Penyesalan datangnya selalu diakhir.
Kalau diawal namanya pendaftaran.
Baik buruknya setiap perbuatan,pasti akan mendapat balasan.Percayalah,,karma itu ada
Tuhan maha adil,dalam membagi luka dan kebahagian.
Suka dan Duka akan mewarnai kehidupan manusia.
Apa yang kita tanam,itulah yang akan kita tuai.Jadi berbuat baiklah sebelum penyesalan itu datang.
Yang gak suka sama cerita ini, tinggalkan, jangan dibaca😊 gak usah komentar yang aneh-aneh, apalagi ngebanding-bandingkan dengan cerita lain. Karena beda author beda juga cara mereka bercerita, dan juga beda ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom's chaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dirumah Abimanyu.
Alya sedang memasukan sebagian belanjaannya ke dalam kulkas, dan menyisakan sebagian belanjaan yang akan ia masak untuk makan siang. Tiba-tiba ia ingat kejadian yang baru saja dialaminya. Alya ingat dengan jelas semua perkataan Tamara.
Air matanya menetes. Hatinya merasa sakit, apalagi tiba-tiba saja ia mengingat semua ucapan dan hinaan Abimanyu. Walau Alya bertekad tidak akan lemah dan cengeng, tapi tetap saja dia hanya seorang wanita lemah yang merasa telah dilukai hatinya, oleh orang yang bernama Abimanyu dan Tamara.
Aku tidak pernah sekalipun bermimpi untuk menikah dengan tuan Abimanyu, apalagi mengincar hartanya. Aku melakukannya karena terpaksa. Apa aku harus menjelaskannya kepada mereka?. Batin Alya
Ia mendudukkan dirinya dilantai. Air matanya semakin deras mengalir. Dia melempar sayuran yang dipegangnya. Rasa kesal, marah, sakit hati, dan benci menjadi satu. Ia masih menangis sambil menundukkan kepala dan melipat kedua kakinya.
Tapi dia sendiri tidak tahu, harus marah kepada siapa. Dia memaklumi sikap Tamara dan Abimanyu. Mereka pasti sangat membencinya, karena dia telah berani menikah dengan Abimanyu.
Alya kembali melanjutkan pekerjaannya, saat merasakan sesak di dadanya sudah berkurang. Dia mulai memasak, walau tahu Abimanyu mungkin tidak akan makan dirumah, karena dia pergi dengan kekasih tercintanya. Pasti mereka akan makan diluar. Pikirnya.
...
Alya sudah selesai masak. Dia lalu mandi dan makan siang sendirian. Alya sangat menikmati makan siangnya, hingga dia tidak menyadari kehadiran Abimanyu, yang sudah berdiri dibelakangnya, membuatnya sangat terkejut.
Kenapa dia sudah kembali? Apa dia akan memarahiku, gara-gara kejadian tadi?.
"Anda sudah kembali tuan? Maafkan saya!! Saya mendahului anda makan. Saya pikir anda tidak akan makan siang dirumah."
"Tadinya aku memang akan makan diluar, tapi Tamara tiba-tiba ada urusan mendadak.Ya sudah aku pulang saja." Jawab Abimanyu.
"Anda mau makan sekarang?.Biar saya siapkan." Tanya Alya.
"Aku bisa ambil sendiri. Kamu habiskan saja makananmu."Jawab Abimanyu.
Alya menyelesaikan makannya dengan cepat, walau ia sebenarnya belum kenyang. Dia tidak nyaman makan semeja dengan Abimanyu. Alya segera beranjak dari meja makan, lalu mencuci piring bekasnya makan.
Dia mengambil gelas, dan mengisinya dengan air minum dari dispenser. Lalu meletakkannya disamping Abimanyu. Dia pun hendak pergi dari sana.
"Alya!! Mau kemana kamu?" Tanya Abimanyu.
"Saya mau ke kamar tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?."
"Aku sudah katakan jangan panggil aku tuan."
"Maaf!!saya lupa." Jawab Alya.
"Oke kali ini aku maafkan kamu. Sekarang duduk." Titahnya.
"Apa anda mau memarahi saya karena kejadian tadi?. Kalau iya, saya minta maaf." Ucap Alya.
Kenapa kamu yang harus minta maaf?. Harusnya aku yang meminta maaf, bukan kamu. Batin Abimanyu.
"Siapa juga yang mau marahin kamu?. Aku hanya mau kamu duduk disini. Temani aku makan."
Hahh? Aku nggak salah dengar? Kenapa dia jadi baik? Aneh sekali. Mana mungkin orang berubah begitu cepat. Pasti dia merencanakan sesuatu. Aku harus hati-hati. Batin Alya
"Kamu melamun?." Tanya Abimanyu.
"Tidak." Jawab Alya.
Lalu mereka terdiam. Abimanyu fokus menikmati makan siangnya. Dan Alya sibuk dengan pikirannya sendiri. Abimanyu ingin sekali menanyakan keadaan Alya, tapi dia malu.
...................
Alya pov💭
Hari-hari berlalu, Abimanyu semakin bersikap baik kepadaku, dan aku tidak percaya dia mengajakku berteman. Aku menerimanya. Aku juga merasa capek bermusuhan dengannya, tapi aku tidak pernah mengatakan apa pekerjaanku padanya, dia juga tidak pernah menanyakannya.
