Pertemuan kembali dua sahabat lama yang kini telah sama-sama memiliki anak. Mereka berniat menjodohkan kedua anak mereka untuk lebih mempererat hubungan pertemanan yang telah lama terjalin.
Namun siapa sangka jika sebelum pertemuan dua sahabat lama itu, anak-anak mereka justru lebih dulu dipertemukan oleh takdir melalui kejadian-kejadian yang tidak pernah mereka duga sama sekali.
Arumi Nasha Razeta dan Arsyad Dzaki Mahendra, akan memulai kisah mereka di sini.
Apakah cinta dalam perjodohan itu benar adanya? Apakah pepatah Jawa yang mengatakan Witing Tresno Jalaran Soko Kulino itu akan berlaku di kehidupan keduanya? Dan akankah kehidupan mereka dipenuhi dengan kebahagiaan ataukah justru sebaliknya?
Jangan lupakan juga kehidupan kedua kakak mereka yang pastinya akan menambah bumbu sedap cerita ini..
WARNING:
Sisi lain cerita cinta dalam perjodohan. Tidak ada unsur penyiksaan maupun kekerasan terhadap pasangan. Cerita ringan dan semoga bisa menghibur para pembaca semua...
UPDATE
SELASA, KAMIS & SABTU
Happy reading semua, salam love, love, love😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13. Bulu Mata oh Bulu Mata
"Arumi?!"
"Mas Arsyad?!"
Kedua orang tua mereka juga hanya bisa mengatupkan bibir sembari membelalakkan mata. Mereka masih begitu takjub dengan skenario sebuah takdir. Terlebih ibu Risma dan ibu Anita. Ibu Risma yang begitu terpesona dengan sosok perempuan muda yang pernah ia temui di pasar beberapa waktu yang lalu, kini ada di hadapannya. Begitu pula dengan Ibu Anita yang mengagumi ketampanan Arsyad yang beberapa hari yang lalu pernah datang ke rumahnya dan berharap menjadikan ia menantu, kini ada di hadapannya pula.
Mereka masih terpaku dengan pertemuan pertama ini. Hingga akhirnya keheningan mereka dipecah oleh waiters yang datang dengan membawa menu yang sudah dipesan sebelumnya.
"Permisi, bapak, ibu. Ini pesanannya ya. Selamat menikmati", ucap waiters itu ramah setelah menyajikan beberapa macam menu seafood di atas meja. Mereka pun mengangguk kemudian waiters itu melenggang pergi.
"Jadi Arsyad ini putramu Ris?", tanya ibu Anita.
Ibu Risma mengangguk. "Dan kamu tahu Nit?, Arumi ini adalah perempuan yang pernah bertemu denganku di pasar. Sejak saat itu aku sudah jatuh hati sama Arumi"
"Hahahaha... ini benar-benar aneh. Sebelum kita merencanakan pertemuan ini, ternyata anak kita sudah lebih dulu bertemu, dan kita sebagai orang tua juga tanpa sengaja pernah ditemukan dengan masing-masing anak kita", timpal pak Hendra sembari terbahak.
Pak Herman juga terlihat terkekeh. "Benar pak, ini memang aneh. Atau jangan-jangan anak kita berjodoh pak, dan sebentar lagi kita akan jadi besan?"
Yang ada di sana pun terlihat terbahak. Sedangkan Arsyad dan Arumi hanya bisa tersenyum kikuk.
"Eh, kalian kenapa diam saja?, ayo dong sayang ngobrol sama nak Arsyad!", ucap ibu Anita sambil menyenggol lengan Arum.
"Eh?", Arum hanya meringis.
Pak Hendra menggelengkan kepalanya. "Syad, mending kamu ajak Arumi jalan keluar deh, kalian pasti kikuk kan bersama orang-orang tua seperti kami ini?"
"T-tapi pa_____"
"Sudah sayang, nggak apa-apa", timpal ibu Risma. Kemudian pandangannya beralih ke arah ibu Anita. "Nggak apa-apa kan Nit, kalau Arsyad ngajak Arumi jalan-jalan ke luar?"
Ibu Anita terkekeh. "Nggak apa-apa Ris, tapi pulangnya jangan malam-malam ya".
