Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 13
Pembicaraan mereka membuat harapan Naina untuk bisa hidup bersama dengan Marco akhirnya pupus dengan sia-sia. Marco sangat menghormati dan menghargai Elena sebagai istri, walau dirayu dengan cara apa pun, laki-laki itu tetap enggan menikahi Naina.
Tanpa mau berlama-lama lagi, Naina memilih untuk pergi dari rumah Marco. Dia tidak ingin melihat suami istri itu lebih lama karena akan sangat menyakitkan bagi Naina.
Melihat kesedihan Naina, sebenarnya Ellena sangat tidak tega. Dia merasa kasihan sekaligus merasa bersalah karena telah merebut Marco dari wanita itu. Namun, rasa egois Elena membuatnya tidak ingin membagi Marco dengan siapa pun.
“Aku pulang!” kata Naina sembari meletakkan tali tasnya di pundak.
“Aku antar! Kamu perempuan nggak baik pulang malam-malam begini sendirian!” sahut Marco. Dia merasa tidak tega jika harus membiarkan Naina dalam keadaan yang memprihatinkan itu.
Ellena mengulurkan tisu dan sisir rambut pada Naina. “Setidaknya perbaiki dulu penampilanmu, biar orang tidak menganggapmu korban kejahatan,” kata Ellena tanpa mau menatap wajah Naina.
Marco bisa menilai kebaikan Ellena itu sebagai sesuatu yang dilakukan dengan tulus. Meski keduanya bertengkar hebat, tapi Ellena masih bisa mengungkapkan kepeduliannya sebagai sesama manusia pada Naina.
“Aku bisa pulang sendiri,” kata Naina sembari menerima kedua benda pemberian Ellena itu kemudian merapikan rambutnya.
“Aku tidak tega kalau kamu pulang sendiri, Naina.” Marco masih merasa tidak tega membiarkan Naina pulang sendirian karena walau bagaimanapun dia harus menemui orang tua Naina untuk menjelaskan semua permasalahan mereka.
“Apa aku juga boleh ikut, Kak?” tanya Ellena kemudian. Dia tidak mau jika ditinggal sendirian sementara suaminya mengantar wanita lain di malam begini.
“Boleh kok, El. Jadi gimana, Na. Aku sama Ellena antar kamu pulang ya!”
***
Setelah dibujuk dan dipaksa, akhirnya Naina mau diantarkan pulang oleh Marco. Jarak tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di rumah Naina sekitar satu setengah jam. Selama perjalanan, baik Ellena, Naina, maupun Marco sama-sama membisu tidak mau mengatakan apa-apa, mungkin karena saking lelahnya mereka berdua sampai tidak sanggup mengatakan apa pun. Ellena yang duduk di sebelah Marco juga tidak mau bermanja-manja dengan suaminya itu setelah pertengkaran sengitnya dengan Naina.
Akhirnya, mobil yang ditumpangi oleh ketiga orang itu sampai juga di rumah Naina. Gadis yang sedang patah hati seketika berlari menuju kamarnya tanpa menjelaskan apa-apa pada kedua orang tuanya.
Orang tua Naina yang bingung pun keluar untuk menemui seseorang yang telah mengantar putri mereka pulang. Seketika itu juga orang tua Naina terkejut dengan kehadiran Marco bersama dengan seorang gadis yang cantik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
“Marco. Apa yang sudah terjadi? Kenapa Naina menangis?” tanya Ayah Naina dengan nada yang terdengar membentak. Meski isi kepalanya sudah bisa menebak bahwa Naina pasti menangis karena sudah tahu bahwa Marco sudah menikah dengan gadis lain, tetapi ayah Naina itu tetap ingin mendengar langsung penjelasan dari mantan calon menantunya itu.
Marco berniat menyalami kedua orang tua Naina, tetapi ayah Naina langsung menepis tangan Marco dan melengos. Tak sudi rasanya jika Marco menyentuh tangannya.
Ibu Naina yang masih memiliki hati yang baik, mengajak Marco dan Ellena untuk masuk ke rumah mereka. Tanpa makanan atau minuman apa pun yang disuguhkan di meja, kedua pasangan baru yang menikah secara mendadak itu akhirnya bisa menyampaikan permintaan maaf dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Sebelumnya, saya ingin minta maaf, Pak, Bu. Saya memang sangat bersalah pada Naina karena sudah menikahi wanita di samping saya ini tanpa izin dulu sebelumnya,” ungkap Marco sambil menundukkan wajahnya.
Ellena melihat sorot mata ayah Naina yang penuh dengan kebencian. Laki-laki itu sepertinya akan menelan Marco dan dirinya hidup-hidup di tempat ini.
“Kamu pikir, dengan kata maaf itu akan membuat rasa malu kami hilang? Tidak semudah itu, Marco!” balas ayah Naina dengan berteriak. Laki-laki itu sama sekali tidak bisa menahan amarah yang bergemuruh di dadanya sampai-sampai dia berencana memukul Marco dengan kursi yang sedang didudukinya saat ini.
Ibu Naina berusaha menahan suaminya agar tidak meledak yang akan membuat penyakit hipertensinya kambuh. Wanita itu meminta suaminya untuk diam sejenak karena emosi tidak akan menyelesaikan masalah apa pun.
“Nak Marco. Apa kamu tahu betapa cintanya Naina sama kamu selama ini? Dia sedang berjuang untuk hidup demi kamu. Cintanya buat kamu dan pertunangan kalian membuat Naina semangat untuk hidup. Sekarang, saat semuanya berakhir, kami tidak tahu lagi apakah Naina akan mau memperjuangkan kehidupannya tanpa kamu.”
Ibu Naina tak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Sebagai seorang ibu, dia tentu sangat mengerti keadaan putrinya, tetapi apa mau dikata, Marco sudah menjadi suami orang sekarang.
***
Kembang kopinya jangan lupa, vote juga ya 💋💋
sana sama Otor aja... pasti mau dia...