Walaupun kami sudah berteman, aku masih belum percaya sepenuhnya pada sikap baik Abimanyu. Aku takut ada sesuatu yang dia rencanakan dibalik pertemanan ini. Aku masih ingat saat dia mengatakan kalau dia bahagia melihat kesedihanku, dan dia juga akan membuatku menderita, makanya aku tetap berhati-berhati.
....
Hari minggu ini, aku akan pergi ke rumah mbak Karin, untuk melakukan pemotretan, dan aku pergi bersama Evi. Sesampainya disana, aku langsung di makeup oleh seorang mua yang sudah di sewa oleh mbak Karin. Lalu aku memakai baju dan kerudung koleksi mbak Karin yang akan dipasarkan.
Acara pemotretan pun dimulai. Karena baru pertama kali, aku masih sangat kaku melakukannya. Walau aku sering ber selfie menggunakan hpku, tetap saja aku merasa kaku saat mengikuti arahan sang fotografer.
Tapi lama-lama aku pun bisa melakukannya sesuai arahan mbak Karin dan sang fotografer. Aku juga mulai menikmati pemotretan itu.
Mbak Karin melihat satu persatu hasil fotonya, dia terlihat senang. Kami lalu makan siang.
"Ini buat kamu Alya. Lumayan lah buat jajan." Ucap mbak Karin.
"Makasih banyak mbak." Ucapku senang.
"Iya ...sama-sama. Mbak juga makasih sama kamu. Jangan kapok ya?."
"Iya mbak, mana mungkin saya kapok."
Lalu aku dan Evi pun pulang.
...
Aku mengajak Evi nonton, dan mentraktirnya makan, dan pulang jam 4 sore. Abimanyu belum pulang seperti biasa. Dia pasti akan pulang malam kalau pergi dengan kekasihnya.
Aku mandi, lalu sholat ashar dan masak untuk makan malam. Tak lama kemudian Abimanyu pun pulang. Kami makan malam bersama. Dia mengajakku berbincang.
"Ngomong-ngomong, kamu tadi pergi kemana?."Tanya Abimanyu.
"Saya pergi ke rumah teman."
"Oh ...ngapain?."
"Nggak ngapa-ngapain. Cuma main aja."
"Tadi aku ke rumah mama. Dia nanyain kamu."
"Lalu mas Abi jawab apa?."
"Ya aku bilang, kamu main sama temen kamu."
"Apa beliau marah?."
"Tidak. Kenapa kamu takut mamaku marah?."
"Bukan begitu, saya hanya nggak enak."
"Kamu lebih nggak enak sama mamaku daripada sama aku Alya?" Tanya Abimanyu.
Aku membalas pertanyaan Abimanyu, dengan senyumku yang aku paksakan.
"Memangnya mas Abi ngapain ke rumah bu Monika?."
Aduh sial. Pertanyaan apa itu? Kenapa aku bertanya seperti itu?.
"Tadi aku pulang kesini, tapi kamu belum pulang. Aku bosan dirumah sendirian, jadi aku pergi ke rumah mama."
"Bukannya mas Abi tadi pergi bersama nona Tamara?"
"Kami tadi cuma nonton." Jawab Abimanyu.
"Oh ya mas. Boleh saya tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa mas Abi tidak menceraikan saya?. Kenapa kita harus berpura-pura seperti ini? Kita tidak saling mencintai. Dan saya tahu mas Abi sangat mencintai nona Tamara. Bagaimana kalau kita bercerai?."
Abimanyu tampak terkejut mendengar pertanyaanku.
"Saat ini aku tidak mungkin menceraikan mu. Mamaku sangat menyukaimu. Aku takut mamaku akan marah, dan aku yakin dia tidak akan menerima perceraian kita."Jawab Abimanyu.
"Tapi mas Abi, bukankah kita berdua telah berdosa karena telah mempermainkan sebuah pernikahan dan juga perasaan bu Monika?. Lagipula, apa mas Abi tidak mau menikahi nona Tamara?"
"Tentu saja aku mau.Tapi mamaku tidak akan setuju. Dia tidak menyukainya."
"Kalau seandainya saya bisa membujuk bu Monika supaya merestui hubungan mas Abi dan nona Tamara, apa mas Abi akan menceraikan saya?." Tanyaku.
Abimanyu diam, dan menatapku dengan tatapan yang aneh.
"Apa kamu sangat ingin bercerai dariku Alya?. Lalu kenapa kamu menikah denganku?." Abimanyu menjawab pertanyaanku, dengan pertanyaannya. "Kenapa diam?. Selama ini kamu selalu mengelak, saat aku mengatakan kamu menikah denganku karena uangku. Lalu apa sebenarnya alasan kamu?." Tanya Abimanyu.
kasian karakter nya dibuat kayak lelaki bodoh pengemis cinta ditolak dan disakiti hatinya berkali tapi tetap saja dibuat kayak pengemis
coba kau diposisi abimayu thor, kau pernah melakukan kesalahan kau sudah menyesal dan menebunya dan kau ditolak berkali2, dengan kata2 yang menyakiti hati, apakah author masih mau mengejar dan kayak pengemis apakah adil author rasa kalau diposisi abimayu
miris