Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Pertunjukan yang sangat bagus, Saiph.” Arina bertepuk tangan pelan. Kini ia akhirnya mengetahui identitas pria itu.
Seorang Restorator.
Karena itulah, muncul satu pertanyaan di benaknya. Mengapa seorang Restorator berada di manor Orion?
Sejauh yang Arina ketahui, Restorator adalah sosok yang sangat langka. Raja telah lama mencari seseorang yang memiliki kemampuan Pemulihan. Orang seperti Saiph seharusnya berada di sisi raja, bukan menjadi prajurit biasa di bawah komando Orion.
Kecuali...
Apa Orion tidak mengetahui identitas Saiph yang sebenarnya?
Jika Orion mengetahuinya, mustahil ia tidak mengirim Saiph ke istana untuk menjadi bawahan langsung raja.
“Kau seorang Restorator.” Tatapan Arina menajam. “Kalau begitu, keberadaanmu di sini pasti bukan sekadar sebagai prajurit Orion. Apa Orion mengetahui identitasmu?”
Mata Saiph sedikit membelalak. Bagaimana mungkin Arina dapat mengetahui identitasnya hanya dari satu pertunjukan singkat?
Dia sama sekali tidak bodoh… Tatapan Saiph berubah waspada. Ia tanpa sadar melangkah mundur beberapa langkah, menjaga jarak dengan Arina.
“Belum ada yang mengetahui identitas saya sebelumnya,” jawabnya jujur. “Sekarang, hanya Anda seorang yang mengetahuinya.”
Arina tidak menanggapi. Ia hanya memberi isyarat agar Saiph membantunya mengangkat beberapa kotak persediaan.
Saiph segera mengangguk dan mengangkat salah satu sisi kotak yang cukup berat.
“Kudengar Yang Mulia Raja sedang mencari seorang Restorator untuk berada di sisinya.” Arina memegang sisi kotak yang lain. “Mengapa kau tidak mengambil posisi itu?”
Saiph tidak langsung menjawab.
Saat mereka berjalan keluar dari gudang, ia melirik sekilas ke arah para penjaga. Mereka hanya memandang sebentar, disertai tatapan mengejek karena Saiph menjadi satu-satunya prajurit yang bersedia membantu Arina.
Barulah setelah mereka cukup jauh dari para penjaga, Saiph membuka mulut.
“Jika saya berada di istana, ruang gerak saya akan jauh lebih terbatas.”
“Aku akan membawa kotak ini ke dapur.” Arina berbelok menuju bagian belakang manor, tempat dapur berada. “Aku ingin membuat sesuatu.”
Mereka terus berjalan berdampingan.
“Kalau kau khawatir ruang gerakmu menjadi terbatas...” Arina menoleh ke arah Saiph. “Apa kau sebenarnya sedang mencari sesuatu... atau seseorang di manor ini?”
Saiph tidak sempat menjawab. Mereka telah tiba di dapur.
Beberapa pelayan yang melihat kedatangan mereka hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Hanya kepala koki yang segera menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa.
“Anda membutuhkan sesuatu, Nona?” tanyanya sopan.
“Ya.” Arina meletakkan kotak persediaan di atas meja. “Untuk makan malam nanti, siapkan Ayam Madu Embun, Asparagus Panggang, Tart Blueberry Hutan, dan Jus Anggur Hitam.”
Ia menyebutkan seluruh hidangan itu dalam satu tarikan napas.
Bukankah itu semua makanan kesukaan Tuan Orion?
Saiph memandang Arina sejenak. Dalam benaknya, ia mulai menduga bahwa wanita itu diam-diam berusaha menarik perhatian suaminya.
“Nona Arina!”
Suara seorang pelayan tiba-tiba memecah keheningan.
“Kau sedang mencoba merayu Tuan dengan makanan?” katanya sinis. “Huh! Itu tidak akan berhasil. Hanya Nona Stella yang mengetahui makanan kesukaan Tuan. Kau pasti memaksanya memberi tahu semua itu.”
Arina menoleh pelan. Sebelah alisnya sedikit terangkat. “Apa yang kau katakan?”
“Kau tidak mengerti?! Maksudku, kau—”
“Grace.” Suara Saiph yang tegas langsung memotong ucapannya. “Jaga sikapmu.”
Grace seketika terdiam.
“Sejak kapan kau memiliki hak untuk mengatasnamakan Nona Stella?”
“A-aku...” Wajah Grace langsung memucat. Ia menundukkan kepala sambil menelan ludah.
“Apa menurutmu Tuan akan senang mengetahui sikapmu barusan?” lanjut Saiph. “Nona Arina tetaplah istri Tuan. Selama berada di manor ini, dia harus diperlakukan dengan hormat.”
Suasana dapur langsung menjadi sunyi.
“Kembali bekerja.”
Grace mengepalkan kedua tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tidak berani membantah. Dengan napas yang masih memburu, ia berbalik dan kembali bekerja.
Melihat Grace dimarahi, para pelayan lainnya segera menundukkan kepala. Tak seorang pun lagi berani mendekati Arina. Mereka hanya berpura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing sambil sesekali melirik ke arah Saiph.
