Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Evren beberapa kali mengecek pohon yang mereka lewati untuk memastikan bahwa mereka tidak melewati jalur yang sama. Karena pohon di hutan ini semuanya terlihat sama. Semakin jauh mereka berjalan, Xavier pun mulai meragukan arah yang mereka tuju. Karena tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan segera keluar dari hutan.
“Apa jalan kita benar?” tanyanya sambil melihat sekeliling.
“Kita tidak kembali melewati tanda yang sudah dibuat, artinya kita terus maju bukan berputar.”
Xavier kembali diam, lalu telinganya berkedut saat mendengar suara gemericik air. Ia mencoba menajamkan pendengarannya dan suaranya pun terdengar semakin jelas.
“Evren, aku mendengar suara air,” ucapnya memberitahu Evren dengan suara yang cukup antusias.
Evren menoleh ke arah Xavier lalu diam sebentar. Ia mencoba ikut mendengarkan dan memang benar. Terdengar suara gemericik air dan ia merasa kalau lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada saat ini.
“Mungkin ada sungai kecil di sekitar sini, kita ikuti suaranya. Persediaan air minum sudah habis kan?”
Xavier mengangguk mengiyakan ucapan Evren. Mereka berdua terus maju ke depan mengikuti suara air yang mereka dengar. Lalu mulai terlihat aliran air sungai tidak jauh dari jalur mereka.
“itu dia!” tunjuk Xavier saat melihat sebuah sungai di sisi kanan mereka.
Evren membantu Xavier turun lalu menuntun kudanya ke tepi sungai. Xavier langsung membasuh mukanya dan merasakan dingin yang menusuk tulangnya. Terasa sangat segar setelah seharian dalam perjalanan tanpa beristirahat.
Sedangkan Evren sibuk mengikat kudanya di sebuah batang pohon di tepi sungai. Memastikan kudanya bisa tetap minum dan dia juga bisa sambil mengisi kembali persediaan minum mereka.
“Rasanya sangat dingin,” Ucap Xavier setelah membasuh wajahnya.
Evren menoleh sekilas dan hanya tersenyum mendengarnya. Ia memasukkan wadah minumnya ke dalam air dan secara perlahan wadah itu kembali terisi.
“Arah kita sudah benar, tujuan kita ke daerah pegunungan dan sungai ini mengalir berlawanan dengan arah kita datang,” ucap Evren sambil memperhatikan arah aliran sungai tersebut.
“Apa kita mengikuti aliran sungai saja?” Tanya Xavier.
“Tidak perlu, sungai bisa berkelok. Kita cukup terus berjalan lurus saja dan secepatnya keluar dari hutan.”
“Kalau tersesat?”
“Selama kita berjalan lurus, tidak akan tersesat. Tujuan kita pegunungan dan pegunungan tidak akan berpindah-pindah,” jawab Evren.
“pegunungan di depan kita hanya satu yaitu Draven. Selama kita terus berjalan ke arah pegunungan, kita tidak akan tersesat,” jelasnya lagi yang langsung disambut anggukan oleh Xavier.
Setelah wadah minumnya terisi semua, Evren mengambil air dengan telapak tangannya lalu meminumnya. Membasahi tenggorokan yang sudah terasa kering sejak tadi. Ia juga membasuh wajahnya sama seperti yang tadi dilakukan oleh Xavier.
“Yang penting sekarang kita bisa segera keluar dari hutan ini. Semakin lama disini akan semakin berbahaya. Ada banyak hewan buas dan di belakang masih ada orang-orang yang mengejar kita.”
Xavier mengangguk setuju dengan ucapan Evren. Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Di titik ini, Evren cukup optimis bahwa kelompok pembunuh itu tidak akan secepat itu mengejar mereka. Hutan ini terlalu lebat dan sunyi. Mereka harus berhati-hati atau bisa-bisa malah tersesat. Kemungkinan terburuknya adalah menjadi santapan hewan buas.
Keduanya berjalan kembali ke tanda terakhir yang dibuat Evren, lalu kembali berjalan ke arah berlawanan dari arah mereka masuk hutan. Medannya cukup sulit karena jalan yang dilewati terasa seperti belum pernah dilalui manusia. Entah berapa lama mereka berjalan, tidak tahu apakah masih malam atau sudah siang karena tidak ada cahaya yang menembus masuk.
“Evren,” panggil Xavier. Ia merasa terlalu nyaman duduk di atas kuda, sedangkan Evren sudah berjalan cukup lama sejak mereka memasuki hutan. Bahkan ia juga yang harus memberi tanda di pohon, mengisi kembali bekal minum dan merawat kuda yang ditungganginya.
“Hmm?”
“Mau gantian?”
Evren menoleh menatap Xavier yang duduk di atas kuda yang ternyata juga tengah menatap dirinya.
“Bukankah cukup berjalan lurus lalu memberi tanda setiap berapa ratus meter?” Ucap Xavier lagi mencoba meyakinkan bahwa dirinya juga bisa diandalkan di situasi seperti ini.
Mendapat anggukan dari teman seperjalanannya, Xavier langsung melompat turun dari kuda. Tentu saja hal itu membuat Evren sedikit terkejut karena ia kira Xavier cukup lemah dan tidak bisa melompat.
