NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adik

"Ini sup nya, Tuan. Sebagai pereda mabuk. Jangan lupa dihabiskan," ucap seorang wanita paruh baya sambil meletakkan semangkuk sup ayam hangat di atas meja. Aroma harumnya seketika tercium mengudara.

Vivian melirik sekilas ke arah pria berwajah dingin yang telah duduk di sana. Raynor tampak rapi dengan setelan jas yang melekat sempurna di tubuhnya.

Tak jauh berbeda dengan dirinya yang juga mengenakan pakaian rapi bak seorang wanita karir.

Saat sepasang mata tajam itu beralih menatapnya, Vivian seketika memalingkan wajah dengan cepat, berusaha menghindari tatapan itu.

Hingga setelah merasa tak lagi diperhatikan, perlahan ia kembali menatap pria itu. Pandangannya jatuh tepat pada sepasang bibir yang kini bergerak menyeruput kuah bening sup. Seketika itu pula, momen pagi tadi melintas kembali tajam di benaknya. Wajahnya perlahan memerah semerah mawar, jantungnya kembali berpacu kencang tanpa alasan.

"Tenang, Vivian... Lupakan saja hal itu. Kak Raynor sedang mabuk saat melakukannya. Dia pasti sama sekali tidak mengingatnya..." batinnya berusaha meyakinkan diri sendiri, berjuang melawan debaran yang tak kunjung meredam.

"Nona Vivian tak suka sup ayam? Atau Mbok buatkan makanan yang lain saja?" sapa wanita paruh baya itu ramah. Beliau adalah asisten rumah tangga yang sempat cuti pulang kampung beberapa hari, dan kini baru kembali bekerja saat Tuan dan Nyonya mereka pergi berlibur.

"Eh... tidak usah, Mbok. Aku suka sekali sup ayamnya," jawab Vivian sedikit canggung.

Ia pun mulai menyeruput kuah kaldu yang hangat itu perlahan. Bibirnya mengerucut lucu saat meniup kuah yang masih mengepul panas. Melihat itu, Raynor yang duduk di hadapannya diam-diam menelan ludah dengan kasar. Pandangannya seketika teralihkan, kembali teringat sesuatu yang terjadi pagi tadi... membuatnya harus berdehem pelan menyembunyikan gejolak serupa yang Vivian rasakan.

"Hmm... enak sekali masakannya, Mbok! Rasanya juara!" puji Vivian tulus, lalu mengacungkan kedua jempolnya tanpa sungkan.

Wanita paruh baya itu pun terkekeh kecil tersenyum senang. "Nona ini... pujiannya berlebihan sekali. Syukurlah kalau Nona Vivian suka. Kalau begitu Mbok lanjut mengerjakan yang lain di belakang ya. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, tinggal panggil saja Mbok."

"Siap, Mbok!" jawab Vivian riang.

Belum lama Mbok pergi, Satria datang dengan wajah ceria seperti biasa. Hanya saja kali ini sikapnya terasa lebih hangat dari biasanya. Ia sengaja memilih duduk tepat di samping Vivian.

Di hadapannya hanya secangkir kopi panas dan dua lembar roti gandum, namun matanya tak sekalipun beralih dari wajah gadis itu, senyumnya tak kunjung pudar.

Pelan ia menyolek lengan Vivian. "Vivian, bagaimana persiapan untuk hari pertama magang nanti?"

"A-aku... aku belum menyiapkan apa pun," jawabnya ragu sambil menunduk, merasa takut jika tidak sanggup membawa diri di lingkungan kantor.

"Sudah disiapkan semuanya. Bahkan aku sudah berpesan kepada orang-orangku di sana agar menjagamu dan tidak mempersulitmu," potong Raynor dengan yakin.

Vivian menatap Raynor dengan binar mata penuh kekaguman. Ternyata... di balik sikap dinginnya, dia sebenarnya sangat hangat dan perhatian.

