Di pernikahan Rachel dan Arlan yang baru seumur jagung, Arlan mengalami hal tak terduga yang membuatnya di pisahkan oleh sang istri. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kondisi yang berbeda.
****
Kehidupan Arlan sebagai Dokter terbilang lurus-lurus saja. Tidak pernah tersandung kasus apapun, apalagi tidur dengan wanita.
Namun kejadian malam itu ketika dia berniat menolong Rachel, anak dari keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun harus berakhir menjadi tuduhan berdasar dan membuat Arlan mau tidak mau harus menikahi Rachel.
Rachel terkenal cukup bermasalah, disebut pembuat onar dan tingkat kenakalannya diluar batas. Terbukti Rachel berniat menjebak seorang wanita yang sudah beristri agar tidur dengan pria lain yang merupakan orang suruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Arlan memanggil dan mengetuk pintu kamar Rachel berkali-kali, namun tidak ada jawaban dari dalam sana. Arlan tau jika Rachel pasti enggan membukakan pintu karna sangat marah padanya. Jika Rachel tidak marah, tentu saja saat ini Arlan tidak perlu datang ke rumah mertuanya untuk menjemput Rachel. Setelah bertengkar di supermarket, Rachel memilih pulang ke rumah orangtuanya dan berusaha mencari simpati semua orang.
“Rachel buka pintunya, aku ingin mengembalikan ponselmu.” Arlan tidak benar-benar serius dengan ucapannya karna ponsel Rachel sengaja dia tinggal di apartemen agar Rachel ikut pulang bersamanya.
Tak butuh waktu lama, bahkan mungkin hanya dalam hitungan detik saja pintu kamar tiba-tiba dibuka setelah Arlan mengatakan ingin mengembalikan ponsel Rachel.
Wanita itu hanya membuka sedikit pintu kamarnya, dia mengeluarkan kepala dan mengulurkan tangan kanannya pada Arlan.
“Cepat kembalikan ponselku!” Serunya ketus.
“Kita makan siang dulu, setelah itu akan aku kembalikan ponselmu.” Arlan melakukan negosiasi, dia menggunakan cara ini agar Rachel bersedia makan siang. Arlan sudah berjanji pada Ibu mertuanya jika dia akan membujuk Rachel untuk makan siang, jadi Arlan berusaha melakukannya.
Rachel menggeleng cepat, tawaran Arlan di tolak keras. “Kembalikan dulu ponselku.” Pintanya tegas.
Arlan membuang nafas berat. Mengajak Rachel negosiasi sama saja mengajaknya bertengkar karna Rachel sangat keras kepala.
“Mau makan siang atau melihat ponselmu hancur di tanganku?!” Ancamnya. Tatapan Arlan berubah tajam dengan rahang yang tampak mengeras karna Rachel tidak bisa dibujuk baik-baik.
Mata Rachel melotot tajam. “Lakukan saja! Setelah itu akan aku laporkan perbuatan mu pada Mommy dan Daddy.” Tantangnya. Rachel masih berfikir bahwa dia bisa menjatuhkan Arlan didepan kedua orang tuanya, padahal sudah jelas kedua orang tuanya ingin lepas tanggung jawab dengan menikahkannya bersama Arlan.
“Arlan, hancurkan saja ponselnya. Kamu juga tidak perlu memberinya uang lagi, biarkan saja dia berjuang sendiri diluar saja untuk mencari uang!” Seru Frans tegas.
Arlan dan Rachel sama-sama terkejut melihat Frans yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka. Lebih parahnya lagi, Frans malah mendukung Arlan dan itu membuat Rachel semakin hancur mendengar Ayahnya sendiri ingin membuatnya menderita.
“Dad,,,! Daddy sudah tidak peduli lagi padaku? Jika begitu kenapa aku tidak di buang saja dan jangan menganggap ku sebagai putrimu lagi!” Ujar Rachel dengan suara bergetar menahan tangis, matanya sudah berkaca-kaca dengan wajah memerah. Ada kesedihan bercampur amarah.
Frans tampak menahan amarahnya agar tidak lepas kendali. Tidak mungkin Frans membuat Rachel benar-benar marah dan dendam padanya, karna bagaimanapun, Frans hanya ingin melihat Rachel berubah tanpa ada rasa dendam di hatinya.
“Jika Daddy tidak peduli padamu, Arlan tidak akan berdiri di hadapanmu dan membuang waktunya yang berharga hanya untuk membujuk mu. Rachel, kamu harus bisa bersikap dewasa dan tau bagaimana caranya menghargai orang!” Frans bicara penuh penekanan.
Rachel memutar malas bola matanya menatap Arlan. “Aku tidak mengharapkan dia datang, bahkan ingin dia segera pergi dari hadapanku!”
Frans terlihat semakin marah mendengar Rachel bicara sembarangan di depan Arlan. Wajahnya sudah memerah menahan amarah sekaligus malu pada Arlan. Rachel tidak tau sopan santun.