Akhirnya Arsyad dan Arumi hanya bisa pasrah dengan permintaan kedua orang tua mereka. Dan mereka pun melangkahkan kaki meninggalkan para orang tua itu.
***
Arsyad memberhentikan mobilnya di salah satu restoran makanan cepat saji yang berada di sebuah mall di pusat kota. Ia tidak begitu paham tempat makan yang pas untuk ia datangi di jam-jam segini, akhirnya makanan cepat saji lah yang menjadi pilihannya.
Arsyad dan Arum duduk di pojok restoran itu. Sejak di dalam mobil, mereka hanya terdiam tidak membuka obrolan sama sekali. Arum memindai wajah Arsyad yang tengah sibuk dengan lembaran menu yang ada di depannya.
Beneran apatis banget orang ini. Kok bisa ya tidak ngobrol sama sekali dengan orang yang ada di dekatnya.
"Kamu mau pesan apa?", tanya Arsyad membuyarkan lamunan Arum.
Arum mengerjapkan matanya. "Eh, anu, ummmmmm aku pesan french fries sama jus apel saja"
Arsyad mengernyitkan dahi. "Serius cuma itu?"
Arum mengangguk.
"Gak mau makan?", tanya Arsyad meyakinkan.
Arum menggeleng. "Itu saja, aku udah kenyang juga sih"
"Ohh begitu?, oke deh!"
Arum mendengus. Ia begitu heran karena hanya itu yang jadi bahan obrolannya. Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Dan mereka fokus dengan menu nya masing-masing.
Lenggang yang tercipta. Hanya terdengar suara-suara dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Sedangkan mereka hanya saling membisu. Arum mencuri pandang ke arah Arsyad yang sedang lahap memakan fried chicken nya. Tanpa terasa senyum tipis tersungging di bibirnya.
Ya Tuhan, orang ini memang tampan tapi kenapa cuek banget seperti ini sih?, aku hanya seperti angin lewat yang tidak dianggap keberadaannya.
Arsyad memindahi wajah Arum yang tengah tersenyum simpul itu. Ia pun hanya tersenyum sinis.
"Kenapa melihat aku kayak gitu?, terpesona dengan ketampananku?", ucap Arsyad percaya diri.
Arum mengerucutkan bibirnya. "Iddiiihhh kok ada ya orang yang narsis tingkat dewa kayak kamu ini?"
Arsyad terkekeh. "Tidak usah mengelak, aku tahu kok kalau kamu itu terpesona dengan ketampananku"
Arum mendengus. "Biasanya kalau laki-laki yang beneran tampan itu tidak pernah mengakui bahwa dia tampan. Lah kamu malah percaya diri sekali menganggap diri kamu ini tampan".
Arsyad semakin terbahak. "Aku bukan terlalu percaya diri. Aku hanya sedang mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepadaku. Bahwa Tuhan itu menciptakan makhluknya dengan sempurna".
Arum terbelalak, masih saja lelaki di depannya ini melibatkan Tuhan, padahal saat ini ia tengah menyombongkan diri.
Astaga ya Tuhan, mimpi apa aku, bisa bertemu dengan lelaki macam gini. Disamping apatis, narsis, dia juga suka menyombongkan diri.
Arsyad hanya tersenyum tipis memandang wajah Arum yang dipenuhi kekesalan itu. Ia kemudian menyeruput minuman bersoda yang ada di depannya.
"Kamu gak merasa aneh dengan pertemuan kita ini?", tanya Arsyad memecah keheningan yang ada.
"Aneh?, maksudnya?", tanya Arum balik sedikit tidak paham.
Arsyad menghela nafas dalam. "Kita dipertemukan beberapa kali tanpa sengaja, lalu sekarang kita tahu kalau orang tua kita itu ternyata bersahabat. Apa mungkin yang dikatakan papamu tadi benar ya?"
Arum semakin bingung. "Memang apa sih yang dikatakan oleh papaku?"
Arsyad memasang wajah datar. "Kalau kita memang berjodoh?"
Uhuk... uhukk... uhukk...
Tetiba Arum tersedak jus apel nya. Dan membuat minuman itu sedikit menyembur dari dalam mulutnya. Dan berhasil membuat meja mereka sedikit basah.
Arsyad tersentak. "Kamu kenapa sih kok bisa tersedak gitu, pelan-pelan dong!"
