Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengumpulkan barang pemberian Adriant
Hallo hallo!
Selamat malam, selamat membaca.
Semoga hari kalian selalu penuh kebaikan.
...****************...
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai kamar Aurelia. Sinar hangatnya jatuh di atas lantai, menerangi beberapa benda yang sejak tadi memenuhi permukaan tempat tidurnya.
Sebuah kardus berukuran besar berada di atas kasurnya. Aurelia baru saja mengambil satu boneka yang terpajang di atas rak buku. Ia memegang boneka yang berukuran sedang, mendudukkan dirinya di atas kasur dan memasukkan boneka itu kedalam kardus.
Tak lama kemudian, tangannya bergerak meraih satu kotak kecil, ia membukanya perlahan. Ia menatap satu gelang yang dihiasi permata disekelilingnya. Aurelia mengingat, gelang itu di berikan Adriant bulan lalu tepat di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga.
Tangannya bergerak menutup kotak itu perlahan dan memasukkannya kedalam kardus, berdampingan dengan beberapa barang lain yang sudah terkumpul selama empat tahun mereka menjalin hubungan.
Aurelia menghela napas berat. Ia kemudian tersenyum, bukan karena bahagia, melainkan rasa lega yang selama ini ia harapkan. Bisa lepas dari Adriant membuat dadanya seakan ringan, tidak lagi dibebani oleh pria itu.
Adriant memang pria royal. Dia bisa membelikan barang apapun setiap hari tanpa melihat nominal. Perkataannya penuh dengan kelembutan, perlakuannya seakan menunjukkan Aurelia adalah perempuan paling berharga.
Nyatanya... Itu semua palsu, Adriant hanya kasihan. Pria itu tidak benar-benar mencintai Aurelia selama ini. Pantas saja dia selalu bermain dengan banyak wanita, bahkan masih tetap dilakukan meskipun Aurelia sudah mengetahuinya. Ia hanya meminta maaf dan merayu dengan manja sebagai penebus rasa bersalahnya.
Sesaat kemudian, suara ketukan pintu membuat Aurelia menoleh. Tyana membuka pintu dengan iPad ditangan. Kakinya perlahan melangkah setelah menutup pintu itu kembali.
Mata Tyana beredar menatap barang-barang yang berserakan di atas kasur. Tatapannya terhenti pada kardus besar yang sudah hampir penuh.
Aurelia tersenyum tipis, dia memasukkan dua pasang heels yang selama ini telah menemani langkahnya.
"Untuk apa anda mengumpulkan ini semua, nona?" Tyana bertanya dengan raut bingung, tangannya bergerak perlahan membenarkan letak kacamatanya.
"Aku akan mengembalikannya lagi pada Adriant."
Tyana terlihat membeku. Wanita itu membalikkan badannya dan meletakkan iPad di atas meja rias dan kembali menatap Aurelia yang masih sibuk memasukkan beberapa barang.
Tyana ingin bertanya lebih jauh. Tapi ia tidak berani, ia memilih diam dan memendam beberapa pertanyaan di benaknya.
"Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Adriant." Aurelia seolah tahu isi pikiran Tyana. Ia tidak ingin Tyana hanya mengamati tanpa tahu apapun.
Tyana masih berdiri mematung. Aurelia tidak akan menyuruhnya duduk, karena percuma, Tyana akan tetap memilih berdiri.
"Apa semalam anda bertemu dengan dia?"
Aurelia menganggukkan kepalanya. "Iya. Dan setelah aku mengakhiri hubungan dengan Adriant. Aku pergi menemui Sarah." ucapnya pelan. Ia memegang satu barang terakhir berupa kalung liontin yang Adriant dapatkah dari Paris sewaktu liburan dua tahun lalu.
Tyana mengangguk mengerti. Ia baru mengetahui kalau Sarah adalah kakak dari Nathaniel kemarin siang. Ia juga tahu Aurelia bertemu dengan Sarah, karena melihat langsung ketika Attar mengantar Aurelia pulang di jam satu malam. Tidak mungkin jika Tyana menebak Aurelia telah bertemu dengan Nathaniel.
"Apa kamu tahu, Tyana?"
Raut sendu Aurelia berubah drastis. Wanita itu kini mengembangkan senyum yang merekah.
"Anak Sarah sangat menggemaskan. Namanya Lilia. Dia lucu, dia belum bisa menyebut huruf 'r. Tapi tingkahnya benar-benar mirip Sarah." Aurelia terkekeh kecil dengan tangan yang menutup kardus.
Tyana ikut tersenyum tipis. Dia berjongkok dan membantu Aurelia mengangkat kardus itu. Mereka meletakkannya di lantai.
