karya pertama ini sedikit tidak layak untuk di baca, takutnya kalian baca malah jadi pening kepala 😅
"kamu itu hanya istri keduaku, jadi jangan banyak bertingkah"
perasaanku hancur seketika mendengar ucapan suami ku sendiri.
mengapa takdir seolah ingin mempermainkan ku.
apa istri pertama nya tau bahwa suaminya telah menikah lagi, bagaimana perasaan nya kalau tau suaminya telah menikah dengan ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehamilanku
dengan cepat Danu menggendong laras yang sudah pingsan ke dalam rumah sakit.
di bantu oleh perawat yang berjaga Danu menaikan Laras ke atas brankar rumah sakit.
setelah sampai di IGD Danu di minta menunggu di luar. Danu yang merasa khawatir dengan keadaan istrinya terus mondar mandir tidak jelas di depan ruang IGD.
"lindungilah istriku ya tuhan" lirih Danu yang nampak khawatir karena istri nya belum selesai di periksa oleh dokter.
sudah satu jam menunggu akhirnya dokter keluar dari IGD.
"mari ikut ke ruangan saya"
dengan cepat Danu berjalan di belakang dokter yang memeriksa keadaan istrinya.
"duduk lah"
''bagaimana keadaan istri saya dok"
"istri anda baik-baik saja, hanya mengalami pendarahan namun tidak berakibat fatal pada janinnya, janinnya kuat dan dia baik baik saja"
jelas sang dokter.
Danu di kaget kan dengan ucapan dokter yang mengatakan bahwa Laras mengalami pendarahan.
"istri saya sedang mengandung dok?" tanya Danu memastikan.
"iya istri anda sedang mengandung, usia kandungannya 5 Minggu"
tanpa Danu sadari air matanya mengalir begitu saja. karena merasa bahagia istrinya Laras mengandung anaknya.
"jaga istri bapak ya jangan sampai mengalami pendarahan lagi"
"iya pasti dok saya akan menjaganya, kalau begitu saya permisi dok ingin melihat keadaan istri saya"
Danu keluar dari ruangan dokter dan menghampiri Laras yang masih belum sadar diri pingsannya.
Danu mengamati wajah cantik istrinya, membelai lembut pipi istri nya yang terlihat kurus.
"kenapa pipimu kurus seperti ini, apa kamu tidak mendapat makanan yang layak di sana"
Danu mencium kening istrinya dan duduk di kursi yang disediakan.
"cepatlah sadar"
Danu melihat istrinya tengah mengerjapkan matanya melihat ke sekeliling dan menatap mata milik Danu.
"mas" panggilnya lirih.
Danu diam seribu bahasa tanpa menyahuti panggilan istri nya, ia teringat kejadian malam yang sangat di benci olehnya.
"jelaskan" ucap Danu dingin.
"mas sungguh aku tidak pernah mengkhianati mu, aku tidak tau dia siapa dan kenapa bisa berada di kamar ku, aku sangat ingat betul bahwa aku telah mengunci pintu apartemen malam itu"
"kamu pikir aku bodoh, dengan mudahnya mempercayai alasan seperti itu"
"aku harus bicara apa lagi mas, karena memang itu yang aku ingat" Laras terlihat prustasi dan dengan mudahnya air mata Laras mengalir begitu saja di pipi kurusnya.
"bagaimana bisa kalian berani berhubungan badan di apartemen ku"
"aku tidak melakukan nya mas aku berani bersumpah, pria itu tidak menyentuh ku karena aku tidak merasakan apapun dan tidak ada cairan aneh dalam tubuh ku." Laras mencoba meyakinkan suami nya.
"aku tidak percaya"
"aku mohon mas percaya sama aku, aku tidak melakukan apapun dengan pria itu, aku tidak mengenal nya" jawab Laras sambil menghapus air matanya yang terus menerus keluar.
"percaya lah pada istri mu Danu" ucap oma yang tiba-tiba datang menghampiri kami.
"dari mana oma tau aku ada di sini"
"pengawal yang oma perintahkan untuk mengikuti Laras melapor pada oma bahwa Laras di tabrak oleh suaminya"
"aku tidak sengaja melakukan nya'
"dasar ceroboh, bagaimana kalau istri mu kenapa-kenapa?"
"maaf ma" ucap ku penuh penyesalan.
oma menghampiri Laras dan membelai rambut Laras penuh kasih sayang.
"pengawal oma bilang baju kamu basah mungkin itu darah, apa yang terjadi sama kamu ras?" tanya oma khawatir.
"Laras tidak tau oma, yang Laras rasakan hanya perut Laras sakit luar biasa"
oma menatapku.
"dokter bilang apa Danu?"
"Laras pendarahan" jawabku.
oma nampak terkejut namun tidak lama wajahnya berubah penuh kegembiraan. laras masih nampak bingung dengan ucapan ku.
"selamat sayang kamu hamil" kata oma sambil menggenggam tangan Laras.
"aku ha hamil" ucap Laras tergagap.
"iya sayang kamu sedang mengandung cicit oma, jaga dia baik-baik dalam perut mu ya''
Oma menatapku kembali.
"bagaimana kondisi janinnya, dan berapa usianya sekarang?''
"janinnya baik-baik saja, usianya baru 5 Minggu"
"pulang lah ras, jangan pergi lagi" pinta oma dengan wajah memelas nya.
"tapi oma''
belum sempat Laras melanjutkan kata-katanya oma sudah memotongnya.
"tidak usah kamu pikirkan laki-laki tidak bertanggung jawab itu, kamu ikut oma saja" sambil menatap ku tajam.
sebelum Laras menjawab dengan cepat aku berkata.
"Laras ikut dengan ku oma, aku suaminya"
"tidak, oma tidak bisa membayangkan jika terjadi apa-apa padanya lagi''
"aku akan membawa Laras ke rumah ibu" berharap Oma akan menyerahkan Laras padaku.
"apalagi begitu, kamu ingin Laras di habisi oleh istri pertama mu, pokok nya Laras tinggal bersama oma tidak ada penolakan" ultimatum oma tidak akan pernah bisa ku ubah, aku hanya mengangguk pasrah.