Bintang Utara
Harimau Putih, Phoenik Merah, Naga Biru, Kura-Kura Hitam, dan Kirin Hitam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andryano Shevchenko Limbong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 13 Berkeliling Kota.
Keesokan paginya Wu Bai sedang berkeliling kota, ia juga sudah meminta ijin kepada Li Wang. Karena Wu Bai sangat ingin pergi ke Assosiasi Pendekar Sakti.
Wu Bai sangat penasaran dengan keberadaan dari Assosiasi Pendekar Sakti dan ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri karena Li Wang sering menceritakan Assosiasi Pendekar Sakti dengan bangga.
"Kota ini sangat megah berbeda dengan kota tau desa yang pernah ku kunjungi sebelumnya." Wu Bai asik melihat sekitarnya.
Sesampainya Wu Bai di depan kantor cabang Assosiasi Pedagang Sakti ia melihat kemegahan dan kekayaan yang dimiliki oleh Assosiasi Pedagang Sakti.
Ia bisa melihat penjaga yang menjaga pintu depan dari Assosiasi saja memiliki level bela diri 21, dengan kemewahan gedung yang sangat megah dan tidak kalah dengan kediaman-kediaman para bangsawan menurutnya.
Saat Wu Bai ingin masuk ia langsung dihentikan oleh para penjaga yang menjaga pintu depan gedung assosiasi.
"Hei, kau siapa? apa urusanmu datang kesini?" Tanya salah satu penjaga.
"Aku hanya ingin melihat-lihat di dalam saja."
"Tempat ini bukan pameran jadi lebih baik kau pergi saja." Ucap penjaga.
"Tapi, aku hanya ingin melihat-lihat saja." Ucap Wu Bai lagi.
"Kau pergi saja sebelum kau kami pukuli!"
"Baik.. Baik.."
Saat Wu Bai ingin pergi dari assosiasi ia melihat seorang pemuda yang berpakaian mewah yang memasuki assosiasi, pemuda itu disambut dengan sangat hormat oleh para penjaga yang mengusir Wu Bai.
"Silahkan masuk... Tuan Muda Wang." Sambut sang penjaga yang membentak Wu Bai.
Pemuda itu memandang rendah Wu Bai ketika ia memasuki gedung assosiasi, ia seperti melihat Wu Bai sebagai kecoa kecil di matanya.
Wu Bai pun membalas tatapan dari pemuda tersebut dengan senyuman dan segera pergi tidak ingin memperpanjang masalah dengan para penjaga takut akan merepotkan Guru-nya.
Setelah Wu Bai melangkah pergi dari assosiasi ia berpikir akan berkeliling kota sebentar dan menikmati jalan-jalan kali ini.
Di kota juga Wu Bai melihat banyak berbagai macam toko-toko dan pedagang keliling yang menjual berbagai macam makanan dan juga barang yang belum pernah dilihatnya.
"Tuan muda, maukah anda membeli permen?, hanya satu keping perunggu saja." Tawar salah satu anak yang menghampiri dan menjajakan permen yang dijualnya.
Wu Bai segera memberikan 1 keping perak dan mengambil 5 permen dari tangan anak kecil tersebut.
"Terima kasih Tuan, tapi uang ini aku tidak memiliki tukarnya."
"Ambil saja dan belilah roti yang enak." Mengelus kepala anak kecil tersebut.
Wu Bai pun segera pergi dari hadapan anak kecil dan menapaki jalanan kota kembali. Wu Bai sangat menikmati permen yang baru saja dibelinya tidak menunggu lama sampai permen yang tersisa tinggal 2.
'Permen ini sangat enak seharusnya aku mengambil lima lagi tadi.' Ucap Wu Bai dalam hati.
Tiba-tiba seseorang tercampak dari kejauhan dan terbentur dengan sangat keras ke dinding.
Wu Bai segera menghampirinya dan menyadari orang yang tercampak tadi merupakan pemuda yang berpakaian mewah yang memandangnya dengan rendah di Assosiasi Pedagang Sakti.
Ia langsung menyentuh urat nadi pemuda tersebut dan merasakan pemuda itu masih hidup, ia langsung melihat ke arah dari tempat tercampaknya Pemuda bermarga Wang.
'Syukur, dia masih hidup.'
Wu Bai melihat seorang perempuan yang berpakaian bermotif teratai biru, memandang Wu Bai dan pemuda marga Wang dengan tatapan jijik dan merasa ingin muntah.
Perempuan berpakaian bermotif teratai biru itu dan menarik pedang dari sarungnya. Tanpa basa basi ia langsung menyerang.
Wu Bai pun segera melompat dan melemparkan Pemuda bermarga Wang unruk menghindari serangan yang di berikan oleh perempuan itu.
"Aku titipkan permen terakhirku kepadamu." Meletakkan permen ke atas tubuh pemuda tersebut. "Apa masalahmu dengan dia?" Tanya Wu Bai kepada perempuan yang berada di hadapannya.
Manusia yang lewat dan berada di tempat itu langsung menghindari pertengkaran antara Wu Bai dan Perempuan itu
"Dasar laki-laki mesum." Perempuan itu menyerang kembali Wu Bai.
"Apa maksudmu dengan mesum?" Tanya Wu Bai lagi.
