....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seolah pacar
[Cerita ini ringan, mungkin bakal santai dan berjalan pelan ya. konflik bakal datang secara perlahan. Happy reading guys]
Pukul 15.15. Parkiran kampus Eastbridge University masih dipenuhi mahasiswa yang baru selesai kuliah. Matahari sore menyorot aspal dan memantulkan cahaya ke bodi kendaraan.
Cheyrin melangkah keluar dari gedung dengan raut wajah datar. Ia pendiam, tidak banyak bicara, dan selalu tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tas selempang di bahunya berisi laptop dan buku sketsa untuk pekerjaan paruh waktu.
Di ujung parkiran, suara mesin Ninja 250R hitam doff terdengar halus. Jayden bersandar pada motornya, mengenakan jaket bomber kebesaran. Helm tergantung di spion. Meskipun usianya satu tahun lebih tua dari Cheyrin, tingkah lakunya justru lebih kekanak-kanakan. Ia mudah tertawa, suka mengganggu, dan akrab dengan semua orang.
Begitu melihat Cheyrin, mata Jayden langsung berbinar. Ia berjalan cepat menghampiri tanpa menunggu disapa.
"Akhirnya putri es keluar juga," seru Jayden, lalu langsung merampas tas Cheyrin. "Wih berat banget. Lo nyolong batu bata dari lab arsitek ya?"
Cheyrin hanya menatapnya sekilas. "Buku."
"Nah makanya. Pacar— eh, maksud gue temen, nggak usah bawa buku segede gaban pulang sore," kata Jayden cepat, lalu nyengir lebar seolah tidak terjadi apa-apa.
Cheyrin tidak menanggapi candaan itu. Ia sibuk mengikat rambutnya, sama sekali tidak peka terhadap maksud tersirat dalam ucapan Jayden.
Jayden menyodorkan helmnya. "Pakai ini. Wangi. Gue semprot parfum tadi biar lo betah di bonceng gue." Ia lalu membuka jok motor dan mengeluarkan permen mint. "Nih, biar nggak ngantuk di jalan. Anggap aja uang jajan dari pacar lo."
"Jay..."
"Apa? Gue bercanda doang. Santai aja. Anggap aja gue pacar bayaran lo yang tugasnya nganter jemput," ujarnya sambil tertawa kecil.
Cheyrin menghela napas pelan, lalu naik ke boncengan. Ia tetap menjaga jarak, memeluk tasnya erat. Bagi Cheyrin, semua itu hanya candaan biasa. Jayden memang selalu seperti itu kepada siapa saja.
Dari kejauhan, Juno dan Steven menatap sambil menggeleng. "Tua-tua keladi. Kelakuannya kayak anak SMP naksir ketua OSIS," gumam Steven.
Motor menyala pelan. Cheyrin duduk diam di belakang tanpa menyentuh punggung Jayden. Sementara Jayden di depan menahan senyum, berpikir dalam hati: "Kapan ya lo sadar kalau gue rela muter jauh tiap sore cuma buat nganter lo?"
Motor Ninja hitam doff berhenti tepat di depan gerbang kos Cheyrin. Bangunan dua lantai. Cat krem. Dengan pagar hitam tinggi. lingkungannya cukup tenang. Lampu jalan di depan kos belum menyala karena masih sore.
Cheyrin turun dengan gerakan cepat. Ia mengambil tasnya dari tangan Jay tanpa banyak bicara. Wajahnya tetap datar, seolah perjalanan tadi hanyalah rutinitas biasa.
Jayden melepas helmnya, lalu bersandar pada motor sambil tersenyum nakal. Rambutnya berantakan terkena angin. Sikapnya jauh dari kesan kakak tingkat yang dewasa. Ia justru tampak seperti adik kelas yang sedang mencari perhatian.
"Gimana? Lancar kan perjalanannya? Aman, nyaman, ada hiburannya gue," ujar Jay sambil menepuk jok motornya. "Nanti jam 5 gue jemput lagi ya. Gue anter lo berangkat kerja ke kafe itu. Anggap aja layanan antar-jemput pacar 24 jam. Gratis. Nggak ada biaya admin."
Cheyrin menatapnya sekilas. Ekspresinya tidak berubah. "Nggak usah. Gue bisa naik angkot."
"Angkot jam 5 sore? Isinya manusia sarden, Chey. Lo mau gepeng?" Jayden mengerutkan dahi, lalu terkekeh. "Udah, gapapa. Anggap gue sopir pribadi lo. Job desk gue: nganter putri es biar nggak meleleh di jalan."
Cheyrin mengangguk kecil. Jawabannya singkat dan datar seperti biasa. "Makasih, Jay."
Ia berbalik dan berjalan masuk ke gerbang kos tanpa menoleh lagi. Langkahnya tenang, tanpa ragu.
Jayden masih berdiri di tempat, menatap punggung Cheyrin sampai pintu kos tertutup. Ia menghela napas, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri. "Makasih doang? Nggak ada iya, jemput ya? Hadeh, keras kepala banget sih anak ini."
Pukul 16.10. Kamar kos Cheyrin berukuran 3x4 meter. Tidak luas, tetapi tertata sempurna. Buku berjajar rapi berdasarkan tinggi. Baju dilipat presisi di lemari. Meja belajar bebas debu.
