Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan Haidar.
Aku pun segera kembali ke ruangan mayat itu setelah mendapat panggilan dari nomor yang tak di kenal.
"Ada apa Riana? " tanya papa saat melihat aku masuk.
"Dia bukan bang Rian pa, " jawab ku sambil menunjuk mayat yang ada di dapan papa.
"Maksud kamu apa? " tanya papa bingung.
"Bang Rian ada di rumah sakit Maria pa, dia saat ini sedang di rawat di sana, " jawab ku.
"Tunggu dulu Riana, ceritakan dari awal kenapa kamu bisa ngomong seperti itu? " tanya papa lagi.
Aku pun mencoba menenangkan diri ku agar aku bisa tenang dan menceritakan semuanya.
"Barusan ada orang yang menghubungi ku dan dia mengaku sebagai kak Rian, dia memberitahu ku jika dia sedang berada di rumah sakit Maria, " beritahu ku menceritakan semuanya.
"Kalau Rian ada di sana, lalu ini siapa? " tanya papa.
"Pak, " panggil polisi dan papa meliriknya.
"Sekarang kita lihat dulu ke rumah sakit Maria dan kalau itu benar anak bapak, kita bisa tau cerita sebenarnya, " ucap polisi itu dan papa setuju.
"Aku ikut pa, " pinta ku.
"Boleh, mama biar Kanaya yang jaga, " jawab papa dan aku pun segera ikut bersama papa ke rumah sakit Maria.
Tibanya di rumah sakit kami langsung mencari tahu keberadaan orang yang datang dalam keadaan kecelakaan. Namun pihak rumah sakit tidak tahu dan aku pun langsung menghubungi nomor yang tadi menghubungi ku.
"Pa, aku udah tau dimana bang Rian, " beritahu dan aku segera mencari ruangan ya g di sebutkan bang Rian.
Aku pun menemukan ruangan itu dan segera masuk namun aku kaget saat melihat keadaan bang Rian yang berbaring dan kaki nya di perban.
"Rian, " panggil papa.
"Pa, " jawab abang ariana hendak bangun.
"Apa yang terjadi? " tanya papa.
Bang Rian melirik wanita yang ada di sampingnya dan aku pernah melihat cewek itu namun entah dimana.
"Aku tunggu di luar, " ucapnya lalu keluar.
Aku pun mendekati bang Rian dan duduk di sampingnya.
"Kamu keluar, abang mau ngomong sama papa, " ucap bang Rian minta aku ke luar.
Aku pun keluar dan saat di luar aku melihat cewek yang tadi menemani bang Rian.
"Hai, " sapa ku dan cewek itu melirik ku dan tersenyum.
Aku duduk di sampingnya dan bertanya "kakak siapanya bang Rian? ".
" Aku temannya, "jawab nya dengan lembut.
" Kakak tau kenapa bang Rian bisa seperti ini? "tanya ku.
" Abang kamu menang dalam saat balapan motor namun lawannya gak terima lalu mereka nyerang abang kamu sampai seperti itu, "jawab cewek itu.
" Terus kenapa motor sama jaket abang dipakai orang? "tanya ku.
" Ya karena mereka mengambil motor dan jaket abang kamu, "jawab cewek itu.
" Kenapa kamu tau motor sama jaket abang kamu di ambil orang? "tanya si cewek.
" Ya karena orang itu kecelakaan dan meninggal, "jawab ku.
Si cewek kaget dan entah kenapa reaksi nya langsung sedih.
" Kakak tau siapa yang mengambil motor bang Rian? "tanya ku.
Cewek itu terdiam tidak menjawab pertanyaan ku dan aku pun tidak bertanya lagi. Tak lama papa keluar bersama polisi yang datang bareng kita.
" Pa, "ucap ku.
" Kamu tunggu abang kamu disini!, papa mau ngurus laporan ke polisi, "ucap papa pada ku.
"Baik pa, " jawab ku.
"Biar nanti kak Kanaya kesini sama mama, papa pergi dulu, " pamit papa dan aku hanya mengangguk.