Ia merasa tak nyaman dengan tatapan Satria yang sedari tadi terus tersenyum kepadanya. Dengan berani, ia justru membuka obrolan dengan Raynor, mengabaikan Satria di sebelahnya. Bukankah diabaikan, rasanya justru lebih menyakitkan daripada jika diperlakukan kasar...?

"Kak Raynor... aku sama sekali belum mengerti tentang dunia kerja maupun perkantoran."

Raynor yang semula sibuk menyendok makanannya, kini menatap lurus ke mata Vivian. "Lalu?"

"Bukan begitu Kak... aku hanya takut dan belum mengenal mereka." Suaranya melemah. Rasa trauma karena pernah direndahkan belum sepenuhnya pulih. "Bagaimana jika aku tidak mampu? Bagaimana jika mereka kembali mengejekku? Bagaimana jika aku tidak diterima?" Pikirannya mulai gelisah tak menentu.

"Akan ada senior yang membimbingmu. Kamu harus belajar dari bawah, Vivian. Di sanalah tempat yang tepat agar kamu bisa tumbuh dengan baik. Nanti jika sudah mahir dan paham sepenuhnya, aku pindahkan ke kantor pusat."

"Maksudnya... kita tidak satu kantor, Kak?" Vivian tampak panik.

Raynor mengangguk pelan. "Benar. Tapi tenang saja, kamu tak sepenuhnya sendirian. Ada Satria di sana."

Jawaban itu justru membuat Vivian semakin terkejut dan tambah panik. Lagi-lagi ia harus berada di tempat yang sama bersama Satria? Sungguh menyebalkan...

...****************...

Mobil melaju tenang membelah jalanan pagi. Raynor menyetir mobil dengan tenang, sementara Vivian duduk di kursi penumpang depan. Di kursi belakang, Satria tampak gelisah sesekali melirik jam tangannya.

Raynor sengaja mengantar mereka berdua hingga ke gerbang kantor cabang, sebelum melanjutkan perjalanan sendirian menuju kantor pusat.

Sesampainya di lokasi, Satria seketika berjalan terburu-buru.

"Vivian, kamu duluan saja, aku harus ke toilet segera!" Tanpa menunggu jawaban, ia berlari meninggalkan gadis itu di halaman depan.

Vivian terpaku sejenak, lalu beralih kepada security yang tersenyum ramah.

"Silahkan Neng, bisa tunggu di bangku sebelah sana," ucap satpam itu sopan.

"Terima kasih," balas Vivian tersenyum tulus.

Saat ia melangkah perlahan menuju tempat tunggu, suara bisik-bisik terdengar samar dari sekelompok karyawan yang lewat.

"Eh... katanya hari ini adik bos mulai magang di sini. Hati-hati, jangan sampai ada yang bermasalah dengannya. Itu pesan langsung dari Tuan Raynor..."

Hati Vivian seketika terasa hangat dan melunak. "Kak Raynor... dia benar-benar menjagaku dari jauh." Rasa percaya diri pun perlahan tumbuh di dadanya.

Ia pun melangkah mendekati seorang gadis yang tampak dikerumuni beberapa karyawan. Gadis itu terlihat baru pula, sama sepertinya. Namun saat Vivian makin mendekat, para karyawan yang tadi mengerumuninya perlahan pergi meninggalkannya.

"Hai..." sapa Vivian ramah. "Kamu juga anak magang ya?"

Gadis itu menoleh, menatapnya sekilas. "Iya." Jawabnya singkat, terdengar ramah namun terkesan dingin.

"Perkenalkan, namaku Vivian." Vivian mengulurkan tangannya dengan senyum.

Gadis itu menyambut uluran tangan itu, menatap lurus ke manik mata Vivian. "Namaku Bila."

Belum sempat Vivian menyambung ucapan, seorang karyawan yang lewat tiba-tiba menyapa Bila dengan hormat.

"Selamat pagi, Nona Bila. Senang sekali akhirnya kami bisa bertemu langsung dengan adik Tuan Raynor di sini."

Vivian tertegun di tempat. Matanya membelalak tak percaya menatap gadis di hadapannya, dan karyawan yang tak jauh darinya.

Adik...?

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!