Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 ~ Axel Harley
Jantung Evelyn seketika terasa diremas. Ia baru menyadari, putranya belum pernah melihat dirinya dalam penampilan sebagai Evan.
Dengan senyum yang dipaksakan, Evelyn mengusap lembut rambut Axel.
"Mommy ada di sini, Sayang."
Namun Axel kembali menggeleng.
"Bukan..." ucapnya dengan logat cadelnya. "Mommy Acel lanbutnya panjang.. cantik."
Air mata Evelyn hampir jatuh mendengar ucapan polos putranya. Ia memeluk Axel semakin erat, berusaha menenangkan bocah kecil itu, sementara dadanya sendiri terasa sesak.
"Maafkan Mommy..." bisiknya lirih. "Maaf..."
"Evelyn..."
Suara pelan itu membuat tubuh Evelyn menegang.
Ia segera menoleh ke arah pintu.
Nyonya Chatarina ternyata berdiri di sana. Tatapannya dipenuhi kesedihan setelah menyaksikan semuanya.
Refleks Evelyn melirik ke belakang sang ibu, memastikan tidak ada seorang pun yang ikut mendengar.
"Ma..." suaranya bergetar. "Axel... tidak mengenaliku." Ia menunduk menatap putranya yang masih memeluk boneka dinosaurusnya.
"Selama di London... dia hanya mengenaliku sebagai Evelyn." Senyum pahit terukir di bibirnya. "Dan sekarang..." Kalimat itu terhenti begitu saja.
Nyonya Chatarina menghampiri mereka perlahan. Tangannya terulur mengusap lembut kepala Axel yang masih kebingungan.
"Mama mengerti." Wanita itu lalu menatap putrinya dengan sorot mata penuh kasih. "Karena itu... Mama rasa kalian tidak bisa tinggal di rumah ini."
Evelyn mengangkat kepalanya.
"Mama akan mencarikan tempat tinggal untuk kalian secepatnya."
"Ma..."
Nyonya Chatarina menggeleng pelan. "Mama masih memiliki seribu alasan untuk ayahmu, Evelyn."
Tatapannya beralih kepada Axel. "Tapi tidak ada alasan bagi Axel... untuk kehilangan sosok ibunya."
Air mata yang sejak tadi ditahan Evelyn akhirnya jatuh.
Nyonya Chatarina kemudian mengulurkan kedua tangannya. "Sayang... sini ikut Oma."
Axel menoleh ke arah Evelyn, seolah masih bingung dengan orang-orang asing disekitarnya.
Evelyn menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Pelan-pelan ya, Sayang. Ikut Oma dulu."
Barulah Axel berpindah ke dalam gendongan Nyonya Chatarina, wanita itu mengecup lembut kening cucunya.
"Lihatlah..." bisiknya lirih kepada Evelyn. "Bahkan Tuhan pun tidak mengizinkan seorang anak kehilangan ibunya hanya karena identitas yang kita ciptakan."
Kalimat itu membuat Evelyn kembali menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa menjadi Evan bukan lagi hanya menyiksa dirinya... tetapi juga mulai melukai hati putranya.
Nyonya Chatarina menggendong Axel dengan hati-hati. "Biarkan Mama yang menemaninya dulu."
Evelyn mengangguk pelan. Ia mengusap pipi putranya sekali lagi sebelum mereka berbalik melangkah keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup, Evelyn menghela nafas berat. Dia tau jalannya tidak akan mudah, tapi menyembunyikan Axel dan menjauhkan putra kecilnya dari dirinya.. Evelyn tidak mampu melakukan hal itu.
....
Sementara itu diruang keluarga Tuan Harley masih berdiri di tempatnya, Arlos pun belum beranjak sedikit pun. Keduanya langsung mengalihkan pandangan ketika
Beberapa menit kemudian Nyonya Chatarina menuruni anak tangga sambil menggendong Axel.
Tangisan bocah itu sudah berhenti, meski matanya masih sembab. Semua orang di ruang keluarga sontak mengalihkan pandangan ke arah mereka.
Axel yang masih berada dalam gendongan Oma menatap satu per satu wajah asing di hadapannya.
Tatapannya kemudian berhenti pada Tuan Harley. Bocah kecil itu memiringkan kepalanya.
"Oma..."
"Iya, Sayang?" jawab Nyonya Chatarina lembut.
"Itu ciapa?"
Nyonya Chatarina tersenyum tipis. "Itu Opa."
"Opa?"
"Iya."
Axel kembali menatap pria tua yang sejak tadi memasang wajah dingin itu. Beberapa detik kemudian, tanpa rasa takut sedikit pun, ia mengulurkan kedua tangannya.