Wu Bai menghindari serangan-serangan yang dilancarkan oleh perempuan itu lagi dan lagi. Saat kemarahannya sudah ada pada batasnya perempuan itu langsung menggunakan jurusnya.
"Jurus Pedang Teratai, Jurus Pertama : Tebasan Pedang Air."
Wu Bai segera menggjnakan jurusnya juga.
"Gerbang Barat, Harimau Putih Byakko,
Jurus Kedua : Kecepatan Angin."
Wu Bai menghindari kembali serangan dan segera mengambil sebuah tongkat di salah satu toko dan segera menggunakan Jurus Tongkat dan Tapak.
"Jurus Pertama, Pukulan Tongkat Kasih."
Saat pukulan tongkat Wu Bai hampir mengenai perempuan berpakaian motif teratai biru sebuah tangan langsung mengapai dan memegang tongkat Wu Bai dan menghancurkannya dengan sangat mudah.
Wu Bai juga langsung terkena sebuah pukulan yang telak mengenai perutnya, membuat ia memuntahkan semua isi perutnya.
Wu Bai pun bangkit dengan lemas dan juga terhuyung-huyung setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
Wu Bai melihat seorang perempuan sepuh yang juga berpakaian bermotif teratai biru dan menyelamatkan perempuan muda tersebut.
"Lan'er kau tidak apa-apa kan?" Memegang wajah dari Shu Lantian. "Anak muda kau telah apakan muridku yang paling kusayangi." Menunjuk wajah Wu Bai.
"Senior, perkenalkan namaku Wu Bai." memberikan hormat.
"Apa yang telah kau lakukan kepada muridku?"
Shui Lantian langsung menghentikan Guru-nya dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dan menunjuk Pemuda bermarga Wang yang masih tidak sadarkan diri di tempatnya.
Perempuan sepuh itu langsung mengeluarkan nafsu membunuh yang sangat besar setelah mendengar keseluruhan cerita yang sebenarnya dari Shui Lantian.
Ia langsung menerjang Pemuda bermarga Wang yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Wu Bai pun menggunakan jurusnya.
"Jurus Kelima : Raungan Harimau Putih." Wu Bai mengarahkannya kepada Perempuan Sepuh.
Perempuan sepuh itu langsung berhenti dan menutup kedua kupingnya dengan rapat.
"Bocah apa kau ingin mati sekarang?" Mengganti target menjadi Wu Bai.
"Maafkan aku Senior, Bukankah tidak baik membunuh seseorang di tengah-tengah kota terlebih lagi, Senior berasal dari aliran putih." Ucap Wu Bai.
"Bocah kau tidak perlu mengajariku." Langsung menyerang Wu Bai dengan pedangnya dengan kekuatan penuh.
"Jurus Pedang Air, Jurus Pertama : Tebasan Pedang Air."
Saat pedang perempuan sepuh itu hampir menebas Wu Bai sebuah cengkeraman kuat menahan pedangnya.
"Kraakkkk!!!!" Pedang perempuan sepuh itu hancur berkeping-keping.
"Bagaimana mungkin! Pedang Tingkat Bumi Level 7 ku dihancurkan begitu saja." Perempuan sepuh itu langsung mundur beberapa langkah.
"Siapa kau!?" Bentak perempuan sepuh.
Li Wang tidak menjawab malah membawa Wu Bai dan Pemuda bermarga Wang pergi dari tempat kejadian.
"Oi, setidaknya tinggalkan sebuah nama, untukku mencarimu."
Li Wang membawa Wu Bai dan Pemuda bermarga Wang cukup jauh dari perempuan seouh dan Shi Lantian.
"Dasar, seharusnya aku tidak memberikanmu ijin pergi keluar, sekarang kau sudah membawa masalah besar bagi kita."
"Maafkan aku Guru, aku hanya tidak tega melihat dia dihajar begitu saja." menunjuk Pemuda bermarga Wang.
"Ahh, sudahlah." Li Wang menghela nafas." Kemana kita akan mengantar bocah ini?"
"Kita antar saja dia ke Assosiasi Pedagang Sakti mereka pasti tahu apa yang seharusnya di lakukan, Guru."
Wu Bai dan Li Wang pun segera kembali ke penginapan setelah mengantarkan pemuda tadi ke assosiasi.
"Kau jangan membuat masalah lagi Bai'er."
"Baik, Guru."
tidak usah buat cerita baru kalau tidak jelas
tdk ada hareem kah?
Bukan cerita yg buruk, cerita nya bagus tapi sangat kecewa dgn penuturan dan penempatan otor pd tata kata dan bahasa., jd tdk ba bisa lanjut baca nya lagi ...
Pembaca dan penulis akan saling take and give, pembaca akan senang dan nyaman bila mana cerita bagus, baik itu alur nya maupun penempatan kata, bahasa/kalimat nya dan akan mengapresiasi kepada penulis dgn hormat (karena tdk mudah membuat cerita yg bagus) dan penulis akan mendapatkan penghargaan dan kebanggan atas karya nya yg di sukai byk pembaca.. ini hanya saran saja, walau cerita nya sudah tamat tapi gak ada yg tau siapa saja bisa berhenti ditengah jalan 😊