Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 35- Tiga tahun kemudian
Ep. 35- Tiga tahun kemudian
Waktu berjalan tanpa pernah meminta izin untuk melambat. Tiga tahun telah berlalu sejak badai persidangan hak asuh yang menguji keteguhan hati Kirana.
Aura yang dulu merupakan balita tiga tahun berkulit pucat dengan ketakutan di matanya, kini telah bertumbuh menjadi anak perempuan berusia tujuh tahun yang lincah, bermata bulat jernih, dan penuh percaya diri.
Sementara Keisya, yang kini menginjak usia sembilan tahun, tumbuh menjadi sosok kakak perempuan yang dewasa, penyayang, dan serba rapi.
Pagi itu, tepat satu minggu sebelum hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru, matahari membiaskan sinar keemasan yang menerobos masuk lewat jendela kaca ruang keluarga. Udara beraroma antiseptik dan cairan pembersih lantai berpadu dengan wangi lavender dari pendingin udara.
Di atas karpet bulu tebal berwarna krem yang membentang di tengah ruangan, Keisya dan Aura sedang duduk bersila. Karpet itu dipenuhi oleh tumpukan buku tulis baru beraroma kertas segar, sampul plastik bening, krayon 48 warna, gunting berpembatas, hingga tempat pensil dengan berbagai bentuk.
Keisya sedang duduk membelakangi sofa, jemari jemarinya yang terampil dengan sangat telaten memasang sampul plastik pada buku-buku pelajaran kelas tiganya. Setiap lipatan kertas ditekan presisi, dipasang selotip bening di bagian sudutnya hingga rapi tanpa kerutan sedikit pun.
Sementara di sebelahnya, Aura duduk dikelilingi buku-buku bergambar kartun lucu untuk persiapan kelas satu Sekolah Dasar. Namun, perhatian Aura tidak tertuju pada buku tulisnya sendiri. Mata bulatnya terus melirik ke arah kotak pensil mekanik berbahan seng milik Keisya yang terbuka lebar di atas karpet.
Di dalam kotak pensil itu, bertengger sebuah pulpen berdesain unik, pulpen karakter dengan tinta gel berwarna keemasan, bertakhtakan gantungan kristal mungil di ujung penutupnya yang memantulkan kilau indah saat terkena cahaya matahari.
"Kakak, coba lihat! Punya Kakak kok bagus banget, ya?" seru Aura heboh. Tangan gempalnya dengan cepat terulur dan menyambar pulpen unik itu dari dalam kotak pensil Keisya tanpa izin.
Keisya yang sedang memotong selotip menggunakan gunting kecil, seketika mendongak. Alis tipisnya pun bertaut.
"Itu punya Kakak, Aura. Kelas satu mana boleh dulu pakai pulpen," balas Keisya dengan suara yang ditahan agar tetap sabar, seraya kembali fokus memberi sampul bening pada buku matematikanya. "Anak kelas satu harus pakai pensil kayu dulu biar tulisannya lancar dan rapi kalau dihapus."
Aura menggoyangkan pulpen keemasan itu di udara. Gantungan kristalnya bergemerincing halus, memancarkan kilau warna-warni yang makin memikat hatinya.
"Tapi Aura mau yang ini! Punya Aura cuma pensil gambar biasa, enggak ada gantungannya kayak punya Kakak!" rengek Aura.
"Enggak boleh. Itu pulpen dibeliin Mama waktu Kakak rangking satu kemarin," tolak Keisya tegas, sambil menjulurkan tangannya yang berusaha meraih kembali pulpen miliknya. "Nanti kalau Aura sudah kelas tiga baru boleh pakai pulpen."
"Yah, lama banget! Aura mau pakai sekarang buat mewarnai!"
Aura tidak mengembalikan pulpen itu. Sebaliknya, anak tujuh tahun itu malah menyeringai jahat yang menggemaskan dan menggenggam pulpen itu erat-erat lalu berdiri di atas karpet.
Aura mulai menggoyang-goyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, sambil memamerkan pulpen itu di depan wajah Keisya untuk menggoda kakaknya.
"Aura, balikin enggak!" seru Keisya yang mulai kehilangan kesabarannya. Keisya pun ikut berdiri dan berusaha menggapai pulpen yang diangkat tinggi-tinggi oleh adiknya itu.