Aku pun melirik pada cewek yang tadi menemani kak Rian.
"Kita masuk, " ucap ku mengajaknya masuk.
"Aku pamit pulang saja, sekarang Rian udah ada keluarganya, " balasnya.
"Kalau begitu makasih ya kak, " ucap ku dan dia hanya mengangguk lalu pergi dan aku pun masuk ke ruangan bang Rian.
Saat masuk aku melihat bang Rian sedang melihat ke arah pintu.
"Cewek itu udah pulang, " beritahu lalu duduk di samping bang Rian.
Aku menatap bang Rian dengan tatapan minta penjelasan.
"Ngapain kamu lihatin abang kaya gitu? " tanya bang Rian.
"Abang gak usah gak ngerti deh, ceritain sekarang!" pinta ku dan bang Rian dia menghela nafas.
"Nama nya Tiwi, gadis yang aku suka, " beritahu nya.
"Terus gara-gara tuh cewek abang rela balapan gitu? " tanya ku dengan sarkas.
"Awalnya abang gak ada niatan buat ikut balapan, hanya saja saat cowok nya Tiwi bilang kalau ada yang bisa ngalahin dia maka dia akan membiarkan Tiwi tidur dengan pemenangnya, " jawab bang Rian membuat aku kaget.
"Terus kenapa sekarang abang malah berakhir di rumah sakit? " tanya ku.
"Ya karena cowoknya Tiwi gak rela Tiwi tidur sama cowok lain toh dia aja belum bisa sentuh Tiwi, " jawab bang Rian membuat aku kaget.
"Udah kamu gak akan ngerti kalau kita sudah suka atau cinta apa saja akan kita lakukan, " ucap Rian.
"Gitu ya bang? " tanya ku serius bertanya.
"Serius amat sih, " ledek bang Rian.
"Enggak biasa aja, " balas ku dan beruntung bang Indra datang jadi pembicaraan kita berhenti.
Bang Indra masuk dan langsung mendekat melihat kondisi bang Brian.
"Lo kenapa bisa kaya gini? " tanya bang Indra.
"Mau jadi jagoan bang, " jawab ku menyindir bang Rian.
"Dih nyaut aja, " ucap bang Rian.
"Udah-udah kalian ini malah debat, " omel bang Indra.
"Mama sama kak Kanaya mana? " tanya ku.
"Lagi di jalan bentar lagi nyampe kok, " jawab bang Indra.
Benar saja tak lama mereka datang dan aku pamit keluar untuk jalan-jalan karena jari sudah mulai pagi dan semalaman aku gak tidur. Aku pun masuk ke kantin rumah sakit untuk mencari sarapan namun saat sedang menunggu pesanan tiba-tiba aku melihat seorang cowok dan aku merasa taka sing dengannya namun entah siapa aku lupa lagi. Ponselku berdering dan itu panggilan dari Zahara yang menanyakan kenapa aku gak masuk dan aku hampir lupa memberi kabar ke sekolah akau hari ini aku gak masuk sekolah. Aku pun segera menghabiskan sarapan ku lalu kembali ke kamar bang Rian untuk bertemu bang Indra.
"Ada Riana? " tanya mama melihat aku datang dengan nafas naik turun.
"Bang Indra, " panggil ku pada bang Indra tanpa menjawab pertanyaan mama.
"Ad apa? " tanya bang Indra.
"Aku lupa gak ngasih kabar ke sekolah, " jawab ku.
"Udah abang kabarin kok ke wali kelas kamu, " beritahu bang Indra dan aku pun merasa lega.
Bang Rian di pindahkan ke ruangan yang lebih bagus dan aku di tugaskan untuk mengambil obat. Aku berjalan menuju apotek, lagi dan lagi aku bertemu cowok itu lagi dan membuat aku penasaran, aku pun mengikutinya dan ternyata dia masuk ke sebuah ruangan, karena penasaran aku pun mengintip dan kaget saat melihat orang yang ada di tempat tidur.
"Haidar, " gumam ku.