"Aku juga bertemu Nathaniel..." Aurelia berjongkok. Dia mulai bergerak merapihkan kardus itu. Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya tentang obrolan dengan Nathaniel semalam.
Tyana ikut berjongkok dan mengikat kardus itu dengan tali.
"Untuk pertama kalinya aku mengobrol dengannya secara santai. Bukan membahas masalah pekerjaan."
Tyana hanya mendengar dan memperhatikan Aurelia tanpa berniat menyela.
"Lilia sangat menyayangi dia. Aku tidak menyangka..." pikirannya jauh berkelana mengingat interaksi Nathaniel dan Lilia.
"Pria kaku seperti dia bisa bersikap hangat di depan Lilia."
Tyana memotong tali.
"Saya senang melihat anda bahagia."
Aurelia menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh pada Tyana, memiringkan kepalanya dan menatap Tyana.
"Apa aku terlihat bahagia?" Kedua alis Aurelia terangkat tipis.
Tyana beranjak berdiri dan menyimpan gunting dan talinya kembali.
"Anda terlihat bersemangat bercerita." Ucap Tyana jujur. Ia belum pernah melihat Aurelia selepas itu. Setiap hari Aurelia tersenyum seakan tidak ada luka.
"Saya juga senang anda bisa lepas dari pria itu." Ucap Tyana, ia enggan sekali menyebut nama Adriant. Tyana selalu menghormati orang lain, teman dekat Aurelia ataupun beberapa rekan bisnis. Tapi pada Adriant, Tyana selalu terlihat tidak menunjukkan sikap hormatnya.
Aurelia tersenyum tipis.
Tapi senyumnya memudar perlahan. Ia baru mengingat sesuatu. Nanti malam, ia akan memberi keputusan pada Giovani. Dadanya seakan kembali sesak, Aurelia beranjak dan mendudukkan dirinya di atas kursi.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
"Tapi nanti malam aku akan menemui Papa." Aurelia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Papa menunggu jawabanku." Tangannya bergerak memainkan lipstik dan mengetukkan-ngetukannya di meja.
Tyana berdiri kembali, menegakkan tubuhnya dan menatap Aurelia.
"Apa yang akan anda sampaikan, nona?"
Aurelia kembali menatap Tyana, ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak tahu Tyana. Menyetujui perjodohan dengan pria itu juga bukan keputusan tepat." Aurelia menghela napas berat.
"Anda bisa meminta waktu lagi." Tyana menundukkan kepalanya lagi. Ia tidak bisa menatap terlalu lama wajah Aurelia, baginya tidaklah sopan. Padahal Aurelia sudah menganggap Tyana sebagai teman, bukan seorang asisten.
"Papa sudah lama memberi aku waktu." Aurelia tersenyum getir, ia meremas lipstik itu perlahan.
"Aku yang salah karena menaruh harapan pada Adriant."
Tyana mengangkat wajahnya kembali, "tapi menerima pria itu adalah hal buruk." ucapnya pelan tapi dengan nada yang penuh ketegasan.
"Apa kamu sudah mencari tahu tentang dia?" Aurelia melepas genggaman tangannya hingga lipstik itu menggelinding di meja tapi ia tahan ketika akan terjatuh ke lantai.
"Elbarak Starlink. Anak tunggal dari Rino Starlink. Pemilik perusahaan Starlink grup yang menikah dengan anak dari CEO di jepang, nona." Tyana bergerak mengambil Ipad-nya.
Aurelia melipat bibirnya kedalam dan meraih botol parfum. "Lalu apalagi?" tanya Aurelia seraya menyemprotkan parfum itu di leher hingga pergelangan tangan.
Sesaat setelah menggeser layar iPad. Tyana kembali menatap Aurelia dan menunjukkan satu gambar satu pria sedang berpelukan dengan wanita lain dalam keadaan telanjang.
Aurelia meletakkan parfumnya kembali. Ia melihat dengan jelas foto itu, bahkan Tyana menggeser layar dan menunjukkan beberapa gambar yang tidak ingin ia lihat, itu terlalu vulgar meskipun beberapa telah di blur.
Rahangnya perlahan mengeras tipis. Aurelia tertawa hambar. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Papanya mencarikan calon suami yang bahkan jauh dari kata baik.
Perlahan tangannya terkepal erat.
"Aku tidak mengerti tentang takdirku sendiri, Tyana."
Aurelia menatap kosong ke arah cermin.
"Tuhan terlalu menguji kesabaranku."
"Ada satu hal lagi, nona."
Aurelia menoleh pada Tyana yang kembali meletakkan Ipad-nya.
Wanita itu menghela napas pendek sebelum menjawab.
"Pria itu sudah pernah menikah sebelumnya."