Berliana, seorang polisi wanita yang harus berpura-pura mencintai seorang buronan bernama Gabriel.
Saat akad nikah, polisi datang untuk menangkap Gabriel.
"SEENGGAKNYA GUE HANYA PENJAHAT BUKAN PENGKHIANAT SEPERTI LO! YANG MENJADIKAN CINTA SEBAGAI MAINAN," ucap Gabriel dengan menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.
"Aku memang jahat, tapi apa yang kau buat ini lebih jahat. Aku yang bersalah, kenapa hatiku yang kau hukum?" tanya Gabriel dengan mata berkaca.
Mama mohon baca setiap bab tanpa menunggu tamat. 🙏🙏
Terima kasih.
Note : cerita hanya fiksi belaka, apa bila ada kesamaan kejadian atau tempat hanya kebetulan belaka. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Ke Rumah Sakit
Berliana mempercepat larinya. Dia takut jika Gabriel membawa kabur putrinya. Gabriel membuka pintu mobil. Saat dia akan mendudukan Nicole, tubuhnya di peluk dan ditahan seseorang.
"Jangan bawa kabur, Nicole. Dia milikku satu-satunya," ucap Berliana, dengan memeluk pinggang Gabriel dan Nicole sekaligus.
"Ibu, kenapa menangis?" tanya Nicole, melihat ibunya yang memeluk Gabriel dengan air mata berlinang. Wanita itu sangat ketakutan hingga menangis.
Berliana merebut Nicole dari gendongan Gabriel. Memeluk erat putrinya itu.
"Kau boleh marah, mencaci atau menghinaku, tapi jangan ambil Nicole dariku. Aku tidak bisa pisah dari putraku," ucap Berliana dengan suara memohon.
Gabriel menatap Berliana dengan dahi berkerut. Melihat wajah pucat dan ketakutan pada wanita itu, dia tidak jadi marah.
"Siapa yang akan mengambil Nicole darimu? Aku hanya ingin membawanya ke rumah sakit. Ibu macam apa kamu ini! Anak sakit dibiarkan main sendirian. Lihatlah hidungnya banyak mengeluarkan darah!" ucap Gabriel dengan nada sedikit tinggi.
Entah mengapa dia merasa ada ikatan dengan Nicole, walau hatinya masih belum sepenuhnya mengakui kebenaran ucapan Berliana. Pria itu merasa iba melihat Nicole.
Berliana memandangi wajah putrinya. Ada bekas darah yang telah terhapus.
"Kamu mimisan lagi, Sayang. Pasti Nicole main panas-panas lagi. Kita harus ke rumah sakit," ucap Berliana panik.
Dia berjalan cepat meninggalkan Gabriel. Pria itu mengejar dari belakang, dan menarik tangan Berliana.
"Masuk ke mobil. Aku antar ke rumah sakit!" ucapnya datar.
Tanpa pikir panjang, Berliana mengikuti langkah Gabriel, masuk ke mobil pria itu. Pak Arif melihat semua itu dengan dahi berkerut.
"Mereka seperti satu keluarga utuh, ayah, ibu dan anak. Atau memang Nicole itu anaknya Pak Gabriel? Wajah mereka sangat mirip," ucap Arif pada diri sendiri.
Dengan kecepatan sedang, Gabriel membawa mobil menuju rumah sakit ternama di kota ini. Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai.
Gabriel menggendong Nicole menuju ruang IGD rumah sakit itu. Dia meminta dokter segera menangani putrinya.
Gabriel dengan wajah gelisah membawa putrinya yang terkena kanker ke ruang IGD rumah sakit. Dia merasa sangat sedih dan khawatir untuk putrinya yang sama sekali tidak berdaya di pelukannya. Dia tidak bisa menyangkal jika hatinya hancur melihat Nicole yang lemah.
“Tenanglah sayang, suatu saat semuanya akan baik-baik saja,” ucap Gabriel pelan pada putrinya.
Berliana yang berdiri mendampingi pun memperhatikan dengan tatapan khawatir, "Bagaimana kabar anak saya, Dokter?" Katanya bingung.
"Saat ini kami masih perlu melakukan beberapa tes dan pemeriksaan lebih lanjut," jawab Dokter dengan suara lembut. "Kita akan melakukan semua yang kita bisa untuk membantu."
Pria itu memandang putrinya dengan nafas yang sesak. Dia merasa hancur, tidak bisa menyentuh dan menyelamatkan putrinya dari penderitaan yang sedang di alami. Jika saja dia tahu ada darah dagingnya yang tumbuh di rahim Berliana tentu dia mencari keberadaan wanita itu.
Selama ini Gabriel hanya diam, karena berpikir jika Berliana telah mendapatkan balasan dengan diberhentikan secara tidak hormat tanpa mencari tahu penyebabnya. Dia telah benci dan tidak ingin tahu apa pun tentang wanita itu.
