Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Keheningan pun seketika menyelimuti ruangan itu. Tak seorang pun berani bersuara. Clark tetap tenang, tak sedikit pun menampakkan tanda-tanda kekecawaan atau kemarahan di wajahnya.
Justru Dante yang perlahan tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan bahwa keputusan itu telah bulat dan tak dapat diganggu gugat oleh siapa pun.
"Apakah kalian kini sedang mencarikan istri untukku tanpa sepengetahuanku?" tanyanya pelan namun tegas.
Tak ada yang berani menjawab.
"Karena jika memang demikian..." Dante menggenggam tangan Clark yang tergeletak di atas meja, menatapnya sekilas dengan pandangan yang begitu lembut sebelum kembali menatap kerabat-kerabatnya. "...kalian terlambat. Sebab aku sudah menemukannya. Dan tak ada satu pun di dunia ini yang mampu menggantikannya."
Wajah Freya seketika tertunduk. Jari-jemarinya mengepal erat di bawah permukaan meja yang tak terlihat siapa pun. Clark menyadarinya dengan jelas. Namun hatinya tak merasa menang.
Justru sebaliknya, ada rasa iba yang muncul di dadanya. Dari tatapan mata Freya yang tak pernah lepas dari Dante sejak tadi, Clark paham betul bahwa wanita itu telah menaruh harapan yang begitu besar selama bertahun-tahun lamanya.
Namun rasa iba itu tak akan membuatnya mundur selangkah pun. Bukan karena ia bersaing dengan siapa pun, melainkan karena ia mencintai pria yang kini berdiri di sampingnya itu sepenuh jiwanya.
"Aku paham sepenuhnya kekhawatiran kalian atas masa depan keluarga ini," ucap Dante kembali memecah kebisuan, suaranya terdengar tegas namun tetap menjaga kesopanan. "Namun ketahuilah, pernikahanku bukanlah urusan dagang yang dapat ditukar dengan keuntungan atau kedudukan tertentu."
Pria tua itu mengerutkan kening tak setuju.
"Namun kestabilan keluarga ini sangat bergantung pada ikatan yang kau jalin, Dante."
Dan saat itulah Dante menatap istrinya dengan pandangan yang begitu dalam dan tulus.
"Dan Clark-lah yang memberikannya kepadaku. Sejak hari pertama aku menyandingkan hidup dengannya, tak pernah sekalipun aku merasa menyesal."
Dante menatapnya lekat-lekat seakan dunia di ruangan itu hanya tersisa mereka berdua saja.
"Justru sebaliknya. Bersamanya aku baru menyadari bahwa hidup bukanlah sekadar tentang kekuasaan yang harus dijaga, musuh yang harus dihadapi, atau nama keluarga yang harus dipertahankan. Hidup ternyata juga berarti memiliki tempat untuk pulang yang selalu menyambutmu dengan hangat."
Suaranya terdengar begitu lembut saat menatap wajah Clark yang mulai memerah.
"Dan Clark adalah rumah itu bagiku."
Keheningan kembali menyergap ruangan yang megah itu. Tak seorang pun menyangka bahwa pemimpin yang begitu dingin dan ditakuti itu ternyata mampu mengucapkan kata-kata yang begitu menyentuh hati di hadapan mereka semua.
"Cukup! Rapat ini kami anggap selesai."
Suasana pun seketika berhamburan. Para kerabat mulai berdiri satu per satu, meninggalkan ruangan itu dengan tatapan yang tak henti-hentinya berpandangan antara sosok Dante dan Freya.
***
Pintu besar gedung keluarga Luca perlahan tertutup rapat di belakang sosok Dante dan Clark yang baru saja melangkah keluar.
Begitu terlepas dari suasana yang menekan itu, Clark seketika mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Ia baru menyadari betapa tegangnya urat-urat di keningnya sepanjang waktu itu, seakan beban berat tak kasat mata menyandera napasnya sendiri.
Dante yang berjalan di sampingnya pun tak luput memperhatikan perubahan kecil pada raut wajah istrinya. Tatapannya melembut seketika.
"Merasa lelah?" tanyanya pelan.
Clark mendongak menatapnya, lalu mengangguk pelan. "Sedikit saja."
"Apakah kau mulai menyesal telah ikut bersamaku ke sini?"
Clark justru menggeleng tegas. "Sama sekali tidak, mana mungkin itu terjadi.."
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