“Kau tidak perlu memarahinya,” ujar Arina sambil melirik para pelayan yang masih diam-diam mencuri pandang ke arahnya. “Setelah ini, mungkin akan muncul beberapa rumor baru.”
Ia dapat dengan mudah menebak apa yang sedang mereka pikirkan dan rencanakan. Namun, Arina tidak merasa perlu memedulikan hal-hal seperti itu.
Arina kemudian menoleh kepada kepala koki.
“Aku ingin makan malam siap sepuluh menit sebelum pukul delapan.”
“Baik, Nona.”
Setelah urusannya selesai, Arina segera meninggalkan dapur. Saiph mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
“Rumor apa yang Anda maksud, Nona?” tanya Saiph dengan nada bingung.
Arina tidak langsung menjawab. Ia terus berjalan menyusuri lorong manor hingga suasana di sekitar mereka kembali sepi.
“Siapa yang sedang kau cari?”
Pertanyaan itu membuat langkah Saiph terhenti sesaat. Arina menoleh kepadanya dengan tatapan tenang.
“Kita belum selesai membicarakan hal itu.”
“Saya tidak mencari siapa pun,” jawab Saiph. Namun, tatapannya tampak sedikit gelisah, seolah khawatir Arina akan terus mendesaknya.
“Baiklah.” Arina tetap melangkah tenang sambil memperhatikan suasana manor yang mulai lengang. “Kalau kau tidak ingin menjawabnya, aku tidak akan memaksa.”
Saiph menghembuskan napas pelan.
“Tapi...” lanjut Arina, “jika kau bersedia menjadi orang kepercayaanku di manor ini, mungkin kita bisa bekerja sama dengan baik.”
“Bekerja sama dalam hal apa?” tanya Saiph.
“Aku mungkin bisa membantumu menemukan apa yang sedang kau cari.”
Saiph mengernyit. “Anda bahkan tidak tahu apa yang saya cari. Jadi, bagaimana mungkin Anda bisa membantu saya?”
Arina menghentikan langkahnya. Perlahan, ia menoleh ke arah Saiph. “Berarti benar ada sesuatu yang sedang kau cari.”
Mata Saiph sedikit melebar.
Sial...
Ia baru menyadari telah terpancing oleh pertanyaan Arina.
Arina hanya tersenyum tipis, lalu kembali melangkah.
“Kalau nanti kau memutuskan untuk bekerja sama denganku,” katanya tanpa menoleh, “kau bisa mencariku.”
Setelah mengatakan itu, Arina meninggalkan Saiph yang masih berdiri terpaku di lorong.
Sementara itu, Arina melanjutkan langkah menuju kamarnya untuk menyelesaikan beberapa urusan yang telah direncanakannya.
Sesampainya di kamar, Arina mengambil buku catatannya lalu membawanya ke dekat jendela. Ia membuka halaman tengah yang masih kosong.
Seorang Restorator berada di manor ini. Dia menyembunyikan identitasnya dengan sangat baik. Dia mungkin sedang mencari seseorang.
Namun, siapa?
Arina menatap deretan tulisan yang memenuhi halaman. Tulisan itu menggunakan huruf yang hanya dapat dipahaminya sendiri.
Ia harus mengetahui siapa yang sedang dicari Saiph. Informasi itu akan memudahkannya menarik prajurit tersebut ke pihaknya. Untuk mewujudkan rencananya, ia membutuhkan bantuan Saiph.
“Pertemuan dengan pemimpin Asosiasi Telaga Hitam akan berlangsung kurang lebih lebih satu Minggu lagi.” Arina bergumam pelan. “Untuk saat ini, dia adalah pion utama.”
Ia mengalihkan pandangan ke taman belakang. Cahaya matahari sore membuat bunga-bunga di sana berkilauan tertiup angin.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Orion masuk dengan langkah berat. Gurat kelelahan tampak jelas di wajahnya.
“Semuanya baik-baik saja?” tanya Arina sambil menoleh sekilas.
“Ya.”
Jawaban Orion singkat.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjongkok di samping tempat tidur dan menarik sebuah peti kayu berukuran besar dari bawah ranjang.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Arin, menghampiri dengan rasa ingin tahu.
Orion mendongak. Tatapannya tajam.
“Bisakah kau diam? Aku tidak suka mendengar terlalu banyak pertanyaan darimu.”
“Kau belum lapar?” Arin mengabaikan nada kesal Orion. “Aku meminta kepala koki menyiapkan makanan kesukaanmu.”
Orion tidak menggubrisnya. Dengan gerakan agak kasar, ia membuka tutup peti itu.
Di dalamnya tersusun rapi berbagai senjata, perlengkapan perang, serta beberapa lembar peta yang telah digulung.
“Orion—”
“Diam, Arina!” Orion menggeram.
Ia meraih salah satu pedang dari dalam peti, lalu melemparkannya ke arah pintu.
Dentang keras memenuhi seluruh ruangan saat pedang itu menghantam lantai.
...***...
...Like, komen dan vote ...