"Ambil kalau bisa! Wlee!" goda Aura seraya berlari-lari kecil mengelilingi area karpet, hingga membuat tumpukan buku dan tempat pensil berantakan diterjang kakinya.
"Aura! Jangan bikin berantakan, dong! Itu buku Kakak belum disampul semua!" nada suara Keisya mulai meninggi, diwarnai rasa jengkel yang makin memuncak.
Tak jauh dari tempat kedua anak perempuan itu bersitegang, Kirana sedang duduk di meja kerja sudut ruangan.
Sebuah laptop perak terbuka di hadapannya, menampilkan lembar kerja analisis keuangan perusahaan yang sedang diperiksanya. Pendengarannya yang tajam sejak tadi merekam perdebatan kecil di atas karpet tersebut.
Kirana menyaksikan dinamika itu dari balik layar laptopnya. Awalnya ia tersenyum tipis melihat tingkah lucu kedua putrinya, namun ketika derap langkah kaki dan suara lengkingan Keisya mulai mengganggu konsentrasi, Kirana perlahan menghentikan ketukan jemarinya di atas keyboard.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Hingga akhirnya, Kirana menutup layar laptopnya sampai berbunyi klik, lalu berdiri dari duduknya.
"Ada apa sih? Kenapa ribut-ribut begitu?" tegur Kirana dengan suara yang tenang, mantap, namun sarat dengan kewibawaan seorang ibu.
Keisya langsung menoleh pada ibunya dengan raut wajah cemberut dan napas yang sedikit terengah. "Aura ambil pulpen punya Keisya, Ma... Padahal Keisya lagi rapikan kotak pensil. Aura kan belum boleh pakai pulpen!"
Kirana kemudian melangkah mendekati area karpet, dan menghentikan pandangannya pada Aura. Anak tujuh tahun itu berdiri membeku di sudut karpet sambil menyembunyikan pulpen keemasan itu di balik punggungnya.
Wajahnya yang gempal menyunggingkan senyuman polos yang menggemaskan,sebuah senyuman yang biasanya ia gunakan untuk meluluhkan hati orang-orang di sekitarnya.
"Aura... itu punya Kakak, lho," tutur Kirana, seraya menatap lurus ke dalam mata bulat Aura.
Aura mengerjapkan matanya beberapa kali. Melihat Kirana yang sudah turun tangan, ia tau jika permainannya telah usai. Dengan raut wajah yang berganti menjadi pura-pura pasrah, Aura melangkah mendekati Keisya.
"Oke deh... Aura kasih lagi. Nih!" ucap Aura.
Namun, alih-alih menyerahkan pulpen itu secara baik-baik ke tangan Keisya, Aura justru melemparkan pulpen keemasan itu dengan setengah acuh tak acuh ke arah Keisya. Hingga...
PLEK!
Ujung penutup pulpen yang lumayan keras itu melayang dan mengenai lengan kanan Keisya sebelum akhirnya jatuh terpelanting ke atas karpet.
"Aww! Sakit, Aura!" ringis Keisya seraya memegangi lengannya yang terkena benturan.
Aura seketika tersentak. Ia cengengesan, dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan mungilnya seraya memasang raut wajah yang polos tanpa dosa. "Eh? Maaf ya, Kak... Aura enggak sengaja!"
Keisya membuang muka dengan gusar dan mengambil pulpennya dari karpet lalu mengusap lengannya sendiri tanpa membalas ucapan maaf adiknya.
Sementara itu, Kirana yang berdiri hanya beberapa langkah di samping mereka, seketika terpaku.
Pandangan Kirana terpaku kaku pada sosok Aura yang masih cengengesan di tempatnya. Senyuman di bibir Kirana pun perlahan memudar, digantikan oleh gurat kecemasan yang tiba-tiba menyusup dingin ke dalam rongga hatinya.
Sikap Aura barusan, keinginan yang begitu impulsif untuk merebut barang milik Keisya, caranya menatap benda milik kakaknya dengan binar ingin memiliki secara utuh, serta cara mengembalikannya yang terkesan kasar dan setengah melempar saat tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, seketika membuat Kirana merasa sangat tidak nyaman.
Pikiran kelam yang telah terkubur rapat selama hampir empat tahun tiba-tiba berbisik liar di dalam kepala Kirana.
