua perhatian seharusnya adalah miliknya.
Tatapannya langsung menancap pada Evans.
Xerra melihat, tapi ia tidak tahu siapa gadis ini.
Yang ia tahu hanya satu cara Dona memandang Evans sangat aneh dan penuh minat
Paman Andreas yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bergumam pendek,
“Oh, anak itu lagi.”
Dona Mulai Mendekati Evans
Tanpa menunggu, Dona langsung melangkah menuju Evans.
“Evans,” sapanya sambil menyentuh lengannya seperti sudah akrab.
“Aku hampir lupa betapa cocok warna hitam denganmu. Kau selalu menawan.”
Evans hendak menarik tangannya, tapi sebelum ia sempat
Xerra yang tidak tahu apa-apa tapi tidak suka memotong dengan senyum paling polos.
“Permisi… siapa ya?”
Dona tersenyum sinis. “Aku Dona. Putri Commissioner Dalton.”
“Oh…” Xerra mengangguk manis.
“Pantas kelihatannya percaya diri sekali.”
Beberapa tamu menahan tawa.
Dona memicingkan mata. “Kau pasti Xerra. Gadis yang… mendadak muncul itu?”
“Ya,” jawab Xerra cerah. “Dan aku senang akhirnya tahu namamu. Gaunmu indah sekali… tapi apa tidak dingin? Soalnya bagian atasnya seperti… hampir tidak ada kainnya.”
Dona tersedak napas nya,
Beberapa tamu mulai memalingkan wajah pura-pura batuk.
Evans menahan senyum dengan menunduk sedikit.
Dona Berusaha Menyerang Balik
“Evans,” Dona kembali mengabaikan Xerra,
“Bagaimana kalau kita bicara berdua? Ada urusan penting tentang ayahku dan....”
Xerra lagi-lagi memotong, kali ini lebih polos daripada sebelumnya.
“Oh, Kak Dona, maaf… tadi bibir kakak ada yang nempel di gigi depan.”
Dona langsung menutup mulutnya dan panik mengusap gigi.
Tamu-tamu wanita hampir tertawa terbahak.
Evans akhirnya benar-benar mengeluarkan tawa pendek jarang sekali ia tertawa di depan banyak orang.
Xerra berpura-pura terkejut.
“Aduh, apa aku salah lihat ya? Maklum, lampunya terang sekali…”
Dona memerah, lalu mundur terpaksa dengan senyum palsu.
“Aku kembali nanti,” katanya datar.
“Silakan,” jawab Xerra manis.
Paman Andreas berjalan mendekati mereka sambil menepuk bahu Evans.
“Evans, aku tidak pernah sebangga ini padamu.”
Evans mengerutkan kening. “Kenapa?”
Paman Andreas menatap Xerra yang sedang minum jus dengan wajah polos seolah tidak tahu jika dia baru saja membantai mental seseorang.
“Karena kau akhirnya memilih gadis yang tepat.”
Evans menatap Xerra lama.
Gadis itu menaikkan alisnya, tidak menyadari betapa menggemaskannya ia terlihat.
Hati Evans tiba-tiba menghangat.
“Sangat tepat,” tambah Andreas lagi sambil tertawa kecil.
Evans hanya menanggapi dengan satu kalimat pendek… namun penuh makna.
“Ya.karena Dia milikku.”
Xerra tersedak jusnya.
Paman Andreas tertawa makin keras.