#Kisah ini mengingatkan pada kaum wanita jika kamu tidak mencintai pria yang menyatakan perasaannya padamu, jangan pernah sekali-kali kamu menghinanya. Ingat! Pria sanggup melewati tajamnya duri, untuk membuatmu tak berdaya!!!
Tamara Morely terpaksa mau di nikahi oleh Bagas Arta Kusuma setelah di jebak melakukan cinta satu malam di sebuah villa dalam keadaan mabuk.
Sejak lama Bagas mencintai Tamara, namun di tolak mentah-mentah hanya karena wajah Bagas jelek akibat di tumbuhi plek hitam dan jerawat.
Selain itu, kantong tipis Bagas, membuat Tamara merasa hanya akan menderita nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Serangan
"Jangan berharap, aku tidak sebaik itu jadi segeralah selesaikan!"
Payah, kenapa sulit sekali membujuk Bagas untuk yang satu itu...
Seperti biasa, Tamara kembali diantar kuliah oleh suaminya. Sebulan cuti membuat Ia ketinggalan pelajaran.
Kedatangan Tamara langsung di sambut hangat oleh Siska dan Ayu. Awalnya mereka menanyakan kabar Tamara, kemudian beralih memberi tahukan kalau Nando sudah tidak kuliah di tempat itu.
"Loh, kok bisa? Emangnya kenapa?"
Ayu pun menggeleng, "Tidak tahu, katanya sih dia melakukan kesalahan fatal."
Tamara mencoba berpikir jernih, tapi otaknya terlalu buntu untuk hal yang satu itu. Namun yang pasti dia sudah tidak perduli lagi karena sudah di bohongi.
"O ya kamu sudah putus ya dengan Nando?" Kali ini pertanyaan itu datang dari Siska. Dia adalah orang pertama yang membantu Nando agar bisa jadian dengan Tamara.
Perempuan yang memiliki kecantikan sempurna itu menganggukkan kepala.
"Alasannya Apa, Ra?" Siska sangat penasaran.
"Dia menipuku, masak cincin yang diberikannya hanya cincin mainan yang gak ada harganya sama sekali, memalukan!" Dengkus Tamara kesal.
"Benarkah, setahuku Nando anak orang kaya, Ra?" Ulas Siska lagi.
"Alah, mungkin cuma kedok doang," timpal Tamara dengan malas.
.
.
.
Siang hari tepatnya pukul sebelas siang, Bagas sudah kembali ke kampus Tamara bermaksud untuk menjemput sang istri.
Namun baru saja keluar dan hendak menyandarkan tubuhnya ke badan mobil tiba-tiba saja beberapa gank motor datang menggodanya.
Mereka terus berkeliling mengitari Bagas dengan tawa yang seolah mengejek, dan itu tentu itu sangat menganggu Bagas. Perilaku aneh mereka juga menjadi tanda tanya besar bagi pemuda berwajah jerawatan itu.
"Apa mau kalian?" Tanya Bagas yang mulai geram.
"Hey, sopir belagu! Beraninya kau berbuat seenaknya pada sohib kamu, biar ku beri pelajaran kau?" Seringai picik salah seorangnya.
Tapi bukan Bagas namanya kalau dia merasa takut, "Turunlah dari kendaraanmu itu, kita bicara baik-baik!"
"Cih, yang benar saja, tujuan kami bukan untuk berteman tapi ingin menghabisimu," jawab seorang lainnya.
Tak ada itikat baik dari mereka dan tak ingin di jadikan bahan olokan, Bagas yang mulai jengah dan menatap penuh kemarahan langsung mencari sesuatu untuk menghentikan ulah mereka.
Di tempatnya berdiri tidak ada apa pun untuk di jadikan alat menghentikan aksi mereka yang semakin membabi buta, akan tetapi Bagas teringat botol air mineral yang baru di belinya tadi. Gegas Ia gegas ambil dari mobil dan di lemparkannya dengan keras tepat mengenai kepala teman mereka hingga sepeda motor yang di tumpangi tersungkur ke aspal.
Aksi mencengangkan itu mengundang kebinalan semakin besar, teman-teman mereka yang lain langsung berhenti dan menyerang Bagas dengan sistem pengeroyokan.
Perkelahian di tepi jalan mendadak ricuh, bahkan maha siswa yang baru keluar tertahan di pagar besi untuk menonton kejadian itu.
Para security juga sudah memberi peringatan, tapi kenyataannya perkelahian mereka masih tetap berlangsung.
"Tamara, bukankah itu sopirmu?" Tunjuk Ayu ke arah yang di maksud.
"Benar Tamara, ada masalah apa geng motor itu dengannya?" Sambung Siska dengan wajah ke kepoannya.