"Saya tidak bisa melihat putri saya sakit seperti ini. Apa yang harus saya lakukan Dokter?" Tanya pria itu dengan nada sedih.
"Kami akan memberikan perawatan terbaik dan akan memantau keadaannya dengan cermat, silahkan berdoa dan tetap kuat. Kita akan melawan kanker ini bersama-sama," jawab Dokter dengan percaya diri.
Pria itu menyadari bahwa dia harus berjuang untuk putrinya. Gabriel berpegang pada harapan dan berdoa bahwa putrinya akan segera pulih dan sembuh dari kanker yang sedang dideritanya. Sementara itu Dokter dan tim medis akan memberikan perawatan terbaik untuknya.
Gabriel meminta Dokter melakukan semua perawatan terbaik untuk Nicole. Dia juga meminta pada Dokter untuk melakukan tes DNA untuk meyakinkan dirinya jika itu memang darah dagingnya. Walau saat ini dia juga tidak meragukan ucapan Berliana melihat wajah Nicole yang sangat mirip dirinya, tapi dia butuh kepastian itu.
Saat ini Nicole telah berada di ruang VVIP. Ruangan yang sangat mewah. Jika dulu Berliana hanya bisa memberikan perawatan kelas ekonomi atau kelas tiga, berbeda saat ini, anaknya mendapatkan perawatan terbaik. Rasa syukur tidak berhenti terucap dari bibirnya.
Nicole saat ini sedang terbaring lemah di tempat tidur. Berliana mendekati Gabriel yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Maaf, Bang. Aku bisa minta tolong jaga Nicole sebentar?" tanya Berliana dengan hati-hati.
Gabriel mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wanita itu. Dia menatap tajam ke arah Berliana.
"Dia masih sama seperti saat bertemu. Pesonanya tetap terlihat. Pantas sejak dia bekerja di restoran, banyak pengunjung pria yang betah," gumam Gabriel pada diri sendiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Gabriel.
"Aku mau minta izin pada Pak Anton untuk libur beberapa hari menjaga Nicole," ucap Berliana.
"Kamu telah aku pecat dari restoran," ucap Gabriel dengan suara datar.
Berliana begitu terkejut mendengar ucapan pria itu. Dia tidak mau di pecat, karena saat ini dia sangat butuh pekerjaan untuk melanjutkan hidupnya. Dengan spontan Berliana kembali berlutut dihadapan Gabriel.
"Jangan pecat aku, Bang. Aku butuh pekerjaan itu buat biaya hidupku dan Nicole. Aku akan lembur untuk menggantikan hari liburku saat ini," ucap Berliana dengan suara parau menahan tangis.
Tidak mudah baginya mencair pekerjaan yang bisa membawa putrinya sekalian. Jika kerja di tempat lain, pasti tidak akan ada izin buat Nicole bersamanya.
"Berdirilah! Mana Berliana yang dulu sangat angkuh saat bekerja dikepolisian? Apa kamu sekarang sudah tidak memiliki harga diri sehingga sering merendahkan dirimu dihadapan orang lain!" ucap Gabriel dengan suara lantang.
"Aku rela merendahkan diriku hanya untuk putriku, Nicole. Apa pun akan aku lakukan untuk kesembuhannya.Jika saat ini kamu meminta aku harus mencium kakimu untuk mau menolong pengobatan putriku, akan aku lakukan juga," ucap Berliana.
Gabriel jadi terdiam. Seberapa parahkah sakit putrinya sehingga Berliana rela berlutut dan memohon padanya. Tadi Gabriel telah bicara dengan dokter mengenai pengobatan Nicole. Dia bisa sembuh jika melakukan pengobatan rutin dan juga pencangkokan sumsum tulang belakang.
Gabriel akan melakukan melakukan serangkaian tes untuk pengobatan putrinya, untuk mencocokan sum-sum tulang belakangnya.
Tanpa setahu Berliana, pria itu meminta orang kepercayaannya untuk menyelidiki tentang kehidupan wanita itu sejak dipecat karena mengandung.
"Berdirilah ...! Aku memecat kamu bukan tanpa alasan. Jika tes DNA membuktikan Nicole memang putriku, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas biaya hidupnya. Aku hanya meminta kamu menjaga Nicole, dan akan aku bayar semua tenagamu itu," ucap Gabriel.
"Nicole juga putriku! Kamu tidak perlu membayar tenagaku. Cukup memberikan biaya buat Nicole. Aku bisa mencari pekerjaan untuk biaya hidupku sendiri," ucap Berliana.
"Jika kau masih mau bekerja dan membawa Nicole, tidak akan aku izinkan. Akan aku bawa dia tinggal bersamaku! Tidak akan aku biarkan dia ikut bekerja!" ucap Gabriel dengan penuh penekanan.
...----------------...