Arum mencoba menghela nafas. "Maaf. A-aku masih belum begitu mengerti dengan maksud ucapanmu", ucapnya sambil mengelap meja dengan tisu.
Arsyad memainkan sedotan yang ada di depannya sembari menatap lekat wajah Arum. "Kalau kita benar-benar berjodoh gimana?"
Arum memutar kedua bola matanya. "Ya aku juga tidak tahu sih. Kan jodoh itu ada di tangan Tuhan, hehehe"
Arsyad masih fokus menatap lekat wajah Arum. "Semisal kedua orang tua kita berniat menjodohkan kita, apa kamu mau menerimanya?"
Arum berpikir sejenak. Sungguh di suasana seperti ini, ia bahkan tidak bisa berpikir apa-apa. "Kamu sendiri bagaimana?"
Arsyad hanya menyunggingkan senyumnya. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sepertinya aku akan menerimanya. Meski aku belum mencintaimu.
***
Arsyad menatap lekat perempuan yang saat ini sedang tidur nyenyak di samping kursi kemudinya. Senyum tipis pun tersungging di bibirnya.
Wanita ini jika di lihat dari dekat cantik juga. Bibirnya tipis, hidungnya mancung, bulu matanya lentik dan alis matanya punya tingkat ketebalan yang pas.
Arum menggeliat. Sesekali ia menguap merasakan kantuk yang begitu mendera. Ia mencoba membuka matanya dan terkejut karena ia telah tiba di rumahnya.
"Sudah puas tidurnya?", tanya Arsyad.
Arum tersenyum kikuk. "Eh, maaf ya, aku ketiduran. Kamu juga kenapa gak bangunin aku sih? "
"Mana tega aku bangunin orang yang tidurnya nyenyak gitu, sampai ngorok pula", jawab Arsyad.
Mata Arum terbelalak. "Ngorok?, jangan asal ngomong deh!!"
Arsyad hanya mengangguk. "Untung aku ini bukan orang jahat. Kalau aku orang jahat pasti_______"
"Pasti apa?", tanya Arum penasaran.
"Pasti udah aku bawa lari kamu, gak aku pulangin ke rumah, hahhahaha", jawabnya sambil terbahak.
Seketika Arum memukul lengan Arsyad. "Iiiihhhh kamu ngomong apa sih!!"
Arsyad masih terbahak. Seketika ia terdiam dan menatap lekat wajah Arum. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Arum. Semakin lama semakin dekat.
Deg!!!
Jantung Arum berdetak tak beraturan ketika jarak wajah keduanya semakin dekat. Jemari Arsyad kemudian menyentuh pipi Arum.
"Nih bulu matamu jatuh", ucapnya sambil menunjukkan sehelai bulu mata di jarinya.
Arum tersentak. "Eh?!!"
Ya Tuhan, ternyata cuma bulu mata. Aku kira dia bakalan..... ya ampun Rum... pikiranmu kok terlalu jauh gini sih...
Arsyad tersenyum simpul. "Jangan mikir macam-macam. Aku juga gak mau nyium kamu!!"
Arum mendengus. "Iddiihhh siapa juga yang mau dicium sama kamu. Dasar narsis!!"
Arum pun bergegas keluar dari mobil Arsyad. Arsyad hanya cekikikan di dalam mobil saat melihat punggung Arum dari balik kaca mobilnya.
Aku memang belum jatuh cinta kepadamu, tapi aku rasa hidupku akan selalu dipenuhi dengan kebahagiaan jika bersamamu.
.
.
. bersambung....
Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel keduaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah... happy Reading kakak...
Salam love, love, love💗💗💗
bagus critanya
sprtinya prnh baca tp lupa
Iya lah anggap aja gang lain ngontrak.
Sekarang Arumi sudah menjadi istri yang seutuhnya.
Smoga aja Arsyad sudah mantap hatinya dan mencintai Arumi.
Kalau minta baik2 pun pasti Arumi kasih koq karena dia juga mengharapkan lebih dari perbuatan kamu tadi.
Emang sikap kamu manis sama Arum, tapi aku agak kecewa aja yang sepertinya kamu menghindari sesuatu.
Aku pikir .mulai ada rasa di hati Arsyad tapi liat dia memilih tidur di lantai rasanya koq sedih ya......