Binar Ayudhisa Daneswara harus terpisah dengan kekasih nya Kenzie Janardana, sepasang kekasih saling mencintai itu harus menjalani LDR karena Kenzie harus mengambil S2 di luar negeri.
Binar tidak tau jika kepergian Kenzie bersama dengan sahabatnya Mozza yang diam-diam mencintai Kenzie dan selalu merasa tau tentang Kenzie kebiasaannya dan hobbynya.
Di karenakan kesibukan mereka perpisahan yang seharusnya masih bisa membuat hubungan mereka tetap terjalin akhirnya tidak pernah kontak lagi, mereka terpisah oleh jarak dan waktu.
Malam sebelum mereka berpisah Binar telah menyerahkan miliknya yang berharga ke Kenzie kekasihnya itu.
Bagaimana kisah cinta segitiga Binar-Kenzie-Mozza.. yuk ikuti ceritanya..
Salam,
ariista
🩷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenzie Ingin Pulang
Kenzie merasa dirinya tidak bisa fokus, tubuh dan pikirannya ingin segera sampai ke tanah air, ia tidak tahan jika tidak pulang, kerinduannya dengan kekasihnya tidak bisa di bendung lagi, apalagi ketika dirinya mendapatkan info dari dokter jika ia mengalami gejala couvade syndrome.
Apakah bener perkiraan kekasihnya waktu mau ditinggalkan yang bertanya bagaimana jika dirinya hamil. Keinginan Kenzie yang sudah sangat ingin pulang terus menghantui pikirannya.
Kenzie sudah merencanakan kepulangannya ke Indonesia dalam waktu seminggu. Ia sudah mempersiapkan semuanya.
Ponselnya berdering papa nya menelpon.
"Iya Pa, lagi di apartemen Pa, besok pa? Oke Pa,"
Kenzie menutup telponnya setelah papanya selesai bicara.
Kenzie melemparkan ponsel mahalnya ke kasur, ia meremas rambutnya. Rasanya ia ingin berteriak sekuat-kuatnya, ia sudah mempersiapkan semuanya untuk pulang ke tanah air tetapi harus cancel papa dan mamanya akan datang ke London besok untuk mengunjungi temannya yang mengundang anniversary pernikahan peraknya.
Besok malam dirinya harus ikut ke acara tersebut. Kenzie berjalan ke balkon kamarnya, membuka pintu dan duduk di sofa sambil mengambil sebatang rokok dan mengisapnya dalam menghembuskan asapnya kasar. Ia jarang menjamah rokok jika tidak benar-benar kalut.
Kepalanya terasa senat senut, ia sangat rindu dengan kekasih hatinya.
Sayang maafkan aku, apakah benar jika dirimu hamil, aku harus bertemu denganmu, sayang, aku akan datang, tunggulah aku.
Dada Kenzie terasa sesak, ia sebagai lelaki harus bertanggungjawab jika Binar hamil. Ia harus pulang dan menikahi kekasihnya tetapi apakah ia bisa mengatakannya kepada papanya. Bagaimana jika papanya tak setuju dan mengharuskan ia harus tetap di London dan melupakan Binar.
Tanpa terasa sudah 3 batang rokok ia habiskan. Kenzie yang tidak bisa menghubungi kekasihnya, tidak bisa pulang besok, merasa sangat kesal.
Kenzie sedang tidak ingin di ganggu ponselnya berdering kembali. Ia tidak memperdulikannya.
Kenzie Janardana lelaki tinggi pendiam dengan wajah tampan dengan tinggi 183 cm adalah seorang asisten direktur yang harus menyelesaikan S2 dan akan menggantikan papanya nantinya sebagai CEO di Janardana Grup yang bergerak di bidang property, resorts dan perhotelan.
Sebagai pewaris tunggal tentu saja Kenzie harus mampu mengatasi berbagai macam masalah. Salah satunya harus siap bersaing dengan perusahaan milik papi kekasihnya Daneswara Corp. Ekspetasi papanya ke dirinya begitu besar. Papanya berharap Kenzie mampu menjadi pebisnis handal yang akan menggantikan dirinya.
Malam semakin larut rasanya Kenzie enggan untuk beranjak dari tempatnya, di temani dengan minuman beralkohol, Kenzie mencoba melepaskan semua beban di hatinya.
Tanpa terasa airmata Kenzie menetes, jika sampai kekasihnya kenapa-napa ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Kenzie ingin saja melepaskan semua beban yang akan ia pikul, tetapi sebagai pewaris tunggal di keluarga Janadarna ia memikirkan kedua orang tuanya yang sudah membesarkan dirinya merawat, mendidik nya hingga bisa seperti sekarang ini. Baktinya kepada orang tua harus ia pikirkan juga, ia tidak ingin egois tetapi bagaimana dengan kekasihnya jika benar sedang mengandung darah dagingnya.
Angin malam yang dingin semakin menusuk ke tulang. Kenzie tidak juga beranjak dari tempat duduknya di sofa, matanya terpejam tetapi pikiran di benaknya berisik.