“Serahkan padaku, aku akan membawa kita keluar dari tempat ini,” Ucapnya dengan penuh percaya diri.
“Ya, kuharap begitu.”
Setelah bertukar posisi, Evren bahkan tidak berani melepas pandangannya dari setiap jalan yang mereka lalui. Ia masih tidak mempercayai pemuda bangsawan itu. Tapi sepertinya ia memang harus mempercayainya saja karena tidak lama kemudian, akhirnya ada sinar matahari dari arah depan.
“Evren, ada cahaya!” Teriak Xavier dengan begitu antusias. Setelah berjam-jam berjalan di dalam kegelapan, akhirnya mereka melihat jalan keluar juga. Dan setelah keluar, baru mereka tau kalau hari sudah pagi menjelang siang.
Evren akhirnya bisa bernafas lega karena satu jalan sudah berhasil dilewati lagi, mereka hanya perlu turun ke lembah lalu naik ke atas pegunungan untuk mencapai perbatasan Draven.
Tanpa mereka sadari, tidak terlalu jauh di belakang mereka kelompok pembunuh itu menemukan tanda yang ditinggalkan Evren di pohon. Setelah beberapa kali berputar-putar, mereka tidak sengaja menemukan tanda di pohon. Berkat itu juga mereka bisa semakin memangkas jaraknya dengan Evren.
Sementara itu, Evren membantu Xavier naik ke atas kuda lagi kemudian memacu kudanya melewati padang rumput dan mencari jalan untuk turun ke lembah. Di bawah sana ada aliran sungai besar dan dari lokasinya mungkin cocok untuk beristirahat sejenak sebelum mulai mendaki.
Xavier merasakan angin segar di pagi hari. Menikmati angin sambil berkuda menjadi pengalaman baru untuknya. Hal yang hanya pernah ia baca di buku, akhirnya ia bisa merasakannya sendiri.
Perjalanan menuruni lembah ternyata tidak terlalu sulit karena sudah ada jalan yang dibuat oleh seseorang. Setelah sampai di bawah, Xavier langsung melepas pakaian luarnya lalu melempar dirinya sendiri ke dalam sungai. Setelah beberapa lama di perjalanan, akhirnya ia bisa membersihkan dirinya sendiri dan merasa segar kembali.
Sementara Evren hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bangsawan itu. Ia mencari kayu atau bambu yang cukup panjang lalu meruncingkan bagian ujungnya menggunakan belati. Menggulung lengan baju dan juga celananya lalu turun ke sungai dengan berhati-hati. Melihat dengan mata tajamnya lalu mengarahkan tongkatnya ke dalam air. Seekor ikan cukup besar berhasil tertangkap. Beberapa kali ia melakukan itu hingga akhirnya berhasil menangkap empat ekor ikan yang ukurannya cukup besar.
Setelah itu, Evren mulai menyiapkan api untuk membakar ikan hasil tangkapannya. Dan setelah ikannya matang, barulah ia memanggil Xavier untuk naik ke daratan dan makan.
“Wahh, ternyata kamu bisa memasak!” ucap Xavier lagi-lagi dengan antusias.
“Cuma membakar, tidak serumit memasak di dapur.”
Evren memberikan satu ekor ikan kepada Xavier setelah dirasa sudah matang.
“Selamat makan!” Teriak Xavier dengan penuh semangat. Ia memakannya dengan begitu lahap. Sudah lama ia penasaran dengan makanan seperti ini.
Evren juga mulai menyantap ikan miliknya. Semilir angin menemani mereka ditambah dengan suara gemericik air di sebelahnya. Suasana yang terasa begitu menenangkan dan juga sejuk meskipun matahari terlihat begitu terik di atas kepala mereka.
Tiba-tiba terdengar sesuatu dari balik semak-semak. Evren menghentikan kegiatannya lalu mengeluarkan belatinya dan berjalan mendekat ke arah semak-semak.
“Siapa?” teriak Evren namun tidak ada sahutan sama sekali.
Langkah kakinya terus mendekat lalu tangannya terulur ke depan untuk menyibak semak-semak tersebut. Terlihat seorang pemuda memakai jubah berwarna ungu tua dengan tudung kepala yang hampir jatuh dari kepalanya itu tengah berjongkok di balik semak. Wajahnya sedikit pucat dan rambutnya berwarna pirang. Matanya menatap polos ke arah Evren yang menodongkan belati ke arahnya.
“Siapa kamu?” tanyanya lagi namun tidak ada jawaban darinya.
Xavier mendekati Evren dengan tangan yang masih memegang ikan bakar.
“siapa?”
Evren menggeleng sebagai jawaban.
kruyuk
Pemuda itu melirik perutnya sendiri diikuti oleh tatapan Evren dan Xavier. Lalu matanya menatap ke arah ikan bakar yang dipegang oleh Xavier. Xavier yang menyadarinya pun mengulurkan ikan tersebut dengan perlahan. Evren ingin menghalanginya karena pemuda itu terlihat sangat mencurigakan. Namun gerakan pemuda itu lebih cepat. Ia lebih dulu menyambar ikan milik Xavier dan langsung memakannya dengan lahap.
“ha..hati-hati durinya,” ucap Xavier yang mencoba mengingatkan pemuda itu.