Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Nadia mendongakkan kepalanya secara perlahan. Dari jarak yang begitu dekat, ia bisa melihat wajah suaminya yang sedang tertidur pulas. Tanpa raut dingin dan tatapan tajam yang biasa ia tunjukkan pada dunia luar, Aksa yang sedang tidur tampak jauh lebih tenang dan berwibawa. Garis rahangnya yang tegas, bulu mata lentik yang menenun di atas kelopak matanya, serta helaian rambut hitam yang sedikit berantakan di dahi membuat ketampanan pria itu terlihat begitu sempurna.
Nadia menahan napasnya sejenak, takut membangunkan suaminya. Jemari lentiknya secara perlahan terulur ke udara, nyaris menyentuh pipi Aksa sebelum tiba-tiba sebuah tangan yang lebih besar bergerak cepat menangkap pergelangan tangannya hingga membuat Nadia terkesiap kecil.
Sepasang mata hitam pekat milik Aksa terbuka lebar dalam sekejap, menatap lurus ke dalam mata bulat Nadia dengan kilat kesadaran yang tajam dan intens. Tidak ada tanda-tanda orang baru bangun tidur, sorot mata itu langsung memancarkan dominasi yang hangat.
"Pagi, istriku," bisik Aksa dengan suara serak khas bangun tidur, terdengar begitu berat dan menggetarkan dada Nadia.
Wajah Nadia seketika merona merah padam hingga menjalar ke ujung telinganya, ia menunduk malu dan mencoba menarik tangannya, namun Aksa justru mempererat dekapannya dan mengecup singkat puncak kepala Nadia.
"Jangan kabur," goda Aksa tipis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka.
Aksa kemudian merenggangkan pelukannya perlahan dan membiarkan Nadia duduk bersandar di kepala ranjang yang dilapisi busa empuk, pria itu bangkit dari posisi berbaringnya dan memperlihatkan otot dada bidangnya yang terekspos jelas di bawah pendar cahaya pagi.
"Tunggu di sini sebentar," ucap Aksa seraya beranjak dari ranjang dan mengenakan jubah mandinya, lalu melangkah keluar kamar menuju area dapur penthouse.
Nadia menarik selimut menutupi dadanya, mengembuskan napas panjang untuk menetralisir debaran jantungnya yang kembali bergemuruh hebat. Sepuluh menit kemudian, Aksa kembali ke kamar dengan membawa sebuah nampan berisi mangkuk bubur hangat, secangkir teh chamomile dan segelas air putih.
Pria itu meletakkan nampan di nakas samping tempat tidur, lalu duduk kembali di tepi ranjang menghadap Nadia.
"Makanlah," kata Aksa sambil mengambil mangkuk bubur dan menyendoknya perlahan.
"Kamu pasti butuh tenaga setelah semalam," sambungnya.
Wajah Nadia kembali bersemu merah mendengar kalimat bernada menggoda itu. ia mengambil buku catatan kecil dari atas meja lalu menuliskan sesuatu dengan jemarinya yang sedikit malu-malu.
[Aku bisa makan sendiri]
Aksa menepis pelan tangan Nadia yang hendak meraih mangkuk tersebut, sorot matanya menatap tegas namun penuh kelembutan.
"Biar aku yang suapi. Jangan membantah, Nadia,"
Mau tidak mau, Nadia mengangguk pasrah. Ia membuka bibirnya perlahan saat Aksa menyuapinya sesap demi sesap bubur hangat buatan chef pribadi yang dipanggil khusus pagi itu, suasana kamar terasa begitu intim dan dipenuhi oleh kehangatan yang tidak pernah dibayangkan oleh Nadia akan ia miliki seumur hidupnya.
Dua jam kemudian, setelah membersihkan diri dan bersiap mengenakan pakaian santai berupa dress selutut berwarna baby blue yang anggun, Nadia turun bersama Aksa ke lantai dasar penthouse.
Pintu lift pribadi terbuka, memperlihatkan area ruang tamu utama yang sangat luas. Tepat di atas meja marmer putih di tengah ruangan, berderet puluhan kotak hadiah mewah berukuran besar berbalut pita emas dan beludru merah.