“Dad, tidak apa-apa biar aku saja yang bicara dengan Rachel.” Arlan mencoba menahan Frans agar tidak lepas kendali karna terlihat sudah sangat marah pada Rachel.
Frans mengangguk dan tampak menarik nafas berat. “Didik Rachel dengan caramu, Daddy akan mendukung apapun caranya.” Pesannya sebelum pergi meninggalkan anak dan menantunya.
Arlan mendorong pelan pintu kamar agar terbuka lebih lebar, dia kemudian meraih tangan kiri Rachel untuk di gandeng dan dibawa keluar kamar.
“Jangan membuat orang tuamu semakin marah, kamu tidak kasihan melihatnya marah-marah seperti itu.” Lirih Arlan tegas.
Rachel berusaha melepaskan diri berkali-kali, tapi Arlan semakin mengeratkan cengkramannya.
“Jika Daddy memperlakukan aku seperti dulu, aku juga tidak akan menentangnya." Sahut Rachel tak terima.
“Semua bermula saat kamu membuat kekacauan di acara anniversary orang tuamu. Harusnya kamu sadar.” Balas Arlan.
Rachel hanya berdecak kesal. Dia terpaksa mengikuti langkah Arlan karna tangannya di cengkram erat.
Arlan menghentikan langkah di ruang makan, dia benar-benar ingin membujuk Rachel makan siang. Selain itu, Arlan juga belum sempat makan siang karna ada panggilan darurat ke rumah sakit dan sibuk menangani pasien yang membutuhkan pertolongannya.
“Makan dulu, setelah itu kamu bisa kembali ke kamarmu untuk istirahat. Daddy menyuruh kita menginap malam ini.” Tutur Arlan.
Rachel tidak berkomentar, dia menarik kursi dan duduk disana bersama Arlan. Mungkin Rachel sudah kehabisan tenaga untuk marah-marah.
...******...
Arlan mengetuk pintu ruang kerja Ayah mertuanya sebelum membuka pintu. Disana ada Ayah mertuanya yang duduk di balik kursi kerjanya dan tampak beberapa berkas ada di atas meja.
“Masuk Arlan.” Titah Frans.
Arlan mengangguk dan segera menutup pintu, dia duduk di depan meja kerja Frans.
“Rumah sakit ini akan Daddy serahkan padamu, kamu hanya perlu menandatanganinya. Tapi dengan satu syarat, kamu dan Rachel harus tetap bersama.” Ujar Frans sembari menyodorkan berkas agar Arlan menandatanganinya. Di bawah berkas itu juga ada surat perjanjian yang telah Frans buat, isinya tentang rumah tangga Arlan dan Rachel. Melihat sikap Rachel yang sangat keterlaluan, Frans memutuskan untuk mempertahankan Arlan sebagai menantunya karna dia yakin hanya Arlan yang paling tepat untuk Rachel dan bisa membuat Rachel menjadi lebih baik.
Arlan menarik tipis sudut bibirnya menatap berkas penting kepemilikan rumah sakit tempatnya bekerja. Dia sama sekali tidak tertarik untuk memiliki rumah sakit itu atas namanya pribadi. Diberi tanggung jawab sebagai kepala rumah sakit saja sudah membuat Arlan merasa terbebani dalam menyikapi Rachel.
“Maaf Dad, saya tidak bisa menerimanya.” Arlan mendorong pelan berkas ikut ke arah Frans. “Jika Daddy memberikan rumah sakit ini karna takut saya mengakhiri pernikahan atau menyakiti Rachel, maka tidak perlu sampai harus memberikan rumah sakit ini pada saya. Tanpa diminta mempertahankan Rachel, saja juga tidak pernah berfikir untuk mengakhiri,pernikahan kami. Tapi jika suatu saat Rachel bersikeras ingin mengakhirinya, saya tidak akan mencegahnya.”
Frans tampak memijat pelipisnya. Memang semua kendali sebenarnya ada di tangan Rachel. Jika Rachel bisa berubah sedikit saja, sudah pasti semaunya akan baik-baik saja dan Frans tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
“Saya akan berusaha mendidik Rachel dengan baik, tapi bagaimana pun hasilnya itu tergantung pada keinginan Rachel sendiri, mau berubah atau tidak. Saya tidak bisa menjanjikan Rachel berubah karna bukan kapasitas saya.” Tutur Arlan.
Frans mengangguk paham, dia tau bahwa yang bisa mengubah sifat dan watak seseorang adalah dirinya sendiri, atas kemauannya sendiri, bukan karna orang lain.
“Sebagai orang tuanya, Daddy minta maaf padamu atas semua perlakuan dan perkataan Rachel yang mungkin menyakitimu. Tolong jangan menyerah menghadapi sikapnya." Pinta Frans memohon.
Arlan mengangguk. “Saya mengerti.”
Udah ditunggu hampir sebulan kak
Kisah David dan Elena 🙏
Udah gak sabar nungguin novel baru nih
udah kutunggu loh😊