"Opa..." Suara cadelnya memenuhi ruangan.
"Gendong Acel."
Ruangan mendadak sunyi.
Arlos sampai menahan napas. Sementara Tuan Harley tetap berdiri kaku di tempatnya.
"Opa..." Axel kembali memanggil sambil mengulurkan kedua tangannya lebih tinggi. "Gendong..."
Suara polos itu membuat ruang keluarga kembali sunyi.
Tuan Harley tetap berdiri di tempatnya. Wajahnya masih dingin, seolah tidak terpengaruh sedikit pun.
Namun kedua matanya tak mampu lepas dari bocah kecil yang terus menatapnya penuh harap.
"Opa... Gak mau?" Kali ini Axel menggembungkan pipinya.
Nyonya Chatarina tersenyum tipis. "Axel... Opa masih malu."
"Malu?" ulang bocah itu polos.
"Iya."
Axel memiringkan kepalanya, seolah sedang berpikir keras. Beberapa detik kemudian, ia kembali mengulurkan tangannya ke arah Tuan Harley.
"Acel anak baik... Acel gak nakal... Acel mau disayang Opa."
DEG. Kalimat polos itu menghantam tepat ke dada Tuan Harley. Pria itu menatap cucunya tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya tatapan tajamnya perlahan mulai melemah. Tangannya yang sejak tadi mengepal perlahan mengendur.
Arlos yang melihat perubahan itu hanya mampu terdiam. Sementara Evan ikut memandang ayahnya dari atas tanpa berani bersuara.
Setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang Tuan Harley akhirnya melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia berhenti tepat di depan Nyonya Chatarina.
Tatapannya kembali bertemu dengan mata bulat Axel yang masih menunggunya dengan senyum polos.
Perlahan kedua tangan Tuan Harley terulur.
"Ke sini."
Axel langsung tersenyum lebar.
"Hehe..."
Tanpa ragu, bocah itu berpindah ke dalam gendongan sang Opa. Tubuh kecilnya langsung memeluk leher Tuan Harley seolah mereka sudah sangat akrab.
"Opa..." bisiknya cadel. "Acel kangen."
Padahal itu adalah pertemuan pertama mereka. Kalimat sederhana itu membuat seluruh penghuni rumah terdiam.
Bahkan Tuan Harley yang selama puluhan tahun dikenal berhati sekeras batu pun tak mampu lagi mengabaikan darah daging yang kini berada dalam pelukannya.
Tubuh kecil Axel langsung memeluk leher Tuan Harley tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Opa..." bisiknya dengan suara cadel. "Opa Acel cangat kelen!"
Tuan Harley tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah mungil yang kini berada begitu dekat dengannya.
Mata itu...
Sangat jernih.
Tanpa rasa takut.
Tanpa sedikit pun mengetahui pertengkaran yang baru saja terjadi. Perlahan, Axel mengangkat tangan mungilnya. Dengan polos, ia menyentuh pipi Tuan Harley.
"Opa... Kok cembelut?"
Arlos spontan menundukkan kepalanya, berusaha menahan senyum. Sementara Nyonya Chatarina memalingkan wajahnya. Air matanya kembali jatuh.
Tak ada seorang pun yang berani membuka suara.
Axel kembali mengusap pipi sang Opa dengan telapak tangan mungilnya.
"Kalau cemberut nanti cepat tua."
Ucapan polos itu membuat suasana yang semula mencekam berubah hening. Bahkan sudut bibir Arlos nyaris terangkat.
Tuan Harley masih memasang wajah datar. Namun tanpa disadari siapa pun, tangan besarnya perlahan menepuk pelan punggung cucunya.
Gerakan yang sangat kecil. Tetapi cukup untuk membuat Nyonya Chatarina mengembuskan napas lega.
"Namamu Axel?" tanya Tuan Harley akhirnya.
Bocah itu langsung mengangguk semangat.
"Iya! Acel Halley!"
Evan yang mendengar jawaban itu sontak mengangkat kepalanya.
Tuan Harley pun terdiam beberapa detik.
Lalu, tanpa menoleh kepada siapa pun, ia berkata dengan suara berat.
"Mulai hari ini... Pastikan semua kebutuhan cucuku terpenuhi." Kalimat itu ditujukan kepada seluruh penghuni rumah.
Tak ada kata "aku menerima."
Tak ada pula permintaan maaf.
Namun semua orang di ruangan itu memahami satu hal... Tuan Harley baru saja mengakui Axel sebagai bagian dari keluarga Harley.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya