NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 - Kasus Fraud Asuransi Komersial

Arga tidak tidur malam itu. Tidak juga malam berikutnya. Kalimat ayahnya terus berputar tanpa henti, "ibumu mungkin masih hidup", tetapi Arga melakukan apa yang mungkin akan dilakukan ayahnya: menyimpan emosi di dalam laci dan membuka Kodeks Mahendra.

Sebab sebelum mencari bayangan masa lalu, ia harus menguji senjatanya.

Berkas Dewantara tebalnya seratus dua belas halaman. Arga membaca semuanya lagi, kali ini dengan mata seorang penyusun strategi. Di halaman tujuh puluh delapan, ia menemukan yang dicari: operasi fraud asuransi komersial yang melibatkan Dewantara Properti, anak perusahaan Grup Dewantara.

Skemanya kotor, tetapi rapi. Dewantara Properti membeli bangunan komersial yang nilainya sudah jatuh, mengasuransikannya dengan nilai yang digelembungkan ke tiga perusahaan asuransi berbeda, lalu "kehilangan" properti itu dalam insiden-insiden yang terlalu menguntungkan. Kebakaran, banjir, penyerobotan, semuanya selalu disertai laporan ahli yang ditandatangani insinyur bayaran.

Perusahaan asuransi membayar. Uangnya kembali dalam keadaan bersih. Rp200 miliar selama empat tahun terakhir.

Di tengah rantai itu, sebagai mitra komersial Dewantara Properti dalam konsorsium gudang logistik di Jakarta Timur, ada Pradipta Investama.

Perut Arga menegang. Kamila Pradipta tidak tahu. Mustahil dia tahu. Keterlibatan Pradipta Investama sah, hanya kontrak sewa dan pengelolaan. Tetapi kalau kejaksaan membuka penyelidikan, perusahaan mana pun yang terhubung dengan konsorsium itu akan terseret. Dianggap ikut terlibat karena asosiasi. Sekalipun tidak bersalah, Pradipta Investama akan kehilangan berbulan-bulan dalam sengketa hukum dan menanggung kerugian reputasi bernilai besar.

Ini pertama kalinya Arga memakai Kodeks secara ofensif. Ia memilih dengan hati-hati: ia tidak akan menyerang keluarga Dewantara secara langsung. Belum. Ia akan menyerang pinggirannya, memotong satu pembuluh sekunder, lalu mengamati bagaimana tubuh itu bereaksi. Ia perlu mempelajari pola tanggapan mereka sebelum mengincar jantungnya.

Namun sebelumnya, ia harus melindungi orang yang berdiri di tengah baku tembak tanpa menyadarinya.

Arga mengambil ponsel.

Kamila mengangkat pada dering ketiga. Suaranya profesional, kering, efisien, seperti biasa.

"Arga. Aku tidak menyangka kamu menelepon."

"Aku perlu bertemu denganmu. Hari ini."

Jeda singkat. Kamila bukan perempuan yang suka jeda panjang.

"Di mana?"

"Kantorku. Pukul empat."

Kamila tiba tepat pukul empat. Setelan abu-abu, map kulit, rambut terikat rapi. Ia duduk di kursi yang ditunjuk Arga tanpa basa-basi. Mata gelapnya menyapu ruangan: meja sederhana, dua monitor, mesin kopi. Tidak ada lukisan, tidak ada ijazah, tidak ada tanda kesombongan. Kamila mencatat semuanya tanpa komentar.

"Kamu punya kontrak aktif dengan Dewantara Properti."

Itu bukan pertanyaan. Kamila mengangkat satu alis.

"Konsorsium gudang logistik di Jakarta Timur. Kontrak tiga tahun, diperpanjang enam bulan lalu. Ada apa?"

"Akhiri kontrak itu. Segera."

Kamila memiringkan kepala. Bukan karena terkejut, melainkan menilai. Ia sedang menghitung.

"Pemutusan lebih awal ada dendanya. Dan aku butuh alasan."

"Alasannya, Dewantara Properti terlibat fraud asuransi senilai Rp200 miliar. Dalam beberapa minggu, kejaksaan akan membuka penyelidikan. Perusahaan mana pun yang terkait dengan Dewantara dalam konsorsium itu akan dipanggil. Diaudit. Diekspos."

Keheningan berlangsung empat detik. Kamila tidak meminta bukti. Tidak bertanya bagaimana Arga tahu. Tidak mempertanyakan sumbernya. Ia hanya mengajukan satu pertanyaan.

