AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
"Al, ini makin parah. Lihat nih," kata Saka, menyodorkan kembali layar itu ke wajah Al. "Ada yang komen: "Sebaiknya kalian berhati-hati pada Al, atau kalian akan jadi tumbal selanjutnya!"
"Wah, ini sudah kelewatan, Al! Mereka mikir kau pake tumbal!"
Mendengar kata itu, tatapan mata Al yang tadinya dingin langsung berubah menjadi tajam.
"Ketikannya sudah tidak pakai otak," desis Al. Ia mengambil kembali ponselnya dengan sentakan kasar.
"Terus sekarang kita harus gimana, Al?" tanya Saka panik. Nafsu makannya yang menggebu-gebu tadi lenyap tak berbekas.
"Kalau besok kita datang ke sekolah, kita pasti bakal jadi pusat perhatian. Semua orang bakal bisik-bisik di koridor," kata Saka.
Al menarik napas dalam-dalam. Ia mematikan layar ponselnya, lalu membalikkan gawai tersebut di atas meja.
"Biarkan saja dulu untuk malam ini," kata Al mengejutkan Saka.
"Lho? Kok dibiarkan?!" Saka melotot, tidak terima. "Lu mau difitnah jadi dukun pesugihan se-kabupaten? Kita harus lapor admin web sekolah, atau minimal lu bikin status klarifikasi!"
Al menggelengkan kepala, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya. "Klarifikasi di saat netizen sedang haus darah itu percuma, Sak. Mereka tidak butuh kebenaran, mereka cuma butuh tontonan. Kalau aku merespons sekarang dengan emosi, mereka justru merasa menang karena berhasil memancingku."
"Tapi, Al..."
"Dengar, Saka," potong Al, menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Biarkan mereka menari-nari di atas fitnah itu sampai puncaknya. Biarkan Deno dan kawan-kawannya merasa mereka di atas angin. Besok di sekolah, kita lihat seberapa jauh mereka berani bertingkah di depan mukaku."
Saka menelan ludah, melihat kilat keyakinan di mata Al. Ia tahu betul, jika Al sudah seberani ini, berarti sahabatnya itu punya kartu as yang siap dikeluarkan.
"Lu... punya rencana?" tanya Saka berbisik.
Al tidak menjawab langsung. Ia kembali meraih garpu dan pisaunya, lalu memotong sepotong daging cumi bakar yang sudah agak dingin.
"Rencana terbaik adalah membalas mereka dengan cara yang paling elegan," ucap Al sebelum menyuap makanan itu. "Sekarang, habiskan lobstermu. Jangan biarkan makanan mahal ini terbuang percuma hanya karena ketikan orang-orang bodoh yang iri. Kita butuh energi penuh untuk menghadapi mereka besok."
Meskipun hatinya masih dongkol, Saka akhirnya mengangguk.
Ia kembali mengambil alat makannya, bersiap mendampingi Al apa pun yang akan terjadi di sekolah esok hari.
Setelah makan, mereka pun pergi ke mall.
Langkah Al terlihat santai dan percaya diri, sementara Saka terus berjalan sedikit di belakang, sesekali membetulkan posisi merahnya yang sedikit lusuh.
"Al, kita mau ke mana lagi? Ini udah malam banget," tanya Saka, dengan nada cemas.
Al menghentikan langkah tepat di depan sebuah boutique busana kelas atas.
Ia menoleh dan memegang lengan kemeja Saka. "Masuk dulu. Kamu butuh pakaian baru buat acara sekolah minggu depan, kan?"
"Tapi..."
Belum sempat Saka menyelesaikan protesnya, Al sudah menariknya masuk.
Seorang pelayan berjas rapi menyambut mereka dengan senyuman ramah.
Al langsung mengibaskan tangannya santai. "Pilihkan beberapa setelan kemeja casual, jaket kulit, dan celana bahan yang pas buat teman saya ini. Sekalian sepatu kulit dan tas punggung yang paling bagus."
Saka melotot, matanya membelalak melihat label harga yang tertera pada salah satu kemeja gantung di dekatnya.
Angka nol di belakangnya membuat dadanya berdebar kencang. Ia meremas ujung bajunya sendiri, melangkah mendekati Al, lalu berbisik panik.
"Al, gila kamu ya? Kemeja Begini aja harganya bisa buat bayar uang SPP ku tiga bulan! Nggak usah, ayo keluar aja!"
Al justru terkekeh pelan. Ia mengambil sebuah jaket berwarna navy dan menempelkannya ke dada Saka, mengukur ukurannya secara kasat mata. "Pas banget warna ini di kamu. Ambil ini juga, Mas," ujar Al pada pelayan.
"Al! Dengar aku dulu!" bisik Saka lagi, lebih tegas kali ini. "Aku beneran nggak enak. Tadi kamu udah traktir aku makan di restoran mewah. Sekarang malah mau beliin baju, tas, sama sepatu sebanyak ini. Mau ditaruh mana mukaku?"
Al menghentikan memilih bajunya. Ia menatap Saka lurus-lurus, lalu tersenyum hangat yang tulus.
Ia melangkah mendekat, lalu menepuk-nepuk pundak Saka dengan pelan.
"Nggak usah dipikirin soal harga atau rasa nggak enak itu, Saka. Aku beliin ini semua bukan karena kasihan atau mau pamer," kata Al lembut. "Kamu itu teman terbaikku. Selama ini kamu selalu ada pas aku lagi di titik terendah, dengarin curhatku sampai subuh tanpa pernah minta balasan apa-apa."
Saka menunduk, menatap jejeran kantong belanjaan berlogo merek ternama yang sudah terkumpul di dekat kasir. "Tapi ini terlalu banyak, Al..."
"Nggak ada kata terlalu banyak buat sahabat sendiri," potong Al cepat sambil tersenyum lebar. "Udah, terima aja. Anggap ini investasi biar teman baikku ini tampil paling keren. Sekarang, coba sepatu yang itu, cepat!"
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...