Kenzie akhirnya tertidur di atas sofa di balkon kamarnya, ditemani angin malam yang dingin.
Keesokan paginya Kenzie terbangun, tubuhnya terasa pegal-pegal karena tidur di sofa yang membuat tubuhnya kurang nyaman.
Kenzie berpindah masuk ke kamarnya melanjutkan tidurnya. Kenzie tidak mendengar bunyi ponselnya yang terus berdering.
Kenzie terbangun sudah pukul 12 siang, kedua orangtuanya akan datang malam ini dan langsung ke acara, Kenzie juga harus sudah siap malam nanti mengikuti perintah papanya.
Kenzie melihat jam menunjukkan pukul 12.15 siang, ia kaget sendiri selama itu dirinya tidur.
Kenzie beranjak dari tempat tidur ia akan segera mandi, di abaikannya ponselnya yang selalu berdering.
Mendapatkan siraman air dari shower tubuh Kenzie terasa segar. Selesai mandi hanya mengenakan handuk di pinggangnya Kemzie berdiri di depan cermin di atas wastafel. Melihat wajahnya di cermin, ia membersihkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar wajahnya. Kenzie melihat wajahnya tampak tampan dan segar. Rambutnya belum di pangkasnya.
Selesai mandi Kenzie melihat ponselnya. Banyak nya panggilan tak terjawab dari sahabatnya Mozza. Kenzie mengabaikannya. Kenzie tau palingan Mozza minta ditemani ke mall untuk belanja.
Kenzie memesan makan siang delivery, ia makan seorang diri. Selesai makan Kenzie tidak beranjak dari kursi nya. Ia memegang cincin yang melingkar di jarinya, cincin dari kekasihnya tersayang.
Semoga kamu baik-baik saja di sana sayang, maafkan aku belum bisa datang hari ini.
Kenzie ingin sekali pulang hari ini apa daya ia tidak bisa. Ambyar semua rencananya untuk pulang ke tanah air.
***
Sudah pukul 19.15 menit pesawat milik keluarga Janardana telah mendarat dengan selamat di bandara Heathrow London. Kenzie segera mendatangi papa dan mamanya.
Ia melajukan mobilnya ke salah satu hotel mewah yang ada di kota London.
Acara teman bisnis papinya yang stay di London. Mobil mereka sampai di hotel, Kenzie memarkirkan mobilnya Mama papanya turun dari mobil, mereka berjalan beriringan. Kenzie di belakang kedua orangtuanya.
Mereka memasuki lobby dan berjalan menaiki lift. Acaranya di adakan di lantai 5 di salah satu ballroom besar di hotel tersebut.
Pengawalan sangat ketat untuk masuk ke acara tersebut, maklum saja yang punya gawe pebisnis besar. Sebelum masuk ke ruangan mereka diperiksa terlebih dulu oleh petugas yang memang di tugaskan untuk memeriksa setiap tamu yang datang.
Kenzie sebenarnya gak suka jika tubuhnya di pegang orang lain. Dengan Mozza aja dia risih selalu di gamit lengannya oleh Mozza, meski sudah sering diingatkan Kenzie tapi tetap saja Mozza bergeming.
Mereka memasuki ballroom sangat luas dan mewah. Dengan dekorasi yang mewah dan elegan acara ini sangat prestisius. Hanya kalangan jet set yang berada di ruangan ini.
"Selamat datang Baskoro Janardana dan keluarga, " Hendrajaya teman bisnis Janardana yang punya gawe bersama istrinya yang masih tampak cantik berkeliling menyapa para tamu nya.
"Kenalkan ini putraku, Kenzie Janardana sebagai asisten direktur di bawah ku sebentar lagi ia akan di angkat menjadi CEO menggantikan diriku,"
Kenzie berjabat tangan ke pasangan suami istri tersebut.
"Tampan sekali putra mu, Bas,"
"Papi," panggil seorang gadis cantik seperti boneka, dengan tubuh tinggi dan sangat mulus. Wanita tersebut memakai pakaian yang sangat sexy, terusan model kemben berwarna merah dengan belahan samping memamerkan pahanya yang mulus.
"Clara, dari mana saja kamu, ini kenalkan dulu dengan teman papi dan anaknya yang tampan ini,"
"Selamat malam Om Tante saya Clara putri tunggal papa Hendrajaya, silahkan dinikmati hidangannya,"
Clara terus curi-curi pandang ke lelaki tampan di depannya.
"Kenzie kenalan dengan nona Clara dulu,"
Kenzie mengulurkan tangannya dengan malas.
"Kenzie,"
"Clara,"
Clara gadis dengan penampilan yang elegan membuat banyak pasang mata melirik ke arahnya dan juga Kenzie.
Perkenalan yang berkesan, dari sini membuat wajah Aleena Morgan tersenyum dengan ceria.
emang murahan sih gituan sebelum nikah.. wajar menderita itu karma..
paling ha suka cerita ceweknya gampangan laki2nya pecundang dan cemen.. gimana bisa bertanggung jawab sama keluarga bertanggung jawab sama keputusan sendiri jg ga bisa.. jd males bacanya
maaf thor