"Hitungannya minggu atau hari?"

"Minggu. Tapi tidak banyak."

Kamila berdiri. Ia merapikan map di bawah lengannya.

"Aku butuh empat puluh delapan jam. Pemutusan kontrak harus lewat legal, dan aku butuh alasan formal yang tidak menimbulkan kecurigaan."

"Pelanggaran klausul lingkungan. Aku sudah memeriksa: gudang-gudang di Jakarta Timur tidak punya laporan dampak terbaru. Masa berlakunya habis dalam tiga puluh hari. Itu alasan nyata, bisa diverifikasi, dan tidak akan memunculkan pertanyaan tentang bagaimana kamu tahu sisanya."

Kamila mencerna informasi itu dalam diam. Arga melihat tepat saat perempuan itu paham, bukan hanya apa yang ia katakan, tetapi apa yang sedang ia lakukan. Melindunginya. Tanpa meminta imbalan apa pun. Untuk saat ini.

Kamila berhenti di ambang pintu. Ia menoleh. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda di wajahnya, bukan rasa terima kasih, itu terlalu jelas. Rasa hormat.

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih. Berutanglah padaku."

Kamila nyaris tersenyum. Nyaris. Lalu ia keluar dengan langkah mantap, langkah seseorang yang sudah menyusun strategi hukum di kepala bahkan sebelum mencapai lift.

Arga tinggal sendirian di kantor. Ia memandang monitor tempat Kodeks terbuka di halaman keluarga Dewantara. Seratus dua belas halaman. Dua puluh tahun kerja ayahnya. Ia baru saja memakai empat halaman. Masih tersisa seratus delapan.

Pradipta Investama mengakhiri kontrak dengan Dewantara Properti dalam empat puluh enam jam. Alasan formal: pelanggaran kewajiban lingkungan. Bersih, teknis, tidak bisa diserang.

Minggu berikutnya, Arga menyiapkan sebuah berkas anonim. Dua puluh delapan halaman, versi bedah presisi dari materi Kodeks, tanpa satu pun unsur yang bisa dilacak kembali kepadanya. Berkas itu ia kirim lewat pos, dalam amplop tersegel, ke kantor kepala jaksa yang menangani perkara korporasi di Jakarta.

Rafael mengurus logistiknya. Amplop dibeli di toko alat tulis pusat kota, cetakan dibuat di percetakan cepat dan dibayar tunai, lalu diposkan dari kantor pos di Bekasi. Tidak ada DNA, tidak ada sidik jari, tidak ada jejak digital.

Sepuluh hari kemudian, kejaksaan membuka penyelidikan terhadap Dewantara Properti. Fraud terhadap perusahaan asuransi. Pencucian uang. Dua jaksa ditugaskan. Kerahasiaan sebagian, tetapi surat perintah penggeledahan sudah dikabulkan.

Berita itu muncul di sudut kecil Kontan. Tiga paragraf, halaman tujuh, tanpa judul di sampul. Senyap. Hampir tidak terlihat.

Hampir.

Arga membaca berita itu di ponsel, duduk di kursi belakang mobil sementara Pak Jaya menyetir menembus lalu lintas jalan arteri kota. Ia tidak merasakan kepuasan. Yang ia rasakan seperti seorang insinyur ketika balok pertama sebuah jembatan dipasang: perjalanan masih jauh, tetapi pondasinya sudah berada di tempat.

Albert Dewantara menerima kabar itu pada hari Minggu, di ruang kerja penthouse-nya di Kebayoran Baru. Ia membaca pesan di ponsel. Meletakkan perangkat itu di meja. Ia tidak berteriak, tidak memaki, tidak menghancurkan apa pun. Albert Dewantara tidak pernah berteriak.

Ia memanggil putranya.

Eduard masuk tiga puluh detik kemudian. Jas lengkap meski hari Minggu, rambut rapi, mata awas. Ia menunggu sambil berdiri.

"Seseorang mengirim informasi ke kejaksaan. Tentang operasi gudang."

Eduard tidak bereaksi. Ia hanya memproses.

"Informasi dari dalam?"

"Informasi yang hanya bisa dimiliki seseorang dengan akses ke catatan internal kita. Nilai tepat. Tanggal tepat. Nama para nominee."

Albert memutar gelas wiski di antara jemarinya. Cahaya lampu meja memantul di kristal.

"Ada orang menyerang kita dari dalam. Temukan siapa orang itu sebelum aku kehilangan segalanya."

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!