Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Tirai
Beberapa hari berlalu bagaikan angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. Gedung teater tua di pinggiran Ragonves kini menjelma menjadi panggung megah yang memukau. Lampu-lampu minyak berkilauan di setiap sudut, tirai beludru merah bergelombang lembut tertiup angin malam, dan dekorasi mewah menghiasi setiap jengkal panggung—ukiran naga, bunga-bunga sutra, dan replika kastil mini yang tampak nyata.
Di sudut ruang panggung, Angel Ranvell berdiri sendirian. Tangannya memegang naskah, tetapi matanya tidak fokus pada tulisan di hadapannya. Pandangannya tertuju pada dua sosok di kejauhan—Grey dan Ressa yang sedang berlatih adegan bersama.
Grey tertawa kecil saat Ressa salah mengucapkan dialognya. Ia dengan sabar membetulkan, menuntun gadis itu dengan lembut. Ressa tersenyum malu, pipinya merona di bawah cahaya lampu.
Angel menggigit bibirnya. Kuku-kukunya yang panjang menancap di telapak tangan.
"Seharusnya aku yang bersama Tuan Muda Grey," geramnya dalam hati. "Bukan pelayan sialan itu. Apa yang dia miliki yang tidak aku miliki?"
Ia mengamati Ressa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu memang cantik—rambut cokelatnya yang lembut, matanya yang berbinar, dan kulitnya yang bersih. Tapi Angel yakin, dirinya jauh lebih cantik.
"Tunggu dulu..."
Sebuah senyum kecil merekah di bibirnya. Matanya berkilat.
"Sepertinya aku mendapat ide bagus."
Angel membayangkan skenario itu—memberitahu Keilla Sienta tentang Grey yang kini dekat dengan Ressa. Bukankah Keilla adalah tunangan Grey? Jika Keilla tahu, pasti akan terjadi keributan. Dan dengan begitu, Grey tidak akan bisa bersama Ressa lagi.
Namun, senyum Angel sedikit memudar. Ia ingat bagaimana Grey akhir-akhir ini tampak berbeda. Tidak ada lagi semangat membara di matanya saat nama Keilla disebut. Bahkan ketika Vega menyinggung nama gadis itu, Grey hanya menjawab dingin.
"Dia seolah kehilangan semangat mengejar Keilla seperti dulu," pikir Angel ragu. "Apakah ini benar-benar akan berhasil?"
Ia menggigit bibirnya, lalu menggelengkan kepala.
"Tidak ada salahnya mencoba. Lagipula, aku tidak bisa membiarkan pelayan rendahan itu merebut Tuan Muda Grey dariku."
Angel melangkah pergi, meninggalkan panggung dengan senyum penuh tipu daya.
---
Di Kastil Ragonves - Lorong Dapur
Di balik pintu dapur kastil megah yang berdiri selama ratusan tahun, dua sosok bersembunyi dalam bayang-bayang. Aroma rempah dan daging panggang menyeruak dari balik pintu, tetapi mereka tidak peduli.
"Oi, Vega. Kenapa kita justru ke sini?" bisik Barteil Aerhas, tubuh tambunnya berusaha menyusut di balik pintu yang sempit. "Bukankah kita seharusnya berlatih teater?"
"Shh, diam saja!" Vega menutup mulut Barteil dengan tangannya. "Kita ke sini mau melihat wanita-wanita cantik. Bosan rasanya jika kita terlalu serius latihan."
Barteil melepaskan tangan Vega dengan kesal. "Memangnya siapa yang kau ingin intip?"
Vega tersenyum menyeringai, matanya berbinar nakal. "Tentu saja Nyonya Belinda Helrena. Dia target yang pas untuk aku... menghancurkan keluarga Sienta."
Barteil terkesiap. "Jangan gila, Vega! Bagaimana kalau Tuan Kenta tahu? Bisa mati muda kau!"
"Mendekati Nyonya keluarga Sienta bukanlah hal yang mudah," tambah Barteil dengan suara bergetar. "Selain dingin, wanita itu terkenal kejam pada siapa pun yang merendahkannya. Aku pernah dengar ada seorang pria yang berani memandangnya terlalu lama—kini ia tidak memiliki mata lagi."