Nadia mengerjap bingung, menatap kotak-kotak itu lalu beralih menatap suaminya. Aksa berjalan mendekati meja tersebut, lalu menoleh ke arah Nadia.
"Itu adalah kado pernikahan dan bingkisan selamat dari para para tamu, sepertinya ada yang memberikan perhiasan, jam tangan dan tas," jelas Aksa tenang.
Nadia membelalakkan matanya kaget, ia segera menulis sesuatu di buku catatannya dan memperlihatkannya kepada Aksa.
[Tapi, banyak banget hadiahnya. Bukannya ini berlebihan ya]
Aksa membaca tulisan itu, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal. Pria itu menunduk menatap manik mata bulat istrinya, jemari hangatnya meraih dagu Nadia dan mengangkatnya pelan agar gadis itu menatap matanya lurus-lurus.
"Tidak ada yang berlebihan untuk seorang Nyonya Mahendra. Semua yang ada di dunia ini, termasuk aku adalah milikmu sekarang," ucap Aksa tegas namun lembut.
Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Aksa, namun dampaknya bagaikan hantaman gelombang hangat yang menyapu seluruh sisa keraguan di hati Nadia. Pria itu tidak sedang melempar gombalan murahan karena dari sorot mata pekatnya, Aksa benar-benar bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang diucapkannya.
Nadia mengerjap, merasakan bulir keharuan kembali mendesak pelupuk matanya. Ia hanya bisa mengangguk pelan dan membiarkan Aksa menariknya ke dalam dekapan hangat yang selalu berhasil membuatnya merasa menjadi wanita paling aman di muka bumi.
"Ayo buka beberapa hadiahnya," ajak Aksa, memecah keheningan yang manis.
Keduanya duduk berdampingan di atas sofa. Nadia membuka kotak pertama dari Mama Bella, yang ternyata berisi satu set perhiasan mutiara laut selatan asli yang dipadu dengan berlian murni. Kotak berikutnya dari Papa Mahendra berisi kunci kepemilikan sebuah galeri seni terkenal di kawasan pusat ibu kota, sebuah hadiah yang sangat memahami hobi dan impian masa kecil Nadia yang mencintai dunia seni lukis.
Aksa memperhatikan binar takjub di mata istrinya dengan senyuman tipis yang amat jarang ia perlihatkan pada orang lain. Bagi Aksa, melihat Nadia tersenyum lepas tanpa beban jauh lebih berharga daripada seluruh saham perusahaan yang ia miliki.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Aksa lembut sembari merapikan helaian rambut Nadia yang jatuh menutupi dahi.
Nadia mengangguk antusias, ia meraih buku kecilnya dan menuliskan kalimat penuh rasa syukur.
[Galeri seni itu... apakah benar-benar untukku? Tapi, aku takut tidak bisa mengelolanya dengan baik.]
"Kamu tidak perlu takut gagal, ada aku di belakangmu dan mendukungmu. Apapun yang membuatmu bahagia, ambil dan kuasai," balas Aksa.
Matahari siang mulai menyinari seluruh sudut penthouse mewah milik Aksa melalui dinding kaca panorama raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Suasana di ruang tamu utama terasa begitu tenang dan hangat, ditemani oleh alunan musik instrumental piano yang mengalir lembut dari pengeras suara nirkabel.
Nadia masih duduk bersanding dengan Aksa di atas sofa beludru putih, satu per satu kotak kado dibuka oleh Nadia dengan antusiasme yang terpancar jelas dari binar mata bulatnya. Mulai dari set perhiasan mewah, karya seni klasik, hingga barang-barang bermerek dari para kolega bisnis elit keluarga Mahendra. Aksa senantiasa duduk di sisi sang istri, menemani setiap detik prosesi pembukaan kado tersebut dengan sorot mata yang tak pernah lepas dari wajah Nadia.
"Kotak yang ini dari siapa, Nadia?" tanya Aksa dengan suara baritonnya yang rendah, menunjuk sebuah kotak persegi berukuran sedang yang dibungkus kertas kado berwarna hitam elegan dengan pita merah tua.
.
.
.
Bersambung.....
aku juga pernah ngidam tengah malam,pengen makan kolak ubi campur pisang,tapi Nadia luar biasa ngidamnya malah pengen setrika 🤣🤣🤣