Tamara meleguk saliva, Ia memusatkan tatapannya supaya fokus kepada Bagas yang mampu menumbangkan beberapa orang di antaranya terlihat dari cara Bagas menekuk tangan salah seorang yang mengeroyoknya tadi ke belakang untuk mengecoh serangan dari pihak lain.
Tangkas sekali dia? Bagaimana aku bisa melawannya kalau begitu? Sedangkan pria sebanyak itu tak mampu menjatuhkan tubuhnya...
Dalam waktu singkat semua pemuda itu tumbang dan hendak melarikan diri, akan tetapi Bagas menahan salah seorangnya untuk mencari tahu alasan di balik serangan itu. Bagas pun tidak segan-segan mencengkram kerah baju pria tersebut sampai ke batang leher.
"Katakan apa tujuan kalian melakukan pengeroyokan padaku?" Tanyanya dengan tatapan bengis.
"Ti- tidak ada," jawab orang itu dengan terbata.
"Jangan bohong! Atau aku akan membuat hidup kalian sengsara jika berani melawanku," ancam Bagas lagi. Ia memutar tubuh pria itu dan mendorongnya ke badan mobil hingga kepala orang itu tak bisa berkutik. Sebab mudah saja bagi Bagas untuk mematahkan tulang belulang pria itu.
"Mengaku atau kau akan cacat?" Ulangnya lagi dengan paksa.
Merasa terjepit, pria itu pun akhirnya angkat bicara, "Baiklah akan ku beri tahu tapi setelah itu tolong lepaskan aku!"
"Katakan saja, tanganku sudah pegal Bangsat!" Desaknya lagi dengan semakin menekan pipi pria itu ke mobil.
Bagas tidak akan berhenti sebelum orang itu mengaku, pasalnya Ia juga keram jika lama-lama dengan posisi seperti itu.
"Ba- baiklah yang menyuruh kami adalah Nando, ketua Gank tengkorak," jawabnya dengan cepat.
"Apa...?" Mendengar itu cekalan Bagas melonggar hingga pria yang di jeratnya langsung membalikan tubuh dan balas mendorong dada Bagas menjauh karena Ia harus segera melarikan diri.
Sial, jadi Nando bukan orang sembarangan...
Menyadari Tamara sudah keluar bersama yang lainnya, Bagas pun segera meminta Tamara masuk ke mobil karena mereka akan pergi kerumah keluarga Tara.
Sesampainya di sana, keduanya di jamu makan siang yang sangat mewah.
"Ayo Bagas, Tamara jarang-jarang kita makan bersama!" Ajak Papa Tara dengan bertopengkan tampang kebaikan.
Keduanya pun mengambil posisi duduk bersama, akan tetapi Bagas yang paham siapa keluarga Tara sangat berhati-hati.
Sebelum ia memulai memakan sesuatu yang mungkin saja berbahaya, dengan cerdik Ia menyuapkan makanan itu ke mulut Tamara lebih dulu.
"Ayo makan sayang biar aku suapi!
Tamara yang tidak merasa kan hal aneh patuh saja, sebab dia memang tak akan mampu berkelit.
Papa Tara dan Mama Sandra sebenarnya menatap benci, akan tetapi Bagas tak menghiraukan semua itu selama dalam batas kewajaran.
"Bagaimana, apa itu enak?" Tanya Bagas dengan sangat manis.
Tamara menganggukkan kepala, perempuan itu beralih menatap Papa Tara yang hanya menonton keduanya.
"Papa, ayo makan bukankah ini hal langka!" Bagas mengulangi apa yang di katakan pria itu sebelumnya.
Sebenarnya mereka sangat segan karena harus menghadapi wajah Bagas yang memuakkan, akan tetapi mereka pun turut menyantap hidangan di atas meja.
Melihat keterpaksaan keduanya, Bagas menyembunyikan senyum puas. Ia tidak akan bisa di bodohi hanya karena masalah sepele yang mungkin saja mereka rencanakan.
"Em... Pa, Ma, Bagas ke kamar mandi sebentar ya!"
Entah sadar tidaknya Bagas malah meninggalkan ponsel dan kunci mobilnya di atas meja. Lantas berlalu dari tempat itu.
Melihat ada keajaiban besar, Papa Tara langsung meminta Tamara menyerahkan ponsel di hadapannya. Meski takut ketahuan, Tamara terpaksa memberikan benda itu.
Dengan mudah Papa Tara membuka kunci masuk ke layar utama, wajar saja ponsel Bagas pasti hanya barang murahan yang tidak memiliki kata sandi untuk mengamankan isi di dalamnya.
Lama mencari vidio milik Tamara, Papa Tara tidak menemukan apa pun. "Loh, kok gak ada Ra? Dimana Bagas menyimpannya?"