Cheyrin memang telaten merawat diri dan ruangnya. Kerapian adalah satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan penuh.
Ia merebahkan diri di kasur tanpa berganti baju dulu. Mata menatap langit-langit kosong. Tubuh lelah, tapi pikirannya tetap tenang. Ia pendiam bukan karena sombong. Ia hanya lelah berbicara.
Ponsel di meja bergetar. Nada deringnya sama seperti biasa, tetapi Cheyrin sudah tahu siapa di seberang tanpa melihat layar.
Ia menggeser tombol hijau dengan ekspresi datar. "Halo."
"Chey, pulang. Mama sama Papa udah baikan. Rumah ini sepi tanpa kamu," suara ayahnya terdengar berat, dipenuhi rasa bersalah.
Cheyrin memejamkan mata. "Aku nggak mau, Pa."
"Jangan kekanak-kanakan. Kamu anak satu-satunya. Perusahaan, rumah, semua buat kamu nanti. Ngapain ngekos kayak gini? Capek-capek kerja di kafe."
"Justru karena itu aku di sini," jawab Cheyrin pelan tapi tegas. "Aku capek sama situasi rumah. Capek jadi penengah kalian. Capek pura-pura keluarga kita normal."
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. "Kamu mau hidup susah demi apa?"
"Demi tenang," jawab Cheyrin singkat.
Panggilan diputus sepihak oleh ayahnya. Cheyrin meletakkan ponsel di meja, lalu menarik selimut sampai ke dada. Wajahnya tetap datar. Tidak ada air mata, tidak ada amarah. Hanya kelelahan yang ia simpan rapat.
Ia memilih kos kecil ini, kerja paruh waktu di kafe, kuliah sendiri. Bukan karena kekurangan uang. Tapi karena ini satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura.
Di luar, ia anak orang kaya yang kabur dari rumah. Di dalam kamar ini, ia hanya Cheyrin. Sendiri, tapi bebas.
Pukul 16.55. Gerbang kos Cheyrin tampak sepi. Udara sore cukup tenang, hanya terdengar suara kendaraan yang melintas sesekali.
Suara mesin Ninja 250R berwarna hitam dof terdengar mendekat dari ujung jalan. Jayden datang tepat waktu, seperti kebiasaannya. Ia mengenakan jaket bomber yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Helm tergantung di tangan kanan. Matanya tetap tajam memperhatikan lingkungan sekitar.
Cheyrin keluar dari gerbang tepat pukul 17.02. Raut wajahnya datar seperti biasa, tetapi sorot matanya tampak murung. Percakapan dengan ayahnya beberapa saat sebelumnya masih membekas di pikirannya.
Begitu melihat Cheyrin, Jayden langsung tersenyum lebar. "Tuh kan, putri es keluar dari freezer tepat waktu. Disiplin banget pacar— eh, temen gue."
Cheyrin mengabaikan kata "pacar" yang sengaja diucapkan Jayden. Ia menerima helm yang disodorkan. "Makasih."
"Enggak perlu berterima kasih. Itu memang tugas gue," jawab Jayden sambil menyalakan mesin motor. Nadanya terdengar ceria, tetapi matanya tidak luput mengamati ekspresi Cheyrin. Ia cukup peka terhadap perubahan kecil pada diri Cheyrin. "Lo kenapa? Muka lo kayak habis disuruh ngerjain skripsi sepuluh bab."
Cheyrin menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."
"Bohong. Murungnya jelas banget. Udah, cerita aja sama gue. Gue kan pendengar yang baik. Ditambah lagi gue lucu. Paket lengkap," ucap Jayden dengan nada bercanda, tetapi suaranya sengaja dilembutkan.
Cheyrin hanya mengikat rambutnya dan duduk di boncengan. Jarak di antara mereka tetap terjaga sekitar lima sentimeter. "Udah, jalan. Nanti telat."
Jay menghela napas kecil. Ia tidak memaksa. Jika Cheyrin mengatakan tidak apa-apa, berarti ia memang belum ingin bercerita.
"Nih, pegang," Jayden mengeluarkan permen mint dari saku jaketnya lalu menyodorkannya. "Untuk ngilangin murung. Katanya permen bisa memperbaiki suasana hati. Kalau nggak berhasil, gue masih punya cadangan candaan bapak-bapak."
Cheyrin menerima permen itu tanpa banyak bicara. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat, sekitar satu milimeter. Hampir tidak terlihat, tetapi cukup bagi Jayden untuk menyadarinya.
Motor melaju perlahan meninggalkan gang kos. Jayden sengaja tidak memacu kecepatan. Ia memahami bahwa Cheyrin tidak menyukai angin kencang ketika sedang tidak bersemangat.
Ketika berhenti di lampu merah, Jayden sedikit memutar tubuhnya ke arah belakang. "Chey, lo tahu nggak perbedaan lo sama WiFi?"
Cheyrin tidak menjawab.
"Lo bikin gue pengin konek terus," kata Jayden sambil tertawa kecil.
Cheyrin tetap diam. Akan tetapi, raut murung di wajahnya berkurang sedikit.
Jayden tersenyum dalam hati. Misi pertamanya untuk mengusir murung Cheyrin berhasil.
Jayden ezakiel arran