"Apakah... apakah sifat itu mulai muncul? Sifat ingin merebut milik orang lain... sifat yang sama persis seperti almarhumah ibu kandungnya? Seperti Ayu yang dulu merebut mas Rendra dari sisiku?"
Dada Kirana berdebar agak kencang. Rasa trauma masa lalu yang amat dalam mengenai pengkhianatan dan perebutan hak, mendadak berkelebat bagaikan kilatan petir yang menyengat sarafnya.
Selama empat tahun ini, Kirana telah mencurahkan kasih sayang, pendidikan moril, dan perhatian yang hampir sama rata untuk kedua putrinya.
Namun, melihat riak kecil berupa egoisme Aura barusan, ketakutan terbesar Kirana seolah terpicu kembali. Bagaimana jika darah dan sifat buruk biologis itu memang mengalir kental di tubuh Aura?
Sesaat kemudian, Aura yang menyadari perubahan raut wajah Kirana mendadak menghentikan cengengesannya. Bocah itu menunduk, dan memainkan ujung baju terusan cantiknya dengan jari-jari gempalnya yang gemetar.
"Mama... Mama marah sama Aura?" bisik Aura pelan, suaranya terdengar mencicit takut.
Suara halus Aura seketika memecahkan lamunan gelap Kirana.
Kirana tersentak pelan, lalu menatap wajah mungil Aura yang kini dipenuhi raut rasa bersalah dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang. Kirana memejamkan matanya rapat-rapat dan menghembuskan napas panjang, lalu segera menghempaskan segala pemikiran buruknya jauh-jauh dari dalam otaknya.
"Tidak, Kirana. Jangan gila," batin Kirana mengomeli dirinya sendiri dengan tegas. "Dia cuma anak kecil umur tujuh tahun yang sedang cemburu pada barang milik kakaknya. Ini dinamika wajar antar saudara. Jangan pernah menyamakan anak kecil yang tidak berdosa ini dengan kesalahan masa lalu orang tuanya!"
Rasa bersalah seketika melingkupi hati Kirana karena sempat meragukan ketulusan anak yang telah diperjuangkannya di pengadilan itu. Binar dingin di mata Kirana pun mencair sepenuhnya, berganti menjadi kehangatan seorang ibu yang bijaksana.
Kirana lalu menyunggingkan senyuman manisnya, dan merenggangkan ketegangan di udara dengan tepukan tangan yang ceria.
Prok prok prok!!
"Hmmm.... Kebetulan Mama ada sesuatu yang mau dibeli di mal. Siapa yang mau ikut?" tawar Kirana dengan nada suara gembira yang sengaja ditinggikan.
Suasana kaku di ruang keluarga itu pun seketika pecah dalam sekejap mata!
Kedua anak perempuan itu langsung terperanjat berdiri dari atas karpet. Mata Keisya dan Aura yang tadinya redup oleh kekesalan kini seketika berbinar-binar cerah. Rasa jengkel di antara mereka menguap begitu saja ditelan antusiasme menyambut ajakan jalan-jalan.
Mereka pun menjawab secara bersamaan dengan suara yang melengking gembira:
"Keisya!" seru Keisya seraya mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Aura!" jerit Aura yang tidak mau kalah, sambil melompat-lompat kecil di tempatnya.
Kirana terkekeh pelan melihat perubahan ekspresi kedua putrinya yang begitu cepat. Ia lalu bersedekap dan menunjuk ke arah permukaan karpet yang masih berantakan oleh tumpukan buku, alat tulis, dan potongan selotip.
"Oke, Mama ajak dua-duanya... tapi ada syaratnya!" ujar Kirana memotong antusiasme mereka. "Bereskan dulu semua peralatan sekolah ini sampai rapi. Masukkan buku ke dalam tas, simpan alat tulis di kotaknya masing-masing. Kalau karpet ini sudah bersih, baru kita berangkat."
"Siap, Mama!" sahut Keisya dan Aura kompak.
Tanpa perlu diperintah dua kali, kedua adik-kakak itu langsung berlutut kembali di atas karpet. Kali ini tidak ada lagi pertengkaran atau aksi berebut.
Aura dengan sigap mengambilkan selotip untuk Keisya, sementara Keisya dengan telaten membantu Aura memasukkan set krayon barunya ke dalam tas ransel bergambar kartun milik adiknya itu.
(Pemandangan yang enak di pandang)
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