Vega terkekeh pelan. "Hahaha! Jangan remehkan aku, Barteil. Meskipun tampangku biasa-biasa saja..." ia mengusap dagunya dengan percaya diri, "...percayalah bahwa tak ada yang lolos dari liciknya permainanku jika aku mulai serius."
Matanya menyipit tajam menatap ke dalam kastil. Dari celah pintu, ia bisa melihat sosok-sosok keluarga Sienta berjalan mondar-mandir di lorong utama.
"Sejak kecil aku dikenal sebagai anak ceroboh," pikir Vega dalam hati. "Tapi tak banyak yang tahu jika diriku adalah penghancur ulung. Banyak musuh kukalahkan hanya dengan penyamaran rapi. Memasuki area musuh sudah menjadi bagian dari hidupku."
Barteil menghela napas panjang, lalu tersenyum kecut. "Jika itu maumu... aku juga mau melihat Nona Clarisa. Pasti dia tampil menawan dari yang lainnya."
"Clarisa?" Vega mengangkat alis. "Kau suka gadis pendiam?"
"Ada pesonanya sendiri," sahut Barteil sambil tersenyum malu-malu.
Mereka berdua kembali bersembunyi setelah melihat rombongan keluarga Sienta mulai berdatangan. Pelayan-pelayan berlalu lalang membawa nampan perak berisi makanan. Para bangsawan berjalan dengan anggun, tertawa dan berbincang.
Vega dan Barteil menyembunyikan diri di balik tirai dapur, menunggu momen yang tepat.
---
Di Luar Gedung Teater - Bawah Pohon Tua
Grey duduk bersandar di batang pohon tua yang menjulang di halaman belakang gedung teater. Daun-daun berguguran perlahan, menari di udara sebelum jatuh ke tanah. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma rumput dan tanah.
Ia melamun, matanya menatap kosong ke langit yang mulai jingga.
"Vega dan Barteil..." pikirnya gelisah. "Kemana mereka pergi? Jangan-jangan mereka membuat masalah lagi?"
Ia tahu betul kebiasaan kedua temannya itu. Vega tidak bisa lepas dari wanita, dan Barteil selalu mengikutinya meskipun ragu. Grey mendesah.
"Mereka pasti pergi ke kastil Ragonves untuk mengintip wanita," tebaknya. "Aku tahu itu sebab dulu aku juga sering mengintip Keilla di dalam kastil."
Ia menggelengkan kepala, mencoba membuang kenangan itu.
"Lupakan saja mereka. Lebih baik aku fokus pada rencanaku."
Grey mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. Di atasnya tertulis coretan-coretan—nama, tempat, dan tanggal. Ia menatapnya dengan mata tajam, lalu bersiut pelan.
Tak lama, seekor burung merpati putih hinggap di bahunya. Grey mengikat kertas itu dengan hati-hati di kaki burung, lalu membisikkan sesuatu.
"Pergilah. Sampaikan ini pada alamat yang sudah kau tahu."
Burung merpati itu mengepakkan sayapnya dan terbang meninggalkan Grey, melesat ke angkasa yang mulai gelap. Ia terbang menuju suatu tempat di kejauhan, membawa pesan rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Grey menatap burung itu hingga menghilang di balik awan. Matanya menyipit.
"Semuanya berjalan sesuai rencana," pikirnya pelan. "Keluarga Sienta akan segera runtuh. Dan aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat."
Ia merasakan beban di hatinya—bukan hanya dendam, tetapi juga kesedihan yang ia kubur dalam-dalam.
"Maafkan aku, Keilla," bisiknya dalam hati. "Tapi kau memilihnya. Dan aku harus melindungi keluargaku—keluarga Vincentes—dari ancamanmu."
Angin berhembus lebih kencang, membuat rambutnya berkibar. Grey menutup matanya sejenak, lalu berdiri dan berjalan kembali ke dalam gedung teater.
Di dalam, Ressa masih berlatih sendirian di atas panggung. Saat melihat Grey masuk, ia tersenyum kecil.
"Tuan Grey, di mana saja Anda? Saya sudah menunggu."
Grey tersenyum balik, namun matanya tidak sepenuhnya hangat. "Hanya memikirkan sesuatu, Ressa. Mari kita lanjutkan latihan."
Ressa mengangguk, tetapi di matanya ada keraguan. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang berubah pada Grey—sesuatu yang gelap dan dalam.